
Tidak semua harus kita hadapi dengan tenang, adakalanya kita harus menunjukkan taring yang sesungguhnya.
*
*
Beberapa hari ini Chika sama sekali tidak melihat Ghani dan Fino sekolah, Chika harus menanyakan ini pada orang tuanya.
Diva dan Safana membicarakan Ghani, mereka saling bertanya kemana Ghani.
Safa, kamu tau Ghani kemana? tanya Diva.
Aku tidak tau Diva, sahut Safa.
kemana yahhh dia, Fino juga tidak ada, kata Diva lagi.
Kalau Fino aku gak papa sih dia gak masuk sekolah, tapi untuk Ghani aku kangen sama dia, kata Safa.
Sejak kapan kamu akrab sama Ghani, perasaan aku lihat gak pernah tuh kalian berteman akrab, kata Diva.
Emang gak akrab sihhh, tapi aku suka lihat dia sekolah, sahut Safa.
Ihh ko bisa gitu kamu suka yah sama Ghani, goda Diva.
Kamu yahhh Diva, kita kan masih kecil jangan main cinta-cintaan gak boleh kata ayahku, ucap Safana sambil mengunyah snack miliknya.
Iya-iya, ehh itu kamu makan snack apa, tanya Diva.
Ouhh ini, aku makan taro enak loh gurih aku suka kamu mau gak, tawar Safa.
Emang aku boleh minta, kata Diva.
Boleh dong kamu kan temen aku, sahut Safa.
Yeyy, Safa baik deh, puji Diva lagi.
Kan aku memang baik, sahut Safa lagi.
Hehehehe, mereka berdua akhirnya tertawa.
*
*
Layla dan Ridwan sudah siap dengan brosurnya, untuk menyebarkan kehilangan anak mereka yaitu Ghani.
Mas udah selesai belum,, tanya Layla.
Sudah selesai ko sayang, sahut Ridwan.
Ya udah sekarang mas sebarin brosur di sebelah sana aku sebelah sini, kata Layla.
Ya udah, sahut Ridwan.
Layla menempel brosur dengan foto Ghani atas kehilangan anak, sesekali Layla bertanya pada orang yang lewat.
Mbak-mbak, mohon maaf waktunya sebentar ini saya ada brosur kehilangan anak siapa tahu mbak lihat anak saya jadi mbak bisa hubungi ke nomor yang di bawah ini yahhh, kata Layla.
Ouhhh iya mbak, sahut mbak itu.
Begitu juga dengan Ridwan sama persis dengan apa yang dilakukan Layla.
Ridwan menempel brosur-brosur itu lalu membagikannya pada orang yang lewat.
Orang lewat.
Ah ya mas-mas, panggil Ridwan.
Iya mas ada apa,, sahutnya.
Tolong mas ini ada brosur kehilangan anak, ini anak saya siapa tahu mas lihat anak ini mas bisa hubungi nomor yang ada dibawah ini,, kata Ridwan.
Ouhh iya mas, sahutnya.
Makasih ya mas,, kata Ridwan lagi.
__ADS_1
Hampir 15 menit Ridwan menyebar brosur itu akhirnya habis.
Ya allah, moga aja Ghani ketemu,, kata Ridwan.
Ridwan kembali ke tempat Layla, dia khawatir Layla kecapean mengingat jika Layla tengah hamil.
Aku harus ke tempat Layla,, kata Ridwan sambil berjalan.
Layla dari tadi sudah lelah lalu dia duduk di bawah pohon untuk melepaskan rasa letihnya.
Ya allah, Ghani kamu dimana nak? Bunda sama ayah nyariin kamu,, ucap Layla yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Ridwan yang melihat dari jadi sedih dan langsung membelai punggung Layla.
Sayang,, kata Ridwan.
Mas Ridwan hiksss,, sahut Layla menangis dipelukan Ridwan.
Iya sayang nanti kita cari lagi yahhh,, ucap Ridwan membelai lembut pucuk kepala istrinya ini.
*
*
Bughhh...
Azira kembali melayangkan serangan ke arah Rantaka dipinggiran samudera.
Brengsek,, maki Rantaka.
Enyah kau dari dunia ini bajingan,, ucapku dengan amarah yang sengit.
Cihhhh, jika kau bisa melakukannya,, sahutnya dengan percaya diri.
Jawaban Rantaka membuatku muak.
Cressss
Arrrrghhhh, aku menjerit sakit saat Rantaka menyerangku dengan tongkatnya.
Seharusnya aku membunuhmu bajing*n,, ucap Rantaka menyeringai.
Apa ada yang lucu BANGSAT!! Kata Rantaka yang langsung menyerang tapi tidak kena karena aku dengan cepat menghindar dan langsung berdiri.
