
Selain kakek yang akan membiayai study Puspa di Perancis. Mama juga sepertinya benar - benar menyetujui kepergian Puspa ke kota Paris, Perancis. Ternyata diam - diam keluargaku sudah menyiapkan semuanya. Termasuk passport dan dokumen yang lainnya pun sudah siap. Bahkan mama sudah menghubungi pihak Le Pasta untuk bantu dicarikan tempat tinggal sekitaran tempat Puspa mengambil Culinary art. Semuanya tanpa sepengetahuanku. Aku merasa di bohongi dan dikhianati oleh keluargaku sendiri.
" Yang benar saja mah ? Kenapa sih mama ijinin Puspa berangkat ke sana? Dia kan masih istri sah aku mah. Harusnya dia minta ijin aku dong sebagai suaminya. " Protesku.
Mama menepuk bahuku pelan. " Sudahlah! Ini semua mama lakukan sebagai bentuk penyesalan mama karena selama ini mengabaikan kehadiran Puspa di rumah ini. Mama sudah terlalu jahat sama dia sampai - sampai dia harus stres dan kehilangan cucu mama yang sedang dia kandung. Masalah kalian masih berstatus suami istri atau tidak. Kalian bisa putuskan sekarang. Kamu bisa ceraikan dia sekarang juga. " Jawab mama datar.
Aku mendengus kesal dengan pernyataan mama barusan. " Apanya yang menebus ma. Itu namanya mama malah menyiksa anak mama sendiri. Kenapa mama malah jauhin aku sama dia ma. Lama loh itu mah. Jauh lagi. Gimana si mama! " Kulipat tanganku di dadaku dan memalingkan wajahku dari mama.
Kakek yang dari tadi memperhatikan perdebatan kami tiba - tiba ikut angkat bicara. " Sudahlah Satria. Semuanya ini Puspa yang mau. Dia yang minta melanjutkan study nya. Toh, ini bagus juga demi masa depannya. Harusnya kamu pun ikut mendukungnya bukan malah menghambat cita - citanya. "
" Ya aku tau kek. Semua demi masa depan dia juga. Tapi, kenapa kakek kirim dia jauh dariku? Kenapa nggak di Indonesia aja si? Kenapa nggak sekampus denganku juga? Atau minimal dia bisa kuliah satu kota sama aku." Aku makin kesal mendengar per nyataan kakek.
" Loh, kok kamu yang protes. Kan katanya kamu nggak cinta sama Puspa. Kata mama kamu mau di jodohkan dengan Shasha? Kata mama mu, dulu kamu mohon - mohon supaya Shasha jadi pendamping hidup kamu. Lalu kenapa sekarang kamu jadi tiba - tiba merengek soal kepergian Puspa ke Perancis. " Kakek membuatku merasa semakin ingin protes karena beliau membawa nama Shasha di perbincangan kami kali ini.
" Nggak. Aku nggak mau punya istri macam Shasha. Aku maunya Puspa. "
Mama dan kakek tiba - tiba tertawa terkekeh mendengar pernyataanku barusan. Papa yang tiba - tiba hadir di tengah kami merasa keheranan karena mama dan kakek tertawa bebarengan sementara aku terlihat memanyunkan bibirku.
__ADS_1
" Ada apa sih? Kok rame banget?" Tanya papa penasaran.
" Ini loh pa, Satria protes karena Puspa mau ke Perancis. Terlebih lagi, dia protes kalau dia dijodohkan dengan Shasha. Padahal dulu kan dia sendiri yang maksa nggak mau nikah sama Puspa. Kan lucu ya pa? Satria ini kan belum genap 20 tahun. Tapi pemikirannya sudah nikah dan nikah. Gimana nasib perusahaan kita kalau yang dipikirannya hanya perempuan. " Mama menjelaskan semuanya panjang lebar di hadapan papa.
