Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 36 - Nenek Ani Meninggal


__ADS_3

Kalau kita disayang hanya untuk sementara, itu rasanya sakit lhohh


*


*


Nging nging nging...


Bunyi suara ambulance hampir sampai ke rumah sakit.


Pihak rumah sakit sudah menelpon keluarga pasien.


Betapa terkejutnya Ridwan mendengar mamanya kecelakaan.


Pak Jono, saya pergi dulu yahh titip toko, ucap Ridwan buru-buru ke luar dan pergi.


Jono yang melihat jadi heran, karena Pak Ridwan tidak biasanya pergi tergesa-gesa seperti itu.


Mau kemana ya Pak Ridwan, gumam Jono.


Ada apa pak Jono, tanya Dina tiba-tiba.


Saya tidak tahu Din, saya lanjut kerja dulu. Ucap Jono kemudian melanjutkan kerjanya.


Di rumah sakit.


Gawat dok jantung pasien melemah, ucap suster.


Ya sudah siapkan alat jantung, sahut Dokter.


Net net net net net..


Dok jantung pasien berhenti berdetak, ucap suster.


Kita sudah melakukan semaksimal mungkin, ayo kita sudahi. Ucap dokter itu.


Baik dok, sahut suster itu.


Ridwan jalan dengan cepat, dia ingin tahu keadaan mamanya.


Kenapa perasaanku tidak enak ya allah selamatkan mama saya, ucap Ridwan tak henti-hentinya berdoa.


Dokter dan suster keluar, Ridwan langsung bertanya.


Dokter, gimana? Gimana mama saya, tanya Ridwan.


Dokter dan suster hanya terdiam dan menghela nafas dengan kasar.


Huhhh...


Maaf pak, tidak bisa kami selamatkan kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi allah berkehendak lain. Ucap dokter itu.


Maksud dokter apa jangan bilang mama saya-


Iya kami mohon maaf, kami pergi dulu. Ucap dokter itu yang di ikuti suster.


Mama... mamaa, panggil Ridwan langsung menerobos masuk.


Ma bangun ma, ini ridwan hiks.. ma bangun ma.. Ridwan disini ma bangun hiks..., ucap Ridwan sambil menangis memeluk mamanya.


Layla belum tahu apa yang terjadi, jadi dia dirumah hanya membaca majalah untuk mengurangi suntuknya.


Ghani mendekati Ayah angkatnya itu untuk menenangkannya.


Ayah, panggil Ghani.


Ridwan tidak menjawab sama sekali dirinya terus menangis.


Ayah dengar Ghani, apa ayah marah sama Ghani tolong jawab ayah, ucap Ghani yang berdiri di samping Ghani.


Lebih baik sekarang Ghani keluar, sahut Ridwan.


Ayah marah sama Ghani, ucap Ghani.


Bukan begitu, ayah mau sendiri kamu mau kan keluar. Ucap Ridwan sekali lagi.

__ADS_1


Ghani yang melihat sorot mata ayahnya yang berbeda seperti kecewa, langsung pergi begitu saja.


Maafin ayah Ghani, untuk sementara ayah tidak bisa dekat-dekat sama Ghani, batin Ridwan.


Astaga aku lupa, aku harus mengurus pemakaman mama. Ucap Ridwan lagi.


Beberapa jam kemudian, Layla mendengar suara ambulance makin dekat ke rumahnya.


Ko makin deket yahh suaranya, ucap Layla kemudian keluar karena penasaran.


Layla melihat Ridwan keluar dari ambulan langsung bertanya.


Mas, ini kenapa kamu keluar dari ambulan kamu sakit. Tanya Layla sekali lagi.


Enggak, sahut Ridwan.


Terus kenapa pakai ambulance, ucap Layla lagi.


Itu-


Pak Ridwan, jenazahnya ingin kami turunkan tapi kami tidak tahu dimana meletakkan jenazahnya. Tanya sopir ambulans.


Ouhh ya sudah sini saya bantu juga, sahut Ridwan.


Layla masih bingung siapa yang meninggal.


Saat jenazah di keluarkan dari ambulans, betapa kagetnya Layla melihat wajah mertuanya.


Ya allah mama, mas mama kenapa mas apa yang terjadi. Tanya Layla.


Sudah, nanti mas ceritakan sebaiknya kita urus dulu jenazah mama. O iyahh kamu kan lagi hamil, sebaiknya kamu di kamar aja yahh. Ucap Ridwan.


Tapi mas-


Layla nurut sama mas, sahut Ridwan dengan sorotan mata tajamnya. Dan itu mampu membuat Layla takut dan meneguk salivanya, kemudian menunduk dan pergi ke kamar sesuai suruhnya tadi.


