
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Sebulan berlalu, akhirnya Ramadhan telah tiba.
Puasa pertama kali ini Marsel dan Wulan menginap di rumah orangtuanya, mereka sudah sepakat untuk menginap beberapa hari untuk berbuka bersama.
"Bang, bang, bangun... "
Marsel yang tertidur pulas kemudian terbangun, Wulan dengan susah payah membangunkan Marsel.
"Nanti aja, sayang... "
Marsel menarik lengan Wulan, Wulan ikut terjatuh dan badannya dipeluk oleh Marsel layaknya bantal guling.
Wulan yang merasa kesal ia mulai mencubit lengan suaminya, alhasil Marsel terkejut dan meringis kesakitan akibat cubitan dari Wulan.
"Aduh, sakit sayang... " ringis Marsel.
"Makanya, ayo sekarang bangun, mama, papa, Raka sama Misella udah nunggu di dapur, cuma abang sendiri yang belum niat mau bangun! Ayo bangun sama cuci muka dulu"
Wulan menarik tangan suaminya untuk turun dari kasur, ia membawa Marsel ke kamar mandi dan membantu Marsel mencuci muka.
Marsel dan Wulan berjalan ke dapur, mereka kemudian disambut oleh sekeluarga.
"Kak, baru bangun? " tanya Raka.
"Iya, ini mbakmu yang bangunin kakak pake kekerasan, mana sakit juga cubitan nya" jawab Marsel.
"Ya sudah, ayo kita sahur, nanti keburu imsak loh" ucap Salma.
Mereka semua berdo'a, kemudian mengambil lauk masing-masing dan mengobrol bersama sambil menikmati makanan sahur.
Sedang asik asiknya mengobrol, tiba-tiba Misella ingin muntah, ia segera berlari ke kamar mandi, sedangkan seluruh keluarga melihat Raka yang mengejarnya.
"Sela kenapa? " tanya Marsel.
"Gak tau kak, tiba-tiba aja soalnya" jawab Raka.
Misella kemudian keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat semua keluarga nya melihatnya.
"Sela, kamu kenapa nak? Mual? " tanya Salma.
"Iya dek, kalau mual kakak ambilin minyak kayu putih mau? " tanya Wulan.
Misella menggeleng kepalanya.
"Ihhh, jangan jangan Sela udah isi itu" tebak Thomas, Salma mencubit lengan Thomas, membuat Thomas meringis kesakitan.
"Wanita muntah itu gak selalu dia sedang hamil, mas! " tegas Salma.
"Gak, ucapan papa bener kok mah... "
__ADS_1
Semua keluarga terkejut mendengar pernyataan Misella, Misella kemudian berjalan ke arah kamarnya, ia ingin mengambil sesuatu di kamarnya.
Di dapur, semua keluarga telah berkumpul, Misella membawa kotak kecil dan menaruhnya di atas meja, Salma membuka kotak tersebut.
"Ini... "
"Iya, Sela lagi hamil... " ucap Misella.
"Beb, kenapa kamu rahasiain ini dari aku? Kenapa gak kasih tau kamu lagi hamil? Itu udah tiga testpack yang udah kamu pakai dan hasilnya sama semua" tanya Raka.
"Memang kalau aku selalu ada apa apa harus lapor kamu gitu? Gak ada gunanya juga aku kasih tau sama kamu, yang ada kamunya yang heboh sendiri" jawab Misella, Raka hanya diam melihat isi kotak tersebut.
"Sela, selamat ya, akhirnya kamu bakalan jadi ibu. Gak sabar mau gendong cucu" ucap Thomas.
"Selamat ya nak, akhirnya kalian berdua bakalan punya anak, mama turut senang mendengar nya... " ucap Salma.
"Apa, kalian seneng? Aku yang gak seneng, mah. Mama sendiri tau aku lagi ngejar kuliahku biar aku cepat lulus, kini juga bakalan terhalang sama kehamilan ini" keluh Misella.
