Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 31 Om Kusuma


__ADS_3

Semuanya sudah kami persiapkan dengan matang. Kak Reno juga sudah menghubungi rekan polisi dan detektif bayaran yang bisa dipercaya untuk menyelidiki kasus tante Dian.


Hari ini aku berencana menemui tante Dian di rumahnya. Aku sudah mengatur jadwal untuk pertemuan kami. Dengan alasan aku ingin meminta restu dari om Kusuma untuk acara pertunangan kami.


***


Di kediaman tante Dian


Kulihat sekeliling rumah ini tampak asing. Rumah yang dulu kukenal sangat asri dan hangat seolah kini telah berubah. Beberapa orang berbadan tegap dan bermuka garang di pasang di setiap sudut depan rumah. Tampak nya ucapan Shasha tempo hari memang benar adanya. Tante Dian benar - benar memberikan penjagaan ketat di rumah ini. Asisten rumah tangga yang dulu ikut om Kusuma pun telah berganti.


Aku terus memandangi sekeliling sambil terus mengamati situasi yang hendak kulaporkan pada kak Reno. Kami sedang mengatur strategi supaya bisa membawa papa nya Shasha keluar dari rumah ini dan terbebas dari ancaman kejam tante Dian.


" Satria, kamu sudah datang. " Ucap tante Dian. Sontak aku terkaget dari lamunanku dan berbalik menatapnya.


" Hemm.. iya tante. Mana om Kusuma. Kok aku belum lihat dia? " Tanyaku cepat. Berusaha menetralkan suasana.


" Loh. Memangnya Shasha nggak cerita ya. Om Kusuma kan sakit nya benar - benar parah. Tidak bisa keluar kamar. Dia hanya terbaring saja di tempat tidur. Sebenarnya tante sangat khawatir dengan keadaan papa nya Shasha. Makanya tante ingin sekali cepat - cepat mengadakan pesta pertunangan kalian. Biar papa nya Shasha senang dan cepat pulih kembali kalau sampai mendengar berita bahagia ini. " Tante Dian terlihat sangat natural. Ucapan dan raut wajahnya menggambarkan seolah - olah dia memang benar - benar tulus menginginkan kesembuhan om Kusuma. Aku salut karena tante Dian memang jago dalam berakting. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa tante Dian sampai tega menyakiti dan mengancam Shasha serta papa nya. Aku benar - benar ngeri membayangkan seperti apa sebenarnya tante Dian.


***


Shasha memasuki ruangan tempat aku dan tante Dian yang sedang mengobrol.


" Satria, kamu mendadak sekali nyuruh aku kesini. Padahal aku sebentar lagi ada jadwal shooting dan pemotretan iklan. Aku nggak bisa lama - lama nemuin kamu di sini. " Ucap Shasha sambil berjalan masuk dan langsung duduk di sampingku.

__ADS_1


" Oh. Jadi kamu sibuk Sha. Nggak apa - apa sih. Aku cuma kebetulan lewat dan mampir sebentar. Aku denger katanya papa kamu sakit. Makanya aku sekalian nengokin. Ini juga aku belum sempet masuk kamar papa kamu kok. Aku nggak tau loh Sha, papa kamu sampai nggak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kenapa kamu nggak pernah ceritain semuanya ke aku? " ucapku seolah - olah aku dan Shasha tidak pernah membicarakan soal papanya yang sakit dan kedatanganku ke rumah ini. Shasha dan aku tidak mau kalau sampai tante Dian curiga padaku.


Kulihat raut wajah tante Dian tampak kikuk.


"Oh, iya tante. Bolehkan kalau aku masuk kamar om Kusuma dan nemuin dia sebentar? " Tanyaku cepat. Aku berpura - pura tidak menjadwalkan acaraku kesini. Tapi memang Shasha benar - benar baru saja mendadak kuhubungi hari ini agar semuanya terlihat lebih alami dan tidak menimbulkan pertanyaan di depan tante Dian.


Tante Dian berdiri dan mempersilahkan aku masuk kamar om Kusuma. Dia mengantarkan aku sampai ke depan pintu. Di sana ada seorang perawat pribadi yang menjaga om Kusuma. Perawat itu membukakan pintu untuk kami.


