
" Ahhhh...damn it! Kenapa aku bisa ceroboh gini sih. Alih alih mau menghindar dari wanita siluman itu sekarang malah kena jebakan begini. " Kesal rasanya hingga ke ubun - ubun, kubanting berkas - berkas di atas meja kerja.
Keputusan hasil rapat tidak bisa di ganggu gugat mengingat anggaran yang sudah divisi keuangan gelontorkan cukup banyak untuk proyek promosi produk baru ini. Team divisi pemasaran pun menolak untuk membatalkan kontrak karena perencanaan sudah sangat matang dan hanya butuh beberapa hari lagi sampai waktu shooting tiba. Meskipun aku seorang pimpinan, keputusanku tidak bisa semena - mena ataupun asal sesuai keinginanku. Semuanya harus sesuai kesepakatan dari seluruh divisi.
" Mau tak mau aku harus menerima wanita siluman itu menjadi partner bisnisku. " Umpatku dalam hati.
***
Kurebahkan tubuhku di ranjangku. Penat rasanya seharian ini mengurus pekerjaan kantor. Belum lagi masalah Shasha yang tiba - tiba harus menjadi bintang iklan produk perusahaanku. Aku sudah tidak bisa mengelak lagi.
Kulepaskan dasiku dan jasku kulempar ke dalam keranjang pakaian kotor. Lelah. Kunyalakan air hangat di bathtube. Berendam di dalam nya selama beberapa menit akan membuat tubuh ini segar kembali.
Selesai mandi. Masih mengenakan handuk putih tebal.
Drrtt...drtt...
Ponselku berbunyi. Dengan cepat aku raih dan seketika mataku pun terbelalak melihat isi pesannya.
' Kamu lihat di telivisi sekarang. Siapa yang ada di sana sedang siaran langsung ' Kak Reno mengirim pesan singkat yang membuatku kaget dan penasaran.
" Jangan - jangan si Shasha membuat gosip yang tidak tidak di televisi. Sial. Ini gara - gara dia bergelayutan di leherku tadi pagi. Ishh..." Dugaanku langsung tertuju pada si wanita siluman.
Klik.
Kumatikan ponselku. Bergegas mengambil remote tv. Mataku makin terbelalak kaget. Karena bukanlah Shasha yang kulihat di sana.
" Puspa ?"
" Itu Puspa ? " sontak aku berdiri dan berjoget kegirangan. Aku melihat Puspa sedang tampil di Tv lengkap dengan pakaian kebesaran seorang chef.
" Bagaimana bisa? Dia sedang siaran langsung? Berarti dia ada di Indo? Tapi kenapa dia nggak langsung pulang. Kasih kabar atau hubungi aku? " Beberapa pertanyaan sempat muncul berhamburan di kepalaku.
Cepat - cepat kuambil ponselku.
" David. Kamu cepat nyalakan tv" Perintahku dengan nada agak keras pada David.
" Ya pak. " David yang baru saja tiba di rumahnya, kaget dengan perintah bosnya bergegas dia langsung menyalakan televisi.
__ADS_1
" Kamu lihat acara tv itu David. Kamu cari tau mereka sedang shooting dimana. Kamu kan banyak berhubungan dengan orang tv. Tapi, usahakan jangan sampai mereka tau kalau aku yang bertanya. "
" Baik pak "
" Dua menit. Aku tunggu dua menit dari sekarang" , Kumatikan ponselku dan langsung bergegas berganti pakaian terbaik.
Lelah dan penat yang semula menyergap tubuh rasanya hilang seketika. Semua karena kulihat Puspa di tv. Ya, istriku muncul di tv. Apakah dia ingin memberikan kejutan saat kepulangannya sampai - sampai aku tidak di kabari.
' Gedung Flamboyan lantai 5'
David mengirimkan alamat tempat shooting itu berada. Tidak sampai lima menit sudah kuparkirkan kendaraanku menuju ke sana. Gemetar rasanya hatiku ingin segera menumpahkan rasa rindu ini pada Puspaku.
***
Sementara itu kak Reno baru saja tiba di parkiran rumah.
" Mau kemana kamu? " Tanya kak Reno yang heran melihatku berlari tergesa - gesa menuju mobil.
