Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
Bab 29 Kenyataan pahit


__ADS_3

" Wah..ternyata kalian berdua ada di sini. Udah mama kira kalian pasti ada disini, tadi satpam depan toilet liat kalian berdua turun ke sini. Mama sama tante Dian udah nungguin kalian berdua loh! Ibu - ibu yang lain juga. Ayok, masuk lagi ke dalam. Kita mau tentuin tanggal pertunangan kalian. " Mama sepertinya tidak mendengar perkataan kami soal foto mesum di ponsel Shasha.


" Ma, sepertinya ini terlalu cepat untuk ngomongin soal tunangan. Aku sama Shasha kan awalnya cuma temenan ma, kita mau nyoba mendalami karakter masing - masing dulu ma. Ya, pedekate dulu lah ma. Bisa kan ya ma tanggalnya kita tentuin nanti. Ya kan , Sha? " aku sedikit berisyarat ke Shasha.


Shasha mengedipkan matanya tanda mengerti akan situasinya, " Iya tante. Aku setuju sama Satria, kayak nya kalau pertemuan pertama langsung menentukan tanggal itu kecepetan deh. Kalau menurut Shasha soal tanggal kita omongin lagi ya tante. Jangan sskarang juga. Mungkin Satria juga masih perlu berpikir tante. Ya kan Satria. "


Aku mengangguk cepat.


' Tumben nih cewek bisa diajak kompromi. ' Pikirku dalam hati.


" Ya sudah kalau itu mau kalian. Tante sih, nggak bisa maksain lagi ya. Tante sih berharap kalian bisa cepat - cepat bertunangan. Oh iya, kalau gitu tante balik lagi ke dalam ya. Nggak enak juga di tunggu sama yang lain. Kan yang punya acara tante."


" Iya tante, makasih ya tante. Tolong kasih tau mama juga, Shasha pulang duluan sama Satria ya tante... " Shasha berpamitan dengan mama. Mama kembali ke lantai atas meninggalkan kami berdua di parkiran.


***


Hari sudah menjelang malam. Kulajukan kendaraanku menuju apartemen Shasha, terpaksa aku mengantarnya pulang. Aku penasaran terhadap semua yang terjadi baru - baru ini. Terutama acara perjodohan ini. Membuat jantungku hampir copot.

__ADS_1


" Sha, kenapa si kamu kok berubah sekarang? Dulu, Shasha yang aku kenal nggak seperti ini. Kamu berubah , Sha. Sekarang kamu jadi lebih matre. Kamu juga jadi cewek pengancam. Kamu sekarang lebih sembrono. Tapi, aku yakin kalau ini bukan kamu. Kamu tuh nggak gitu Sha. Aku tau... Kamu itu spesial Sha, itu yang membuat aku sampai bertahun - tahun terobsesi untuk miliki kamu. Aku yakin kamu bukan tipe cewek seperti barusan. Terlihat murahan !" , Shasha hanya terdiam menatap jalanan. Sementara aku fokus menyetir. Tapi, pertanyaan tadi tiba - tiba melintas di benakku begitu saja.


" Sha, kamu bukan cewek murahan seperti yang aku bayangin. Aku nggak nyangka kamu bisa senekat itu, Sha? ", kuulangi lagi ucapankku menegaskan apa yang dilakukan Shasha terhadapku itu sudah kelewat batas. Karena aku tidak menyangka bahwa cinta Shasha hanya kepalsuan belaka dan pura - pura.


Shasha masih diam mematung seolah tidak mendengar apa yang aku katakan barusan, " Kamu kenapa diem Sha. Kamu jawab dong! Jangan bikin aku tambah kesel. Aku mau kamu hentikan semua permainan konyol kamu. Baiklah, aku akan kasih kamu sejumlah uang. Tapi , please setelah ini kamu hentikan semuanya. Aku pikir bahwa kamu tidak pernah kekurangan uang. Tapi, aku heran kenapa kamu jadi tiba- tiba memerasku Sha. Kamu kan model. Wanita mandiri yang bisa cari penghasilan sendiri. Papa kami juga punya banyak bisnis. Bisa - bisanya kamu jual cinta dan harga diri kamu hanya demi uang yang tidak seberapa. "


Shasha tak menjawab apa - apa, Sepertinya kecentilan Shasha menghilang, dia berubah muram. Entah apa yang sedang di pikirkannya.


Shasha menatap ke arahku. Tiba - tiba air mata mulai berjatuhan dari kedua mata nya.


Aku menatap Shasha kaget, " Kamu kok nangis Sha..? Kamu kenapa? Kamu jangan bertingkah dan berakting lagi di hadapanku " Ucapku ketus.


" Kita omongin semuanya kalau udah sampe di apartemen aku ya..", jawab Shasha sambil mengelap air matanya dengan tissue.


