
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Menghitung hari untuk mendekati idul fitri, semua orang sibuk akan persiapan lebaran, mulai dari membeli pakaian maupun makanan untuk menyambut hari raya idul fitri tersebut.
"Bang, nanti malam temenin Wulan beli makanan buat isi toples di rumah kita ya? Kan gak enak juga kalau nyambut tamu gak ada suguhan nya" ucap Wulan.
"Boleh, nanti malam abang temenin Wulan buat beli kue atau makanan lainnya untuk lebaran nanti" ucap Marsel.
"Wulan isi daftar listnya dulu ya, biar pas belanja gak kelabakan salah milih kue" ucap Wulan sambil mengambil buku kecil dan menulis daftar isi makanan yang akan dibeli.
"Kalau gitu, abang pamit kerja dulu ya sayang"
Marsel kemudian membungkukkan badannya kemudian mencium istrinya, Wulan bersalaman dan mencium pipi suaminya.
"Abang pamit dulu ya, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, hati hati ya bang"
Marsel kemudian keluar dari rumah, Wulan mengantarkannya sampai di depan pintu rumah.
.
.
Di dalam rumah, Wulan sedang membereskan rumahnya, mulai dari membereskan dapur, ruang tamu, kamar dan kamar mandi.
"Waduhh, capek juga ngerjain ini semua ya, apalagi lagi puasa gini. Sabar lan, dapat pahala juga kok kalau ikhlas beres beres rumah"
Wulan kemudian duduk, ia bersandar di sofa dan menghidupkan televisi nya.
Disaat fokus dengan sinetron yang ditonton, tiba-tiba hpnya berdering, Wulan mengangkat telpon tersebut.
"Halo mah, ada apa? " tanya Wulan.
'Lan, kamu tau Raka ada dimana gak? ' tanya Salma dari telpon.
"Loh, Raka kenapa mah? Ribut lagi sama Sela? " tanya Wulan.
'Seperti itulah, mama khawatir dia habis ribut mau macem-macem, Raka udah jadi tanggungjawab kami selama dia masih di rumah mama sama papa, jadinya sekarang mama nanya sama kamu ' ucap Salma dengan nada suara yang khawatir.
"Sela belum baikan sama Raka, mah? " tanya Wulan dengan penasaran.
'Mama sudah bujuk Sela buat baikan sama Raka, tapi Sela malah ngebantah dan gak mau baikan sama Raka, dia kayaknya beneran benci banget sama Raka, duhh... ' jawab Salma.
Wulan yang mendengar hal tersebut menjadi khawatir dan sedih, karena adik ipar nya belum menerima sepenuhnya bahwa suami adik iparnya sendiri untuk berbaikan.
"Maaf mah, Raka beneran gak ada di rumahnya Wulan, mungkin dia pergi ke tempat lain" ucap Wulan.
'Begitu ya, yaudah maaf ya kalau mama ganggu, mama tutup telponnya, assalamu'alaikum '
"Wa'alaikumsalam "
Panggilan telepon berakhir, Wulan merasa cemas, ia kemudian berpikir lebih jernih untuk bisa berpikir hal yang lainnya.
"Aku harus hubungi Sela, gak bisa dia harus berkelahi dengan Raka"
Wulan mencari nomor hp adik iparnya, ia kemudian menemukan nomor Misella dan langsung menelponnya.
__ADS_1
Menunggu waktu yang cukup lama karena status berdering, akhirnya telponnya diangkat.
"Sela, dek, apa kabar? " tanya Wulan.
'Baik, ada apa ya mbak? '
"Dek, kamu tadi habis berkelahi sama Raka ya, kata mama dia gak tau pergi kemana" ucap Wulan.
Dari telpon terdengar suara decakan kesal dari Misella.
'Mbak, pliss deh, gak usah peduliin laki-laki itu yang bikin Sela hancur kayak gini! Sela gak mau harus selalu lihat dia terus dan bikin Sela muak! ' tegas Misella.
