Gelora Cinta Tuan Muda

Gelora Cinta Tuan Muda
BAB 21 SENYUM TERAKHIR


__ADS_3

Delapan belas jam sudah aku terbaring lemah diatas tempat tidur pasien. Rasanya seperti terbangun dari kematian. Badanku remuk redam dan kaku tak bisa bergerak. Punggungku rasanya seperti putus dan tiba - tiba tersambung kembali.


Kaki dan tanganku membeku. Bibirku sulit sekali mengucapkan sesuatu. Hanya mataku yang mencari - cari sesuatu ke sekeliling kamar. Tidak ada seorang pun disini.


' Ups..ada sesosok pria sedang tertidur nyenyak di sofa sudut ruangan ini. '


" Sa..", bibirku rasanya kelu ingin mengucap sesuatu tapi sulit, kering sekali rasanya tenggorokan ini.


" Satria..." , ucapku sekali lagi penuh dengan kekuatan meski masih terdengar sangat lirih dan letih. Aku berusaha mencoba membangunkannya.


" Hemm.. ", Satria bergumam sambil masih memejamkan matanya. Mengerjapkan matanya sebentar lalu kembali tidur.


Agak sedikit bertenaga aku kembali bersuara, mencoba membangunkannya, " Satria bangun..."


Dia terperanjat kaget dan tiba - tiba langsung terduduk di sofa nya, berjalan cepat mendekati tempat tidurku, perih rasanya perutku seperti tercabik - cabik. " Kamu udah sadar Puspa.. Apa kamu mau minum? "


Aku mengangguk pelan, Satria menyodorkan botol air mineral. " Nih.. "


Aku melotot keheranan. " Buka dong! Masa orang sakit suruh buka botol sendiri ".


" Eh iya.. Lupa.. " , Satria terkekeh sambil membuka tutup botol dan memasukan sedotan stainless ke dalamnya.


Setelah menyedot beberapa teguk air mineral rasanya sangat lega tenggorokan ini.


Tiba - tiba aku mengingat sesuatu.


" Mas, ..." ucapku lirih. " Dimana bayiku " , tanyaku kemudian. Satria sibuk memecet tombol telepon intercom hendak memanggil dokter dan perawat.


" Mmmm... nanti kita liat sama - sama ya.. Oia, ayah sama ibu sedang di jemput sebentar lagi mereka datang. Kemarin kamu operasi lama banget, mereka semua kelelahan menunggu kamu. Aku berinisiatif setelah kamu selesai operasi karena ngeliat kamu belum sadar, mereka aku suruh pulang dan nunggu di rumah. Kakek, papa, mama sama yang lain juga sebentar lagi datang. "


" Anak aku cewek apa cowok mas? " , tanyaku penasaran tidak mempedulikan apa yang sedang Satria bicarakan.


" Cowok. " Ucapnya pelan soalah sama sekali tidak ada nada bahagia terpancar dari raut wajahnya.


' Cowok? Syukurlah..Tapi raut wajahnya kenapa seperti itu? Apa kamu menyesal di usiamu yang semuda ini tidak bisa menikmati masa muda malah harus momong anak. Uh.. dasar lelaki ! ' Gumamku dalam hati. Agak kesal juga melihat ekspresinya yang datar.

__ADS_1


***


Tok..tok..tok..


Seseorang mengetuk pintu kamar vvip tempatku dirawat.


Rupanya dokter dan perawat yang datang. Mereka memeriksa keadaanku dan mengucapkan bahwa aku ibu yang hebat dan sempurna karena melahirkan anak yang tampan dan rupawan.


' Ah bukannya semua ibu di dunia ini memang hebat dan hal yang wajar jika aku harus berkorban bertaruh nyawa demi melahirkan sang buah hati. '


Setelah dokter dan perawat keluar meninggalkan kamar, tiba - tiba terdengar lagi suara ketukan pintu.


" Ayah, ibu, adek.. ", Ibu datang menghampiriku, tersenyum dan mengecup keningku. Mengusap kepalaku lembut. Ayah dan adikku duduk di sofa bersama Satria.


" Puspa, kamu memang anak ibu yang paling hebat. Kamu banyak - banyak istirahat ya. Nanti, selama beberapa hari ke depan ibu akan tinggal disini merawat kamu. Bergantian dengan Satria. Kasian dia sudah berjaga semalaman. "


Aku mengangguk pelan, " Ya, bu..." . Rasanya tubuhku masih benar - benar tak karuan. Sakit sekali.


" Bu, ... Bolehkah, aku ketemu anakku.." Sepertinya rasa kangen dan penasaran ingin bertemu dengan anakku melebihi rasa sakit pasca operasi.


Ibu terdiam, membisu lalu melirik kearah Satria.


" Tunggu sampai mama papa dan kakek datang ya. Nanti kita lihat anak kita sama - sama".


***


Beberapa menit kemudian seluruh keluarga sudah berkumpul memenuhi kamar pasien ini. Kamar vvip memang luas dan sejuk. Jadi meskipun padat rasanya biasa saja seperti di dalam rumah sendiri. Karena ini juga rumah sakit milik yayasan Wirajaya jadi keluarga bebas keluar masuk kamar tanpa di batasi jumlahnya.


Tapi, tiba - tiba perasaanku panas sesak. Tak seperti biasanya, dan tak sesejuk ruangan ini.


