
Ghani kembali ke rumah Ridwan dan Layla, merubah dirinya menjadi kecil.
" Ehemmm." Tiba-tiba ada suara dibelakang Ghani.
" Bunda." Ucap Ghani yang menoleh ke belakang.
" Kamu habis ngapain? Tanya Layla berkacak pinggang.
" Ghani mau minum bunda." Ucap Ghani mencari alasan.
" Kan ada air minum di samping sayang, gak perlu harus keluar." Sahut Layla menjelaskan jika ada air minum di kamar.
" Itu kan untuk ayah dan bunda, Ghani gak mau minum punya ayah dan bunda itu gak sopan." Ucap Ghani lagi yang mencari alasan, untungnya dia bisa mengelak kalau tidak habis sudah terbongkar.
" Euuummmm Ghani anak bunda yang paling pintar, gemes dehh bunda. Ayo bobo, besok kan kamu harus sekolah." Ucap Layla yang gemas dengan pengakuan Ghani. Layla terkejut dengan perkataan Ghani, pasalnya anak seumur Ghani sudah memikirkan hal itu.
Akhirnya Ghani tidur dalam pelukan bunda Layla sambil batinnya berkata.
" Mama maafin Ghani sudah ninggalin mama sendirian di rumah, tapi ini yang terbaik biar Ghani bisa kembali seperti dulu." Batin Ghani.
...
Rani yang baru bangun dari tidurnya yang nyenyak, kembali bugar badannya.
" Hoammmmm, tidurku nyenyak sekali pagi ini hoaaaammmm... aduhhh gretek semua badan ini." Ucap Rani.
Rani merapikan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi, selesai mandi Rani memakai baju kantor dia ingin pergi ke kantor tapi sebelumnya..
" Kok aku gak lihat Ghani yahh, apa dia belum bangun."
" Aku ke kamarnya aja dehhh."
Rani pun kembali ke atas dan mengetuk pintu kamar Ghani.
Tok tok tok...
" Ghani... kamu dah bangun belum, kok gak dijawab sihh... Ghaniii mama masuk yahh."
Ceklekkkk...
Rani membuka pintu kamar namun Ghani tidak ada dikamar.
" Kok gak ada?"
" Ghani, kamu dimana nak?"
" Bii... Bi Darmi, bibi..." Rani pun keluar dan memanggil Bi Darmi.
" Iya nyonya ada apa?" Bi Darmi langsung sigap mendatangi nyonya Rani dan bertanya ada apa.
" Bibi lihat Ghani gak?" Rani pun bertanya, apakah Bi Darmi melihat Ghani.
" Dari saya bangun pagi tadi saya gak lihat aden Ghani nyonya." Bi Darmi pun menjawab jika dirinya tidak melihat Ghani.
Rani kembali masuk ke kamar Ghani dan memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
" Ghani, kamu dimana nak."
Rani membuka lemari terlihat semua baju tidak ada, hanya ada secarik kertas.
Rani mengambil kertas itu dan membacanya, surat dari Ghani.
" Mama, maafin Ghani yang sudah bikin Mama repot banget tapi Ghani janji akan jadi anak mama yang paling baik dari sebelumnya. Mah Gani ingin berubah, Ghani gak mau lagi lihat dan denger mama nangis setiap malam. Maafin Ghani ya mah, Ghani pergi dulu untuk menenangkan diri dan belajar lebih banyak pengalaman tapi mama tenang aja Gani akan terus ada di samping mama dan Gani nggak bakalan Biarin orang lain nyakitin mama salam dari Ghani."
" Ghani hiks hiks hiks..."
.........
Di sekolah Ghani jadi pusat perhatian karena sudah bisa menghitung dan menulis dan itu membuat Fino tidak suka, Fino berusaha mencelakai Ghani dengan mendorongnya.
" Wahh Ghani pinter yahh udah tahu huruf dan menulisnya." Puji Bunda Chika.
" Ahhh cuma nulis dan tahu huruf gitu doang di puji." Ucap Fino.
" Fino sayang jangan kasar begitu bicaranya." Nasehat Chika.
" Au ahhh, Fino gak suka sama bunda." Sahut Fino.
" Fino." Ucap Chika dengan nada kurang suka.
" Anak ini harus dikasih pelajaran." Batin Ghani.
Saat jam istirahat semua murid membuka bekalnya, Fino membanggakan isi bekalnya.
