
" Hmmm..." Aku menggeliat pelan. Tangan kiri ku rasanya seperti kram karena tertindih sesuatu.
Duh,sakit leher. Sakit badan. Laras biasa nya nggak seberat ini. Batinku sambil menggeliat di kasur dan masih dalam posisi belum membuka mata.
Tapi tunggu dulu. Kok aku kenal aroma tubuh nya.
Aku pun dengan cepat membuka mata yang masih sedikit mengantuk.
" Satriaaa..." Pekikku pelan. Melihat Satria meringkuk di tanganku. Masih tidur terlelap dan pulas di sampingku.
Kupandangi wajahnya yang tampan. Wajah yang selalu kurindukan beberapa tahun belakangan ini. Meskipun sudah banyak dia menyakitiku tapi kenangan manis semasa pacaran dulu seolah menyadarkan bahwa dia sebenarnya tulus mencintaiku dan bukan dalam kepura - puraan. Aku tau mungkin semua kesalahannya hanyalah terbawa emosi dan gengsinya semata. Karena itu pun aku yakin, untuk memberinya tantangan melewati empat tahun dengan jarak yang memisahkan. Karena aku yakin kau memang hanya untukku Satria.
Satria membuka matanya pelan, dia menatap ke arahku. Sejenak mengedip - edipkan matanya.
" Selamat pagi. " ucapnya sambil tersenyum sangat manis. Menunjukkan lesung pipinya yang dalam.
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya pelan.
" Pagi "
Satria duduk dan menyenderkan tubuhnya di tempat tidur. Kusenderkan tubuhku dipelukannya.
" Senang rasanya bisa memelukmu seperti ini lagi. " Ucap Satria sambil mengusap rambutku.
Aku menggangguk mantap. " Ya aku juga sama. Aku harap kita nggak akan berpisah lagi. Nggak akan lagi ada masalah berat yang terjadi di antara kita. "
" Jadi kapan kamu mau pulang ke kediaman Wirajaya? "
" Oh, iya aku sudah mengabari ayah, ibu, juga Raka kalau aku sudah tiba di tanah air. Hari ini mereka akan datang ke rumah. Sekalian aku juga mau bertemu dengan mama, papa dan kakek. " Bahagia rasanya berada di momen ini.
" Terimakasih Puspa. Kamu sudah mau menerimaku kembali. " Satria mengecup keningku lembut.
" Heemm.." Aku hanya mengangguk dan terus mendekapnya dalam kerinduan.
" Tapi, sayang. Sepertinya kemesraan ini harus berakhir."
__ADS_1
" Loh, kenapa? " Tanyaku kaget.
" Pagi ini aku ada opening ceremony buat shooting iklan baru. Kamu mau ikut? Tempatnya di gedung depan. Biar nanti sekretaris aku bawain aku pakaian ganti. Sekalian pakaian buat kamu juga. "
Satria menarik lenganku dengan cepat dan tersenyum dengan nakal.
" Yuk mandi. " Ucapnya sambil mengedipkan mata.
***
Setelah selesai sarapan di cafè seberang apartemen kami pun menuju gedung flamboyan tempat akan di mulai shooting iklan.
Ku kaitkan tanganku pada lengan pria gagah di sebelahku. Pria yang dulu pembawaanya cuek kini menjadi seorang pria dewasa yang sangat gagah dengan jasnya. Tampan dan rupawan. Bos muda yang memiliki kharisma serta ketampanan yang akan menyedot perhatian para gadis.
" Pagi pak Satria. " Ucap seseorang menganggetkanku.
" Pagi. " Ucap Satria menjawabnya dengan sopan.
Wanita itu memencet tombol lift dan memberikan beberapa berkas kepada Satria. Sepertinya dia lah sekretarisnya. Cantik dan berpakaian menarik. Ya, memang seperti itulah lazimnya. Bos ganteng dan asisten nya harus cantik dan ekslusif.
Kami menuju lantai 5 gedung Flamboyan, tempatku kemarin shooting program memasak.
Disana ku dapati beberapa crew tv yang aku kenal. Aku mulai menjaga jarak dengan Satria. Karena semua orang belum tahu kalau kami pasangan suami istri. Mereka belum tahu kalau kami sudah menikah lama. Lebih baik kami menjaga jarak sebelum ada wartawan yang bertanya soal kedekatan kami.