" Puspa. Thanks kak infonya! " Jawabku cepat sambil menyalakan mesin mobil dan memutar stir mobil dengan cepat. Melesat meninggalkan kak Reno yang senyum - senyum sendiri melihat tingkahku.
" Pak, ini bunga pesanan bapak."
" Ya. Sekarang kamu parkirkan mobilku lalu kuncinya kamu bawa ke atas ya. Aku mau menemui seseorang"
" Baik pak. " Jawab Rika dengan sopan.
"Tumben pak Satria sumringah begitu. Selama setahun ikut dengannya aku tidak pernah melihat dia sebahagia itu. Apalagi sampai memesan mawar dan reservasi restaurant untuk dinner romantis. Sebenarnya untuk siapa pak Satria melakukan itu. " Pikir Rika dalam hati.
***
Ting..
Sesampainya di lantai lima tempat Puspa sedang shooting. Aku melihat Puspa di balik layar, tempat sutradara dan crew yang lain berkumpul. Sutradara di sana merasa heran dengan kehadiranku di tempat ini.
" Ada apa pak, sampai tiba - tiba pak CEO datang ke lokasi shooting kami? "
" Oh, tidak. Silahkan lanjutkan saja shooting kalian. Tidak perlu menghiraukan kehadiranku di sini. " Jawabku cepat. Aku ingin menghindari deretan pertanyaan dari para crew ini.
__ADS_1
Rika menghampiriku, menyediakan kursi untuk tempatku menunggu sampai selesai shooting. " Pak, ada lagi yang bapak perlukan "
"Sudah Rika, kamu boleh pulang sekarang. Mumpung suasana hatiku sedang baik. Kamu bisa pergi. "
" Ya pak. " Jawab Rika sambil berlalu pergi. Lalu aku menunggu jalannya shooting dengan jantung berdegup kencang.
***
Wanita yang sangat kurindukan ini menatapku heran. Dia melepaskan apron dan topi chefnya. Memberikannya pada asistennya. Dia menghampirku. Pelan. Langkah kakinya kuhitung selangkah demi selangkah.
Tiba - tiba waktu seolah berhenti untuk sejenak. Kutatap wajah nya lekat. Senyum manisnya mengembang dengan indah. Senyum yang selama bertahun tahun lamanya sudah sangat kurindukan. Kuberikan buket mawar ini padanya.
" Thanks. " jawab nya singkat.
" Puspa. " Suaraku bergetar karena bahagia ini sudah tak terbendung.
" Ya. "
" Aku kangen kamu. " Ucapku pelan.
Kutarik tanggannya dan mendekapkan tubuhnya ke pelukanku. Harum khas aroma parfum vanila kesukaannya masih sama seperti yang dulu dan selalu kurindukan.
Puspa hanya terdiam menerima pelukanku. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Tidak menolak dan tidak pula menerima pelukanku. Dia diam terpaku.
Beberapa crew shooting melihat kami yang sedang berpelukan. Mereka berbisik - bisik di belakangku. Aku tidak menghiraukan kalau sampai akhirnya mereka bergosip tentang aku. Atau berita di tv muncul soal aku yang memeluk wanita ini. Biar saja aku tak peduli.
" Puspa. " Ucapku sekali lagi sambil tetap memeluknya erat.
Dia mengangguk perlahan.
" Ya kenapa? " Jawabnya pelan sambil menengadahkan wajahnya tepat sepuluh senti di depan wajahku. Dia yang berbadan mungil kuangkat dan kutarik dalam pelukanku lebih erat lagi.
" Puspa " Aku memegangi kedua pipinya dan mengecup lembut bibirnya. Seolah tak peduli semua orang sedang menatap ke arah kami. Beberapa detik kami tersadar dan dia mundur beberapa langkah menjauh dariku.
" Mas sebaiknya kita bicara di tempat lain" Ucap Puspa sambil menuntunku keluar ruangan tempat shooting itu berlangsung. Para crew masih berbisik di belakang kami. Sebagian lagi memotret kami. Biarlah aku tidak peduli. Sekarang Puspa lah yang ada dipikiranku saat ini. Betapa senangnya penantian panjang ini berakhir dengan pertemuan yang indah. Wanita yang aku cintai telah kembali dan sekarang dia sedang memegang erat tanganku. Menuntunku dengan lembut.
***
__ADS_1