
💓 KENAPA AKU DICIPTAKAN SANGAT MALAS BAHKAN UNTUK SKINCARE PUN, ALHASIL WAJAHKU KUSAM.
...
" Chika, kapan orang itu mengantar motor kamu?" Tanya Sonia pada Chika.
" Dia bilang sore atau malam Ma." Sahut Chika.
" Ouhh ya sudah, kalau gitu kita siapkan makanan untuk menjamu dia nanti." Tukas Sonia lagi.
" Iya Ma." Jawab Chika sambil mencuci piring kotor bekas makan siang tadi.
...
Makan siang antara Ghani dengan Mamanya berjalan lancar, Rani menceritakan tentang perusahaan Tuan Rayis yang hancur.
" Sayang kamu ingat gak sama Tuan Rayis?" Ucap Rani memulai obrolan.
Ghani baru sadar tentang Tuan Rayis yang ternyata rekan kerja Mamanya.
" Ingat kok Ma, emang ada apa?" Sahut Ghani sambil menyuap makanan.
" Perusahaannya hancur."
Ghani sedikit kaget, karena Ghani tau Tuan Rayis adalah Ayah kandung dari Ayah angkatnya.
" Hancur, kok bisa. Apa beliau punya musuh?" Ucap Ghani sedikit penasaran.
" Tuan Rayis sangat berambisi, Mama gak suka sama dia tapi karena terlanjur kerja sama aja Mama sedikit takut karena orangnya licik." Ucap Rani.
Ghani minum air putih sambil mendengarkan ocehan Mamanya.
" Ouhh, ya sudah kalau gitu jangan berhubungan lagi Ma. Bahaya! " Ucap Ghani.
Rani hanya mengangguk dan melihat nasi di piring Ghani mau habis, Rani malah menambah nasi lagi di piringnya Ghani.
" Ma, kok di tambah sihh."
" Kamu harus makan banyak, Mama gak mau kamu kurus tuhh lihat badan kamu itu kurus banget pasti kamu gak sering makan yahh." Omel Rani.
Ghani hanya menghela nafas pelan, dia sekarang mengerti akan sifat Mamanya ini.
*
*
*
Tuan Rayis sekarang benar-benar tidak punya apa-apa lagi, bahkan Rayis sangat malu jika bertemu dengan Malik.
" Apa yang harus saya lakukan sekarang." Gumam Rayis dalam kamar yang sempit tanpa lampu dan mata yang kosong." Semua yang saya punya habis, entah kemana perginya." Lanjut gumam Rayis.
Malik berusaha mencari keberadaan Papanya tapi tak kunjung ketemu disamping itu telpon dari Chiya terus berdering mau tak mau Malik harus mengangkatnya.
Tut tut tut...
[ Hallo ada apa Chiya, aku sedang sibuk jangan ganggu aku.]
[ Ouu bagus ya kamu Mas, langsung ngomong kaya gitu sama aku tanpa kamu tanya dulu.] Emosi Chiya.
[ Memangnya ada apa, aku ini banyak kerjaan Chiya jangan ditambah pusing lagi.]
[ Jadi menurut kamu, aku ini beban gitu buat kamu.]
[ Ck... cihh sudahlah Chiya, langsung ke intinya ada apa? ]
[ Fino sakit, ada yang lempar kepalanya dengan batu.]
[ Parah atau tidak?]
[ Ya gak parah sihh, ya tetep aja bikin sakit kan pokoknya aku kamu hukum anak yang sudah melempar Fino dengan batu.]
Tut tut tut... Malik langsung mematikan telponnya dari Chiya, menurut informasi Chiya kurang penting.
" Iiihhhh... malah dimatiin, dasarr!" Umpat Chiya.
Fino sedang main dengan mobil dan robot-robot miliknya, Chiya yang melihat itu jadi sedih.
" Jangan sampai Mas Malik tahu." Batin Chiya.
Chiya tidak sanggup harus kehilangan Malik, jika Malik tahu kebenaran yang sebenarnya.
*
*
*
Dina yang shifnya pagi sudah selesai, dan siang sudah bisa istirahat langsung pulang ke kostannya.
Dina melihat kerak telor di pinggir jalan, sudah lama sekali dia tidak beli kerak telor.
__ADS_1
" Ahh itu kerak telor, beli ahhh." Gumam Dina kemudian berhenti depan paman yang jual kerak
" Bang, beli kerak telor yahh jangan lupa dibungkus." Pinta Dina.
" Berapa neng?" Sahut Bang kerak telor.
" 10 ribu aja." Sahut Dina.
Dina menunggu duduk yang sudah disediakan dan tidak lupa Dina memainkan ponselnya. Dina ini sebenarnya mengikuti sosial media Malik, itu pun awalnya Malik yang bertanya nama Instagram milik Dina.
Tak lama kemudian, abangnya selesai membungkus kerak telor.
