
Hiruk pikuk lokasi shooting mulai membuatku pusing dan pening. Mungkin karena kemarin pun aku kelelahan shooting. Seharusnya hari ini kugunakan waktuku untuk sekedar bersantai di rumah atau pergi ke tempat spa. Memanjakan tubuhku seharian.
" Mas, aku mau pulang duluan. Aku bener - bener capek. Apalagi ntar malem ada acara kumpul sama keluarga besar. " Ucapku di saat Satria sudah selesai dengan pidato pembukaan nya.
" Ya udah. Aku suruh sekretarisku buat booking tempat spa yang enak di sekitar sini ya. Biar kamu bisa istirahat dan segeran lagi."
Aku mengangguk cepat. "Ya. Baiklah aku tunggu kamu sampai selesai kerja sambil nyalon dan spa ya."
" Siap bos. Kamu percaya kan sama aku? " Tanyanya dengan wajah agak cemas.
Aku mengernyitkan dahiku. Tidak paham apa yang sedang dia bicarakan. " Maksudnya mas?"
" Dia menunjuk ke arah Shasha yang sedang sibuk dengan kerjaannya. "
Aku langsung paham dengan maksudnya barusan. " Oh itu. Mas, empat tahun bagiku sudah lebih dari cukup untuk membuatku percaya bahwa kamu memang benar - benar cuma buat aku. "
Satria tersenyum lebar. " Ah, kamu bisa gombal juga. Nggak sabar nunggu nanti malem. "
" ih. mas. Kamu nggak puas juga ya." Bayanganku tiba - tiba ke arah lain.
" Maksudnya ga puas gimana? " Satria sepertinya bukan memikirkan hal yang sama denganku.
" Ah , nggak mas. Aku pikir.."
" Hayoohh...kamu pikir apaan barusan.. " Dia mencolek pinggulku dengan gemas.
" Jangan - jangan kamu pikir yang mesum ya. Aku kan bilang nggak sabar ketemu ntar malem. Kita kumpul sekeluarga besar. Emang kamu pikir apaan. Hayooh.." Satria menggodaku dengan senyum lebarnya.
Aku merasa terpojok kali ini. " Ih apaan sih. Udahan ah, aku ke tempat spa dulu. Terus aku cari baju juga buat ntar malem ya. "
" Oh yaudah kita pergi sekarang aja yuk. aku anter kamu dulu sebentar sambil aku balik ke kantor dan ini.." Satria membuka dompetnya lalu menyodorkan kartu debet nya.
" Kok kamu kasih ini ? " Aku sedikit heran.
" Udah. Kamu pake aja buat kebutuhan kamu. Kan aku sekarang udah bisa nafkahin kamu. Aku kan suami kami jadi aku harus tanggung jawab sama kamu sekarang. " Satria menuntunku keluar lokasi shooting. Menuju parkiran.
" makasih ya mas. Kamu udah mau kembali sama aku. " Ucapku saat berpamitan dengan Satria.
__ADS_1
" Iya.. Yaudah masuk gih. Aku mau balik lagi ke kantor ".
Satria melambaikan tangannya dan melesat cepat menuju kantor. Aku pun memasuki tempat spa dan memanjakan diri selama beberapa jam.
***
Di kediaman Wirajaya
Mama, papa dan kakek memeluk ku satu persatu secara bergantian. Mereka menyambutku dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Senang rasanya berkumpul kembali di rumah ini.
" Ayah ibu..ade.." Aku terisak pelan. Menangis di pelukan ayah dan ibu. Mendekap erat kedua nya penuh dengan kerinduan.
" Ibu kok sekarang agak kurusan. Ibu pasti masih suka begadang ya nyelsain jahitan tetangga. Ayah juga, mana pipi ayah yang dulu tebal sekarang kok ayah kriput." Aku berkata dengan mata berkaca - kaca dan mengusap wajah ayah dan ibu. Rindu terluapkan rasa senang bercampur haru ketika melihat mereka untuk pertama kalinya sejak empat tahun berpisah.
" Adek. Kamu sekarang makin gagah dan ganteng. Kanu pasti sudah punya pacar. Hayo ngaku sama kakak" Adikku memelukku dengan erat. Menangis di pundakku.
Dia tidak berkata apa - apa hanya matanya yang sembab karena menangis. " Kak, aku kangen banget sama kak Puspa. Kak Puspa makin cantik sekarang."
" Heem. Kakak juga kangen banget dek sama kamu. " Ucapku sambil terus memeluk dan menggoyankan tubuh adikku kesana kemari. Melampiaskan rasa rindu kami.
" Wah, beneran dek. Kamu hebat. Tuh kan apa kak Puspa bilang. Darah kepintaran kak Puspa tuh mengalir juga dek sama kamu. Kamu jadi ketularan dapat beasiswa juga kaaann. " Ucapku sambil tertawa renyah.