" Silahkan masuk, mas. " Ucapnya sopan menyambut kedatangannku.


Saat memasuki kamar kulihat pemandangan yang memprihatinkan. Beberapa selang terpasang di lengan om Kusuma. Om kusuma tidak bisa menggerakan tubuhnya seperti sedang koma. Wajahnya tampak kurus dan sangat pucat. Berbeda dengan perawakannya dulu saat aku masih SMP, om Kusuma yang tegap dan berwibawa yang sering aku lihat beberapa tahun lalu kini sudah tidak terlihat sama sekali.


Aku terlalu sibuk dengan hidup dan masalahku sendiri sampai - sampai aku mengacuhkan orang di sekitarku. Aku merasa iba dengan keadaannya yang seperti ini.


***


Setelah keluar kamar om Kusuma. Kulihat Shasha masih tidak beranjak dari sofa ruang tamu. Apa Shasha takut tante Dian memarahinya karena itu dia tidak ikut menemui papanya. Pikirku dalam hati.


" Sha, kamu nggak jenguk papa kamu?"


Shasha menggelengkan kepalanya pelan. " Aku nggak tega lihat papa. Cukup aku disini saja, mendoakan untuk kesembuhannya dari jauh. " Ucap Shasha tampak lesu.


Tante Dian yang mendengar ucapanku pun menyerobot. " Dia bisa lihat papa nya kapan saja dia mau. Mungkin dia buru - buru mau shooting juga. Lagian, Shasha anaknya nggak tegaan lihat papanya... Bisa - bisa matanya bengkak gara - gara nangis terus dia jadi jelek depan kamera. Kan bahaya itu. Ya kan Sha?"

__ADS_1


Shasha mengangguk pelan. " Ya ma"


" Bener Sha. Kamu nggak mau jenguk? Mumpung kamu kesini kenapa nggak sekalian kamu sapa papa kamu Sha. " Tanyaku menegaskan. Maksud hati agar Shasha diperbolehkan tante Dian untuk menjenguk papanya. Aku tau Shasha pasti takut dengan tante Dian.


" Iya... Mama bener. Aku nggak bisa lama - lama di sini aku buru - buru. Sorry ya Satria. Aku pergi duluan. Manager aku juga udah nunggu aku di mobil. " Jawab Shasha cepat sambil berdiri dan melangkahkan kaki nya keluar rumah.


" Kalau gitu aku sekalian pamit ya , tante. Oh ya tante, bolehkan kalau kapan - kapan aku mampir kesini lagi jenguk om Kusuma? ".


Tante Dian mengangguk pelan dan tersenyum ramah. " Iya. Tentu saja kamu boleh mampir kapan pun kamu mau. "


" Ok. Makasih ya tante. Aku pamit dulu . "


Kupercepat langkah kakiku dan kususul Shasha yang berjalan duluan ke mobilnya.


" Sha. Kenapa kamu nggak masuk jenguk papa kamu sekalian? Padahal tadi kesempatan bagus buat kamu ketemu beliau. Katanya kamu kangen banget sama dia. " Tanyaku penasaran.


Shasha urung membuka pintu mobilnya. Dia menyenderkan punggungnya di mobil merah city car milik nya. Di dalam mobil itu sudah menunggu Rina, sang manager barunya. Proyek terbarunya menuntut dia memiliki seorang asisten.


" Manager aku udah nunggu di dalam. Aku juga nggak sempat jadwalku padat banget. Harusnya kamu kontak aku dulu sebelum kamu bertindak gegabah atau mau ke rumah aku. Aku jadi bingung sendiri karena belun menyiapkan amunisi buat melawan tante Dian. Kamu paham kan akan situasinya. " Shasa mengenakan kaca mata hitamnya. Membuka mobilnya dan managernya mulai menyalakan mesin mobil.


Aku terpaku beberapa saat menatap kepergian Shasha yang melesat dengan cepat. Sebenarnya di sini siapa yang butuh bantuan siapa. Kok jadi dia yang suruh aku kompromi dulu. Ah aku jadi bingung!


***

__ADS_1


__ADS_2