
Hari ini dokter datang lagi melihat kondisiku, sepertinya luka jahitan ku sudah mulai sembuh. Malu rasanya melihat tubuhku penuh dengan luka jahitan.
Tapi, nyatanya bekas luka ini tidak sakit. Luka ini justru menorehkan luka hati yang lebih dalam dan terasa lebih sakit. Sakit karena harus kehilangan buah hati yang sudah dengan susah payah aku kandung.
***
" Eheemm..eheemmm.." Satria berdehem kecil melihatku yang terus menerus menunduk melihat perut dan mengelus - elus perutku.
Dengan cepat kutarik selimutku dan berbaring menyender di tempat tidur.
" Ngapain kamu datang lagi kesini ? "
Satria duduk di samping tempat tidurku, memegang kakiku dan memijitnya pelan.
" Puspa, aku kan masih suami kamu. Aku bebas dong keluar masuk kamar istri aku. Apalagi ini rumah aku. Masa aku nggak boleh nengokin istri aku yang masih sakit pasca operasi kemarin? " Tangannya terus memijit kakiku.
Aku tidak berusaha menepisnya karena rasanya hangat dan lumayan menghilangkan lelahku. Aku tersenyum tipis, tapi berharap Satria tidak melihatku.
" Iya. Aku tau ini rumah kamu. Tapi gimana kalau sampai kakek, papa serta mama tau kamu ada disini. sering - sering kesini nengokin aku. Kan mereka nggak mau aku sekamar sama kamu. Lagian..aku kan mau..." . Satria menutup mulutku rapat dengan jarinya.
__ADS_1
Mendekatkan hidungnya ke wajahku, tiba - tiba mengecup bibirku dengan lembut. " Bisa nggak sih. Sehariii...aja kamu nggak cerewet. Nggak kebanyakan protes ini itu. " Ucapnya setelah selesai mengecupku tiba - tiba.
Aku terdiam terpaku, menatap wajahnya. Aku jujur tidak paham apa yang sedang dia lakoni, apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan. Aku hanya menunggu dia berkata sesuatu.
" Puspa. Jujur. sebenarnya aku tau, aku yang salah karena dulu sudah nelantarin kamu dan anak kita. Aku terlalu takut akan aturan papa mama yang melarang kita terlalu dekat walau sudah berstatus suami istri. Aku juga takut mempercayai diriku sendiri apa aku benar - benar cinta sama kamu apa tidak. Saat ini, Aku masih menyelami perasaan aku sendiri. Jadi, tolong kamu beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya. Aku tau, ini semuanya terlambat bagi kamu. Toh, anak kita sudah pergi untuk selamanya. Aku yang salah. Aku salaahh..aku tau.." Satria menarik nafasnya dalam.
Satria menarik lenganku, menggenggamnya erat. " Ijinkan aku buat mulai semuanya lagi dari awal. Meski ini terlihat berat. Ijinkan aku menebus semua kesalahanku di masa lalu. "
Aku masih terpaku, berusaha mencerna setiap kata - kata yang keluar dari bibirnya.
" Kenapa kamu diem Puspa ? Kamu mau kan mulai semuanya dari awal? Aku tau ini berat buat kamu. Tapi, please..".
" Trus, gimana sama papa mama kamu. Kupikir ini yang mereka mau, aku pisah sama kamu. Toh kita udah nggak ada lagi urusan. Anak kita juga udah nggak ada. Semuanya jadi lebih mudah kan? "
" Trus, gimana sama pacar kamu? " Tanyaku cepat. Satria langsung berubah aura wajahnya.
" Maksud kamu apa? "
Aku menarik jemariku yang masih di genggam oleh Satria, melipatnya ke dadaku. " Aku tau kamu masih punya hubungan dengan cewek yang katanya cinta pertama kamu. Yang setiap malam kamu temuin. Tiap hari kamu jalan sama dia. Ya kan? Kamu bosen sama dia trus balik ke aku trus balik lagi ke dia kalau kamu bosen sama aku. Terus aja gitu bolak balik sesuka kamu. Aku bukan bahan permainan konyol kamu Aku tau semuanya. Aku juga tau puisi - puisi cinta yang dulu kamu kasiin saat kita masih pacaran dulu bukan karya kamu. Bukan benar - benar isi curahan hati kamu buat aku. Lantas kenapa sekarang tiba - tiba kamu datang ke aku dan pengen aku pertahanin hubungan kita. Buat apa? Supaya kamu puas bisa permainkan aku lebih jauh lagi. Gitu maksud kamu? Sebenarnya kamu anggap aku apa? Apa kamu nggak cukup nyakitin aku sampe anak aku meninggal gara - gara aku stress mikirin hubungan ini? Gara - gara kamu semua..kamu puas sekarang? ".
__ADS_1
Rasanya amarahku mulai meledak - ledak, aku udah nggak sanggup lagi menyimpan semua amarahku terhadap nya. Aku muak memendam semuanya.
Satria terdiam membisu. Memandang ke arah jendela, berdiri tepat di jendela besar yang langsung menghadap taman. Membuka nya perlahan.
