Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 51 Negosiasi


__ADS_3

" Hey kau! Ini semua pasti ulahmu !!" Aku membentak keras Shasa. Sengaja aku suruh dia datang menemuiku dikantornya. Raut wajahku saat ini mungkin terlihat sangat kesal.


Shasha tersenyum lebar, bibir nya yang dipoles lipstik merah menyala memanyun ke depan. Dia melangkah mendekati meja kerja ku tanpa terlihat bersalah sedikitpun.


Dia terus melangkah semakin dekat ke meja ku. Duduk diatas meja kerja dan melipatkan pahanya yang terlihat putih mulus dengan gaun model span nya yang berwarna merah.


Sempat terbesit getaran melihat tubuh moleknya. Dia kembali menggodaku.


" Sial ! Tubuh itulah yang dulu sering ku jamah dan membuatku selalu ketagihan. Tapi aku harus tetap fokus. " Batinku.


Shasha menarik dasi ku dan melingkarkan tangannya di leherku. Mendengus wajahku pelan hendak menciumku.


Seketika aku berdiri dari kursiku. " Kamu jaga sikap kamu ini kantorku ! "


Aku memalingkan wajah dan memunggungi Shasha melihat keluar ke arah jendela dari lantai 7 tempatku berada.


Shasa ikut berdiri dan beranjak dari meja. Senyumnya semakin lebar.


Dia memeluk punggungku dari belakang. Aku berusaha melepaskan pelukannya.


" Sha, kamu ngapain. " Ucapku kesal


Shasa malah semakin kencang memelukku. Dan menempelkan wajahnya di punggungku.


" Sshhh...diam. Kalau kamu berontak aku bakalan teriak dan bilang ke semua orang di gedung ini bahwa kamu berusaha melecehkan aku. Berusaha buat ngerayu aku di ruangan kamu sendiri. " Bisik Shasha sambil terus memelukku.


Aku melepas nafasku dengan berat. Ku coba untuk fokus dan tidak terpancing emosi.


" Sha, please. Aku mohon kamu hentikan semua berita konyol kamu ke media. Aku mau hidup dengan tenang. Aku rasa kita udah sama - sama lupa akan masa lalu kita. Jadi tolong please sha. Kamu bilang sama pers bahwa semua berita yang baru tersebar cuma hoaxs aja. " Ucapku dengan nada sedikit memohon pada wanita siluman ini.


Shasa masih memelukku dengan erat. Aku sudah tak memghiraukannya. Mungkin dengan ini aku bisa bicara dengan baik - baik.


" Kamu tau kan sha maksudku. Aku cuma ingin bahagia sama Puspa. Istri sah aku. " Lanjutku kemudian.

__ADS_1


Tiba - tiba pelukan Shasha mengendor, dia mendorong tubuhku ke depan dengan cepat. Hampir saja aku tersungkur ke kaca jendela.


Kupalingkan wajah dan tubuhku ke hadapan Shasa. Dia melipat tangannya ke dadanya. Wajahnya berubah merengut sengit.


" Jadi, kamu bener - bener udah nggak ada perasaan lagi buat aku ? Kamu katanya cinta mati sama aku. Dulu kamu bilang cuma aku yang bisa buat kamu puas. Buat kamu bahagia. Kenapa sekarang setelah Puspa pulang kamu malah campakkin aku gitu aja. " Nada bicara Shasha mulai meninggi.


" Sha, aku rasa sudah empat tahun belakangan ini kita sudah benar - benar berpisah. Aku rasa kamu paham dan saat itu kamu juga sudah setuju buat mengakhiri hubungan kita yang salah. Sejak awal aku memang salah dan aku ngakuin semuanya dulu. Kupikir semuanya sudah clear. "


" Ya itu dulu. Sebelum aku tau rasanya kehilangan kamu. Aku sadar materi dan ketenaran bukan segalanya. Dulu aku gila dan terobsesi dengan ketenaran. Sekarang semuanya udah aku dapetin. Tapi cinta? Nggak ada. Aku nggak pernah dapet orang yang bener - bener tulus cinta sama aku. " Ucapan Shasha terhenti.


Dia menatapku. Menarik tubuhku dan memeluknya sekali lagi.


