
" Jadi kapan kamu bisa ambil cuti. " Pandangan Puspa menoleh ke arahku sekejap lalu kembali ke piring - piring yang berserakan di meja makan. Puspa masih ikut serta membantu bi Inah yang sedang sibuk membereskan meja bekas sarapan barusan.
Puspa meletakkan piring diatas meja. Dia duduk di sebelahku.
" Mas, kamu tau kan aku ini sudah teken kontrak. Aku sibuk banget. Nggak mungkin kalau aku ambil cuti. Lagi pula kita kan belum resmi. Gimana kalau media sampai tau kita pergi berdua. Tunggulah sampai kita selesai resepsi. "
Aku menarik lengan Puspa dan mengecupnya pelan. " Tapi aku kangen berduaan sama kamu. " Rengekku pelan.
Puspa tersenyum lebar. " Kan semalam udah.." Ucapnya sambil berbisik dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
" Ehemm..." Deheman keras mengagetkan kami.
Sontak aku kaget mendengar suara kak Reno dibelakang kami.
" Ada apa kak?"
" Kamu lupa ya akhir pekan ini kita ada pertemuan dengan klien di Singapore? " Kak Reno menyodorkan berkas - berkas yang harus aku periksa.
" Wah, aku tiba - tiba punya ide bagus. Kamu mau ikut aku ke Singapore nggak? Rika juga ikut jadi selama aku meeting dengan klien kak Reno bisa nemenin kamu shopping atau sekedar jalan - jalan. Biar pun Rika tetep bekerja dia bisa ikut kita liburan juga. Gimana? Pas banget kan?" Usulku pada Puspa dan kak Reno.
Sepertinya Puspa senang mendengar usulku barusan.
" Iya udah. Boleh banget tuh idenya. Biar nanti aku bilang sama Kevin supaya ngosongin jadwaku akhir pekan ini. "
Aku tersenyum senang. Tiba - tiba muncul ide lebih gila lagi di benakku.
" Gimana kalau sekalian kita menikah saja lusa?"
Puspa dan kak Reno terbelalak kaget. " Lusa??!" Kak Reno dan Puspa tersentak kaget bebarengan.
Aku tertawa terkekeh. " Iya lusa. Gimana? Ide bagus kan? Ya, kak Reno dan kamu tau kan kalau Shasha sudah bergerilya melancarkan aksi jahatnya. Sepertinya kita harus mengumumkan pernikahan kita dengan lebih cepat. Itu lebih baik. "
__ADS_1
Kak Reno menatapku sesaat. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. ," Kamu yakin setelah ini Shasa akan berhenti mengejarmu lagi?"
" Hemm..tidak. Tapi, aku ingin memberitahu pada dunia sebelum Shasha beritahu duluan. Mungkin ini jauh lebih baik."
Puspa terlihat bingung dengan obrolanku dan kak Reno.
Aku menarik lengan Puspa. Menggenggam tangannya erat. " Kamu yakin kan sama aku? Kamu percaya kan? Ini semua demi kebaikan kita bersama. Aku nggak mau kamu di cap sebagai wanita simpananku. Kamu itu istriku bukan wanita simpananku atau pun seperti berita gosip tadi yang katakan bahwa kamu pelakor. Tidak. Aku tidak mau kamu diberitakan seperti itu. Hatiku sakit mendengarnya. "
Puspa tampak merenung beberapa saat. " Kamu yakin? Papa mama sama ayah dan ibu gimana? Kakek gimana? Soalnya ini tiba - tiba dan mendadak banget. Apa mereka juga bisa ngosongin jadwal buat resepsi lusa?"
Kak Reno kembali bersuara. " Tenang, biar aku yang beritahu mereka. Hari ini kamu ambil cuti saja Satria. Kerjaan biar aku dan Rika yang handle. Lalu Kevin juga biar aku yang ngomong sama dia. Urusan catering dan gedung kita kerahkan orang kantorku. Oh ya, kamu dan Puspa siap - siap saja fitting baju pengantin untuk lusa. Lebih cepat kalian resmi. Itu lebih baik. "
" Benar Puspa. Sepertinya usul kak Reno itu benar. Lebih cepat kita resmi secara hukum. Hal itu lebih baik. Kita bisa hidup dengan lebih tenang. "
Puspa mengangguk mantap. Air matanya berlinang. Bulir - bulir bening mengalir begitu saja di wajahnya.
" Kamu kenapa nangis?" Ucapku agak khawatir dengan perubahan wajahnya.
