
" Aaaaaaa...ngapain kamu disini.. kok bisa kamu ada di sini. Di atas tempat tidurku pula..", aku tersentak kaget mendorong wajahnya yang terbenam tidur pulas di pundakku.
" Pantes aja leher dan pundakku kaku. Sakit nih. Ngapain kamu disini ? "
Satria memanyunkan bibirnya dan mengucek mata nya sebentar dengan jari kirinya lalu membenamkan wajahnya lagi di pundakku. Sepertinya dia mengantuk berat.
" Nggak bisa apa kamu lihat orang enak tidur ! Lima menit lagi ya.. ", Satria kembali menutup matanya dan seolah tidak peduli dengan amukan ku tadi.
" Ih.. rese banget si kamu !" , kulemparkan bantal kearah wajahnya. Dia mengerjapkan matanya sebentar. Bulu matanya yang lentik membuat nya terlihat manis sesaat.
Aku menggelengkan kepala keras - keras, ' Ah..nggak..nggak..aku nggak boleh jatuh hati lagi sama dia. Aku kan udah minta cerai. Ngapain aku terpesona liat wajahnya ! Huh..! Tekadku sudah bulat begitu kondisiku sudah pulih aku minta dia buat menyetujui permintaan ceraiku. Semua nya harus selesai dengan cepat.'
Aku bergumam sendiri tak karuan, mendorong Satria sampai berguling jatuh dari ranjang pun rasanya nggak mungkin. Badanku masih letih. Meskipun sudah lebih dari tiga minggu berlalu pasca operasi. Obat dan dokter terbaik sudah diberikan demi merawatku.
Kubalikkan badanku. Memunggunginya yang pura - pura tertidur pulas. Dia malah mendekatkan wajahnya kepunggung, mendengus seperti kucing menemukan induknya. Sempat terbesit rasa hangat mengalir dalam hati.
' Ah, nggak.. aku mikirin apa sih. Pokoknya aku bentar lagi sembuh. Terus minta cerai, terus lanjutin hidup aku yang baru. Aku nggak mau mikirin ni cowok tengil penuh kebusukkan dan nggak bertanggung jawab ! '
***
Sepertinya Satria tak bergeming, tetap menempelkan pipinya ke punggungku.
" Satriaaaaa..." Aku berteriak keras di telinganya sampai dia terduduk diatas kasur.
__ADS_1
" Ampuuunn..kamu kok galak banget sih! Sejak kapan kamu jadi galak kayak bu Irma? Kamu inget kan waktu dulu aku ketiduran dikelas bu Irma neriakin aku kayak gitu. Persis, nah persis banget kayak kamu tadi barusan ! Awas kamu bisa - bisa jadi kayak bu Irma. Nggak ada laki - laki yang mau jadi suaminya..." Ucapnya sambil menuding- nuding ke arahku.
Aku memasang muka sok lupa, " Apa tuh aku nggak inget. Kapan? Yaudah lah yaa..lagian kamu juga ngapain pura - pura nggak denger kalo aku mau kamu bangun dan pindah ke kamar kamu sendiri. Cepetannn! " Aku menunjuk cepat ke pintu kamar. Bermaksud menyuruhnya cepat keluar kamar. Satria menggelengkan kepalanya cepat. Memasang muka menyebalkan yang menurut dia paling lucu dan menggemaskan ala - ala anak minta balon.
" Nggak..nggak mau.. " Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya dan memeluk gulingnya lagi merobohkan lagi badannya di kasur.
" Kruuccuuukkk...kruccukkk.." Terdengar suara keroncongan dari dalam perutku. Memang dari sore tadi aku belum makan apapun. Jam makan malam pun aku lewati hanya dengan segelas susu. Rasa nya bosan setiap hari mesti makan yang halus dan sayur mayur berkuah.
" Haaahhaaa.. " Satria terkekeh.. " Suara apaan barusan? Laper beb kamu? "
" bab..beb..bab.beeeebbb..sejak kapan kamu panggil aku beb..nggak. aku nggak laper. Itu tadi cuma suara air dalem perut. " Aku memalingkan wajahku cepat. Memunggungi lagi Satria yang masih asik tertawa mendengar suara perut keronconganku.
Satria melompat kecil turun dari atas kasur dan berlari keluar kamar sambil terkekeh. " Ciee..ada yang kelaperan tapi nggak mau ngaku.. Gengsi ni ehh... " Ledeknya sambil menongolkan kepalanya dan menutup pintu kamar rapat - rapat.
