Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 38 SEBUAH KESEPAKATAN


__ADS_3

Minggu depan aku akan terbang ke Paris sesuai dengan rencanaku. Sebagai malam perpisahan. Malam ini aku dan Satria akan keluar untuk dinner di sebuah hotel ternama di pinggiran kota. Ini sebagai bentuk acara perpisahan. Kami sepakat melakukannya untuk membuat sebuah kenangan sebelum kami benar - benar berpisah nantinya.


Aku pun tidak keberatan jika harus keluar bersamanya malam ini. Entah apa yang akan terjadi nanti. Keputusan apa yang akan kami ambil. Setidaknya aku sudah berusaha memberikan penampilanku yang cantik dan berkesan malam ini. Akan kubuat pria itu menyesal telah menyia - nyiakan wanita cantik di hadapannya ini.


***


Aku menatap wajahku sekali lagi di hadapan cermin. Riasan tipis ku poles di sana dengan warna lipstik nude kesukaanku. Lalu aku berputar - putar di depan cermin itu sambil memastikan bahwa aku akan terlihat sempurna malam ini.


Rupanya dietku sedikit berhasil karena rasa - rasanya tubuhku sudah agak sedikit kurus setelah menggemuk sana - sini saat masa kehamilan ku dulu. Tapi satu yang mengganjal, yaitu perutku sudah tak semulus dulu. Ada bekas luka jahitan terpahat di sana.


"Tapi ya sudahlah ini sudah menjadi bagian kodratku sebagai seorang wanita." Gumamku dalam hati sambil mengelusnya pelan.


" Non..." Seseorang mengetuk pintu kamarku dan memanggil namaku.


" Ya bi.. " Aku sudah hafal betul suara bi Inah.


Sekali lagi aku berputar - putar di depan cermin dan ku tatap kembali tubuhku terutama bagian perutku yang berbalut gaun berwarna putih dengan model punggung terbuka. Memperlihatkan bentuk lekuk tubuhku yang molek.


" Ah, cantik " Ucapku sambil tersenyum manis dan beberapa kali menyemprotkan parfum aroma vanila.


Kubuka pintu kamarku, di sana sudah menunggu bi Inah. Rupanya benar dia yang mengetuk pintu kamarku.


" kenapa bi ? " Tanyaku pelan sambil kututup pintu kamarku.


Bi Inah memandangku takjub. " Non, cantik banget deh malam ini. Ehm, tuan Satria sudah menunggu non di depan. Oh ya, .... dan ini non. " Bi Inah menyodorkan sesuatu.


Sebuah tas belanja dengan sebuah kotak di dalamnya. Kubuka kotak berwarna coklat itu dengan cepat. Ada sepasang sepatu cantik berwarna merah di dalamnya.


" Itu dari tuan Satria. Katanya non harus pakai malam ini. " Bi Inah menjelaskan.


" Oh. gitu. Ya udah. Makasih bi. " Jawabku sambil mencoba memakai sepatu cantik ini. Pas. Ukurannya sesuai sekali dengan kakiku. Kaki ini makin terlihat cantik mengenakannya. Rupanya Satria masih hafal ukuran sepatuku.


***


Kulangkahkan kaki ku menuju tempat Satria berada. Dia sudah menunggu di pelataran depan rumah. Berdiri menyenderkan punggungnya di mobil.


Kutatap wajah nya lekat. Aku berusaha menghadirkan senyumku yang termanis saat dia menatapku.


" Hi.." Sapaku pelan. Menuruni anak tangga teras depan rumah.


Satria seolah sedang terhipnotis dengan auraku malam ini. Dia hanya terpaku menatapku. Dia mengerjapkan matanya sesaat. Memandangku dengan takjub. Senyumnya mengembang dan lesung pipinya terlihat sangat manis.

__ADS_1


" Hi.." Sapa Satria sambil membukakan pintu mobilnya.


Dia mengenakan jas berwana hitam perlente lengkap dengan dasi yang menggantung indah dilehernya, selain itu dia pun makin terlihat sebagai seorang tuan muda sempurna dengan memakai sepatu mahal dari brand ternama dan terlihat cocok dengan pakaiannya, sangat mengkilap. Aku baru menyadari bahwa memang benar suamiku adalah seorang tuan muda kaya raya yang tampan. Membuat orang yang melihat akan terpesona olehnya. Apalagi sekarang usianya semakin matang dan beranjak dewasa. Sayangnya, kami harus berpisah mulai malam ini.


***


Aku pun mengambil posisi duduk di sebelahnya menyetir. Sesekali Satria kembali menoleh ke arahku.


" Kamu cantik banget malam ini. " Ucapnya sambil tetap fokus menyetir.


" Kita mau kemana ? " Tanyaku pura - pura tak mendengar apa yang baru saja dia ucapkan.


" Hmmm..nanti kamu tau sendiri. " Jawab Satria sambil tersenyum penuh arti.


***


Kami berdua sudah tiba di sebuah hotel mewah ternama di pinggiran kota. Seorang pelayan hotel membukakan pintu mobil dan Satria memberikan kuncinya untuk memarkirkan kendaraan.


Dia menyodorkan lengannya, menyuruhku untuk merangkul nya. Sesaat aku hanya terpaku. Lalu Satria menarikku dengan cepat dan menarik tanganku untuk merangkulnya erat layaknya seorang pangeran dan putri cantik akan memasuki istana raja.