Satria mulai sibuk menemui para crew nya. Sementara itu aku mencari tempat di sudut ruangan. Kulihat seorang gadis cantik bercat rambut agak coklat.
Aku mengenal gadis itu dengan baik meskipun dia sudah banyak mengubah penampilannya menjadi lebih glamour.
Dia mulai mendekati ku dengan cepat. Jantungku berdegup cepat secepat irama ketukan heelsnya menuju ke arahku.
" Ngapain kamu di sini. " Ucapnya sinis.
Aku pun berdiri dari kursi tempatku tadi duduk. Berusaha bertahan menahan luapan emosiku.
" Ya. Karena memang seharusnya aku di sini. " Jawabku ketus.
__ADS_1
" Kamu mau coba kembali lagi dengan Satria. " Dia menghardikku dengan keras.
" Dari dulu pun kami tidak pernah berpisah. " Jawabku masih berusaha menahan luapan kemarahanku. Sebenarnya ingin kucabik wajahnya dan kutarik rambut wanita ini hingga terlepas dari otaknya yang licik.
Wanita itu mendengus kesal. Sepertinya dia marah karena aku tidak menanggapinya dengan marah - marah.
" Kamu sebaiknya jauhi mimpi kamu sebelum kamu benar - benar menyesal. Satria hanya milik aku."
Aku bukan lagi Puspa yang lemah. Aku kini wanita dewasa yang sudah banyak ditempa oleh waktu dan masalah. Gangguan kecil ini bisa kuatasi dengan baik. Aku tidak akan kalah dengan wanita iblis ini.
" Kamu mau menantangku? " Aku merengut sengit.
" Lihat saja. Kamu tidak akan bisa mendapatkan Satria kembali. Kamu tidak akan bisa menandingiku" Wanita itu menuding wajahku.
" Kalau memang iya aku kembali kenapa? Memangnya siapa kamu bisa melarangku dekat dengan Satria. " Aku membalasnya dengan ketus.
Ditengah hiruk pikuknya persiapan shooting. Satria sepertinya menyadari bahwa ada dua orang wanita yang sedang membicarakannya. Dia mendekati kami berdua.
" Sedang apa kalian di sini" Ucap Satria mencoba melerai perdebatan sengit kami.
" Nggak apa - apa. Tadi Shasha hanya menyapaku. " Jawabku sambil mengusap dadanya yang berbalut jas perlente berwarna abu.
Shasha sepertinya kesal melihat tanganku yang menyentuh dada Satria dan memperbaki dasinya.
Dia pun pergi meninggalkan kami berdua.
" Ingat. Aku masih punya kartu merah. Jangan sampai kalian menyesalinya. " ucapnya sinis sambil pergi meninggalkan kami.
Satria menyuruhku untuk tetap tenang menghadapi wanita iblis itu.
" Ya mas. Aku paham. Aku nggak akan kebawa emosi. Aku tahu posisi kita pun serba salah. Publik pun belum tahu perihal hubungan kita. Sebaiknya kita pun harus bisa menjaga jarak depan publik. " Aku mengerti posisi Satria saat ini. Semua mata akan tertuju padanya. Karena dia kini seorang pimpinan. Aku harus lebih berhati - hati.
" Baiklah. Kamu tunggu di sini ya. Ceremony nya akan segera di mulai. Aku akan nemuin kamu lagi disini setelah semuanya selesai. Okay. Jangan kemana - mana. "
" Iya.. aku nggak akan kemana - mana kok. "
__ADS_1
Ya. Aku nggak akan kemana - mana dan nggak akan kabur lagi seperti dulu. Sudah cukup empat tahun aki menguji Satria. Sekarang ujian untukku akan segera tiba. Akan kuhadapi wanita siluman yang sudah memporak porandakan cintaku dan rumah tanggaku. Akan aku hancurkan tembok tinggi pemisah cinta kita. Aku bukan lagi Puspa yang lemah dan cengeng. Akan aku hadapi semuanya jauh lebih tegar dari sebelumnya. Dan yaa...aku nggak akan kemana - mana. Aku akan tetap berjuang demi Satria, suamiku yang aku cintai.