Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 36 CINTAKU BERSEMI


__ADS_3

Tok..tok..tok..


" Hemm...siapa..." Sahutku sambil tetap dalam posisi tengkurap di atas kasur.


Tok..tok..tok..


Sekali lagi suara ketukan pintu membuatku terbangun. Kulemparkan bantal kearah pintu dengan sebal.


" Siapa lagi pagi - pagi gini sudah ganggu orang tidur ! " Aku pun mulai menggerutu dengan kesal. Kembali kubenamkan wajah kantukku ke dalam bantal.


" Mas... " Sahut suara yang sangat ku kenal di luar sana.


Sayup - sayup ku dengar suara Puspa memanggilku. Mataku seketika terbuka dan langsung terperanjat, dengan berlarian kecil aku menuju pintu. Kubuka knop pintu dengan cepat. Kuusap mataku dengan kedua jariku lalu mengelap nya dengan kaos yang sedang aku pakai.


" Ih, jorok kamu mas! Masa kayak gitu" Pekik Puspa melihat kelakuanku karena kuusap mataku memakai kaos yang dari semalam aku belum ganti.


Ya, aku belum ganti baju dari semalam karena langsung tidur dengan membawa rasa kesalku.


"Toh kalian berdua juga kan yang sudah membuatku kesal" , batinku.


Aku hanya nyengir kuda. Memperlihatkan deretan gigi putihku di depan Puspa.


" He hee..." Aku merasa sangat tampan kali ini meski pun belum mandi. Lesung pipiku mungkin akan membuatnya tersihir.


Puspa terpaku melihatku.


" Tuh kan, bener. Dia pasti terpesona liat aku tersenyum. Satria gitu loh! " Aku merasa kegirangan karena senyumku membuatnya menatap ku untuk sesaat.


"Sepertinya Puspa terhipnotis aura ku. " Batinku semakin kegirangan.


" Kok kamu...masih pakai kaos kaki? Itu yang semalam kan ? Baju kamu dan celana kamu juga? " Tanya Puspa sambil menunjuk ke arah kaki ku dan celana jeansku. Ternyata dia bukan memperhatikan senyum dan lesung pipiku yang terkenal manis. Tapi dia melihat bajuku yang dari semalam belum aku ganti.


Alamaaakkk...


Aku mengangguk cepat, malu juga rasanya berpikir sesaat tadi dia melihatku karena terpesona. Aku langsung menarik lengan Puspa dan menyeretnya masuk kamarku dan ku tutup pintu dengan cepat.


" Sini masuk. Kamu duduk di situ. Tunggu sampai aku selesai mandi terus nanti baru kamu liat aku wangi dan makin ganteng. Tunggu di situ ya ! " Ucapku menyuruh Puspa untuk duduk di atas ranjang. Puspa hanya terdiam dan melongo melihat tingkahku yang tiba - tiba merasa senang karena dia menghampiriku sepagi ini. Kulepaskan celana jeansku cepat.


"Dia pasti ingin minta maaf padaku. " Batinku.

__ADS_1


" Tunggu mas. Kamu mandi nya nanti dulu. Aku mau ngomong sesuatu. " Ucap Puspa dengan cepat.


" Terus jangan di sini dong buka pakaiannya. Kan masih ada aku ? Emang kamu nggak malu ya ada aku di sini?" lanjutnya kemudian.


" Udah. Udah. Kamu tunggu aja di situ, okay. Aku nggak lama kok. Hemm.. apa kamu mau ikut masuk ke kamar mandi biar mastiin aku mandi nya lama apa nggak." Ucapku sambil mengedipkan mataku dengan nakal.


Puspa meringis dan menggelengkan kepalanya dengan geli. Kedua tangannya menutup wajahnya dengan rapat. " Ih, nggak. Nggak. Apaan sih kamu mas! " Jawab Puspa sambil tetap menutupi wajahnya. Aku semakin merasa geli dan bertambah penasaran ingin menggodanya.


Aku lanjut melepaskan celana jeansku. Kini dia masih terus menutup wajahnya karena ketakutan. Padahal di dalamnya aku pun memakai celana pendek. Tapi, tetap aku ingin menggoda Puspa karena dia semakin terlihat lucu. Karena jujur saja sebagai suami istri kami tidak pernah melakukan apapun dari sejak awal kami menikah. Karena peraturan mama yang membuatku segan mendekati Puspa sebagai seorang istri. Bahkan melihat aku dikamar secara dewasa pun tidak pernah dia lakukan. Kalau aku. Tentu saja pernah. Kalau bukan aku siapa pula yang melepas bajunya saat hendak akan di operasi 2 bulan yang lalu. Meskipun dia belum sadar bahwa aku yang melakukannya.


" Enggak. Enggak. Aku nunggu kamu di bawah saja. Tadi aku kesini cuma mau bilang kalau aku udah buatin kamu nasi goreng persis kayak yang kamu mau semalam. " Puspa menghindar dariku dan berlari menuju pintu dengan cepat dia melesat ke luar kamar.


Aku terkekeh dan tertawa geli melihat tingkahnya yang lucu.


***


Di meja makan


Sepiring nasi goreng yang sama persis dengan semalam telah terhidang begitu aku turun ke bawah. Di sana juga sudah ada para asisten rumah tanggaku yang siap melayaniku.