" Puspa, aku tau aku sadar sudah melakukan kesalahan terbesar terhadapmu. Dari awal pertemuan kita, aku sudah berbohong dengan berpura - pura cinta sama kamu. Berpura - pura ngirim surat tulisan aku. Kamu tau, itu punya siapa? Punya kak Reno. Kak Reno terlalu takut mengungkapkan perasaannya sama kamu. Kak Reno itu suka sama kamu dari awal pas kita masih SMP. "
" Kak Reno? "
" Ya, kak Reno. Dia itu terlalu takut buat deketin kamu. Mungkin karena statusnya yang cuma anak angkat atau apa lah aku nggak paham. Tapi, aku nggak salah. Aku itu cuma kurir nganterin surat - surat cinta kalian. Tapi, kamu nya juga baperan. Kamu malah mikirnya aku yang kasih surat cinta buat kamu. Trus, nggak tau kenapa malah tau - tau kamu anggap aku pacar kamu. Tiba - tiba kita jadi sering jalan bareng dan pacaran. Jujur, dulu aku itu nggak sama sekali suka sama kamu. Aku sebenarnya males juga ngeladenin kamu yang bawel cerewet angkuh dan sok perfect. Males. Tapi, kak Reno itu malah dukung aku pacaran sama kamu. Awalnya kak Reno sempet marah besar karena aku nyerobot pacarnya. Katanya kalian udah jadian ya di surat. Aku si lucu aja.. emangnya kamu nggak pernah gitu nanyain siapa nama pengirim suratnya? " Satria sempet terkekeh. Diam sejenak, lalu kembali buka suara. " Ya, itu sih awalnya. Kayaknya kamu salah paham. Kamu pikir aku ya yang nulis? Ge er banget si kamu. Lagian, siapa sih yang mau nolak cowok cakep ganteng atletis kayak aku? "
Aku terdiam sejenak berusaha mencerna perkataan Satria barusan. Aku baru tau kenyataan ini, jadi selama ini kak Reno memendam perasaannya sama aku? Jadi selama ini aku surat - suratan cinta sama kak Reno dan bukan dengan Satria? Pantas saja setiap kali aku melihat wajah kak Reno, seolah aku sudah mengenalnya lama. Kenapa semuanya baru terungkap sekarang setelah banyak hal terjadi diantara kami.
" Kenapa diam, Puspa? Kamu heran ya? Lantas kamu sekarang jadi tiba - tiba cinta sama kak Reno? ". Satria mendekatiku yang masih terdiam penuh tanda tanya.
" Puspa, kak Reno tu sengaja diam dan nggak bilang semuanya sama kamu. Dia sengaja mau jodohin aku sama kamu. Karena kak Reno tau, kamu udah yang paling terbaik buat aku. Jadi, apa tanggapan kamu sekarang? Kamu tetep nyalahin aku udah selingkuh sama cinta pertama aku? "
" Kamu cowok terjahat yang pernah aku temui, Satria. Kenapa kamu tega nyakitin hati kakak kamu sendiri. Dia itu kakak terbaik yang selalu berusaha ngelindungin kamu. Kamu juga cowok terjahat yang sudah nyakitin aku. Kamu juga sudah nyakitin cewek yang katamu dia cinta pertama kamu. Siapa namanya? Shasha kan? Aku tau semua kelakuan kamu sama Shasha.."
" Siapa yang kasih tau hubungan aku sama Shasha? Pasti kak Reno udah critain semuanya sama kamu ya?"
__ADS_1
" Kenapa kamu selalu salahin kak Reno atas kekacauan yang terjadi. Seharusnya kamu bisa berpikir itu semua karena siapa. Bukan kak Reno yang kasih tau semuanya. Stella, sahabat aku. Dia udah critain semuanya sama aku. Dia pikir aku masih kuliah di luar kota. Stella pikir aku sama kamu udah putus karena nggak pernah liat lagi kita jalan berdua. Malah liat kamu sama Shasha di kampus yang sama. Stella itu satu kampus sama kalian. Dia informan aku tiap hari, itulah kenapa aku nangisin kamu tiap hari. Aku stress.. Aku muak sama semua kelakuan kamu diluaran sana. Aku nggak bisa nelen makanan, vitamin bahkan susu hamil sekalipun. Aku muak bayangin kamu tidur sama wanita lain sementara aku di sini nahan sakit sendirian. Aku muak Satriaaaa. Awalnya aku pikir biar aku mati saja daripada hidupku seperti ini tapi ternyata Tuhan malah berkata lain. Malah anakku lah yang Tuhan ambil. Sekejam inikah takdir yang menimpaku... ". Berderailah semua airmataku. Satria mencoba memelukku. Aku dorong dia dengan cepat. Tapi, tenaga nya kalah kuat dengan tubuh nya yang tegap.
Satria mengusap rambutku pelan, aku terisak di dadanya. " Itulah kenapa aku mau semua kebohongan berakhir. Semua hal menyakitkan berakhir. Aku mau menebus semua kesalahan aku. Tolong, Puspa..Tolong kamu buka hati kamu sekali lagi buat aku.. Aku sayang sama kamu. Aku sadar, aku nggak bisa tanpa kamu. Shasha itu nggak ada apa - apanya dibandingkan kamu. Kamu mau kan maafin aku. "