"Gak boleh gitu, beb, kita harus bersyukur, karena kita dengan cepat diberikan keturunan. Itu kan udah jadi impian kita dulu, beb" ucap Raka.
"Impian matamu! Harusnya kamu bisa kontrol diri kamu itu, bukan seenaknya melampiaskan nya sampai aku jadi begini! Aku tambah benci sama kamu! "
Misella berlari ke luar dapur, Raka ingin menghentikan nya tetapi percuma saja, yang ada ia tambah dibenci oleh Misella.
"Sudah ka, baiknya kamu lanjutkan sahur kamu, nanti juga kamu kan mau puasa, biarin aja Misella, memang dia kayak gitu kalau lagi merajuk" ucap Marsel.
.
.
"Cuma kamu yang abang tinggal di rumah ini" jawab Marsel dengan menggoda.
Wulan hanya mencium pipi Marsel, Marsel menatap istrinya.
"Tumben gak marahin abang? "
"Bulan puasa Wulan harus sabar, abang hati hati dijalan ya, semoga kerjanya lancar" ucap Wulan.
Marsel tersenyum, ia memeluk Wulan dan mencium kening dan pipi istrinya.
"Yaudah, abang pergi dulu ya, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Wulan kembali masuk ke dalam, ia kemudian bertemu Thomas dan bersalaman dengan mertuanya itu.
"Tolong bantu keperluan nya Sela ya, lan, cuma kamu yang bisa kendalikan dia sekarang" ucap Thomas.
"Baik pah" ucap Wulan.
Semua orang telah pergi, kecuali Raka, Misella dan Wulan.
'Udahlah! Coba tadi kamu ikut mama aja ketimbang di rumah! Bikin emosi aja kerjaan kamu! '
__ADS_1
Teriakan Misella terdengar dari luar kamar, Wulan terhenti dan mendengar suara teriakan tersebut.
Raka keluar dari kamar, ia kemudian melihat Wulan yang berjalan dari depan kamarnya.
"Mbak Wulan, darimana tadi? " tanya Raka.
"Dari depan dek, kalian kenapa lagi? " tanya Wulan.
Raka hanya menghela nafasnya, ia kemudian berjalan ke arah belakang dan Wulan mengikuti adik ipar nya.
"Maaf ya mbak kalau suara Sela gede sampai kedengeran sama mbak dari luar kamar, hormon ibu hamil, maaf ya mbak" ucap Raka.
"Iya gak papa ka, mbak sudah tau kok, kamu yang sabar ya ka" ucap Wulan dengan nada lembut, Raka menganggukkan kepalanya.
"Mbak" panggil Raka.
"Ya, kenapa ka? " tanya Wulan.
"Raka ini gak berguna ya? Sampai sampai Sela yang awalnya cinta banget sama Raka kini dia jadi benci sama Raka" tanya Raka.
Wulan menggelengkan kepalanya, ia memegang kepala Raka dan mengelus nya.
"Ngga kok, Raka. Ada dititik dimana Misella akan kembali lagi seperti dulu, kalian kemarin karena spontan aja akhirnya jadi seperti ini. Mbak yakin, nanti kamu dan Sela bisa seperti dulu lagi, kini kamu sedang di uji dalam status pernikahan, kamu harus sabar ya, apalagi bulan puasa kayak gini" ucap Wulan.
"Hm, makasih ya mbak, semoga Sela bisa menerima Raka seperti dulu lagi" ucap Raka.
Raka kemudian berdiri dari tempat duduk nya, ia kemudian menatap Wulan.
"Makasih ya mbak, Raka mau pergi dulu ke tokonya mama, mau bantuin catering dia" ucap Raka.
"Oh iya, hati hati ya dek" ucap Wulan.
Raka kemudian berdiri, ia berjalan untuk pergi dan meninggalkan Wulan yang ada di pondok pondokan belakang rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