***
" Ah..apa sih. Kok aku mikir gitu. " Aku bergumam dan menghayal tak karuan. Menutup wajahku dengan selimut. Dan taraa...seseorang tiba - tiba menarik selimutku dengan cepat.
" Siaa..." Satria menutup mulutku dengan cepat. Tanganku meronta dan tanpa sadar.hampir menumpahkan semangkuk bubur. Ya, dia ternyata kembali dengan membawa semangkuk bubur hangat kesukaanku. Dengan banyak taburan merica dan bawang goreng kesukaanku.
Aroma bubur ayam sudah tercium menusukk hidungku dan membuat perutku makin berbunyi tak karuan.
" Hemmm...enaaakkkk... " Ucap Satria menyodorkan mangkuk kedepan wajahku sendok nya sudah mulai mengambil suapan pertama.
__ADS_1
Mataku terbelalak. Mulutku sudah berliur dan bersiap menerima suapannya tapi ternyata meleset, tidak sesuai perkiraanku. Dia malah memakan nya, menyuapi dirinya sendiri. Satria tersenyum tengil dan terkekeh, " Mau..??? heeheeee..."
" Nggak. Aku memalingkan wajahku. Udah ah. Ngapain sih kamu bawa - bawa makanan kesini padahal cuma mau numpang makan. Aku pikirr..." Aku memalingkan wajahku, tiba - tiba Satria menyodorkan seseondok bubur ke depan mulutku.
" Udah. Kamu tuh nggak usah keras kepala. Ini nih yanv buat aku gemes sama kamu. Keras kepala dan berpendirian teguh. Itu kamu! Nggak boleh gitu ah.. Ayook makan lagi.. Buka mulut kamu lagi. Aaa.." Satria menyuapiku lagi. Apa boleh buat, aku memang kelaparan. Meskipun sudah hampir jam dua belas malam. Rasa nya sah - sah saja makan selarut ini.
***
Akhirnya semangkuk bubur kesukaanku berpindah ke dalam perutku, dengan telaten Satria menyuapi ku. Jujur, aku merasa aneh dengan sikapnya yang tiba - tiba manis seperti ini. Aku juga heran sejak saat kejadian aku minta bercerai, kenapa dia tiba - tiba selalu berlaku baik padaku. Apa dia hanya merasa bersalah karena kematian anakku.
Kejadian seperti ini hampir tiap hari dia lakukan. Menyodorkan makanan. Membangunkan dan memberiku obat dan masih banyak hal - hal kecil lain yang tiba - tiba dia sering lakukan demi merawatku.
Ah, yang jelas. Salah satu, dari sekian kali perlakuan manisnya barusan tidak membuatku terkecoh atau merubah pendirianku. Tetap saja setelah masa nifasku selesai aku akan tetap minta berpisah darinya. Aku nggak mau hidup di dalam sangkar emas dengan orang yang tidak mencintai ku sama sekali. Dengan keluarga yang entah mengharapkan kehadiranku atau tidak. Aku tidak mengerti.
***
" Sukurlah kamu sudah kenyang kan sekarang. Aku nggak akan ganggu tidur kamu lagi. Aku tidur di sofa ruang tengah ya. Jadi kalau tiba - tiba tengah malem kamu butuh aku. Kamu tinggal teriak manggil kan deket di situ. Okey? " Satria memegang telapak kakiku yang sebagian tak tertutup selimut.
" Kaki kamu dingin banget. Aku kecilin AC nya ya. Kamu pasti dari tadi kedinginan. " Dia mengambil remote control menaikkan suhu ruangan. Menyelimuti kakiku dan menutup pintu kamar rapat - rapat.
Sementara aku, aku masih terdiam terpaku melihat perlakuannya yang aneh barusan.
Aneh melihat Satria yang pergi meninggalkan kamarku setelah menyuapiku dengan semangkuk bubur yang di bawanya dan Entah kenapa tengah malam begini dia bisa dapat bubur favorit dekat kosanku dulu. Mengingat kan momen - momen dulu ketika masih berpacaran dengannya.
__ADS_1
" Kegilaan macam apa lagi ini , Tuhan! Satriaaa...kamu memang pengacauuuu! " Batinku berteriak seolah semuanya tercampur aduk jadi satu.