
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Mendengar ucapan Wulan meminta bercerai, Marsel menggenggam bahu Wulan dan menatap Wulan dengan serius.
"Lan, jangan ngaco kamu! Kamu minta abang untuk ceraikan kamu?! Kamu kenapa, Lan?! " tanya Marsel dengan tegas.
"Masih juga abang bertanya sama Wulan apa alasannya? Bang, Wulan tau, Wulan tau abang sengaja mendekati Putri agar abang bisa lari dari Wulan. Wulan tau, Wulan gak bisa bahagiain abang, tapi jangan buat Wulan kayak gini bang, dengan sengaja abang nunjukin perselingkuhan abang sama Wulan... " ucap Wulan dengan tersedu sedu.
"Astaghfirullah lan, istighfar kamu, abang serius, demi Tuhan, abang tidak pernah selingkuh! Masalah kamu bahagiain abang atau ngga nya, abang gak pernah nuntut kamu, lan. Kenapa sekarang kamu bisa bisanya nuduh abang sengaja jadiin Putri itu pelarian abang? " tanya Marsel.
"Sudahlah bang, Wulan gak mau denger lagi penjelasan abang. Wulan udah lelah, Wulan udah capek, segini beratnya Wulan harus menjaga abang dari wanita wanita gatal diluaran sana"
Wulan kemudian berjalan ke kamar, dengan isak tangisnya dia berjalan perlahan ke kamar kemudian menutup pintu kamarnya.
"Lan, setidaknya kalau kamu masih gak percaya sama abang, jangan jatuhin talak buat kamu sendiri, Lan! " ucap Marsel dengan suara kencang, ia kemudian duduk dan menyenderkan tubuhnya di sofa.
.
.
Keesokan harinya, Wulan dan Marsel saling berdiaman, kali ini Wulan sangat tidak memperhatikan persiapan berupa sarapan dan pakaian untuk suaminya, ia sengaja mengurung dirinya di dalam kamar.
"Lan, kamu gak bikin sarapan untuk abang...? " panggil Marsel dari depan pintu.
Bukannya jawaban dari Wulan, melainkan pintu kamar yang dilempar sesuatu dari kamar, membuat suara pintu tersebut bergetar kencang.
Merasa bahwa meminta Wulan membuat kannya sarapan bukan pilihan yang bagus, Marsel berinisiatif untuk membuat sarapannya sendiri.
Sebelumnya, Marsel mandi terlebih dahulu, ia kemudian mengambil baju kaos yang ada di jemuran belakang.
Marsel berjalan ke dapur, ia mulai memasak sarapan semampunya sendiri dan mulai memakannya.
Sambil berpikir tentang keributan malam tadi, Marsel makan sambil merenung, sarapan yang ia buat tidak habis dan akhirnya tinggal sisa, karena rasa dan nafsu makannya yang berkurang, ia kemudian memutuskan untuk membuangnya ke kotak sampah.
Disaat membuang sisa sarapannya, Marsel melihat secarik kertas, tak asing di matanya.
Marsel menaruh kembali piring yang berisi sarapan buatan nya yang ingin ia buang, ia kemudian mengambil secarik kertas tersebut yang menempel dengan lem.
"Ini kayak struk transferan, tapi transfer apaan ini? "
Marsel menyadarinya, bahwa struk transfer itu berupa uang, tetapi ia tidak tau bahwa Wulan sering transfer uang dengan seseorang.
"Aku harus minta saran sama Enrico dan Arinska ini"
Marsel membawa struk transfer tersebut, sebelumnya ia harus mencuci piringnya dan baru pergi.
Disaat Marsel telah pergi dari rumah, Wulan kemudian keluar dari kamar dan melihat keadaan dapur.
"Maaf bang, Wulan hari ini gak mau bertemu abang terlebih dahulu"
Wulan kemudian mengambil celemek nya, memakainya kemudian mulai memasak makanan.
.
.
Sesampainya di kediaman Enrico, Marsel kemudian dipersilahkan masuk oleh para pelayan, Arinska dengan heboh menyambut Marsel dan langsung memeluk Marsel.
"Kak Marsel! Aihhh, iska rindu banget sama kakak! " teriak Arinska dengan gembira.
"Ardian, ini om Marsel datang, kangen juga kan? " tanya Arinska pada Ardiansyah.