Beberapa pelayan menyambut kedatangan kami dan mereka mengantarkan kami ke meja yang sudah Satria pesan sebelumnya.


Canggung! Jujur saja hal itu yang sedang aku rasakan sekarang ini. Bingung. Apa yang harus aku katakan untuk mulai membicarakan soal perpisahan kami. Karena tanpa sadar aku terhanyut dalam suasana makan malam romantis dengan alunan musik syahdu malam ini.


Sampai akhirnya seorang pelayan menghampiri kami.


" Tuan, ini pesanan tuan. " Pelayan itu menyerahkan buket besar mawar merah dan Satria memberikan mawar itu untukku. Seperti layaknya sebuah adegan romantis yang sering kutonton di film.


Satria mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya.


" Ini untuk kamu Puspa. Aku hanya berusaha memberikan kesan terbaik malam ini. Aku mau kamu menerimanya. " Dia membuka kotak perhiasan berbentuk hati berwarna merah. Sebuah liontin emas dengan bertahtakan huruf S.


Aku hanya termenung melihat adegan demi adegan yang sedang dia lakukan. Apa gerangan yang sedang terjadi malam ini. Bukankah malam ini adalah malam perpisahan bagi kami. Kenapa dia malah memperlakukanku seromantis ini. Tidak. Pendirianku tidak akan berubah. Aku sudah lama memikirkan semuanya.


" Ya. Terimakasih. " Ucapku datar. Dia mengaitkan liontin itu dileherku.


Satria menatapku heran karena dia tidak menyangka reaksiku biasa saja menerima perlakuan manisnya barusan.


" Kamu nggak suka ya sama semuanya? " Tanya Satria heran.


Aku menggelengkan kepalaku cepat. " Bukan itu masalahnya. "

__ADS_1


" Lantas apa yang membuatmu murung. "


" Ini kan malam perpisahan kita. Untuk apa kamu perlakukan aku dengan hal - hal romantis seperti ini. Aku salah, sebaiknya kita tadi tidak bertemu malam ini. Seharusnya aku tidak menyetujui dinner ini. " Aku sedikit menyesal bertemu dengan dia dalam suasana seperti ini.


" Kenapa sih kamu masih saja meributkan soal perpisahan. Apa benar kamu masih tetap bersikeras ingin kita berpisah? " Satria sekali lagi menegaskan pernyataanku barusan.


Aku menggigit bibirku sendiri, melemparkan pandanganku ke arah lain.


" Ya. " Jawabku cepat.


Satria spontan meraih pipiku. Memegangnya erat dengan kedua tangannnya. Memastikan raut wajahku.


" Aku ingin kamu bilang sekarang bahwa kamu ingin kita tetap berpisah dan kamu ingin semua hubungan kita berakhir. Tatap mata aku Puspa. Tolong tatap mataku sekarang." Satria mendekatkan wajahnya ke hadapanku. Aku tak berani sedikitpun melihat mata ini. Ya, aku tidak sanggup kehilangan pemilik bola mata indah ini. Tapi, sudah kubulatkan tekadku untuk berpisah dengannya malam ini. Mulai detik ini dan selamanya aku akan berpisah darinya.


Masih kupandangi lekat matanya. " Aku ingin kita berpisah dan mengakhiri pernikahan ini." Ucapku pelan.


Satria kembali duduk di kursinya dan membuang pandangannya.


" Tuhan. Kuatkan imanku. " Jawab Satria.


" Maksudnya?" Tanyaku heran.


" Aku nggak bisa melihat istriku secantik ini malam ini. Rasanya ingin kuculik dia dan kubawa ke kamar hotel ini. Menyekapnya sampai pagi ". Jawabnya seolah acuh akan pernyataanku barusan.


" Aku serius Satria. Aku ingin mengakhiri hubungan kita sebagai suami istri. Aku harus pergi ke Paris. Aku juga sudah terlanjur sakit hati dengan semua ulahmu. Aku juga tau kamu nggak pernah cinta sama aku. Aku yakin semuanya akan sulit untuk kita. "


" Kamu yakin ? " Tanya Satria dengan wajah yang lebih serius.


" Ya. Aku yakin karena aku tau kamu nggak pernah mencintai aku dengan tulus."


" Tapi aku cinta sama kamu Puspa. " Jawab Satria cepat. Dari raut wajahnya dia terlihat sangat serius akan ucapannya barusan.


" Baiklah kalau begitu. Maukah kamu membuat kesepakatan denganku? Aku akan menguji kebenaran cintamu itu." Tanyaku kemudian. Sebuah ide ternyata terlintas begitu saja di kepalaku.


" Ya. Apa itu? "


" Aku yakin kamu tidak bisa melewati ujian yang akan aku berikan ini. Aku akan kembali memberikan jawaban atas pernikahan kita setelah dua tahun lagi kita bertemu. Aku akan menerimamu kembali ketika kamu benar - benar serius mau menantiku kembali dari Paris. Dan aku yakin pasti kamu nggak akan kuat melewati ujian ini. Sampai saat itu tiba, kapanpun kamu berubah pikiran dan ingin menjatuhkan talak kepadaku. Aku siap. "


Satria mengangguk mantap dan menerima kesepakatan kami. Kapanpun dia menyerah saat itu pulalah aku akan kehilangan dia. Meskipun ini berat tapi aku yakin bahwa ini adalah cara terbaik untuk menguji ketulusannya.


***

__ADS_1


__ADS_2