Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 20 SANGKAR EMAS


__ADS_3

Di dalam sangkar emasku


Pagi ini aku malas keluar dari sangkar emasku. Ya, kusebut kamar ini bagaikan sebuah sangkar emas. Terlihat indah diluar tapi kosong dan hampa dari dalam. Tak ada kebahagiaan tak ada hangatnya kasih sayang. Tak ada senda gerau bersama orang terkasih.


Ponselku ku taruh di samping tempatku berbaring. Beberapa hari ini pun aku malas update status atau apapun di sosmedku. Aku abaikan semua nya untuk sejenak. Aku hanya sibuk membaca lembaran demi lembaran buku - buku memasak yang di belikan oleh kak Reno sebagai hadiah untukku mengisi waktu luang. Membuang jenuh dan menambah wawasanku soal dunia memasak katanya.


Sesaat kemudian, ponselku berdering, kuraihnya sambil menyenderkan punggungku ke tempat tidur, kubuka ponselku dengan cepat. Kulihat ada tanda notifikasi pesan masuk.


" Satria." Aku membelalakan mataku agak kaget melihat namanya muncul di layar ponselku. Aneh rasanya menerima pesan masuk dari suamiku, apalagi sepagi ini. Aku tau dia ini tipe yang angkuh untuk mulai percakapan konyol macam ini.


"Ah..mustahil ngapain dia tiba - tiba ngirim pesan aneh begini. Bukannya semalam tadi dia habis bertengkar hebat denganku dan dengan kak Reno? Apa dia sadar akan perbuatannya semalam? Tapi apa mungkin dia sadar dengan begitu cepat? Aku juga tidak terlalu paham apa yang mereka ributkan semalam. Ah..sudahlah! mikirin hal itu bikin aku tambah pusing! Abaikan saja. Mungkin dia hanya iseng. Aku sudah bulat dengan tekadku. Apapun yang terjadi pilihanku takkan berubah."


Semalam tanpa sengaja aku mendengar kak Reno bertengkar dan adu mulut dengan Satria. Tapi, aku urungkan niatku untuk mendekat karena kebetulan mereka bertengkar tepat di taman depan jendela kamarku, aku takut mengacaukan segalanya. Karena aku tau, kak Reno pasti membelaku dan memberikan pencerahan akan sikap Satria yang sudah kelewat batas.


Menurutku, Kak Reno pasti hendak menasehati Satria karena sudah mendengar aku dan Satria bertengkar lalu Satria tak terima di nasehati kak Reno. Aku tau Satria wataknya memang keras kepala dan suka berkehendak semaunya sendiri. Pasti dia marah karena tak terima sudah di nasehati.


Semakin lama aku berpikir, makin banyak pertanyaan - pertanyaan yang muncul di dalam benakku. Aku merasa mual dan pusing. Apalagi semalaman tadi aku banyak berpikir soal hidupku dan jalan penikahanku, terlalu banyak menangis.


***


Dengan berat, aku turun dari tempat tidur melangkahkan kakiku setapak demi setapak sambil menopang berat beban perutku dan berusaha duduk di bawah karpet kamar yang tebal dan berbulu halus.


Dari semalam hingga pagi ini, masih lengkap kukenakan cardigan merah hangat dan kaos kaki motif kupu - kupu karena tiba - tiba badanku mengigil hebat setelah pertengkaran hebat dengan Satria.

__ADS_1


Kusenderkan punggungku dengan pelan dan tertatih di samping tempat tidur. Sambil terus mengusap - usap perut yang tiba - tiba terasa sangat sakit dan kram.


Sakitnya sampai menusuk ke ulu hati. Tulang ekorku pun rasanya seperti mau putus dan remuk. Linu. Akhir - akhir ini, sering sekali aku merasakan kram dan sakit seperti ini tapi tak kubagi keluhku dengan siapapun hanya berusaha mengajak bayiku berbicara dari hati ke hati agar kelak dia baik - baik saja di dalam sana.


Saat ini, kenyerian ini berulang kembali seperti biasanya. Ingin rasanya aku berteriak minta tolong agar ada orang rumah yang mendengar rasa sakitku. Tapi, jangan kan untuk berteriak, membuka mulutku pun rasanya berat dan sulit.