__ADS_1
"Sini Ardian nya om gendong, pasti udah kangen kan? "
Arinska kemudian memberikan anaknya dengan Marsel, ia kemudian mengajak Marsel ke ruang keluarga.
"Papih, ada kak Marsel loh, tau aja kak Marsel datang pas mamih lagi rindu sama dia, pih" ucap Arinska sambil merangkul lengan Marsel.
"Iya mih, tapi gak usah juga yang rangkul rangkul lengannya si kakak Marsel nya ya? Kan lengan papih masih ada buat mamih" ucap Enrico.
"Dih cemburuan mulu, Ardiansyah, sini sama mamih yuk"
Arinska menadahkan tangannya pada Ardiansyah, tetapi ia memilih langsung memeluk Marsel, membuat Arinska merasa sedih anaknya beralih pangkuan.
"Kayaknya ada yang mau kamu obrolin sama kami, Sel, udah jadi kebiasaan kamu nih" ucap Enrico.
"Jadi gak boleh nih? Yaudah, lain kali gak usahlah aku datang ke sini" ucap Marsel.
"Ishh papih! Kalau kak Marsel gak pernah mampir ke sini, nanti mamih sama Ardiansyah kangen sama dia! " marah Arinska, Enrico kemudian meminta maaf dan menyuruh Marsel untuk duduk ngobrol.
"Ada apa Sel? " tanya Enrico sekali lagi.
Marsel kemudian menghela nafasnya, kali ini Ardiansyah ingin kembali ke pangkuan Arinska, Arinska menyambut Ardiansyah sambil mendengarkan obrolan Marsel dan Enrico.
"Kayaknya ada yang salah sama istri mu, Sel. Kayak ada masalah gitu, tapi dia lebih milih nyembunyiin masalah nya. Lihat saja, kamu sampai sampai dituduh selingkuh segala sama karyawati lain, bisa jadi itu pengalihan masalah dia sama kamu, Sel" ucap Enrico.
"Iya sih, apalagi selama beberapa waktu yang lalu, Wulan seperti menyembunyikan sesuatu, dan juga saat aku tanya tas yang diberikan Arinska untuk Wulan sebagian hilang" jelas Marsel.
Mendengar penjelasan Marsel, Arinska terkejut ketika Marsel mengatakan tas yang ia berikan untuk Wulan hilang.
"Apa?! Hilang?! " teriak Arinska yang sedang menggendong Ardiansyah.
"Mih, Ardian lagi tidur, jangan berisik, nanti dia bangun loh di pangkuan mami" ucap Enrico.
"Gak bisa pih, soalnya itu tasnya berharga banget untuk Wulan dan itu sengaja mami kasih hanya untuk Wulan, papih. Mami gak rela ya ada yang ngambil sembarangan kayak gitu, apalagi ada satu seri yang mami kasih buat Wulan itu ada yang harganya hampir 600 juta itu! " kesal Arinska.
"Ini pasti ulah orang dekat, kak Marsel, mustahil ada yang mau kecuali dia memang peneliti dan naksir tas branded ori atau ngincar isi barang di dalam tasnya. Secara iska tau, Wulan jarang ngegunain tas yang iska kasih itu kemana mana kecuali di acara formal atau disuruh sama kakak sendiri" jelas Arinska.
"Sepertinya. Oh ya, dan ini juga, aku nemuin bukti transfer dari kotak sampah, sengaja direkatkan sama lem, kini nomor rekening penggunanya gak kelihatan, iska" ucap Marsel menyodorkan secarik kertas bekas.
Arinska dan Enrico mengambil dan melihat secarik kertas yang diberikan oleh Marsel, mereka menatap dengan teliti dan terkejut.
"Sel, ini istrimu udah berkali-kali transfer ke nomor rekening ini loh, tapi disini gak terlihat jelas siapa yang istrimu transferin uangnya" ucap Enrico.
"Ini darimana Wulan dapat uang segini buat ditransfer, kak? Apalagi sampai berkali kali? " tanya Arinska.
"Gak tau juga, iska, Rico. Soalnya udah banyak banget kejanggalan sama Wulan, dikasih uang belanja bulanan sama uang jajan dia kok dia gak gunain gitu, padahal tabungan itu aku semua yang pegang. Pantas saja tidak terlihat kosmetik atau makanan di rumah, ternyata dia transfer berkali-kali" jawab Marsel.
