Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
Bab 27 Dijodohkan


__ADS_3

Mama membawaku ke ruang makan, di sana tidak ada anggota keluarga yang lainnya. Hanya ada aku dan mama.


" Dimana papa sama kakek, ma? Mereka nggak turun ikut makan?" Tanyaku setelah duduk di meja makan. Tepat di hadapan mama.


" Papa sama kakek kamu ke Singapore seminggu. Ada urusan bisnis yang mesti mereka selesaikan. " Mama menuangkan jus ke dalam gelasku, lalu menuangkan segelas lagi untuknya.


" Puspa nggak di suruh makan juga sekalian bareng kita, ma? " aku bertanya dengan hati - hati takut tiba - tiba mama tersinggung atau marah mendengar pertanyaanku barusan. Karena jujur saja, mama lebih banyak diam tak berkomentar apapun jika menyangkut urusan Puspa. Beliau sepertinya tidak mau tau.


" Dia sudah makan duluan. Kasian dia kan masih masa pemulihan pasca operasi. Kamu nggak perhatiin muka dia masih pucat begitu. " Mama mulai mengiris - iris buah pir dan menyodorkan nya ke hadapanku.


"Mama juga sudah makan. Kamu makan saja nih. Jangan sampai kamu sakit juga. "


"Oh iya, semalam juga mama melihat kamu menyelinap masuk ke kamar Puspa. Sebaiknya kamu jangan ganggu dia dulu. Mama nggak heran aja kenapa kamu masih dekat dengan dia."


" Jadi, mama tau kalau aku masuk diam - diam? Kupikir mama dan yang lainnya sudah tidur semalam . Aku nggak tau kalau mama sampai perhatiin aku" . Aku mengunyah buah pir dengan cepat karena ingin menyudahi obrolan basa basiku dengan mama.


" Ya, mama tau, kebetulan mama habis antar papa kamu ke bandara. Pas pulang liat kamu masuk ke dalam kamar Puspa. Mama pikir kamu ada perlu dengan dia. Jadi mama nggak menegur. Mama kira kamu hanya menyapa sebentar tapi nyatanya kamu malah tidur di kamar dia. Tapi, bukan itu sih masalah yang mama mau bicarakan. " Ucap mama panjang lebar.

__ADS_1


Aku masih menunggu dengan cemas dan penasaran, sebenarnya apa yang akan mama bicarakan sampai - sampai aku harus mengikutinya ke meja makan. " Ma, kok mama nggak ikut papa sama kakek ke Singapore? Agak aneh juga sebenarnya mama nggak ikut. "


Mama menatap ke arahku, ada gelagat aneh yang dia tunjukkan padaku. Tidak biasanya mama tidak ikut perjalanan bisnis dan memilih tinggal di rumah. Apalagi sampai satu minggu lamanya. Biasanya mama memilih ikut kemanapun papa pergi. Segala kebutuhan papa semua mama yang handle meskipun papa sudah ada asisten pribadi yang selalu mengikuti kemana pun papa pergi.


" Satria, sebentar lagi Puspa selesai masa nifasnya. Sekarang, apa yang mau kamu lakukan? Mama mau bicara dari hati ke hati sama kamu." Mama menunjukkan ekspresi sangat serius di wajahnya. Aku sampai bingung dan berhenti mengunyah.


Aku masih kebingungan dan nggak paham arah dan tujuan percakapan ini, " Maksud mama?" . Tanyaku benar - benar tak mengerti maksud ucapan mama.


Mama melanjutkan perkataannya, " Ya maksud mama kamu mau cerai apa lanjut masih mau menikah dengan si Puspa?"


" Kok mama ngomong cerai ? Memangnya mama nyuruh aku untuk cerai dengan Puspa? Mama benar - benar nggak menyetujui aku sama Puspa?" Tanyaku menegaskan pertanyaan mama barusan.


Jujur, aku berada di kebingungan yang nyata. Puspa benar - benar menolak kehadiranku, mama juga seolah mendesakku untuk menceraikannya. Tinggal satu kata ucapan cerai saja aku sudah benar - benar berpisah darinya. Tapi, apa aku benar sudah mulai menyukainya dan jatuh cinta padanya?


" Ma, kasih aku waktu untuk berpikir. Ma, seandainya aku bisa bujuk Puspa untuk menggagalkan perceraian ini. Apa mama masih mau menerima kehadiran Puspa di keluarga ini? "


Mama menarik nafas dalam, " Sejujurnya, mama awalnya tidak suka dengan kehadirannya. Terlalu cepat bagi mama memiliki seorang menantu apalagi dari kalangan ekonomi ke bawah. Nggak selevel dengan kita. Tapi, mama lihat dia tulus sama kamu. Dia juga nggak macam - macam selama dia di sini. "

__ADS_1


" Lalu, sekarang apa mama sudah mulai tertarik sama Puspa ?" Tanyaku sumringah dan sedikit penasaran mendengar yang dikatakan mama barusan.


" Hmmm... Gimana ya. Mama punya calon lain buat kamu Satria.."


Aku tersedak dan tersentak kaget. " Calon lain? Maksud nya mama sedang jodohin aku dengan cewek lain? Katanya mama bilang aku masih terlalu muda untuk menikah ? Tapi mama mau jodohin aku dengan cewek lain? "


Mama mengangguk mantap, mengunyah makanan nya dengan santai. Memangnya siapa yang mama jodohin sama aku.


" Ya, tapi mama sih fair ya. Mama bilang, dia kalau mau jadi calon mantu mama. Dia harus bisa bersaing dengan Puspa. Mama belum bilang sih, kalau Puspa itu istri kamu. Tapi, sepertinya dia juga sudah tau Puspa"


What? Apa - apaan mama ini, satu masalah belum selesai sekarang main jodoh - jodohan aku dengan cewek lain. Belum lagi urusanku dengan Shasha yang masih belum kuatasi. Mama sekarang main acara perjodohan? Sebenernya sampai kapan kekacauan ini akan berakhir! Mama... Bukannya selesaikan dulu masalah Puspa... malah nambah beban pikiranku saja.


" Ini pasti juga ulah teman - teman sosialita mama deh. Ya kan? Kenapa si mama mau aja bikin acara perjodohan aku sama anak teman mama . Nggak ah, aku nggak setuju. Statusku kan masih suami orang ma. Mama ni ah, aneh - aneh aja! "


" Ya, mau gimana lagi. Orang - orang kan taunya mama ini punya anak ganteng dan masih bujangan. Mama nggak mungkin dong nolak acara perjodohan ini dengan alasan anak mama sudah menikah. Bisa - bisa semua orang tau alasan dibalik pernikahan kalian. Lagipula, pernikahnnya juga nggak mesti dilakukan sekarang juga. Mama hanya berinsiatif memberikan kamu calon pendamping yang terbaik dari kalangan kita. Yang pastinya selevel dengan kita. Jadi, mama pun nggak perlu takut atau was - was jika kamu sudah mendapatkan tahta dari papa kamu. Mama nggak perlu takut harta Wirajaya jatuh ke orang yang salah. " ucap mama panjang lebar.


" Aduh mama, aku nggak habis pikir mama bisa jodohin aku seperti itu. Aku masih berstatus menikah. Istriku juga masih hidup... aku juga nggak sebenci itu sama Puspa, semua nya tidak semudah itu dan tidak seperti yang mama pikirkan " protesku kemudian.

__ADS_1


Mama hanya membalasku dengan senyumannya.


***


__ADS_2