Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 39 CEO YANG DINGIN


__ADS_3

" Selamat pagi, tuan muda " Sapa wanita cantik di depanku.


" Pagi !"


" Selamat pagi tuan " Sapa yang lainnya sambil sedikit membungkuk.


" Pagi, pak " Disusul sapaan yang lainnya.


Kulangkahkan kaki ku dengan tegap dan gagah melewati mereka semua. Sedikit kurapihkan jas yang kupakai dan mengencangkan dasi yang menggantung di leherku. Aku ingin penampilanku selalu terlihat senpurna dan memukau di hadapan semua orang.


Ya, inilah Pemandangan dan kebiasaan setiap hari yang selalu aku temui. Aku pun sudah mulai terbiasa akan hal - hal yang menyangkut dengan perusahaan ini.


" Ya, selamat pagi semuanya !" Jawabku singkat sambil berlalu pergi dan masuk ke ruanganku dengan cepat.


" Rika, siapkan berkas - berkas rapat kita pagi ini dengan klien. "


" Siap pak. Bapak tidak mau sarapan dulu ? " Tanya sekretarisku yang sudah mengikutiku dari tadi.


" Kamu lupa dengan kebiasaanku ? Aku tidak pernah mau sarapan atau makan apapun sementara pekerjaan menumpuk semua di sini. " Jawabku ketus.


" Jangan lupa siapkan segelas espresso dengan brown sugar. Kamu selalu saja lupa dengan brown sugarnya! "


" Baik pak. " Jawab Rika cepat.


" Jangan sampai aku pecat kamu kalau kamu telat. "


Wajah Rika berubah ketakutan. Dia mundur beberapa langkah dari hadapanku. Rika mendekap berkas - berkasnya dengan gemetaran.


" Ya pak. Maaf aku kira bapak mau sarapan dulu. Kopi bapak akan siap dalam 5 menit. "


" Sudahlah kamu pergi sekarang siapkan berkas - berkas itu dan sepuluh menit lagi team sudah berkumpul di ruang rapat. " Ucapku keras sambil menyuruh sekertarisku itu keluar ruangan.


Rika dengan cepat keluar ruangan CEO dan bebarengan masuk seseorang tanpa mengetuk pintu. Seorang pria berperawakan tegap atletis memasuki ruangan, dia tersenyum ramah dan langsung duduk di meja kerja CEO dengan tangannya masuk ke dalam saku celananya.

__ADS_1


" Kamu ini kenapa. Makin hari kok kamu makin ketus dan judes sama semua karyawan kamu. "


Aku masih sibuk menandatangani berkas - berkas dan mengecek semua persiapan rapat dengan teamku pagi ini. " Sudahlah tiap hari itu - itu saja yang kamu bicarakan. Aku mulai jenuh. "


Pria dihadapanki terkekeh. " Kamu ini... Pantas saja nggak ada wanita yang mau deketin kamu. Sudah keburu ketakutan mereka punya bos tampan tapi galaknya minta ampun. "


" Biarlah. Memangnya kenapa?" Aku masih tetap fokus membaca berkas - berkas di hadapanku.


" Tapi setidaknya kamu jagalah pola makanmu . Jangan rusak lambungmu sendiri. " Ucapnya mengingatkan.


" Lama - lama kakak ini sudah mirip seperti mama. Setiap hari mengoceh soal memporsir diri dengan pekerjaan. Padahal aku hanya menjalankan tugas dan peranku dengan baik. Supaya perusahaan kita ini makin maju. " Jawabku sambil beranjak dari kursi dan kak Reno mengikutiku dari belakang.


" Pantes saja sampai sekarang kamu ini masih jomblo. Yang kamu pikirkan hanya soal perusahaan. "


Aku berisyarat agar kak Reno tutup mulut. " Sshh...ini perusahaan jangan biarkan karyawan bergosip soal bos nya yang jomblo. "


Kak Reno mengepalkan jarinya dan menutup mulutnya sambil terkekeh. "Ya. Siap pak bos. " Ucapnya sambil terus mengekorku menuju ruang rapat.


***


Ya. Aku kini menempati posisi sebagai CEO di perusahaan milik Wirajaya group. Memimpin ratusan karyawan di perusahaan makanan instan. Tahta ayahku telah di turunkan kepada ku. Kak Reno pun menjadi wakilku di perusahaan ini. Sementara kakek, beliau sudah pensiun dan sibuk menikmati masa tuanya.