" Nggak apa - apa. Aku cuma terharu. Kalian semuanya ternyata benar - benar tulus menyayangiku. Dulu aku nggak nyangka sama sekali bahwa Satria benar - benar mencintaiku. Dan aku juga tidak menyangka bahwa kak Reno mau berbesar hati merestui hubungan kami. Makasih kak Reno. " Puspa menatap kak Reno untuk beberapa saat dan menarik lengannya erat.
Kak Reno hanya terdiam sejenak. Senyuman mengembang di bibirnya. " Ya. Karena aku yakin sekarang kamu akan benar - benar bahagia dengan Satria. Aku tau sekarang Satria sudah berubah jauh lebih baik. Menjadi seorang Satria yang dewasa dan bertanggung jawab. "
Kak Reno menepuk pundakku pelan. " ..dan ingat. Kalau sampai kamu berubah haluan dan berbuat macam - macam. Ada kak Reno yang siap menghajarmu kapan saja. Ingat. Kalau sampai kamu nyakitin Puspa lagi seperti dulu. Jangan harap kamu bisa selamat dari bogemanku. "
Aku tertawa terbahak. " Ya enggaklah.. Lagian percuma banget aku nunggu bertahun - tahun hanya untuk permainan semata. Tenang aja. Kalian nggak perlu khawatir. Aku yang sekarang bukan lagi Satria yang plin plan dan gampang di hasut. Aku sudah menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Ya kan Puspa. "
" Amiin. . Mudah - mudah an janji kamu bisa terkabul dan di tepati ya. " ucap Puspa sambil tersenyum senang.
Kak Reno berdiri dari kursinya. Merogoh ponsel di saku celananya. Melirik sebentar dan melihat jam di ponsel nya. " Wah. udah jam berapa ini. Sudah - sudah. Sekarang kalian pergi sana. Katanya kalian sudah ada janji dengan pihak desainer. Lebih cepat lebih baik kan. Biar hal - hal yang lain aku tugaskan orang kantor." Kak Reno mengingatkan kami.
Kulirik jarum jam di lenganku. " Oalah, iya. Keasyikan ngobrol tau - tau udah jam berapa ini. "
__ADS_1
" Ya udah. Kita pergi dulu ya. Aku juga akan suruh supir supaya jemput ayah ibu dan Raka untuk menginap di sini sampai hari pernikahan selesai. " Ucap Puspa kemudian.
Aku dan Puspa pun bersiap menuju butik tempat kami fitting baju pengantin.
***
" Perfecto ! "
" Coba berputar kakak." Ucap Reynaldi sang disainer ternama ibu kota.
Puspa berputar dan berlenggok di depan kami. Melihat pantulan wajahnya di cermin. " Wah. Pas banget kan kak. Cantik. Pilihanku nggak salah kan. Gaun ini emang cocok untuk kakak. Nggak perlu ada vermak lagi udah bisa dipake untuk besok. "
Puspa tersenyum dengan cantik. " Gimana? Kamu suka sayang? "
Aku mengangguk tanda setuju dan takjub melihatnya berbalut gaun putih bertabur swaroski mewah. Berkilau membalut tubuhnya yang cantik.
" Ya. Aku suka. Kamu makin cantik sayang. "
" Oh ya Kak. Mana tiara yang aku pesan tempo hari. Sudah jadi juga kan?" Aku menanyakan mahkota berlapis emas putih dan bertahtakan berlian cantik yang spesial kupesan untuk pernikahan kami.
" Tentu tuan. Kami sudah mempersiapkannya. " Ucap sang desainer sambil menyuruh karyawannya untuk mengambil mahkota itu di brangkasnya.
Staff desainer itu menyematkan mahkota mungil cantik di kepala Puspa. Menambah kemilau gaun yang dikenakannya.
Puspa terlihat sangat senang. Raut wajahnya berubah merah. " Makasih ya sayang aku nggak nyangka kamu mempersiapkannya dengan matang."
" Ya. Tentu sayang aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu. Untuk pernikahan kita. Aku sudah memimpikan ini sejak lama. Bersanding dengan pengantin tercantik yang membuat seluruh negeri iri melihatnya. "
Puspa memelukku dengan erat dan senyum bahagia mengembang di wajahnya.Tapi ternyata, tanpa kami sadari, ada sosok yang sibuk memantau kegiatan kami di butik saat ini. Memotretnya dari kejauhan dan entah apa yang akan di lakukan sosok misterius ini.
***
__ADS_1