Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 34 LAGI - LAGI KAK RENO


__ADS_3

Di dalam mobil


Aku dan kak Reno meninggalkan rumah makan itu. Setelah sebelumnya memberikan beberapa lembar uang untuk bu Fat. Pak Santo pun telah menyelesaikan misi penyelidikan kasus ini.


Sementara kak Reno sibuk menyetir. Pikiranku menerawang jauh ke masa - masa dimana Shasha dan aku menghabiskan waktu bersama. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Shasha pernah direhabilitasi akan ketergantungan obat - obatan. Ya Tuhan, ternyata Shasha gadis impianku dulu sudah berubah. Bukan lagi gadis manis yang pernah aku kenal saat masih sekolah. Ternyata setelah tamat SMA Shasha bukan melanjutkan study tapi mengejar ambisi - ambisinya, menemukan orang - orang yang salah dan dia salah dalam bergaul. Sampai - sampai dia harus berada dalam pengawasan medis.


" Hhhhh..." nafasku berat. Sesak rasanya dada ini menerima kenyataan yang aneh ini. Kupegangi dadaku. Mataku terus menerawang jauh ke masa - masa kami bersama dulu.


" Shasha... " Tanpa sadar aku melontarkan kata itu. Aku menatap jalanan yang sudah hampir petang melalui kaca jendela mobil. Gelap pekat sepekat perasaan ini. Rupa - rupanya begini rasanya dikecewakan.


Kak Reno yang dari tadi diam dan fokus menyetir menoleh sekejap ke arahku.


" Kenapa Satria? Apa kamu kecewa akan kenyataan yang sebenarnya?" Tanya kak Reno penasaran.


Aku hanya mengangguk pelan. Kak Reno kembali bersuara. " Bagaimana perasaan kamu sekarang? Kamu sekarang sudah sadar kan kalau Shasha itu wanita yang seperti apa. Kak Reno sudah peringatkan kamu dari awal. Shasha itu bukan gadis baik - baik. Shasha yang kamu kenal dulu itu bukan lagi Shasha sahabat kamu. Tapi berubah jadi siluman cantik berhati busuk dan ambisius. Shasha itu penuh obsesi. Penuh ambisi. Buktinya kenapa Shasha merayuku dan juga merayumu. Tapi hanya kamu yang berhati lemah dapat dengan mudah dia kelabui." Kak Reno sepertinya mulai iba melihat kondisiku yang terlihat sangat kecewa.


" Ya, jujur saja kak. Aku tidak menyangka bahwa Shasha senekat itu. Papahnya saja sampai tega dia sakiti seperti itu, apalagi aku yang bukan siapa - siapa. Jangan - jangan kak Reno benar. Shasha memang hanya memanfaatkan aku saja. Dia tau bahwa aku penggemar beratnya dari dulu. Aku terlalu lemah karena dia cinta pertamaku. Jadi dia dapat dengan mudah memanfaatkan cintaku untuk kepentingan pribadinya. Lagi - lagi aku sudah dibodohi oleh si gadis bermuka seribu itu. Betapa bodohnya aku." Kukepalkan jariku diatas paha dan kembali menatap jalanan malam.


" Ya, itulah cinta. Kadang kamu tidak menggunakan logikamu demi membahagiakan orang yang benar - benar kamu cintai. " Jawab kak Reno sambil kembali fokus menyetir menembus malam.


" Kak, apa benar yang aku rasakan pada Shasha ini cinta? Sepertinya aku hanya berambisi untuk memiliki gadis itu. "


Kak Reno menatapku sesaat. " Coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Kamu pasti punya jawaban itu. "

__ADS_1


Aku menyenderkan punggungku pelan memperbaiki posisi dudukku. Lelah tiba - tiba merasuk ke dalam. Sulit rasanya menghindar dari kelelahan ini. Kelelahan hati yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.


" Sesaat tadi aku berpikir. Sama seperti halnya Shasha yang rela melakukan segalanya demi menjadi tenar. Akupun sama tak ubahnya seperti Shasha yang terlalu berambisi untuk bisa meraih dan memiliki Shasha. "


" Ya, terkadang hasrat obsesi dan cinta itu beda tipis." Jawab kak Reno.