Sudah empat tahun berlalu sejak kepergian Puspa ke Paris. Aku menjalani hidupku dengan baik. Menamatkan kuliahku dengan cepat dan menjalankan perusahaan ini hingga melesat naik dan menghasilkan omset yang melonjak naik dari tahun ke tahun.


Sementara Shasha, aku sudah lama tidak mau berhubungan lagi dengan dia atau pun keluarganya. Shasha kini menjalani dunia keartisannya yang glamour dengan baik. Dia menjadi seorang artis yang sering tampil di televisi. Meskipun terkadang dia masih sering berusaha menemuiku di kantor. Apalagi sekarang dia tahu bahwa aku adalah seorang CEO.


Ya. Shasha masih terkadang tiba - tiba muncul di hadapanku. Membuat karyawan - karyawanku bergosip bahwa dialah kekasihku. Padahal tidak sama sekali aku menyentuh ataupun menerima gadis manapun. Aku masih setia dengan janjiku pada Puspa untuk terus menanti kedatangnya. Orang lain mungkin berpikir bahwa aku ini lelaki yang dingin dan arogan. Tapi, percayalah bahwa aku sedang menahan diri dan menerima hukuman atas apa yang kulakukan pada istriku di masa lalu. Aku anggap semuanya hanyalah ujian akan ketulusan cintaku pada Puspa. Tidak mudah memang, tapi aku berhasil melewati semuanya.


***


Puspa. Apa kabarnya dengan dia yang sedang mengejar cita - cita menjadi seorang chef. Terakhir kali aku mendapat kabar bahwa dia melanjutkan lagi study nya dan mencoba peruntungannya di sana. Aku tidak tahu bahwa akan selama itu dia pergi menjauh dariku. Kukira dia hanya dua tahun meninggalkan aku sendiri di sini. Nyata nya sudah dua kali lipat waktu yang dia berikan untuk mengujiku.


Gadisku. Entah bagaimana rupamu sekarang. Aku tak pernah mendengar kabar darimu. Tidak pernah tau fotomu. Miris. Padahal jaman sekarang sudah serba canggih. Tapi video call pun tidak pernah.

__ADS_1


Aku merasa iri dengan kak Reno yang kini sudah jauh melesat di depanku. Menemukan seorang perempuan yang dia cintai dan mengikat janji dalam sebuah ikatan pertunangan.


" Eheemm. Maaf pak "


" Rika! Kamu ini. Kebiasaan ya kamu masuk tanpa mengetuk. " Aku tersentak kaget dengan kedatangan Rika yang tiba - tiba sudah berada di depan meja kerjaku.


" Bapak. Aku sudah ketuk pintu pak. Tapi bapak saja yang sibuk melamun. " jawabnya dengan nada protes.


" Sudah - sudah. Ada apa? Mana berkas rapat tadi yang perlu aku tanda - tangani?"


Rika menyodorkan berkas - berkas rapat tadi. " Pak, sudah jam makan siang. Bapak mau makan apa? " Tanya Rika kemudian.


" Buatkan kopi saja lalu kamu boleh pergi makan siang. Aku masih banyak pekerjaan. "


" Baik pak." Rika pun keluar ruangan CEO.


***


Salah satu proyek terbaru perusahaan membuatku tidak berselera untuk makan. Kebiasaanku akhir - akhir ini adalah melewatkan sarapan dan jam makan siang. Hanya kopi yang selalu mengganjal perutku di kala aku bergelut dengan berkas - berkas perusahaa.


Tok..tokk..tok..


" masuk " Jawabku sambil tetap menunduk memeriksa berkas rapat tadi.


Harum semerbak parfum aroma rose menyengat hidungku tiba - tiba.


" Ish...siapa pakai parfum sampai. .." Pekikku sambil menutup hidungku.


Terperanjat !! Ucapanku terhenti sesaat.


Aku kaget menatap orang yang datang tiba - tiba dan sedang berdiri di hadapanku ini. Wajahnya sangat familiar. Dia tersenyum manis sambil menatapku. Menyenderkan tubuhnya di kursi, tepat di hadapanku.


" Kamu... " Ucapku sambil sedikit terbata.

__ADS_1


Dia hanya membalasku dengan senyumnya dan menatap wajahku dengan lekat.


***


__ADS_2