Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 45 TANTE MOMI


__ADS_3

" Tante momi..tante momi..suapin yayas ya..." rengek anak kecil berambut pirang yang sepertinya sangat akrab dengan Puspa.


" Iya..iya..aaaa...buka mulut yayas" Puspa menyodorkan potongan kecil pizza ke mulut mungil gadis kecil bernama Laras itu.


Aku mendengus kesal.


...Pemandangan macam apa ini. Batinku berontak....


Puspa melirik ke arahku yang masih belum mengunyah sedikitpun pizza di tanganku. Sementara itu pria bule bernama Kevin yang duduk di hadapanku sibuk menenggak minuman sodanya. Sebenarnya siapa mereka terlihat sangat akrab dan seperti keluarga kecil yang terdiri atas ayah ibu dan anak. Sementara aku seolah tidak ada dan dianggap obat nyamuk.


" Aku juga mau minum" Kuraih sekaleng soda dan kuremas botolnya kesal.


Aku mendengus dan melotot ke arah Puspa. Hampir kulemparkan kaleng botol ini ke wajah Kevin. Puspa sepertinya sadar bahwa aku sedang berada di puncak amarah. Rasa cemburu ku sudah makin meninggi.


" Mas, kamu kenapa? " Tanya Puspa setelah melihat aku terus melototinya.


" Habiskan makanan kamu. Setelah ini kita pulang! " Ucapku ketus.


Gadis kecil tadi merengek lagi di depan Puspa menarik - narik lengan Puspa. Seperti paham bahwa Puspa akan beranjak pergi meninggalkannya.


" Tante momi mau kemana. Yayas wanna sleep with tante momi. Tante momi don't go any where. Dont go home, okay! " Rengek gadis kecil yang di sapa Yayas tadi.


" Hmmm..Okay.." Puspa mengedipkan matanya ke Laras dan tersenyum manis. Sepertinya Puspa sangat menyayangi anak itu. Anak itu pun memeluk Puspa dengan lembut.


" Kamu nggak akan pulang bareng aku? " Tanyaku sekali lagi dengan nada yang agak meninggi.


" Husshhh..mas. Kamu nggak bisa ya lembut sama anak kecil. Jangan galak gitu di depan anak - anak. " Puspa menuntun anak itu masuk ke kamar dan aku ditinggalkan lagi - lagi berdua dengan Kevin si pria asing yang aku tak tahu dia itu siapa.


***


Beberapa menit sudah Puspa berada di kamar dan tidak kembali lagi. Aku keluar balkon dan Kevin mengikutiku. Dia menyodorkan minuman kepadaku.


Aku meraihnya dan menenggaknya seketika. Kulumparkan pandangan ke arah gedung - gedung pencakar langit yang lampunya gemerlap.


" Sudah terlalu larut. Sebaiknya Puspa biar menginap di sini. " Ucap Kevin setelah beberapa menit kami dalam keheningan.


" Ya dan aku juga akan ikut menginap di sini " Jawabku cepat.


" Tapi apartemen ini hanya punya dua kamar. " Jawab Kevin.

__ADS_1


" Biar. Aku bisa tidur di sofa. "


" Okay. It's up to you "


Kutarik nafas ku berat. " Sebenarnya siapa kamu? Hmm..Lebih tepatnya siapa kalian? Kamu dan Laras itu siapa? Ada hubungan apa kamu dengan Puspa? "


Kevin terkekeh sejenak.


Aku mengernyitkan dahiku. " Kenapa tertawa? Aku heran. Kenapa anak itu memanggil Puspa tante momi dan sangat akrab ?" Banyak pertanyaan muncul di kepalaku.


Kevin kini malah tertawa.


" Aku yakin kamu pasti cemburu. " Ucap dia sambil terus saja tertawa.


" Tidak. Siapa yang sedang cemburu. " Aku semakin merengut kesal dan sedikit menahan luapan emosiku. Kalau ini bukan di rumahnya mungkin sudah ku bogem pria blasteran ini mendengar jawaban dia yang berbelit.


Kevin nenyenderkan punggungnya ke balkon. Menengguk minumannya. " Puspa itu temennya Stella. Istriku. Stella itu sahabat Puspa dari SMA. Kami sudah akrab sejak kami sama - sama berada di Paris. "


" Stella yang dulu sekampus sama aku? Lalu dia tiba - tiba menghilang?"


