Garis Merah

Garis Merah
Gila


__ADS_3

Libur semester genap adalah salah satu hal yang membosankan bagiku. Bukan berarti aku senang kuliah. Saat harus mendengarkan dosen menjelaskan penurunan rumus ini itu juga aku merasa bosan. Apalagi saat harus melihat dosen menggambar macam-macam kurva dan diagram hubungan. Rasanya kurva itu berubah menjadi benang ruwet, monster yang siap melilit tubuhku.


Masih beberapa minggu lagi, aku harus berdiam diri di rumah. Menyaksikan ayah dan ibuku berdebat untuk mengubah warna cat yang telah usang. Menyaksikan mereka berebut--dan kadang saling lempar--untuk memasak. Saling ingin menjadi pihak yang paling dimengerti. Akhirnya tak ada satu masakan pun yang dihasilkan. Aku yang harus memasak untuk kumakan sendiri.


Masih sangat lama. Aku harus melayani permintaan Damar untuk bernyanyi bersama. Menguras tenaga dan tak ada karya yang dihasilkan. Hanya sedikit lepas dari beban hidup. Itu saja. Setelah selesai, semuanya kembali seperti semula.


Nilaiku yang pas-pasan semester ini, novel yang tak juga terbit. Itu adalah masalah yang sering mengganggu kehidupanku. Cibiran saudara tentang statusku juga turut menghantui. mereka bilang mungkin aku akan betulan menjadi perawan tua. Sering aku berusaha tidak perduli. Tapi, dalam beberapa detik sehari, itu terpikirkan juga.


"Anna, Damar di bawah."


"Suruh dia pulang, Bunda."


"Kau ini!!" Seru Damar. Rupanya dia sudah masuk ke kamarku. Bahkan sudah bersila di tempat tidur. Ibuku hanya menggeleng lalu turun lagi ke lantai satu.


"Mau apa?" tanyaku tak perduli


"Melihatmu. Apa kau baik-baik saja?"


"Selalu baik. Akan lebih baik jika kau tak muncul. Setidaknya aku bisa tidur siang."


"Maksudku tanpa teman. Kalau kau punya pacar mungkin kau sudah keliling kampung, berkencan , jalan-jalan." Wajahnya menjadi wajah yang paling menyebalkan di mataku jika dia sedang mengatakan hal-hal semacam itu. Ingin kupenggal saja kepalanya.


Dia bilang dia punya lagu baru. Aku hanya diam. Dia pun begitu. Saat tak mendapat respon dariku, Damar memang sering diam lama. Bahkan saat kembali diajak bicara. Pandai membuat orang lain merasa bersalah memang laki-laki itu.


Tiba-tiba saja benda di mejaku--pemberian Eyang--mengeluarkan cahaya. Bukan pada seluruh badannya, tapi batu akiknya. Ya! Batu akik terbesarnya lah yang menyala. Yang berwarna merah itu.


Seketika aku memekik. Damar spontan bangkit dan beringsut mendekatiku.


"Ada apa?"


"Benda itu!"


"Kenapa?"


"Bercahaya!"


"Aku tidak melihatnya." Damar mengelus punggungku.


"Tadi. Hanya sebentar. Mungkin satu kedipan mataku."


"Anna, jangan berfantasi terlalu tinggi."


"Ini bukan fantasi , Damar."


"Lalu apa? itu sungguh mustahil, An. Mungkin saja kau menghayalkan hal semacam itu , sehingga kau berhalusinasi. "


"Kenapa tak mungkin? Baru saja aku menyaksikannya!"


"Mungkin itu salah satu alasan kau sulit jodoh. Mereka menganggapmu gila, well laki-laki yang mungkin menyukaimu. Dan baru aku tahu kau memang gila.”


Aku diam. Kesal. Kejadian ini tak sama sekali ada kaitannya dengan jodoh. Dan semua orang--bahkan dia--mengaitkan segala hal dengan jodoh. Aku begini, aku begitu selalu menjadi sebab tak ada yang tertarik padaku. Selama ini kupikir dia bercanda. Sekarang tidak lagi. Dia benar-benar mengataiku. Sama seperti yang lain.


Merasa tak enak aku diam lama dan cemberut, mungkin. Dia akhirnya meminta maaf. Aku tetap diam. Biar saja. Biar dia tahu bagaimana caranya bicara, bagaimana bercanda. Biar dia tahu caranya menempatkan diri. Huh! Agar dia tak pernah menimpali perkataan serius dengan gurauan menyakitkan.


"Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti marah? Bicaralah. Teriak atau pukul saja aku. Jangan diam begitu."


"Pulanglah!"


"Anna,"


"Kau ingin aku memaafkanmu, kan? Pulanglah dan beri aku waktu untuk mengatur diri. Mencari tahu bagaimana caranya agar tak terlihat gila oleh orang lain..Paling tidak satu minggu ini, jangan temui aku."


"Baiklah."


Sejak saat itu hingga seminggu lamanya aku tak pernah lagi melihatnya. Tak pernah juga mendengar suaranya. Kehidupan berjalan tanpa ada hal yang menarik. Berguling-guling di tempat tidur, membersihkan rumah, menulis, dan merenungkan separah apa kegilaanku di mata orang lain.


Bahkan juga bertanya pada ibuku apakah ada gen gila di keluarga ibu atau ayah. Dia bilang tidak ada. Lalu dari siapa gen gila ini? Sepertinya wajar jika aku mengatakan apa yang kulihat dan kurasakan. Kenapa semua orang mengatakan bahwa aku sinting?

__ADS_1


Entahlah. Lebih baik melanjutkan tulisan, sepertinya. Sudah seratus dua puluh halaman dengan format tulisan standar. Berkali-kali aku menghela nafas. Benda itu tak juga memberi penguatan tentang apa yang terlihat seminggu lalu. Apa benar aku gila? Tapi batu akik merah yang berjumlah empat itu benar-benar menyala. Entah dari mana aku dapat ide memasang kamera di dekat benda itu. Paling tidak supaya bisa merekam apa yang terjadi jika sewaktu-waktu muncul hal yang aneh. Dan Nihil.


Sebenarnya aku mengharapkan terjadinya hal-hal yang menarik. Akan jadi kisah yang bagus pasti nantinya. Tapi, sepertinya harus kukubur dulu impianku untuk menjadi penulis best seller sekarang ini. Harus mencari inspirasi lain mungkin.


Kudengar pintu kamar terbuka. Ibuku memang suka mengantar makanan ke kamar. Sarapanku, makan siang dan sebagainya.


tanganku tetap di atas keyboard meski tak mengetik dan berpikir keras hendak menulis apa. Sesekali kupandang keadaan luar rumah dengan menengok jendela yang lumayan lebar. Pohon-pohon yang batangnya bengkok terlihat lebih kecil dari jari kelingkingku tampak di depan mata. Tentu saja. Karena jauhnya objek yang kuamati itu, kan. Jendelaku itu seperti bingkai lukisan. Di dalamnya terdapat lukisan alam yang bisa bergoyang-goyang tertiup angin. Tiang antena TV, dan seekor dua ekor burung.


Kualihkan pandanganku ke laptop setelah merasa cukup terhibur. Hembusan nafasku kembali terdengar. Sepi sekali tanpa anak muda itu. Sampai nafas saja terasa sangat keras di telinga.


"Kau merindukanku?"


Aku mendongak cepat. Senyumnya merekah. Aku kembali fokus pada tulisan setelah yakin bahwa itu Damar. Dia kemudian mendekat dan mengelus ubun-ubunku.


"Baiklah, aku pergi." gumamnya lalu mengecup bagian yang sudah terlebih dahulu dia belai itu. Aku tak tahu sebagai apa. Kalau dibilang saudara, dia jauh sekali hubungan darahnya denganku. Entahlah.


"Jangan lupa memakan makananmu. " Dia melenggang pergi. Tangannya memainkan kontak motor. Aku mengawasinya dari belakang.


"Dan, ah! satu lagi. Aku sudah memutuskan untuk ikut gila. Kau sepertinya butuh orang yang bisa kau ajak bicara."


"Aku tersanjung. Dan, yeah. Tak perlu kasihan." Timpalku datar.


"Ini bukan karena kasihan. Tapi karena aku sayang padamu."


"Damar_"


"Hust!" dia memotong. "Besok temani aku beli gitar baru. Tidak ada penolakan, Bye!!"


Tak sempat aku bicara, dia sudah lenyap dari hadapanku. kututup laptopku, dan bangkit dari kursi mendekati cermin. Menatap wajah yang dia bilang cantik. Tiba-tiba bibirku tertarik menimbulkan kerut di pipi membentuk simpul senyuman.


