Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
Bab 30 Tante Dian


__ADS_3

Masih di apartemen Shasha


Shasha mulai sedikit lebih tenang sekarang, air matanya sudah dia basuh di wastafel. Aku mengambil secangkir kopi hangat untuknya.


" Sha, tolong aku minta sama kamu untuk lebih tenang. Sekarang kamu ceritain semuanya sama aku ya, Sha. Kenapa kamu bisa sampe berpikiran buat meras aku dan jujur aku bingung kenapa situasinya jadi seperti ini."


Shasha menyeruput kopinya, meletakkan cangkirnya di meja. Rasanya aku tak sabar menunggu jawaban dan penjelasan dari Shasha.


" Aku udah bangkrut, papahku udah nggak punya apa - apa selain rumah yang dia tempatin. Itupun udah berganti nama atas nama tante Dian. Udah dari pas aku duduk di kelas 1 SMA papah aku sakit, kamu tau kan papah aku kena penyakit jantung. Sekarang beliau stroke dan gak bisa ngapa - ngapain. Awalnya semua baik - baik aja, tante Dian yang urus semua usaha papah. Bengkel mobil, showroom, resto dan butik semua tante Dian yang urus. Tapi, kebiasaan tante Dian yang suka foya - foya bikin usaha papah satu persatu gulung tikar. Nyisain hutang yang banyak. Sekarang tante Dian sukanya marah - marah dan bentak - bentak ke kami. Aku dan papah di siksa sama dia. Aku diancam kalo aku sampe bocorin semuanya ke orang lain , dia bakalan hentikan semua pengobatan papah. Aku juga di paksa suruh ngikutin semua kemauan dia. Aku dipaksa buat deketin kamu. Awalnya, aku nggak mau. Apalagi pas kamu bilang udah nikahin si Puspa karena dia hamil anak kamu. Selain itu, aku beneran tulus sama kamu, aku nggak mau jadi cewek matre yang cuma morotin kamu. Tante Dian bilang, aku nggak bakal di kuliahin lagi kalau sampai aku bocorin ke kamu. Aku banting tulang kerja jadi model juga untuk biayai hidup aku sendiri dan terutama menuruti semua keinginan tante Dian yang glamour. Ini bukan apartemen milik aku, ini cuma sewa. Aku di sewain apartemen di sini kuliah sekampus sama kamu, itu semua tante Dian yang atur. Tas - tas branded baju - baju yang kamu beliin dan kasih ke aku itu di jual lagi sama tante Dian. Aku nggak pernah pake pemberian kamu semua. Makanya setiap kamu tanya mana baju yang kamu beli nggak pernah aku pakai karena memang hanya untuk dijual lagi. Maafin aku soal itu. Aku nggak mungkin langsung minta sama kamu sejumlah uang. Aku tutupin kebutuhan tante Dian dari penjualan barang - barang itu. Makanya, kemarin aku sempat berdebat dengan tante Dian. Tante Dian marah dan maki - maki aku pas tau aku mau nyerah dan lepasin kamu. Dia bilang, dia yang bakal deketin mama kamu dan bakal aduin kalo aku udah sering bermalam bareng kamu. Mungkin tante Sarah tau kalau kita udah pernah lewatin malam panjang di apartmen ini. Mungkin tante Dian udah ceritain semuanya sama mamah kamu soal hubungan kita. Makanya dia maksa kita buat cepet - cepet tunangan trus nikah. Sekarang aku makin bingung, apa yang harus aku lakuin. Aku bakal nyakitin perasaan Puspa dan perasaan kamu kalau sampai aku nggak ungkapkan semua kebenarannya. Aku nggak mau orang yang aku sayangi beneran sampai berpikir macam - macam soal aku. " Shasha menghela nafas panjang.

__ADS_1


Aku seolah tak percaya Shasha menanggung beban seberat itu sendirian. Menjalani hari - harinya di bawah tekanan ibu tirinya, " Trus, kenapa tante Dian bahkan mama juga jodohin kita, maksa kita buat bertunangan? "


" Tante Dian bilang, mamah kamu bakal kasih pinjaman, serta bakal ambil alih resto papah yang bangkrut dan kasih dia butik ke aku sebagai hadiah pertunangan. Kalau sampai kamu gagal tunangan sama aku. Tante Dian bakal bocorin kalau kamu udah nikahin Puspa karena dia hamil, dan bakal share ke media kalau kamu menyimpan aku di apartemen ini. Semuanya akan jadi kacau balau. Aku sudah terlanjur sayang sama kamu dan tante Sarah. Aku nggak mau nyakitin kalian. Hanya tante Sarah yang sayang sama aku dan menganggap aku seperti anaknya sendiri sejak mama meninggal. Aku tau, kedekatannya dengan mama tiriku hanya untuk melindungi aku dan papa. Aku tau aku salah mau merebut kamu dari istri kamu. Aku harus gimana Satria..."


Shasha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kembali menangis tersedu.


" Aku pikir tante Dian nggak senekat itu, tapi kenyataannya dia selalu ancam aku. Aku bingung harus gimana lagi. Aku bingung Satria. "


" Iya, aku tau. Karir aku juga bakal hancur. Tapi, semua itu nggak serius. Aku cuma pura - pura ngancam kamu atas suruhan tante Dian. Semua kendali dia yang pegang. Aku lakuin semuanya biar papaku tetap aman. Apalagi papa sekarang juga jauh dari aku, aku nggak bisa pantau papa setiap saat. Aku nggak bisa bawa dia keluar dari rumah itu. Tante Dian udah sewa bodyguard buat awasin papa dan gerak - gerik aku. Aku bingung banget. Sepertinya, setelah aku ceritain ini ke kamu. Tante Dian juga bakal tau. Dia punya mata - mata yang selalu buntutin aku. Dia punya cctv terpasang disini."

__ADS_1


" Hemm..baiklah kalau begitu. Aku bakalan cari solusinya. Biar sekalian aku kasih tau kak Reno. Nggak mungkin kalau aku atur strategi sendirian. Biar aku bareng kak Reno pikirkan cara buat selamatkan papa kamu. Sepertinya, orang pertama yang harus di selametkan adalah papa kamu. "


" Tapi, gimana caranya? " Tanya Puspa cepat. Aura wajahnya berubah. Matanya bercahaya memnacarkan harapan yang besar. Maafkan aku yang selama ini tidak tahu akan beban berat yang kau pikul Sha. Karena kupikir hanya aku yang bernasib malang.


" Biar nanti aku sama kak Reno yang urus semuanya. Kamu nggak usah khawatir. Sekarang kamu pura - pura aja mau tunangan sama aku dan ikutin aturan serta apa yang tante Dian suruh. Ikutin aja permainan dia, kamu laporin semua gerak - geriknya ke aku. "


" Tapi, aku nggak bisa keluar masuk rumah itu dengan bebas. Papah dijaga dengan ketat. "


" Itu biar kita atur strateginya. Sekarang kamu istirahat dulu. Nanti kita tentuin waktu buat misi penyelamatan papa kamu. "

__ADS_1


" Makasih ya Satria, aku tau kak Reno dan kamu memang selalu bisa diandalkan. " Shasha tersenyum lebar, matanya memerah. Tapi, kedua bola matanya memancarkan harapan yang besar.


***


__ADS_2