"Sela, kenapa kamu segitu bencinya sama Raka? Memangnya ada kesalahan besar sehingga Sela gak mau maafin Raka? " tanya Wulan penasaran.
'Itu... Emmm... Pokoknya Sela benci deh sama dia...! ' bantah Misella.
Wulan menghela nafasnya, ia kemudian menasehati adik iparnya.
"Sela, coba Sela lembutkan hati Sela sendiri, Sela kan udah kasih jawaban kenapa gak suka sama Raka dan itupun gak jelas apa alasannya... "
Sela hanya diam di telpon, sedangkan Wulan memberikan nasehat pada adik ipar nya sendiri.
"Sela tau gak sama pepatah 1000 kebaikan akan terhapus oleh 1 kejahatan? " tanya Wulan.
'Kenapa? '
"Dek, coba kamu ingat ingat kembali masa masa kamu sama Raka, mungkin kalau kamu mencoba mengingat semua kenangan manis kamu sama Raka, mbak rasa kamu gak bakalan bisa hitung berapa banyak kenangan itu terjadi sama kalian berdua. Mbak yakin, kamu benci sama Raka karena kejadian sebulan yang lalu, itu bagi kamu seperti satu kejahatan yang dibuat sama Raka dan gak bakal bisa kehapus kan? " tanya Wulan untuk meyakinkan Misella.
'Ngga... Ngga kok... ' elak Misella.
"Kamu gak bisa ngelak, dek, mbak tau, tapi mbak mohon sama kamu, bukalah hati kamu buat baikan sama Raka, bagaimana pun kamu sama Raka adalah dua pasangan yang telah ditakdirkan bersama. Mbak juga yakin banyak kenangan manis yang masih kamu simpan bersama Raka, tapi kamu malah membuang kenangan manis itu dengan satu kesalahan yang dibuat sama Raka. Kamu tau gak, Raka pernah mengutuk dirinya gak berguna di depan mbak karena membuat kamu yang awalnya cinta sama dia jadi bikin kamu benci sama dia" jelas Wulan.
"Semenjak mbak nginep di rumah mama kamu, Raka selalu curhat dengan mbak dan kakak Marsel mu kemudian mengutuk dirinya sendiri, dia seperti menyesali keputusan nya yang terlalu tergesa-gesa itu untuk melindungi kamu dari kekhawatiran yang dia lihat dan dengar. Mbak yakin, Raka memutuskan sesuatu yang tergesa-gesa itu ada alasannya, mbak juga yakin kalau Raka memang ingin melindungi kamu, tetapi cara dia salah sehingga dia sendiri mengutuk dirinya. Jadi, mbak minta sama Sela, berbaikan lah, jika terasa susah, kamu buka album atau apapun yang kalian bagi berdua dan masih kalian simpan sampai sekarang. Ingat, Tuhan saja maha pengampun, masa kita sebagai umatnya gak mau memaafkan perlakuan umat lainnya? " tanya Wulan.
Sela terdiam, ia merasakan hal yang aneh terjadi padanya saat kakak iparnya menasehati nya, seperti ada kesalahan dan ingin meminta maaf.
"Kalau gitu, mbak matiin telponnya ya, tolong kamu berbaikan lah dengan Raka, apalagi sebentar lagi lebaran tiba. Sela, bagaimanapun dia sekarang sudah menjadi suaminya Sela dan calon bapak dari anaknya Sela, kalian harus berbaikan untuk menyambut anak kalian nanti dengan kasih sayang dan cinta yang kalian punya. Jangan jadikan alasan bahwa keputusan Raka yang terburu-buru itu adalah jalan Sela untuk membenci sekaligus menganggap Raka itu orang jahat. Kalau gitu, mbak matiin dulu telponnya, assalamu'alaikum"
'Waalaikumsalam'
Wulan meletakkan lagi hpnya di atas meja, sedangkan ia melanjutkan menonton sinetron nya sambil bersantai.
.
.