Hanya dia yang pernah bilang bahwa aku cantik. Entah untuk sekedar menghibur atau apa. Dia juga satu-satunya orang yang mengerti keadaanku. Bahkan kegilaan ini.


Aku beranjak ke dapur, berharap menemukan makanan yang bisa kumakan. Aku baru ingat bahwa setelah bocah tengil itu pergi bahwa ibuku sudah memutuskan untuk menemani ayah berjualan. Mulai sekarang aku harus bisa menyiapkan semuanya sendiri. Jadi, tidak ada bedanya berlibur di rumah atau di rumah kost.


kumasak sebungkus mi instan dengan menambahkan beberapa butir dan sawi hijau. Kemudian segera berlari membawa mangkuk makanan ketika muncul ide di otakku. Kurasa aku harus mencari informasi tentang benda itu.


Tak kutemukan apa pun dari semua itu meski telah dengan sabar terus berselancar di dunia maya. Beberapa kata kunci lain juga sudah kumasukkan di search engine. Pusaka, barang antik, sampai senjata. Akhirnya kutemukan juga benda yang bentuknya mirip dengan yang kupunya sekarang.


Satu sumber mengatakan bahwa empat buah benda semacam itu jika digabungkan bisa menimbulkan petir. Konon senjata itu adalah milik dewa dalam kepercayaan mayoritas waktu itu.


Sumber lain mengatakan bahwa seorang dewa akan memegang benda itu di tangan kanan dan lonceng di tangan kiri. Hal ini melambangkan welas asih di antara hati yang tersucikan. Keningku berkerut-kerut. Berarti pembuatan dengan mengandalkan wangsit itu tidak sepenuhnya betul.


Aku kemudian mengamati lagi detail benda itu. Entah kenapa aku menyukainya. Otakku memberikan banyak penafsiran tersendiri. Lingkaran sebagai alas bisa digambarkan sebagai kumpulan manusia atau makhluk hidup. Teratai menggambarkan unsur kehidupan kebumian, ada tumbuhan, memerlukan air, dan sebagainya.


Kehidupan di bumi itu mengantarkan ciptaan kepada penciptanya. Dengan jalan yang berliku, berkelok, tak mulus lurus. Semua yang ada di alam, menunjukkan bahwa kebesaran dan kekuasaan akan kembali pada-Nya. Tidak ada yang bisa selamanya berada di dasar. Semuanya akan kembali dengan jalannya masing-masing.


Ujung jariku menyentuh setiap garis dan sudut benda itu dengan hati-hati. Setiap lekuk yang seolah membagi benda itu menjadi empat sisi selimut dan satu alas berupa lingkaran. Saat aku menyentuk batu akik merah di salah satu sisinya, tiba-tiba batu itu kembali menyala. Tapi kemudian padam lagi saat ibuku memanggil.


"Anna, sayang. Kau sudah makan?" katanya sambil membuka pintu kamar.


"Baru saja mau makan." Aku pandang makanan di mangkuk. Mi Instan yang membesar. Tak ada kuah yang tersisa. Mataku menyipit. Kurasa baru beberapa menit lalu aku memasaknya lalu menaiki tangga dengan cepat.


" Benarkah? kapan kau memasaknya, tadi pagi?"


"Baru saja, jam sepuluh." kataku kemudian mengalihkan pandangan ke jam dinding. Ibuku berjalan mendekatiku. Aku terperangah ketika melihat jam berbentuk lingkaran itu menunjukkan tepat jam tujuh. Kulihat jendela. Gelap. Cepat sekali!


Wanita anggun dengan fisik mirip aku itu menempelkan tangan ke kepalaku.


"Kau berhalusinasi?"


"Tidak. Benar baru tadi aku memasaknya."


"Ini kau masak jam sepuluh pagi tadi. Benar?"


"Mungkin. Tapi seperti baru satu jam yang lalu "


"Ayo ke ruang makan. Ayahmu menunggu."

__ADS_1


"Baiklah."


"Apa yang kau lakukan seharian ini?" Tanyanya penuh selidik.


"Aku hanya mencari informasi dari internet. Tapi rasanya benar-benar baru satu jam yang lalu."


"Ya, waktu memang selalu berjalan cepat kalau kau menikmati sesuatu yang kau lakukan. Ayo cepat turun."