Setelah dimandikan kemudian di kafankan, lalu jenazah di sholatkan.


Setelah sore, pemakaman selesai Ridwan sama sekali tidak ingat dengan Ghani bahkan kepalanya pusing.


Sampai rumah Ridwan langsung istirahat dan tidur, Layla ingin sekali bertanya tapi selalu gagal karena Ridwan kecapean dan malah tidur.


Layla yang dari tadi penasaran langsung bertanya.


Mas tau gak, Ghani kemana? Tanya Layla hati-hati.


Emang dia gak ada dirumah, sahut Ghani sambil menyendok makanannya.


Aeheh, semenjak kamu pulang aku gak lihat Ghani sama sekali. Ucap Layla.


Sendok yang ditangan Ridwan langsung jatuh, dan Ridwan ingin tentang di rumah sakit tadi.


Astaghfirullah, Ghani sampai malam ini gak ada di ruamh. Ucap Ridwan.


Iya mas, kamu gak tahu padahal dari tadi aku nungguin lohh ternyata kamu gak tau. Ucap Layla.


Beneran mas, aku gak tau sama sekali. Sahut Layla.


Ya sudah habiskan makanan sekarang, kita harus cepat cari Ghani. Ucap Ridwan.


Iya mas, sahut Layla.


Mereka berdua dengan cepat menghabiskan makanan, dan langsung mencari Ghani.


*


*


Aaaaaa... Rani berteriak ketika dirinya di serang.


Bughhhh....


Uhukkk.. aarghhhh sakit, keluh Rani.


Heh, dasar manusia lemah. Ucap Rantaka.

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang menendang Rantaka dari belakang.


Brengsek, kurang ajar berani sekali kamu melukai mama saya. Ucap Ghani atau Azira.


Azira langsung membangunkan mamanya.


Ma, bangun ma ini Ghani. Mama, Ghani mohon tolong bangun ma hiks... ma bangun. Ucap Ghani.


Hahahahahah... ouhh jadi wanita tua itu mama kamu yang lainnya, dunia ini benar-benar sempit rupanya. Baiklahh, akan aku habisi kamu sekalian Azira. Ucap Rantaka dengan gairah emosi yang meluap-luap.


Azira langsung menerima tantangan itu dan melawan Rantaka.


Hiyaaaa


Bughhh


Bughhh


Bughhh


Crahhhhhhh... teriak Rantaka memancarkan kekuatannya berbentuk bola apa yang sangat panas.


Jiahhhhhh... Azira melawan kekuatan bola api itu dengan pancaran air yang mengelilingi tubuhnya.


Hiiiiaaaaaaaaaaaa, teriak mereka bersamaan dan mendorong kekuatan mereka di atas langit.


Rantaka tiba-tiba jatuh entah kemana, peri yang melihat kejadian itu langsung menyambut Azira yang kehabisan tenaga.


Aku tidak papa, ucap Azira berusaha jalan menuju mamanya.


Azira melihat mamanya tidak berdaya.


Mama kenapa berhenti bernafas, ma bangun ini Ghani anak mama. Ucap Azira menangis tiada hentinya.


Peri lain hanya tertunduk mendengar tangisan pangeran mereka, Khirani baru muncul dia juga sedih melihat kondisi pangeran Azira seperti ini.


Aaaaaaaaaaahahahahahahah, teriak Ghani dan menghilang bersama mamanya.


Hah, kemana pangeran? Ucap peri lainnya.


Kita harus cari pangeran, ayo Khirani kita cari pangeran. Ucap peri hewan.


Baik, sahut Khirani.


*


*


Dalam mobil, Ridwan merasa gelisah karena dari tadi sama sekali tidak melihat Ghani.


Aduhhhh Ghani, kamu dimana nak ya allahhh. Ucap Ridwan khawatir.


Mas ini sudah malam, sebaiknya kita pulang besok kita lanjut cari Ghani. Saran Layla.


Iya sayang, sahut Ridwan.


Akhirnya Ridwan putar balik, saat putar balik tiba-tiba..?


Brukkkk...


Sesuatu menimpa atap mobil Ridwan dan Ghani.


Astaghfirullahal'azhim apa itu mas keras sekali suaranya, ucap Layla.


Bentar aku pinggirin dulu mobilnya, sahut Ridwan ingin memeriksa atap mobilnya.


Hati-hati mas, ucap Layla.


Iya sayang, sahut Ridwan.


Saat Ridwan melihat atap mobil betapa terkejutnya Ridwan.


Hahhh!!


*

__ADS_1


*


Sorry ya guys percakapannya gak pake tanda petik, agak males harus nekan keaboard lama.


__ADS_2