Menit demi menit berlalu, perutku ini rasanya semakin hebat berkontraksi, semakin cepat dan rasanya sudah lemas seluruh kaki ini untuk berdiri dengan benar.


Dengan menyeret kaki dan pantatku dilantai, kuraih gagang pintu kamarku. Berusaha membuka kunci pintu tapi kemudian upayaku gagal. Berkali - kali berusaha kuraih kembali gagang pintu sangkar emas ini.


Kali ini, sebagai upaya terakhir, ku coba kerahkan semua kekuatan dan tenagaku, sampai akhirnya aku berhasil berdiri menyender di belakang pintu dengan cepat membuka kunci dan...


Brugg...


Beberapa saat kemudian...


" Ya..Tuhan!! Non..!! " Sayup - sayup kudengar teriakan bi Inah dari arah ruang an lain disusul dengan teriakan dan sahutan anggota keluarga yang lain.


Entahlah, rasanya seperti di telan bumi... Kepalaku kosong dan tak sadar apa yang sedang terjadi. Pandanganku terasa silau dan berat. Mataku sudah tak mampu lagi terbuka...


Cess...


Sepertinya sesuatu yang mengalir melalui pangkal pahaku. Entah apa gerangan yang sedang menimpaku...

__ADS_1


***


Beberapa saat kemudian


Aku merasa tubuhku sudah berpindah ke dalam suatu ruangan lain. Terasa sempit dan aku bergerak dengan cepat, sempat berpikir bahwa nyawaku pun sudah berpindah dari tempat nya. Pindah menuju dimensi dan waktu yang lain.


Ah tapi tidak mungkin..


Karena sesaat tadi, masih ada sayup - sayup kudengar suara orang - orang menyuruhku untuk membuka mata dan tersadar. Tapi aku nggak hapal dengan wajah - wajah mereka ini. Aku nggak tau mereka itu siapa. Dan aku pun tak tau aku sedang ada dimana.


Sampai akhirnya aku mendengar satu suara yang dengan jelas kuhapal. Suara seseorang yang selalu membuatku jatuh dan cinta, "Puspa, kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita yang kuat. Kamu sabar ya! Kita berjuang sama - sama demi anak kita. Kamu harus yakin kalau kamu bisa dan pasti berhasil melewati semuanya. Semangat yaa Puspa..Aku menunggu mu disini. Menunggu anak kita. Kuatkan hatimu sayang...." Ucapnya pelan di telingaku. Sambil terus menggenggam tanganku erat dan mendorong tempat tidurku menuju ruangan yang membuat mata ku silau karena penuh lampu sorot ke arah tubuhku ini.


***


Rupa - rupanya aku sedang dipindahkan ke ruangan lain dan kini berada di ruangan operasi. Rupa - rupanya orang - orang ini adalah para tenaga medis yang hendak melakukan bedah terhadapku. Apakah semuanya ini nyata? Benarkah aku berada di sini?


Untuk pertama kalinya aku melihat isi dalam ruangan sempit dan mengerikan ini, suatu hal yang tak pernah kubayangkan dan biasanya hanya bisa ku lihat lewat film - film yang sering kutonton. Kenapa aku tiba - tiba bisa berada disini dengan begitu saja? Apa yang akan mereka lakukan denganku? Lalu anakku? Apa yang akan terjadi pada kami? Tidak. Ini pasti tidak nyata.


Aku terus bertanya - tanya tapi tak ada seorangpun yang menjawab ku sampai akhirnya seseorang membalikkan badanku kesamping dan menusukkan jarum ke punggungku. Lemas. dan hanya dalam hitungan beberapa detik aku pun terpejam. Arwahku melayang melewati tubuhku yang sedang terbaring diatas meja operasi. Melesat dengan cepat seperti sedang di tarik menuju alam dunia lain. Semua terasa silau dan berat. Ah...apa inikah gerangan yang dirasakan orang lain saat roh nya terpisah dari raga nya.


Kulihat semuanya serba silau dan akhirnya gelap. Aku tak tau aku berpindah lagi kemana. Selamatkan kami Tuhan...


***

__ADS_1


__ADS_2