Aku tetap berjalan dalam rangkulan ibuku yang sangat mesra. Sepertinya dia was-was kalau anaknya ini benar gila. Ada kasih sayang berlimpah berbumbu khawatir. Ketukan sepatunya dan sendal lantaiku di tangga kayu rumahku seperti menjadi pengiring yang indah. Ayahku tersenyum saat aku sampai di meja makan.


"Liburanmu sebentar lagi habis. Maaf kami tak menemanimu di rumah. Kau tahu sendiri kami harus mencari uang untuk biaya kuliahmu."


"Aku baik-baik saja, Ayah. Jangan khawatir. Lagi pula liburanku masih lama."


"Baiklah, ayo makan saja."


Aku menari kursi dan duduk dengan cara sesopan mungkin. Cara yang dulu diajarkan oleh ibuku dengan penuh kasih. Aku melakukan yang kuingat saja. Tarik kursi, berdiri di depan kursi, tunggu orang yang lebih tua duduk, barulah aku duduk dengan merapikan rok atau celana.


"I love you, Ayah, Bunda."


"We love you too, Sayang."


Kami bertiga kemudian menyantap makanan yang mereka bawa sepulang berjualan. Entah siapa yang menciptakan suasana hening terlebih dahulu. Yang jelas aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membenturkan sendok ke mangkuk. Ataupun mengeluarkan suara saat mengunyah.


Soto khas daerahku adalah makanan yang selalu terhidang setiap kali aku pulang ke kampung halaman. Tak pernah kutolak apa yang mereka berikan selama itu bukan racun. Aku tak pernah pilih-pilih dalam hal makan.


Setelah selesai makan aku mencoba menarik mangkuk ayah dan ibuku yang telah habis terlebih dahulu. Tapi, ibuku menahannya. Mereka bilang ingin bicara seperti layaknya sebuah keluarga.


"Saat memejamkan mata sepertinya kau meminta banyak sekali tadi. Apa doamu sebelum makan, Sayang?"


"Kau sungguh ingin tahu, Bunda?"


Perempuan berbibir tipis dan berhidung mancung itu memandang suaminya dan aku bergantian lalu menggeleng.


"Baiklah, pertama aku bersyukur untuk makan yang kudapat. Lalu, aku minta kebaikan dari makan itu. Kemudian aku meminta maaf apabila ada zat yang seharusnya tidak masuk ke tubuhku, tidak sebaiknya, atau hak orang lain. Aku juga memintakan orang-orang terkasih agar mendapat makanan yang lebih baik. terutama saat kita sedang tidak bersama. Kau dan Ayah, Bunda."


"Kau anak Baik." Ayahku kelihatan terharu.


"Mungkin tidak sebaik yang kalian kira " Gumamku.


"Kami bangga padamu."


"Well, kalau tidak ada pembicaraan lain, bolehkah aku mencuci peralatan dan kembali ke kamar? Bukankah kalian juga ingin beristirahat setelah lelah seharian bekerja?"


"Baiklah, Bunda menemani."


Mencuci tiga set alat makan bukan hal sulit bagiku. ditambah lagi, ibuku mengawasi. Sebenarnya aku ingin bilang bahwa sebisa mungkin aku tidak akan memecahkan piring atau gelas. Apalagi membuat sendok melengkung. Tapi kurasa dia tidak menakutkan hal itu.


"Ada apa, Bunda?"


"Sayang, umurmu sudah dua puluh tahun. Benar tidak ada laki-laki yang membuatmu tertarik?"


Baru dua puluh. Dan, Ugh! itu lagi!


"Um, sebenarnya ada, Bunda. Tapi mungkin terlarang bagiku untuk mencintainya." Tuturku.


"Siapa?"


"Bolehkah aku mengatakan bahwa laki-laki itu adalah Damar?"


"Anna, jangan gila!"


"Aku memang sudah gila, Bun_"


"Kalian masih dalam garis keturunan ayah. Budaya keluarga besar kita mengatakan itu terlarang. Jika kau tertarik dengan anak dari keluarga ibu justru boleh."


Aku diam melanjutkan kegiatanku, kemudian meniti tangga menuju ke kamar. Aku tahu ibuku mengawasi ku hingga tak terlihat lagi. Helaan nafasnya yang keras dapat kudengar sebelum aku membuka pintu. Aku tidak tahu apa yang keluar dari mulutku tadi. Kenapa aku mengatakan hal segila itu? Benar, Aku mulai tak waras.

__ADS_1


(****)


__ADS_2