" Cuma kamu pria yang bener - bener mencintaiku apa adanya. Tulus dan ga cuma numpang tenar. Cuma kamu pria yang menjamah tubuhku karena cinta. Aku nggak bisa kehilangan kamu Satria. " Shasha memelukku dengan erat berusaha menarik wajahku dan mencium bibirku bertubi - tubi dengan dengan paksa.


Kudorong tubuhnya cepat dan dia terduduk di kursi putar. Wajahnya berubah kesal. Kuraih tissu di atas meja ku dan mengelap seluruh wajah dan bibirku.


" Cih. Memang aku salah menilai kamu Sha. Aku pikir kamu masih Shasha yang kucintai beberapa tahun lalu. Gadis lugu manis dan periang. Nyata nya kamu sudah menjadi wanita iblis. Rela kau jual tubuhmu demi ketenaran. Demi mendapatkan semua yang kamu mau." Aku masih mengusap wajah ku dengan tissue.


Aku semakin kesal dengan ucapannya yang tidak karuan.


" Aku mau kamu hentikan semua akal - akalan kamu untuk merusak namaku dan Puspa. Aku akan bayar berapapun kamu mau. " Ucapku sinis.


" Hemm..No.no.no... Aku sekarang sudah tenar ya. Kamu lupa? Sekarang bayaranku berapa? Hemm..Uang bukan lagi masalah buatku. Tapi, kepuasanku lah yang nomor satu. " Shasha tersenyum licik dihadapanku.


" Jadi mau kamu apa?"


Shasha berdiri dari kursiku. " Aku mau tubuh kamu. " Ucapnya pelan sambil berbisik lirih di telingaku.


" Selain itu. " Tanyaku cepat. Aku berusaha tetap tenang agar bisa bernegosiasi dengan wanita ini.


" Nggak ada. "


" Sha...! " Aku membentak keras di depan wajahnya. Kesabaranku mulai menguap.

__ADS_1


Shasa menempelkan jari telunjuk nya di bibirku. " Pssstt..nanti karyawan kamu denger loh sayang. Kanu nggak mau kan semua orang tau kalo kamu pacar aku yang selingkuh dengan perumpuan pendatang baru bernama Puspa. "


"Ingat loh. Aku masih punya kartu merah sayang. Apa perlu aku tunjukin lagi di depan kamu. Biar kamu ingat adegan - adegan ranjang yang pernah kita lakuin...dan ups..." Dia menutup mulut nya sendiri dengan gerakan menggoda.


" ...dan katanya membuat CEO Satria Wirajaya ketagihan. " Shasa tertawa terbahak meledekku.


" Ahhhggg..sial kamu Sha! "


" Nah loh kan...pak CEO udah nggak tahan sama godaan Shasha. Haahaha.." Sekali lagi Shasha tertawa meledekku.


Aku semakib geram dengan tingkahnya. Cepat - cepat kutekan tombol nomer 02.


" Rikaa...cepat ke kantorku! " Ucapku keras.


Tidak sampai dua menit Rika sekeretaris yang sekaligus juga calon kakak iparku sudah berada di dalam ruangku.


Wajahnya cemas melihatku berdua dengab Shasha.


" Ada apa pak. " Ucap Rika dengan suara bergetar dan dia terlihat panik.


" Usir wanita siluman ini dari kantorku. Dan katakan padanya aku akan urus semua kasus ini dengan pengacaraku. Jadi tolong bawa dia keluar segera! " Aku membentak dengan keras hampir semua orang di luar ruangan kaget mendengar bentakkanku.


" Ya pak. " Ucap Rika sambil menyuruh Shasha keluar.


" Ayo bu Shasha. Kita keluar. " Rika menarik lengan Shasa dan menyuruhnya cepat keluar.


Shasha memberontak dan melepaskan pegangan Rika.


" Aku bisa keluar sendiri. Dan Satria, kamu inget. Aku nggak akan pernah menyerah sampai kapan pun. Aku akan berusaha dapetin kamu lagi. Aku nggak aka rela kamu dengan Puspa! Titik. "


Shasa melengang pergi keluar kantorku. Memakai kembali kaca mata hitamnya dan aku pun terduduk dikursi dengan lega. Menyenderkan tubuhku dengan masih sedikit geram.


***

__ADS_1


__ADS_2