Adikku merengut. Dia memang paling nggak suka dibandingkan denganku. Katanya dia lebih pintar dariku. " Ih nggak. Adek tuh lebih pintar tau dibandingkan kak Puspa. "
Semua anggota keluarga tertawa melihat raut wajah adikku yang tampan tapi lugu dan lucu karena cemberut.
" Haahaha..sudah sudah. Ayo kita mulai makan." Ucap mama mertua.
" Eh, tapi kak Reno mana ma. Dari tadi aku belum liat kak Reno. " Ucapku sambil celingukan mencari sosok sang kakak terbaik di rumah ini.
" Dia katanya pulang kerja jemput Rika dulu. " Ucap Satria yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.
" Rika? Bukannya dia sekretaris kamu? Kok kak Reno jemput Rika?" Tanyaku heran.
" Ya. Rika sekretaris aku. Dia itu tunangannya kak Reno. Setahun lalu mereka bertunangan di rumah ini." Jawab Satria menjelaskan.
Aku mengangguk paham akan situasinya. " Syukurlah kalau kak Reno sudah menemukan tambatan hatinya. Tapi nggak nyangka aja. Rika ternyata sudah bertunangan dengan kak Reno. Mereka terlihat seperti jaga jarak dan biasa saja. Eh, ternyata... "
__ADS_1
Lega rasanya kak Reno sudah bisa move on dari kisah cinta pertamanya. Ya, maksudnya move on dari aku. Berati aku tidak usah repot - repot mencari orang yang tepat untuk dia karena dia sudah bisa menemukannya sendiri.
Makasih kak. Kamu sudah nepatin janji kamu buat lupain aku. Makasih sudah membuang rasa cintamu untukku dan mendapatkan penggantiku.
" Ehmm..Kayaknya ada yang lagi ngomongin aku nih." Kak Reno dan Rina datang bebarengan.
" Nah, berhubung semua anggota keluarga sudah berkumpul. Gimana kalau kita mulai saja makan malamnya ya. " Ucap mama mertua dan kami pun pindah ke ruang makan. Menyantap makanan kami dengan suasana yang hangat dan akrab.
***
Seseorang duduk di bangku taman. Wajah tampannya tetap terlihat kharismatik meski hanya terkena pantulan lampu taman yang temaram di kegelapan malam.
" Kak Reno. Kok di sini. Yang lain sedang karaoke loh di dalam. Suara Rika ternyata bagus banget ya. Kak Reno hebat loh bisa dapetin wanita secantik dan sehebat Rika. " Ucapku memulai percakapan.
Kak Reno menatapku sekejap. Lalu kembali menatap langit malam.
Dia hanya terpaku dan membisu tanpa menjawab sepatah katapun. Angin malam menyapu rambut nya yang hitam lebat.
Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Menyodorkan segelas kopi hangat aroma latte.
" Minum kak. Masih hangat. Kenapa nggak masuk. Di luar sini dingin. "
Kak Reno menatapku dan menarik lenganku cepat. " Maafin aku Puspa. " Ucap kak Reno sambil tetap menggenggam tanganku.
" Maaf kenapa kak? " Aku sedikit cemas dengan perkataannya barusan. Nada bicaranya persis dengan apa yang dia katakan empat tahun silam.
" Ya. Maafin aku karena aku nggak bisa nepatin janji ke kamu. " Ucapnya sambil terbata - bata.
" Maksud kak Reno? " Aku berpura - pura tidak paham akan arah tujuannya.
" Janjiku empat tahun silam sebelum kamu pergi. Janjiku di tempat ini pada malam itu sebelum keberangkatan kamu ke Paris. Janji bahwa aku akan cepat melupakan cinta pertamaku padamu. Cinta yang sampai saat ini masih tertancap dalam di hatiku. Aku tidak bisa melupakan itu. Aku tidak bisa menepatinya hingga saat ini. " Kak Reno menatapku lekat menggenggam tanganku erat. Bergetar rasanya aku disentuh olehnya. Tapi dengan cepat aku tersadar dan melepaskan genggamannya.
" Kak, sudah malam ayo kita masuk" Ucapku sambil berdiri dan menghindar dari kak Reno. Menghindari perasaan aneh yang tiba - tiba menyergap di sekujur tubuhku. Tatapan matanya membuat hatiku bergetar tak karuan.
Cepat - cepat aku melangkah pergi meninggalkan kak Reno yang masih terdiam di bangku taman merenung tanpa jawaban apapun dariku.
Maafin aku kak Reno. Ada perasaan bersalah terselip di hati dan lubang besar tertancap di sana. Bertuliskan " Maaf kak Reno".
__ADS_1