Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 26 Panas dingin


__ADS_3

Aku mengendap - endap masuk ke dalam rumah. Takut - takut kalau Shasha benar - benar mengirimkan foto barusan ke ponsel mama. Apalagi sampai dia nekat kirim ke ponsel kakek. Bisa runtuh dunia ini sekejap saja! Aku juga heran kenapa Shasha yang sepertinya lugu bisa senekat itu.


Tapi, suasana di dalam rumah tampak seperti biasa saja. Lengang, sepi seperti malam - malam lainnya di jam ini. Perasaanku sedikit lega. Akhirnya aku berjalan dengan santai. Memasuki ruang tengah, lampu ruangan dalam kondisi gelap. Sepertinya semua anggota keluarga sudah masuk kamar masing - masing.


Aku melirik sebentar ke arah kamar Puspa, lampu kamarnya juga sudah redup. Dengan melangkahkan kakiku pelan - pelan dan rasa penasaran yang tinggi membuatku mendekati dan membuka pintu kamarnya.


" Kok pintunya nggak dikunci. hihihi.. ", Aku tersenyum lebar penuh arti tapi tetap hati - hati kulangkahkan kaki masuk kamar Puspa. Jangan - jangan dia sengaja membiarkannya tidak terkunci supaya aku bisa masuk kali ya. Aku terkekeh sendiri membayangkan ekspresi wajah Puspa ketika tahu aku menyelinap lagi masuk ke kamarnya. Dia pasti menimpuk atau memukulku penuh cinta.


***


Berjingkat kulangkahkan kakiku ke ranjang besar kamar ini. Disana ada Puspa yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat manis di bawah sinar lampu tidur yang redup.


Kudekati tempat tidurnya, berjongkok di depan wajahnya. Menutup selimutnya yang tersingkap.


" Maafin aku ya... aku tau semua ini memang sudah terlambat. Tapi, aku tau ini waktu yang tepat untuk aku memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha menjadi orang yang bertanggung jawab. Suami yang baik untuk istriku. Untuk keluarga kecilku. "


Kuusap dahinya dan kukecup pelan.


Tiba - tiba tangan Puspa menarikku dengan cepat. Aku tersentak kaget, terduduk di lantai. Sejenak kupikir dia terbangun dan akan memarahiku. Ternyata dia hanya mengigau. Berkali kucoba melepaskan pegangannya tapi susah. Akhirnya aku menyenderkan punggungku di tempat tidurnya. Kupandangi wajah pulas istriku dalam keremangan. Lama kelamaan mata ini rasanya mengantuk dan akhirnya aku memilih tertidur di lantai.


***


" Satria, ...bangun. " , Suara Puspa mengagetkanku yang masih tertidur pulas di lantai. Rupa - rupanya aku berubah posisi dari duduk jadi telungkup di lantai.


" hemm..ngantukkk..tunggu 5 menit ya..". Ucapku kembali menutup mata.

__ADS_1


" Satria ngapain kok kamu tiduran di lantai. Kupikir tadi kamu pingsan. Kamu kenapa bisa ada di sini? nanti bisa - bisa kamu sakit atau masuk angin. Mana dingin.. Pindah gih.. Kamu kan punya kamar sendiri. Puspa masih berusaha membangunkan ku dari lantai. Aku masih tak bergeming. Rasa kantukku mengalahkan segalanya.


" Duh, kenapa si aku punya istri yang hobi banget bangunin suaminya pas lagi pules - pulesnya tidur, patahin hatinya pas lagi sayang - sayangnya.Hemm...kamu lupa ya semalam siapa yang ngigau dan nggak ngebolehih aku pergi..." , Ucapku sambil bangun dan berguling pindah ke atas kasur. Menangkap guling dan masuk ke dalam selimut tebal yang hangat Kembali memejamkan mata dengan berat.


Puspa menarik badanku, berusaha memindahkanku. Tapi usaha nya gagal, dia terlihat kesal dan memegang lengaku dan mencubit pelan pipiku.


" Ih..ada ya orang yang kaya kamu. Pagi - pagi sudah bikin Keeseelll.. " Ucapannya Puspa terhenti saat dia memegang lenganku.