Di kediaman keluarga Thomas, Misella merasakan hal yang berbeda dengan perasaan nya, ia mengingat setiap perkataan kakak iparnya dan berinisiatif mengambil sesuatu di lemari.
Sebuah buku album terbuka, Misella melihat foto fotonya mulai dari kecil hingga dewasa.
Setiap potret terpampang jelas di buku album tersebut, kemudian Misella dialihkan dengan foto Raka dan dirinya bersama, tentunya dengan catatan kecil di setiap fotonya.
Misella mengambil catatan kecil tersebut, ia membaca catatan tersebut.
Terkesan haru dan nostalgia, Misella mulai menitikkan air matanya, setiap kata kata yang ada di surat tersebut menceritakan kisah cinta nya dengan Raka saat dulu awal berkenalan hingga Raka yang mengajaknya untuk berpacaran hingga bertunangan.
Misella juga mulai berpikir, ia masih menyimpan rasa cinta nya yang di goyahkan oleh emosinya pada Raka, ia tidak akan pernah bisa menemukan laki laki seperti Raka yang selalu mengalah pada sikapnya dan bisa menjadi lelaki penyabar dan setia.
"Raka... " tangis Misella, ia kemudian menangis tersedu sedu sambil memeluk album tersebut. Misella berjalan mencari Raka, ia kemudian mendengar suara Raka dari ruang kerja.
__ADS_1
"Iya mah, Raka baik baik aja kok disini sama keluarga barunya Raka"
'Tapi, kok kamu keliatan kurus nak? Kamu ada masalah ya? '
"Ngga... Ngga kok, Raka kurus ya karena puasa mah, asupan makanan nya gak ada, makanya Raka kurus, mah. Anak mama mana ada masalah kalau udah kerja, iya kan? Hahaha... "
Terdengar semua ucapan Raka sengaja berbohong pada Rani, Misella merasa bersalah telah memperlakukan Raka dengan tidak baik.
"Iya, nanti pas lebaran Raka sama Misella mampir ke rumah, Raka ada kejutan loh buat mama sama papa "
'Wah, kamu kok pinter banget bikin mama penasaran? Kasih tau dong... '
"Nanti dong, gak asik kalau dikasih tau duluan, yaudah, dahhh mama... "
Raka mematikan telepon nya, wajah bahagianya berubah lagi menjadi sedih, tampak ia merasa bersalah ketika membohongi mamanya.
"Ka... "
Raka yang menatap layar hpnya melihat ke arah pintu, Misella masuk dan mendekat Raka kemudian langsung memeluknya.
"Raka, aku minta maaf... Selama ini aku yang jahat sama kamu, kamu sampai berbohong sama mama kamu kalau kita semua dengan keadaan yang baik baik saja... "
Raka mengelus rambut Misella, ia juga memeluk Misella dengan erat.
"Ngga, ini bukan salah kamu kok, ini salah aku. Harusnya aku mikir dulu buat mutusin semua ini, bukannya tergesa-gesa. Aku terlalu overthinking, menganggap kamu takut diapa apain, makanya cepat sekali memutuskan pernikahan yang gak sesuai dengan keinginan kamu"
"Ngga... "
"Aku juga gak mikirin kemauan kamu kemarin, tapi aku janji Sela, aku bakalan bikin resepsi untuk kita, kamu mau kan? " tanya Raka.
"Ngga usah, ka, aku cuma mau bilang makasih sama minta maaf sama kamu. Aku sudah bersyukur sudah bisa ditakdirkan bersama sama kamu, aku harusnya bisa menerima ini, karena ini yang aku inginkan dari dulu saat pacaran sama kamu, ka"
Raka dan Misella berpelukan erat, Raka menenangkan Misella yang masih menangis, karena takut berpengaruh pada kandungan nya.
"Udah, jangan nangis lagi ya, nanti berpengaruh sama baby kita" bujuk Raka.
"Iya ka, aku gak bakalan nangis lagi" ucap Misella sesenggukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣👣