
" Apa barusan yang kamu bilang? Segampang itu kamu ngomong itu sama aku? Kamu mau putus sama aku? Kamu mau hubungan kita semuanya berakhir begitu aja setelah semuanya kita lewatin sama - sama? Kamu pecundang! Dulu kamu bilang aku yang paling kamu cinta. Kenapa sekarang kamu malah mau baikkan sama istri kamu? Emangnya aku cewek apaan. Bisa sesuka hati kamu permainkan? Kamu sadar dulu dia wanita yang sudah hancurin masa muda kamu. Membuat kamu jalanin pernikahan di usia yang masih sangat muda. Masih terlalu dini buat jadi seorang suami bahkan seorang ayah! Lantas kamu bahkan mengeluh dan berlari kepelukankku saat semua orang sedang merayakan hari pernikahanmu.", Shasha membentakku keras. Tidak pernah kulihat dia semarah ini.
Suasana di sini sangat ramai. Tak enak hati rasanya orang - orang memperhatikan perdebatan kami. Aku berusaha membuatnya kembali duduk di kursinya, " Duduk Sha, bahaya kalau sampai orang lain berpikir macam - macam kita ribut - ribut di sini. Malu Sha, diliatin banyak orang. Kamu kecilin volume suara kamu. " Aku mencoba menenangkan Shasha yang mulai mengamuk karena kuputuskan untuk mengakhiri semua hubungan dengannya.Memulai sesuatu yang baru dan lebih baik. Mungkin ini berat bagi Shasha dan juga diriku. Tapi harus kulakukan untuk hidup yang lebih baik.
" Sudahlah, biar semua orang tau. Sebejat apa putra tunggal keluarga Wirajaya. " Nada bicaranya tetap meninggi. Seaakan dia ingin semua orang tau dan memperhatikan kami.
Tanpa menunggu dia berkata lebih banyak lagi, dengan cepat kutarik lengan Shasha keluar cafe, setengah kuseret dia menuju ke parkiran mobil.
Shasha berontak sekerasnya, berusaha menepis tanganku. Tapi apa daya tubuhnya yang mungil tidak bisa menandingi tubuhku yang tegap dan atletis. Dia kalah kuat denganku.
" Sha, please. Kamu dengerin aku dulu. Sha, aku ngerasa bersalah sama Puspa dan anak kami. Aku ngerasa bersalah juga sama kamu kalau kita terus lanjutin hubungan ini. Hubungan semu yang tak pantas jika dilanjutkan. Aku nggak mau nyakitin kalian berdua, Sha. Sudahlah Sha. Kamu harus bisa rela lepasin aku. Cinta kita itu semu. Hanya terburu dengan nafsu belaka. Tanpa tau arah dan tujuannya akan kemana. Walaupun akupun belum tentu bersama Puspa tapi lebih baik pula jika aku juga tidak dengan kamu. Kuakhiri semuanya dengan tenang "
Tanpa kuduga Shasa melemparkan tas selempangnya ke wajahku, dia memukuliku dengan bertubi - tubi. Reaksi nya sangat di luar dugaanku. Dia mengamuk dan itu membuatku panik.
Aku tiba - tiba merasa cemas dan agak sedikit takut dengan reaksi nya yang berlebihan, " Sha, apa - apaan si kamu jangan gitu dong. Malu diliat orang! Kamu nggak usah berlebihan kaya gitu... ".
Kupegang pergelangan tangan Shasha dengan kuat. Tapi dia tetap berusaha untuk berontak. Masih menggoyangangkan kedua lengannya.
__ADS_1
Kutarik tubuhnya ke pelukanku dan berusaha mendekapnya agar sedikit lebih tenang. Tapi percuma. Semuanya nihil.
" Biar. Biarin aja semua orang tau. Kalau putra tunggal Wirajaya grup itu lelaki bejat. Suka nya mempermainkan perempuan seenaknya. Lalu ninggalin begitu aja. Sekalian biar semua orang dan sekalian wartawan tau. Trus keluarga kamu tau. Semua rekan bisnis kakek kamu tau. Aku masih punya kartu merah di tangan aku. " Shasha menghentikan amukan nya padaku. Dia tertawa terkekeh. Entah apa yang sedang di pikirkannya.
" Sekarang bisa saja aku lepasin kamu. Tapi dengan satu syarat. "
" Apa mau kamu Sha. Kamu minta uang? ". Aku langsung bisa menebak arah dan tujuan Shasha kemana. Harusnya aku menyadari lebih awal wanita macam apa Shasha itu.
Shasha tersenyum lebar. " Nah, kamu paham. Pokok nya, setiap aku butuh uang. Kamu harus transfer sejumlah yang aku mau. Kalau sampai telat, bukan cuma mama papa kamu yang bakal dapatin jackpot dari aku. Tapi, kakek kamu juga bakal tau. Dan kamu tau kan..apa yang bakal terjadi kalau foto - foto dan video cinta kita tersebar ke media... " . Shasha melengang pergi. Tersenyum lebar dengan membawa kemenangannya atas kebodohanku.
Semua yang dikatakan kak Reno benar, Shasha adalah wanita jahat. Kenapa aku nggak pernah dengar kata - kata kak Reno. Kenapa selalu saja aku telat menyadari semuanya.
Shasha melengang pergi dengan taksi. Pergi dengan hati yang riang gembira. Dia memegang kartu merahku. Kupikir Shasha bakal kecewa dan marah karena harus berpisah dariku. Justru terbalik, sekarang aku malah yang kecewa dan marah karena telah tertipu wajahnya yang cantik dan menawan.
Aku tersakiti oleh Shasha wanita yang benar - benar aku cintai. Selama ini aku merasa cintaku nyata, rela kuberikan segalanya demi wanitu itu yang ternyata berhati busuk. Hanya ingin uangku saja. Aku tertipu dengan kata - kata manis Shasha.
***
__ADS_1
Masih di parkiran cafe
Aku meraih kunci mobilku, menyalakan remote dan masuk ke dalam mobil. Menyenderkan punggungku sejenak.
Drrrtt...drttt..drt....
Ponselku bergetar.
" Jangan lebih dari 10menit dari sekarang ya. Transfer aku sayang. Aku cuma mau lima juta..😘😘😜"
Shasha mengirimkan chat lengkap dengan emoticon senyumnya. Aku tau dia sedang tertawa menang di ujung sana.
" Nggak! " , jawabku cepat.
Tiba - tiba dia membalas dengan mengirimkan fotoku yang sedang tertidur pulas dengan dada terbuka dan berada dipelukannya diatas ranjang. Kapan dia mengambil poseku seperti ini. Rupa - rupanya Shasha memang benar - benar sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.
" Aku bakal kirim hadiah ini ke mama mertua ya..."
__ADS_1
***