Wushhhhhh
Aku melayangkan kibasan pedang sedikit lagi aku hampir menebas lehernya.
Sial,, umpatku.
Rantaka mengendalikan air di samudera untuk menyerang Azira, tapi Azira juga tidak kalah kuat dia juga mengendalikan air itu dengan gesit.
Mati saja kau, Aziraaaaaaaa! teriak Rantaka menggelegar.
Kau saja yang mati,, sahut Azira.
Byarrrttt
Ledakan air mampu menciptakan sebuah gelombang hebat dan membuat beberapa kapal pesiar yang sedang berlayar diterpa gelombang dasyat itu.
Aaaaaaarrrggggg,, teriakan para penumpang terdengar karena kapal itu terombang-ambing.
Azira yang melihat kapal itu langsung menuju kesana, baru saja ingin kesana, Rantaka tiba-tiba menendang tubuhku sampai jatuh ke air.
Bughhh
Lawanmu adalah aku persetan,, ucapnya dengan angkuh.
Aku yang dalam air langsung menggunakan energi kerajaan langit untuk keluar dari dalam air.
Jrushhhhhh
Aku dikelilingi gumpalan air dan membentuk naga, dengan kecepatan tinggi naga airku melahap habis Rantaka.
Brahhhhhhh,, teriakku menghempaskan tubuh Rantaka sekuat mungkin ke dalam air.
__ADS_1
Kau salah cari lawan, Rantaka,, kataku dengan terengah-engah.
Aku langsung menuju kapal itu karena hampir miring, dan kebetulan aku memang memakai topeng jadi tidak ada yang mengenali wajahku.
Breshhhhh
Aku melewati kapal dan banyak pasang mata yang melihatku, tidak sedikit dari mereka yang melongo, dan memvideo, bahkan ada yang menitikkan liurnya.
Aku berusaha mengendalikan ombak itu agar tidak menerjang kapal terlalu jauh.
Shiiiiittt,, aku berusahan menyeimbangkan ombak ganas itu dengan kendalian yang aku lakukan.
Aku tidak peduli tatapan orang-orang yang merasa aneh dan bahkan ada juga yang tersenyum.
Akhirnya aku berhasil membuat ombak itu tenang, tapi saat ombak itu tenang dan kapalnya mulai normal tiba-tiba ada anak kecil yang jatuh.
Aku langsung mengejar anak kecil itu, hampir saja anak kecil itu jatuh ke air aku berhasil menangkapnya dan membawanya terbang naik ke atas kapal.
Saat aku sampai dalam kapal banyak orang memotret diriku, aku sangat terganggu dan langsung menghilang.
Setelah kejadian itu, baru 1 hari sudah ramai saja berita manusia misterius super.
Aku mengernyitkan dahi karena ini menggangguku.
*
*
Layla terus saja bersedih dalam kamar karena anak angkatnya menghilang.
Sayang kamu harus jaga kesehatan,, kata Ridwan memperingati istrinya ini.
Iya mas,, sahutnya.
Oiyahh hari ini aku ada pertemuan dengan beberapa bos produksi, aku akan keluar kota lebih tepatnya,, kata Ridwan.
Kan aku lagi hamil mas, masa kamu pergi mana keluar kota lagi,, protes Layla.
Aku minta maaf sayang, tapi ini harus kalau aku gak ikut siapa yang akan mengawasi pembelian barang itu,, jelas Ridwan.
Berapa hari,, tanya Layla.
Tiga hari aja sayang,, sahutnya.
Itu lama loh mas, masa kamu tega ninggalin aku,, kata Layla merengek layaknya anak kecil.
Terus gimana,, ucap Ridwan.
Layla hanya diam tak bergeming sama sekali, Ridwan yang tahu itu membelai lembut tangan Layla kemudian menciumnya.
Aku sayang kamu, tolong jangan marah yahh aku kerja buat kamu sama baby kita,, ucap Ridwan.
Layla membalas belaian Ridwan kemudian tersenyum.
Maafin aku ya mas, aku izinin kamu,, sahut Layla.
Benarkah,, kata Ridwan.
Iya sayang,, sahut Layla.
Kamu benar-benar baik sayang,, kata Ridwan lagi.
Tapi kamu pergi ke kota mana,, tanya Layla.
Palu, sayang. Kata Ridwan.
Ouhhh palu,, sahuy Layla.
Terus kapan bernagkatnya,, tanya Layla lagi.
Besok pagi sayang,, sahut Ridwan.
Ya udah nanti aku siapin pakaiannya yahh,, kata Layla.
Iya sayang,, sahut Ridwan.
__ADS_1
*
*