"Ini gak bisa dibiarin. Sebentar kak, iska telpon dulu asisten iska buat suruh pimpinan cabang bank kami bekuin nomor rekening ini, sekalian tanya atas nama siapa pemilik nomor rekening ini"
Arinska mengotak atik hpnya, sambil memangku Ardiansyah ia mulai menelpon asistennya.
"Halo Amaria, saya butuh bantuan kamu sekarang. Tolong periksa nomor rekening dari foto yang akan saya kirim sama kamu, dan kamu minta informasi siapa nama dari pemilik nomor rekening yang saya kasih ya"
'Baik bu, saya akan langsung meluncur ke bank secepat mungkin'
"Makasih Amaris, kalau begitu saya akhiri telponnya"
Arinska mematikan telponnya, ia kemudian menaruh hpnya dan merangkul anaknya.
"Sebelumnya makasih ya, iska, Rico, jadi ngerepotin aku" ucap Marsel.
"Biasa aja kak, namanya kakak kan kakaknya iska, jadi iska sebagai adik harus bantuin kakak iska sendiri, iya kan papih? " tanya Arinska sambil menatap Enrico.
"Iyalah, demi kakak Marsel mami yang sangat sangat mami sayangi itu, papi mah mana bisa gubris" jawab Enrico.
__ADS_1
"Yaudah, sebagai ganti ucapan terimakasih, aku harus gimana? " tanya Marsel.
"Hmmm, bayar kami 15 juta" jawab Enrico.
Ucapan tersebut membuat Marsel terkejut, bukannya meminta bantuan secara cuma cuma pada kedua pasangan tersebut, malah ia harus membayar layaknya sedang menggunakan jasa.
"Papih! Gak ada kak, gak usah didengerin si Rico. Gantinya kakak main aja sama Ardiansyah, sampai nanti asistennya iska datang. Kakak kan lagi libur, iya kan? " tanya Arinska.
"Iya, tapi nunggu Ardian nya bangun dulu ya, soalnya itu masih tidur di pangkuan kamu" jawab Marsel.
.
.
Menunggu beberapa jam berlalu, akhirnya asisten Arinska datang bersama pimpinan cabang.
"Selamat siang, nyonya.... "
"Bu Arinska, jangan nyonya" ucap Arinska.
"Maaf, bu Arinska. Sebelumnya maaf, perkenalkan saya Rudy, pimpinan cabang bank yang ibu tujukan pada saya. Sebelumnya, ibu meminta pada asisten ibu Arinska, Amaris, untuk membekukan nomor rekening yang telah ibu berikan kepada asisten ibu untuk kami bekukan, benar bu Arinska? " tanya Rudy.
"Ya, benar, saya butuh informasi mengenai struk transfer ini, karena nama penerima transfer di struk ini gak kelihatan siapa nama penerimanya" jawab Arinska.
"Ini jug... "
"Dan satu lagi, saya butuh secepatnya. Anda lihat suami saya ada di sini? Jangan buat saya kesal, atau bank yang Anda pegang sekarang bisa dia hempaskan jika anda mempersulit maupun memperlambat informasi yang saya butuhkan, ngerti? " potong Arinska bertanya, sedangkan Rudy menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
Rudy dengan sibuk menelpon karyawan maupun bagian pekerja bank lainnya, mengulik satu satu informasi sebelum membekukan nomor rekening yang telah diberikan oleh Arinska.
"Atas nama Sania Agustina? " tanya Rudy sambil menelpon.
Marsel terkejut ketika mendengar nama tersebut, ia mengenal nama tersebut, itu adalah nama bibinya Wulan, Sania.
"Iska, kakak tau siapa dia, dia adalah bibinya Wulan! "
"Hah?! Wah, kurang ajar" kesal Arinska.
"Sel, sekarang kamu tau dimana tempat tinggal bibinya? Gak bisa dibiarin, Sel, bisa nambah jadi bibinya buat merasin Wulan lagi. Mungkin juga tas milik Wulan memang dia juga yang ambil" ucap Enrico.
"Bisa jadi, ric, kurang ajar mereka. Akan aku beri pelajaran! "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