" Ya. Dia ikut Puspa ke Paris. Ya, kamu tahu kan Puspa dan Stella itu ibarat kakak adik. Mereka sangat akrab. Stella dan aku bertemu di Paris. Aku kerja di sana. Kami pun menikah di sana dan melahirkan Laras. Sekarang Laras sudah berusia dua tahun. Dia sangat menyayangi Puspa,saking akrabnya mereka sampai - sampai Laras merasa Puspa seperti ibunya dan memanggilnya dengan sebutan tante mommy. "


" Hemm.." Kevin menarik nafasnya panjang.


" Tidak baik seorang wanita bersuami dan seorang pria tinggal di satu atap bersama." Aku menyadari bahwa mereka akan tinggal bersama malam ini.


Srrrttt..


Seseorang datang menggeser pintu yang terhubung dengan balkon.


" Tuh Stella istriku. " Jawab Kevin. Sambil menunjuk ke arah pintu.


Aku yang dari tadi membelakangi pintu pun membalikkan badan. Melihat sesosok wanita lengkap dengan pakaian tidurnya.


" Aku denger tadi ada ribut - ribut apa. Rupanya ada tamu ya. " Ucap Stella sambil memeluk Kevin dan melingkarkan tangannya di perut pria itu.


" Kamu masih migrain sayang? Tadi katanya kamu pusing. Kupikir kamu mau tidur sampai pagi." Kevin mengusap - usap lembut rambut Stella yang tubuhnya menggelayut di pelukan Kevin.


Stella menggelengkan kepalanya. " Hemm..nggak Udah mendingan sih. Tadi di bawa tidur sekarang agak segeran. "

__ADS_1


" Syukurlah"


Cup. Kevin mengecup kening Stella dan mengusapnya lembut. Seolah lupa aku sedang berada di sana.


Aku sedikit canggung dengan keberadaan mereka yang sedang bermesraan.


" ehmmm..Kalau gitu aku masuk duluan. Disini dingin. "


Yang ada sebenarnya panas liat adegan mesra kalian. Padahal aku berniat melakukan adegan mesra dengan Puspa malam ini. Ishhhhh...


***


Kubuka perlahan pintu kamar Puspa. Di sana sudah ada Puspa yang tertidur pulas. Wajahnya sangat tanang sepertinya dia benar - benar kelelahan dan kulihat gadis kecil yang meringkuk dipelukannya. Dia terlihat sangat nyaman berada di pelukan Puspa.


Ahh..andaikan anak kami masih ada. Bahagia rasanya melihat situasi seperti ini. Maafkan aku Puspa sudah menyiakan anak kita. Menyia - nyiakan buah hati kita dan ketulusan cintamu. Maafkan aku sudah menjadi pria pengecut dan tidak bertanggung jawab. Semua kesedihan ini akan berakhir. Semuanya akan menjadi indah dan bahagia. Ya. Ini janjiku padamu.


Aku tiba - tiba sangat merindukan anakku. Batinku menangis melihat pemandangan ini. Indahnya seorang anak memeluk ibunya hingga terlelap.


Pukk..pukkk..


Aku menoleh kaget.


Kevin menepuk pundakku yang masih berdiri di ambang pintu kamar.


" Ssshhh..." Dia berisyarat agar aku tetap tak bersuara.


Kevin melangkah masuk kamar dan mengangkat Laras. Membawa nya masuk ke dalam kamarnya.


Dia berisyarat agar aku masuk ke dalam kamar dan tidur dengan Puspa.


Sejenak aku termenung. Lalu meluncur seketika masuk ke dalam pelukan Puspa menggantikan posisi Laras. Kututup tubuh kami dengan selimut hangat.


Hemm..betapa nyamannya tidur di pelukan istri tercinta. Dugaanku soal Kevin ternyata salah. Kupikir mereka memiliki hubungan spesial sampai punya anak bernama Laras tadi. Ah..dasar pikiran macam apa itu. Maaf Puspa aku sudah meragukan kesetiaanmu. Lagi - lagi aku memang bodoh.


Cup..


Ku kecup kening Puspa pelan dan memeluknya dalam dekapan malam. Terimakasih Tuhan kau hadirkan dia kembali untukku. Terimakasih Puspa karena masih mau menerimaku kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2