Bi Inah menuangkan segelas teh hangat di hadapanku. Bi Atin pun menyuguhkan susu serta sendok dan garpu. Sementara itu aku masih celingukan mencari Puspa.


" Nggak apa - apa. Non Puspa kemana bi? "


" Non Puspa barusan ke luar tuan. Di taman depan. Non Puspa bilang, tuan habiskan dulu makananya. Lalu di tunggu non Puspa di sana. " Jawab Bi Inah.


Aku mengangguk tanda paham akan maksud bi Inah. Kuhabiskan makananku dengan cepat agar segera dapat kuhampiri Puspa di luar sana.


***


Di taman depan rumah


Aku melihat Puspa sedang duduk manis di bangku taman. Angin pagi menyapu rambutnya, panjangnya kini sudah melebihi bahunya. Membuatnya telihat semakin manis.


Kutatap wajahnya lekat. Kulihat dia sangat manis dari kejauhan. Kenapa aku baru menyadari bahwa aku memiliki wanita yang luar biasa manis. Selain itu dia wanita yang tegar, pandai dan berkepribadian tegas.


Kenapa aku begitu bodoh menyia - nyiakan dia seperti itu. Menyia - nyiakan anakku yang berada dikandungannya begitu saja, lalu dengan tega kusakiti mereka demi gadis kurang ajar bernama Shasha.


Ah, sudahlah kini Shasha hanyalah masa lalu bagiku. Akan kuperbaiki lagi untaian kasih diantara aku dan Puspa. Ya, aku janji akan menjadi suami yang baik untuknya. Mulai hari ini aku akan mencintainya dengan lebih baik.

__ADS_1


Kuhampiri Puspa yang sedang asyik dengan buku bacaannya.


" Baca apa, b-beb? " Ucapku sedikit terbata, lalu aku pun duduk di sebelahnya. Dulu, mudah sekali bagiku untuk mengucapkan panggilan sayang seperti itu untuknya. Tapi kali ini ternyata terasa lebih sulit.


" Hmmm..buku masak. " Jawab Puspa sambil terus menatap lembar demi lembar buku yang berada di atas pangkuannya.


Hemm.. Beginikah rasanya jika dekat - dekat dengan orang yang membuatmu jatuh hati. Canggung!


Padahal dulu sepertinya terasa sangat mudah, jelas - jelas dulu aku memacari nya tanpa rasa cinta hanya karena ajang balas dendamku kepada kak Reno.


" Puspa. Gimana beasiswa mu? Kamu masih mau ambil ? " Tanyaku hati - hati, khawatir kalau dia tiba - tiba tersinggung dengan ucapanku.


Puspa menatapku sesaat lalu wajahnya menerawang jauh. " Justru itu, inilah yang mau aku bicarakan hari ini sama kamu. "


" Benarkah? "


" Ya. Aku sudah mantap akan semuanya. Selama dua bulan ini aku sudah berpikir bahwa aku akan mengejar beasiswaku. "


" Wah, bagus dong! Jadi kamu bisa sekampus denganku. Meskipun kita beda fakuktas. Akan lebih menyenangkan jika kita bisa kuliah bareng! Berangkat sama - sama, ke kantin juga sama - sama. Pokoknya dimana ada aku di situ ada kamu. " Senang rasanya mendengar Puspa ingin melanjutkan kuliah dan beasiswa nya.


Puspa tersenyum dan menggelengkan kepala nya. " Bukan. Aku bukan mau kuliah di fakultas seni seperti dulu cita - citaku. Bukan pula di kampus yang sama dengan kamu mas. Aku mau berubah haluan . Aku menemukan hobi baruku yang membuatku merasa lebih tertantang. "


Aku masih tak mengerti maksud ucapannya barusan. " Jadi ? " Tanyaku penasaran menununggu kelanjutan ucapannya.


" Paris "


" Maksudnya? " Tanyaku cepat.


" Ya. Aku mau ke Prancis. "


Aku merasa pendengarannku yang salah, " Kenapa ke Prancis? Kan jauh Puspa? "


" Ya. Betul aku mau ambil kuliah memasak di sana. Kakek nawarin aku beasiswa yang dia kasih untuk aku lanjutin kuliah. Kakek Surya bilang, biaya hidup serta semua hal yang menyangkut kuliahku di sana bakalan kakek tanggung sampai selesai. Aku benar - benar merasa ini adalah kesempatan emasku untuk meraih hal yang aku impikan. Seni memasak." Puspa sepertinya benar - benar serius akan ucapannya. Wajah nya terlihat berbinar. Tidak ada sedikitpun rasa sedih akan meninggalkan aku seorang diri disini dengan perasaan yang baru saja tumbuh dan bersemi dengan indah di hatiku.


Aku menatap wajahnya dengan kosong. Anganku menerawang jauh. " Prancis ?" Tanyaku sekali lagi. Memastikan apakah yang barusan aku dengar ini hanya gurauan semata.


Tapi nyata nya itu benar. Puspa menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia sepertinya sangat bersemangat dengan kepergiannya ke Prancis.


***

__ADS_1


__ADS_2