***


Di dalam apartemen Shasha

__ADS_1


" Satria, sebenarnya aku mau minta maaf sama kamu. Aku minta maaf ya, aku udah banyak nyusahin kamu. Sekarang aku nggak akan lagi nyusahin kamu. Ucapan kamu barusan menyadarkan aku. Aku bukan wanita serendah itu. Aku sadar aku emang salah sama kamu. Tapi, jujur Satria, Sebenarnya, aku emang beneran sayang sama kamu Satria. Aku cinta banget sama kamu. Semua yang aku lakuin sama kamu itu tulus. Aku nyerahin semuanya itu bener - bener dengan hati aku yang paling dalam. Aku berhubungan sama kamu semuanya tulus. Aku nggak pernah ada maksud buat nyakitin perasaan kamu. Apalagi buat nipu kamu. Aku nggak pernah kayak gitu , Satria. " , Shasha kali ini benar - benar menangis terisak.


Perkataannya terhenti, dia menumpahkan air matanya dengan begitu saja, tanpa henti mengusapnya dengan jari - jarinya. Aku masih tak bergeming. Aku seolah tak percaya dengan sandiwara yang sedang terjadi saat ini.


" Drama apalagi, Sha. Kamu pasti lagi acting kan ? Udahlah, acting kamu kali ini nggak akan bisa ngelabuin aku. Aku udah paham kamu cewek kayak apa. " Ucapku datar.


" Iya. Kamu berhak nggak percaya sama aku. Tapi, aku sakit hati banget saat kamu bilang kalau cinta aku cuma acting. Kamu tau nggak, semuanya udah aku kasih pertama dan tulus buat kamu? Kamu tau nggak, cuma kamu lelaki yang pernah nidurin aku. Kamu tau nggak, aku nggak pernah tega sampai jual diri demi uang seperti yang kamu bilang. Aku nggak sebejat itu Satriaaa..." , Kini Shasha benar - benar terisak makin keras. Wajahnya berubah seketika sangat memelas.


Sebenarnya jujur, aku masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia katakan. Tapi, rasa cinta yang kumiliki untuknya masih tersisa begitu saja di dalam hati, melihatnya menangis seperti ini aku sungguh tak tega.


Kupeluk Shasha yang sedang menangis sendiri di sofa, " Sudahlah Sha..kamu ngga perlu menangis sampe segitunya buat pencitraan." Ucapanku masih ketus padanya. Meskipun saat ini aku sedang berusaha sedikit menenangkannya.


Tiba - tiba Shasha mendorongku keras sampai aku tersungkur ke karpet, " Buat apa kamu di sini. Percuma aku jelasin semuanya sama kamu. Mendingan kamu pergi sekarang. Aku nggak butuh kamu! Aku tau , dimana - mana aku itu cuma dijadikan alat. Alat kalian para manusia busuk! Kamu tau, mamaku. Ya, tante Dian mama tiriku itu sama busuk nya sama kamu. Cuma mau memperalat aku demi uang! Kamu juga sama, memperalat aku demi kepuasan nafsu syahwatmu! Kalian semua manusia - manusia egois dan serakah! Sekarang kamu pergi dari hadapan aku! Aku sudah nggak peduli tante Dian akan menyiksa papaku lagi. Aku nggak peduli. Biar aku dan papa mati saja berdua. Biar aku bisa ketemu mama dan sekalian berkumpul semua sekeluarga di surga." Shasha berteriak keras. Wajahnya terlihat sangat geram, dia melontarkan kata - kata yang tidak pernah aku tau sebelumnya. Air matanya bercucuran. Sepertinya sudah lama Shasha memendam semuanya sendiri. Shasha terduduk di karpet. Melipatkan kaki nya dan menundukkan wajahnya pada lututnya.


" Nggak akan ada orang yang benar - benar tulus sayang sama aku! Aku cuma boneka penghasil uang dan pemuas nafsu! " Sambil terisak dia tertawa terpingkal - pingkal. Sontak aku kaget melihat nya.


Dengan cepat kudekati Shasha, kupeluk Shasha erat - erat. Jadi selama ini. Wanita yang kucintai benar- benar mencintaiku dan dia memendam beban beratnya sendiri. Kenapa aku sampai sebodoh ini dan tak pernah mengerti situasi yang sedang di hadapi Shasha.

__ADS_1


" Sha, maafin aku. Aku terlalu sibuk nyeritain semua masalah - masalah aku. Sampai aku lupa nanyain kamu. Aku lupa kasih perhatian sama kamu. Aku pikir kamu cuma senang shopping dan aku pikir kamu itu memang matre. Ternyata uang - uang itu bukan buat kamu, tapi semua buat mama tiri kamu , Sha.. Maafin aku , Shaa.." kupeluk Shasha erat - erat. Rasa bersalahku tiba - tiba merasuk ke dada, dan hangat kembali mengalir ke dalamnya, membuatku ******* bibirnya dan Shasha membalasnya dengan hangat.


***


__ADS_2