" Tapi kak, jujur saja aku sekarang bingung apa ini benar cinta? Apa ini hanya ambisiku saja untuk bisa mendapatkan Shasha? Dulu Shasha sangat dekat dengan kak Reno. Shasha aku anggap paling cantik dan ingin segera kumiliki karena rasa cemburu dan dendam saat kak Reno bisa dekat dengan Shasha. Dengan siapapun yang kak Reno mau. Karena dulu hanya Shasha lah yang selalu berada di sekitar kita. Apa ini hanya ambisiku atau kecemburuanku?"


Kak Reno tak menjawab. Ini semua menjadi perdebatan dalam batinku. Batin si pria tampan tapi plin plan.


" Bodoh !" nada kak Reno sedikit membuat kesal dan seolah ingin menertawakan aku. Wajahnya tersipu menahan tawa.


" What? " Aku terbelalak kaget. Tidak menyangka kata tersebut yang akan dia lontarkan atas pernyataan serius yang baru saja aku ucapkan.


" Hahaha. Iya kamu bodoh! " Kali ini kak Reno benar - benar tertawa. Makin lama makin terbahak dan membuatku kesal melihatnya.


" Aku serius tau! " jawabku kesal. Dan menoleh ke arah jendela. Kembali fokus dengan gejolak pikiranku. Sementara itu kak Reno masih mengulum tawanya dan fokus kembali menyetir.


Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai kembali ke kampus dan mengambil motor sportku yang sengaja kutinggal di parikiran kampus.


Kak Reno mengantarkan aku sampai pelataran parkir. Kondisi kampus saat ini sudah sepi.


Kak Reno menepuk bahuku pelan. Lagi - lagi kak Reno lah yang menjadi kesatria dan saksi dari setiap kebodohan yang aku lakukan.

__ADS_1


" Satria, sekarang kamu pikirkan baik - baik semuanya. Kamu juga harus bisa memperbaiki semuanya, demi Puspa. " Ucap kak Reno sambil menepuk bahuku.


Aku yang sudah dalam posisi siap menaiki motor sport ku kembali berdiri dan menatap kak Reno.


" Maksudmu demi Puspa? " Tanyaku kaget.


" Ya, demi Puspa. Ingat loh. Puspa itu cinta pertamaku. Tadi kamu bertanya apa itu cinta? Cinta itu bukan ambisi. Kamu bisa merelakan orang yang kamu cintai untuk bahagia bersama orang lain meskipun kamu tersakiti itulah cinta." Kak Reno kembali menatapku seolah cinta itu masih ada dan tersimpan dalam untuk Puspa.


" Jadi, selama ini kak Reno masih memendam semuanya untuk Puspa? " tanyaku kemudian.


" Yaa...begitulah kira - kira. " jawabnya sambil tersenyum datar.


" Tapi kan dia istriku kak. " Aku mulai melotot protes ada orang lain yang mencintai istriku seperti itu.


" Terserah ! Yang penting sekarang kan kamu mulai mengabaikan Puspa. Jadi, ketika kamu sudah selesai dengan gejolak perasaanmu soal Shasha. Perasaan Puspa pun sedang bergejolak karena diabaikan." Kak Reno memang benar. Dia menyadarkan aku masih harus memikirkan keberadaan Puspa yang masih istriku dan memastikan perasaan apa yang kumiliki untuknya.


" Berlama - lama lah dengan perasaan mu itu dan ketika saat itu tiba. Sudah terlalu lama dan semua situasi pun ikut berubah. Ingat, jangan sampai saat itu pun Puspa sudah berubah dan berpindah ke lain hati. " Lanjut kak Reno sambil terkekeh.


Raut wajahku berubah kesal karena dia terus menggodaku. Aku pun mendengus kesal. " Kak Reno! "


Kak Reno berlalu pergi masuk lagi ke mobilnya. Kunaiki motorku dan memakai helmku dengan cepat. Kak Reno membuka kaca mobil dan mengeluarkan wajahnya berusaha untuk meledekku.


" Aku masih menunggu dia jadi janda loh! " Ucapnya agak sedikit berteriak. Dia tertawa terkekeh sambil menyetir mobilnya cepat. Menghindar dari balasanku.

__ADS_1


" Sial ! Awas kau kak! Aku tidak tinggal diam. " Jawabku kesal dan kami berdua pun melesat pulang menaiki kendaraan kami masing - masing. Berlomba untuk cepat sampai di rumah.


***


__ADS_2