"Satria,,badan kamu panas banget mas.." , ucapnya sambil memegang pipiku dan dahiku dengan cepat.


" Kamu habis dari mana. Kok badan kamu bisa panas begini. Sebentar ya aku ambil kompres air hangat. " Puspa melesat dengan cepat keluar kamar. Seolah dia lupa bahwa tubuhnya masih ringkih dan dalam masa pemulihan pasca operasi.


***


Beberapa menit kemudian Puspa sudah kembali dari dapur, dengan sigap dia mengompres dan memijit dahi serta kedua pelipisku. " Aku ini sudah pernah kasih tau kamu loh mas, kenapa kamu masih suka ngeyel. Kamu sukaa banget keluyuran malam. Trus, malah tidur di lantai. Kan kamu punya kamar sendiri. Ngapain juga kamu tidur di sini trus di lantai pula. "


Tanpa menjawab apa - apa, kuminum obat yang di sodorkan Puspa lalu kembali memejamkan mata dengan cepat.


***


Pagi harinya Puspa sudah menghilang dari kamar, entah dia kemana. Tapi rasanya badanku sudah jauh lebih enteng dari semalam. Sepertinya obat yang Puspa berikan benar - benar ampuh menurunkan panasku atau hanya karena faktor dialah yang berada di sisikulah yang mempercepat kesembuhanku. Ya, bisa jafi.


" Kamu sudah bangun, Satria. " Puspa mendekatiku, menempelkan tangannya di dahiku. Dengan cepat aku menarik tangannya. Membuatnya terduduk di pangkuanku.


" Kamu apaan sih, mas. Bahaya kalo sampe diliat mama atau yang lain. Barusan aku udah panggil mama dan kasih tau kalau kamu sakit Biar mereka nggak salah paham kamu tidur di sini. " Ucapnya yang kini duduk di atas pangkuannku.

__ADS_1


Puspa berusaha bangun dari pangkuanku. Tapi aku berusaha menahannya, memeluknya dengan erat.


" Maaf ya istriku. Aku terlambat menyadari bahwa aku punya wanita yang terbaik."


" Ihh..apaan. Pagi - pagi sudah gombal saja kamu! " Dia tersenyum tersipu malu. Pipi nya memerah saat kukatakan hal tadi.


" Eheemmm.." suara seseorang masuk ke kamar membuat kami tersentak kaget. Puspa melompat kaget berdiri langsung di sebelah tempat tidurku. Aku gelagapan tak karuan.


Rupanya benar kata Puspa, mama masuk ingin memeriksa keadaanku, " Kamu kenapa kok bisa sakit? " , tanyanya kemudian. Memegang dahiku. Sama seperti yang di lakukan Puspa tadi. Mengecek apakah suhu tubuhku benar - benar panas.


" Ah..enggak..kamu sehat - sehat saja kok?!". Ucap mama sambil menurunkan tangannya.


Mama melirik ke arah Puspa, dia terlihat menunduk seperti ketakutan.


" Sudahlah, mama tunggu kamu di ruang makan Satria. Ada yang mau mama bicarakan, sekarang! "


" Aku keatas dulu mah mau mandi. Lalu nanti aku nyusul mama." Jawabku cepat. Aku mengerti mama mau mengusirku dari kamar Puspa. Dia seolah nggak mau aku berdekatan lagi dengan istriku.


" Nggak perlu, mama cuma mau ngobrol sebentar kok." Ucap mama sambil membalikkan badannya. Seperti tak peduli akan hal yang barusan saja terjadu antara aku dan Puspa.


" Ya ma ! " , Ucapku sambil menyingkap selimut dan keluar kamar mengikuti mama dari belakang. Menuju ruang makan.


***


Kutinggalkan Puspa yang masih berdiri mematung tak bergerak melihatku dan mama keluar kamar. Kututup pintu kamarnya dan seperti biasa. Kubuka kembali sedikit lalu menoleh dan mengerjapkan mataku kearah istriku yang sepertinya ketakutan melihat mama. Benar saja, dia tersenyum geli melihatku mengedipkan mataku...

__ADS_1


"Tunggu aku ya, ada sesi kedua. Nanti aku balik lagi. Okey... ", bisikku pelan dari balik pintu.


__ADS_2