Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 22 AKU TEGAR Di kediaman Wirajaya


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulanganku dari rumah sakit. Semua anggota keluargaku, ayah dan ibu sudah berkumpul, termasuk mama dan papa mertua. Satria dan kak Reno pun tidak ketinggalan, semuanya memenuhi ruang tengah ini. Mereka semua menyambut kepulangannku dari rumah sakit. Tapi sempat terpikir sejenak, sepertinya mereka bukan menungguku lebih tepatnya menanti reaksi ku saat aku pulang tanpa anakku dan hanya membawa tubuhku yang hampa.


Ibu menuntunku memasuki ruang tengah, memapah dan mengajakku masuk kamar tapi aku menolak.


" Bu, aku mau duduk di sini saja bersama yang lain. Aku mau membicarakan dan menjelaskan sesuatu mumpung semua anggota keluarga hadir di sini. "


Ucapku sambil duduk di sofa, persis di sebelah Satria duduk.


" Baiklah. Memangnya apa yang akan kamu bicarakan Puspa. " Mama mertua mulai angkat bicara.


" Bukankah tidak sebaiknya kamu istirahat dulu." tanyanya kemudian.


Kuhirup nafasku dalam dan menghembuskannya perlahan, " Aku dan Satria akan mengakhiri pernikahan kami ma, pa. " Ucapku datar sambil memandang ke arah Satria.


Satria membelalakan matanya kaget, sepertinya dia tak menyangka aku dapat mengumpulkan keberanianku mengungkapkan semuanya secepat ini.


" Maksud kamu apa ? Nggak salah kamu minta cerai? Kenapa kamu nggak ngomongin dulu semuanya sama aku? " Tanya Satria kaget. Wajahnya berubah penuh tanya.

__ADS_1


" Kan kemarin aku udah bilang, aku minta cerai. Aku pikir kamu sudah setuju. Udahlah. Kan semuanya udah jelas kamu nikahin aku karna kita punya anak. Anak yang nggak kamu harapkan. Sekarang anak itu udah nggak ada. Lantas, apalagi yang mau kamu lakuin ? Kan nggak ada lagi yang perlu di pertanggungjawabkan? Biar kamu juga bebas. Toh, selama ini kamu juga terkekang kan sama status kamu? Beruntungnya, pernikahan kita cuma lewat penghulu. Nggak ada yang perlu di persidangkan. Gampang kan ?". Rasanya malas sekali melihat wajah Satria, muak rasanya melihatnya berpura - pura was - was dan memikirkan pernikahan yang sama sekali bukan seperti pernikahan.


Pernikahan yang pada awalnya aku bayangkan berakhir bahagia meski harus terjadi terlalu dini. Tapi aku yakini dan aku menguatkan diri demi anakku dan demi Satria yang dengan segenap jiwa aku cintai. Pernikahan yang kupikir pada awalnya tidak bertepuk sebelah tangan, yang pada awalnya kupikir dia akan menjagaku dengan seluruh cinta yang dia punya.


Nyatanya apa, selama ini dia membodohiku ternyata dia tidak pernah mencintaiku. Dia berselingkuh dengan wanita lain di belakangku. Bersama merajut kasih dengan cinta pertamanya. Kupikir dia sibuk belajar dan kuliah demi masa depan keluarga kecil kami.


Setiap hari aku menatap jendela besar di kamarku menanti kepulangannya hingga dini hari. Ternyata dia sedang bercinta dengan lain hati. Berbagi keringat dan berbagi ranjang dengan wanita lain. Sementara aku istrinya, tidak pernah dia sentuh sama sekali selama pernikahan ini. Akupun harus menahan lelah dan letih dengan perut terus membesar. Seorang diri berteman dengan kesepian demi kesepian setiap hari. Sementara Satria, dia hanya sekali dalam enam bulan lebih kehamilanku, menanyakan kabar anak nya. Menanyakan kabarku sekedar basa - basi apakah aku baik - baik saja dan sudah minum susu atau belum seperti lazimnya suami pada istri nya yang sedang hamil, sekali pun tidak.


Hanya sekali dia peduli akan apa yang aku inginkan saat mengandung anakku. Mungkin dia pikir aku nggak pernah tau permainan dia diluar sana dengan wanita lain.


Mungkin, dia terlalu takut pada mama dan papa mertua atas batasan yang selama ini mereka buat agar kami tidak saling satu kamar. Tapi, bukan begini caranya. Bukan lantas dia menelantarkan istri dan anaknya di kamar besar penuh perabot mewah. Bukan lantas dia mencari kehangatan dengan wanita lain di luar sana.


Kutarik nafasku dalam - dalam. Ibu ayah dan mertuaku semuanya terdiam membisu, menatap lekat ke arahku. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, sepertinya mereka lega akan melepasku sebagai bebannya atau sebaliknya ada tersirat perasaan bersalah di wajah kedua mertuaku. Entahlah, aku tak bisa mendeskrisipkan semua ekspresi wajah mereka.


Aku kembali membuka suara, "Tolong maafin Puspa. Selama ini Puspa nggak bisa jaga anak Puspa dengan baik. Puspa hanya bisa mengeluh dan sesak dalam hati. Apalagi Puspa hanya banyak berdiam diri dalam kamar hanya banyak melamun dan memikirkan nasib. Harusnya Puspa bisa lebih baik. Bisa lebih nyaman dan menikmati semuanya bukan sebagai beban. Maafin Puspa karena dokter bilang penyebab kelahiran prematur kemarin karena Puspa telat kasih vitamin, nggak makan - makanan sehat dan terlalu stress. Bukan karena disini Puspa nggak terjamin soal makanan. Tapi rasanya ingin menelan sesuatu itu.." Ucapanku terhenti. " Ayah, ibu.. Maafin Puspa..karena.."


Aku menangis meraung sejadinya..entah kenapa semua bayangan rekaman pada masa kehamilanku kemarin tiba - tiba hadir di kepalaku. Lemas dan penuh sesak rasanya, perasaan bersalah terhadap anakku tiba - tiba muncul begitu saja karena semuanya salahku harus kehilangan anakku. Aku terlalu banyak meratapi Satria yang tidak menganggapku ada. Aku terlalu banyak berharap kebahagian yang pada akhirnya malah mengahncurkan diriku dan menyiksa batinku sendiri.

__ADS_1


***


Aku menunduk lesu dan menutup wajahku sambil terus mengucurkan air mataku. Satria yang dari tadi terdiam dan duduk disebelahku meraihku ke pelukannya. Mencoba menenangkanku.


Ayah dan ibu pun mendekat. Meraih tanganku dan memapahku masuk ke kamar.


" Sudahlah, kamu ini baru pulang dari rumah sakit jangan terlalu banyak berpikir macam - macam. " Ayah menyelimutiku dengan selimut bulu tebal..membuat suasana hatiku lebih hangat.


" Satria, coba kamu telepon dokter dan suruh periksa keadaan Puspa. " Ayah sepertinya mencemaskan keadaanku. Lagi - lagi aku membuat ayah dan ibu panik.


" Ayah, maafin Puspa. Puspa banyak merepotkan ayah dan ibu. "


***


Selang setengah jam kemudian dokter pribadi keluarga datang mengunjungi ku.


" Banyak - banyak istirahat dan tidak usah stress ya, Bu. "

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Seolah sudah lemas dan rasanya mengantuk.


Dokter menyuntikku dengan obat penenang sampai akhirnya akupun tertidur.


__ADS_2