" Coba lihat bekal ku enak, gak kaya bekalmu yang isinya cuma telur pakai kecap dasar miskin." Ejek Fino tentang nasi Diva.
" Tapi emang benar kan kamu itu anak miskin, kamu beruntung aja sekolah disini karena ayah ibu kamu kerja di kantor kakek aku." Ucap Fino.
" Kamu yahhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Teriak Diva sampai nangis.
" Bleeeeee..." Fino mengejek Diva.
" Emang kenapa Fino? Orang tuanya Diva itu kerja bukan ngemis di kantor kakek kamu, lagian kalau kantor kakek kamu gak ada pegawainya mana bisa kamu kaya. Orang kaya itu juga membutuhkan tenaga orang tidak mampu, jangan salah kamu Fino." Sambung Ghani yang tiba-tiba membela Diva.
" Ghani." Ucap Diva.
" Ya sudah Diva, ini.. aku punya bekal ayam goreng dua dan juga roti kalau kamu mau kamu bisa makan sekarang. Mulai sekarang kalau kamu dihina sama dia, gak usah takut dan juga gak usah nangis anggap aja dia yang miskin karena makanannya takut kurang mungkin dia kelaparan." Ucap Ghani lagi, Diva yang mendengar jadi tersenyum kembali.
" Ghani, kamu yahh awas nanti besok gak bakalan bisa sekolah lagi disini." Ucap Fino mengancam Ghani.
" Aku tunggu besok." Tantang Ghani.
" Iihhhh dasar orang miskin." Marah Fino lalu mendorong Ghani sampai ke pentok meja bibirnya.
" Aduhhhh." Ghani kesakitan.
" Ahahahahaha, rasain kamu. Makanya, jangan kurang ajar sama aku denger yah kalian jangan coba-coba berani sama aku." Ucap Fino dengan ancamannya.
…
Ridwan menelpon Layla, menyuruh Layla untuk menjemput Ghani.
__ADS_1
[ Assalamu'alaikum hallo bun, kayaknya ayah gak bisa jemput Ghani dehh. Bunda aja ya yang jemput, ayah lagi banyak pelanggan dan pesanan. ]
[ Wa' alaikumsalam, iya ayah ini bunda mau jemput Ghani malah dah mau pergi nihh. ]
[ Ouhh syukurlah kalau begitu, ayah tinggal kerja dulu yahh bunda. ]
[ Iya ayah, Assalamu'alaikum. ]
[ Wa' alaikum salam ] tut tut tut...
" Mahhh, Layla jemput Ghani dulu yahh." Ucap Layla pamit pada mertuanya.
" Iya Laaa, Hati-hati yahh." Sahut bu mertua.
" Iya ma, assalamu'alaikum." Ucap Layla.
" Wa'alaikumsalam." Sahut Ani.
Bremmmm.... Layla menjemput Ghani menggunakan motor matic vario.
Sesampainya di sekolah, Layla melihat sopir pribadi ayah mertuanya.
" Kok mang Kani yang jemput, biasanya kan ada pak Toto." Ucap Layla.
" Gawat, aku harus sembunyi." Ucap Layla yang bersembunyi dibelakang mobil.
Setelah mobil itu lewat Layla baru merasa lega dan bergegas ke sekolah.
" Ghani." Panggil Layla yang ternyata melihat Ghani sedang di obati oleh bunda Chika.
" Ya ampun Ghani." Ucap Layla.
" Bunda." Sahut Ghani yang menoleh ke samping.
" Ehhh Bu Layla." Ucap Chika.
Layla melihat bibir Ghani berdarah langsung bertanya?
" Sayang itu bibir kamu kenapa? Bibir anak saya kenapa Bu? Tanya Layla.
" Gak papa kok bun, tadi Ghani jatuh." Sahut Ghani dengan cepat.
" Ya allaaaahhh, Hati-hati dong sayang nanti berkurang keimutan kamu ini." Ucap Layla sambil memegang pipi chubby milik Ghani.
" Aduhh bunda... malu dilihat bunda Chika."
" Ihh pinter banget sihh." Ucap Chika.
" Hahaah, anak saya emang pinter." Sahut Layla.
" Tapi kenapa Ghani berbohong yahh, jelas-jelas dia didorong sama Fino." Batin Chika.
" Ya sudah Bu saya pulang dulu sama Ghani, assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
...