" Bu, ayah... kenapa semua berkumpul begini... Puspa jadi takut. " Ucapku pada ibu yang sedari tadi masih duduk di kursi tunggu sebelah tempat tidurku.


Ibu menggenggam tanganku pelan, " Tunggu ya Puspa.. dokter dan perawat sebentar lagi datang bawa cucu ibu. Anak kamu dan Satria.."


Aku tersenyum lebar dan sumringah, " Benarkah bu? Tapi, bu.. bukankah seharusnya dia ada dalam inkubator? " Tiba - tiba aku teringat sesuatu. Anakku mestinya belum genap 7 bulan dalam kandungan. Semestinya masih belum lahir dengan alat pernapasan yang sempurna dan setahuku masih harus dibantu dengan alat - alat lainnya.

__ADS_1


Dokter dan perawat datang memecahkan pemikiranku barusan. Perawat itu menggendong sesuatu. Ya, itu anakku. Perasaan sumringahku berubah seketika saat semua terdiam melihat perawat menyodorkan bayiku.


Dan tiba - tiba aku yakin bahwa anakku sudah datang dan dia juga sudah pergi untuk selamanya. Saat kulihat wajahnya. Benar saja, bayi mungilku yang masih merah ini tidak menangis. Dia terdiam. Kaku. Wajahnya tersenyum manis sambil tertidur pulas.


' Tunggu aku di surga, nak. Maafkan aku yang sudah lalai terhadapmu' . Gumamku dalam hati sambil mengecup lembut keningnya yang dingin. Kupeluk dia erat untuk pertama dan terakhir kalinya. Sesak rasanya menusuk dadaku.


Semua mata terdiam menatap kearahku. Seolah semuanya ingin melihat reaksiku selanjutnya.


" Puspa... , " ibu mengusap punggungku pelan. Ibu seolah menahan kesedihan atas anakku dan apa yang terjadi padaku.


Bayiku masih kugendong erat - erat. Kutatap wajahnya yang membeku lekat - lekat. Kurekam dalam ingatanku senyumannya yang mungil. Dadaku sesak. Sesak sekali rasanya. Aku ingin berteriak memanggilnya, tapi tidak ini semua bukan salahmu nak.


Aku tersenyum sambil menahan gejolak perasaan yang tak menentu, kusodorkan bayiku pada ibu. " Makamkan dia bu, aku sudah ikhlas" . Tak setetespun air mata mengalir melalui pelupuk mataku.


" Ya, ibu ayah dan yang lainnya akan mengurus pemakamannya. Kamu tidak usah banyak pikiran macam - macam ya nak. Setelah semua urusan pemakaman selesai. Ibu akan datang lagi untuk bergantian merawat kamu. "


Aku mengangguk pelan, semua orang satu persatu meninggalkan kamar. Kecuali Satria, dia terlihat terduduk di sofa. Menundukkan wajahnya, melihatnya seperti itu sama sekali tak membuatku merasa kasihan atau iba.


***


" Satria, ... "


Dia menengadahkan wajah nya, menatap ke arahku. Menunggu sesuatu terlontar dari mulutku.


" Sekarang kamu bebas. " Ucapku mantap. Datar tanpa ekspresi.


Dia terperanjat, kaget. Berdiri lalu berjalan mendekatiku. " Apa yang kamu maksud, Puspa ? "


" Ya, bukankah semua sudah jelas. Kamu bebas sekarang. Terserah kamu mau apa. Kita sudah tidak ada urusan lagi. Anak yang selama ini jadi tanggung jawabmu seharusnya, dia sudah tidak ada. Memilih surga jadi tempat tinggalnya. Sekarang, apa lagi yang jadi urusan kita? Tidak ada lagi yang perlu kita lanjutkan setelah ini. " Aku mengucapkan semua nya dengan lugas dan lantang. Aku tau ini adalah hal yang tepat yang harus aku lakukan setelah semua nya terjadi. Untuk apa pernikahan ini kulanjutkan toh sama sekali Satria tidak ada rasa cinta terhadapku.


Satria menatapku tajam, dia menarik lenganku yang tersambung dengan selang infus. Kutepisnya pelan, dan kubuang mukaku ke arah lain. " Puspa, maafin aku... Mungkin berat buat kamu kehilangan anak kita. Tapi, bukan begini caranya menyelesaikan semuanya."


" Sudahlah aku capek. Aku mau istirahat. Sebaiknya kamu pulang. Aku nunggu ibu datang. Pulang! Aku nggak butuh kamu!" .


Kudengar langkah kaki nya menjauh dariku, keluar kamar. Kubenamkan wajahku ke bantal.

__ADS_1


" Ya, Tuhan. Cobaan apalagi yang menimpaku. Maafkan aku Tuhan ! Sayang, maafin mamamu ini nggak bisa jagain kamu. Kenapa kamu pergi ninggalin mama secepat itu.. Kenapa.. Apa selama ini kamu menahan sakit yang mama rasain.. apa kamu selama ini tau bahwa papa kamu nggak pernah perhatian sama kamu... Apa ini semua karena kamu terlalu sayang sama mama nak.. kenapa kamu pergi nakk.." Aku menangis dan berteriak sekencangnya. Mengigit bantal sekuatnya. Berusaha menahan semuanya..


" Nak... maafin mama mu ini nggak bisa jagain kamu..."


__ADS_2