Papa menyuruhku untuk duduk bersebelahan dengannya. " Begini Satria, kamu memang belum genap 20 tahun. Tapi, masalah yang menimpamu akhir - akhir ini membuat kamu harus berpikir lebih dewasa dan bertanggung jawab. Sebagai seorang ayah, papa hanya bisa berpesan. Kamu sebaiknya pikirkan perasaan istrimu yang masih sangat muda. Cita - citanya tiba - tiba hancur karena kehamilannya di luar nikah. Pernikahan terjadi terlalu dini. Di saat dia menerima semuanya. Perasaanya kembali hancur karena bayinya meninggal. Hatinya hancur secara terus menerus dan bertubi - tubi. Selain itu, kelakuanmu di luar sana dengan Shasha juga tidak bisa di tutupi lagi. Semuanya telah menjadi aib bagi keluarga kita. Mungkin membuat Puspa hancur untuk sekali lagi. Apa kamu yakin kamu bisa membuat Puspa kembali bersamamu setelah kamu banyak berbuat salah kepadanya?"
Pertanyaan terkahir papa membuatku tersadar. Ya, apa aku bisa membuat Puspa kembali mencintaiku seperti dulu lagi saat kami masih pacaran. Saat aku belum banyak menyakiti perasaannya. Adakah cara lain agar Puspa kembali ke pelukannku? Entahlah...terlalu banyak luka yang sudah aku berikan untuknya.
" Papa benar. Aku juga nggak boleh terlalu egois dengan diriku sendiri. Aku banyak bersalah sama dia. Mungkin akan sedikit sulit baginya untuk membuka hati kedua kalinya. Tapi, apa aku salah kalau aku ingin Puspa tetap bersamaku pa? Pa, baiklah kalau itu yang dia mau. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu Puspa akan bisa memaafkanku. "
" Pa, tapi aku nggak akan ceraikan dia sampai dia sendiri yang minta. Aku biarkan dia berpikir selama masa study nya yang itu. Aku berharap seiring dengan berlalu nya waktu dia akan sedikit mengurangi kekecewaanny terhadapku. "
" Itu terserah kamu Papa nggak akan lagi menghalangi cinta kalian ketika dia benar - benar bisa mau memafkan semua kesalahan kamu. Kamu tau kenapa Satria?"
Aku menggelengkan kepala, " Nggak pa. Aku nggak paham maksud papa. "
" Karena hanya orang yang benar - benar tulus mencintai kamulah yang akan menerima semua kekurangan serta kesalahan yang sudah banyak kamu perbuat. Itu tandanya bahwa tidak ada yang lebih baik dari menerimanya dengan tulus. Dan pada saat itulah cinta kalian sudah berada pada titik level yang lebih tinggi. Jadi buat apa kami menghalangi. "
__ADS_1
" Ya, jadi sekarang kamu harus merelakan Puspa untuk meraih apa yang dia mau. Kamu juga harus bisa menguji kadar cintamu kepadanya. Setelah 2 tahun kalian berpisah akankah cinta kalian bertahan terpisah oleh jarak dan waktu." Lanjut papa menjelaskan.
Aku hanya terpaku berusaha mencerna kata demi kata yang barusan papa ucapkan.
" Jadi, aku masih boleh bersama dia setelah kepulangan dia dari Paris? "
Papa menatap ke arah mama. Mama kemudian menjawab, " Ya sudah kalau itu mau kamu mama bisa apa. Mama sudah terlanjur terbiasa melihat Puspa di rumah ini. Ternyata memiliki menantu dari kalangan bawah tidaklah terlalu buruk jika dia seorang gadis pintar seperti Puspa. Mama akan membatalkan acara perjodohan kamu dengan Shasha. Tante Dian orang baik, dia pasti mengerti apa yang kamu inginkan. "
" Benarkah? " Tanyaku sumringah.
Mama mengangguk mantap sambil tersenyum tulus menatapku. Spontan kupeluk mama dan mengecup pipinya yang lembut, " Makasih, ma ". Ucapku senang.
" Ya. Tapi itu kalau kamu bisa yakinin Puspa loh. Kan Puspa belum tentu mau sama kamu lagi. "
Kulepaskan pelukan eratku ke mama. Ya, memang benar meskipun mama sudah merestui hubungan kami, belum tentu Puspa mau kembali berhubungan denganku. Aku pun hanya tersenyum getir.
***
__ADS_1