" Nihh neng." Ucap Bang itu.
" Oiya bang, nihh uangnya." Sahut Dina sambil menyodorkan uang 10 ribu an.
" Makasih ya neng." Ucap abang itu.
" Sama-sama bang." Sahut Dina.
Dina pulang dengan cepat karena sudah tak sabar ingin mencicipi kerak telornya itu.
*
*
*
Ghani minta izin sama Mamanya untuk keluar sebentar.
" Ma, Ghani keluar dulu yahh." Pamit Ghani.
" Kamu mau kemana malam-malam begini, gak ninggalin Mama lagi kan." Selidik Rani.
" Enggak kok Ma." Sahut Ghani sedikit heran dengan protektif Mamanya ini.
" Terus ngapain keluar." Cerca Rani berbagai pertanyaan.
" Apa gue kasih tahu aja ya Mama." Batin Ghani.
Pletakk...
Rani menjentik dahi Ghani, karena Rani melihat Ghani sedang bengong di ajak bicara.
" Mama ajak ngomong malah bengong, kenapa sihh." Ucap Rani.
Ghani pun duduk disofa yang dibarengi Rani juga.
Rani juga penasaran dengan temannya Ghani, jadi Rani memutuskan untuk ikut.
" Mama ikut." Ucap Rani.
" Ya sudah Mama siap-siap." Ucap Ghani.
Ghani pun memberi kabar pada anak buahnya untuk mengambil motor di rumah itu.
" Mama udah selesai nihh, ayo kita pergi." Ucap Rani.
" Iya Ma." Sahut Ghani.
*
*
*
Dalam hutan terlihat sosok yang diam memandang langit.
" Langit, kau harus hujan. Menangis dan menangis, jangan berhenti." Ucap sosok itu dengan sangat dingin.
Disini Ratu peri bernama Aurora, dia merupakan ratu peri ke-8.
Aurora merasakan energi yang negatif mulai makin terasa, melihat Ratu mondar-mandir depan singgasananya membuat Khirani dan rombongan peri bertanya-tanya?
" Ratu, ada apa?" Tanya Khirani.
" Khirani, apa kamu tidak merasakan energi negatif." Tanya Aurora.
" Maaf, aku tidak merasakannya Ratu." Sahut Khirani.
" Kalian juga." Tunjuk Aurora kepada peri lainnya.
" Iya ratu." Sahut mereka semua.
Ratu makin dibuat gelisah dan panik, bagaimana mungkin hanya dirinya yang merasakan energi negatif ini.
" Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi." Batin Aurora.
*
*
__ADS_1
*
Mobil Ghani berhenti didepan pintu yang agak mewah walaupun tak semewah rumah Mamanya Ghani.
Pak satpam yang melihat berhenti bertanya, apa mereka ada keperluan dengan majikannya.
" Selamat malam Pak, apa ada keperluan datang kesini."
" Iya pak, saya dan Mama mau bertemu dengan Chika dengan ibunya." Sahut Ghani.
Pak satpam ingat sempat Chika siang berpesan untuk menyuruh orang datang jika ada yang mencarinya.
" Ouhh iya-iya, silahkan masuk pak." Ucap satpam itu.
Setelah memarkir mobilnya, Ghani dan Rani mengetuk pintu.
Tok tok tok...
" Iya, tunggu sebentar." Sahut suara dari dalam.
Ceklekkk... " Anda siapa yahh?" Tanya Sonia.
Ghani tersenyum." Saya sudah mengembalikan motor anak ibu." Sahut Ghani.
" Masyaa allahh." Ucap Sonia kaget, Sonia langsung mempersilahkan tamunya masuk dan langsung memanggil Chika.
" Silahkan masuk, sebentar yahh saya panggilkan Chika dulu." Ucap Sonia.
Rani dan Ghani pun duduk, sedangkan Sonia memanggil Chika.
" Chika, itu ada tamu sayang ayo." Ajak Sonia.
" Tamu, siapa Ma?" Tanya Chika balik.
" Udah kamu lihat aja nanti tanyak langsung." Sahut Sonia
Chika langsung turun tangga untuk melihat tamunya, saat melihat ada tamu laki-laki yang dikenal Chika sebelumnya.
Deghjj...
" Kamu." Tunjuk Chika kepada Ghani.
" Hay." Ucap Ghani sambil senyum.
Rani yang melihat gelagat Ghani akhirnya paham akan situasi ini.
" Kalian saling kenal." Tanya Sonia lagi.
" Dia pernah nolongin Chika dari preman Ma." Sahut Chika kemudian duduk disamping Mamanya.
" Ouuuu." Ucap Sonia.
Chika sepertinya bisa menebak siapa yang menolongnya kemaren dari begal.
" Jangan bilang kalau kamu yang--" Ucap Chika.
" Ini kunci motor kamu, semuanya sudah diperbaiki." Tukas Ghani.
" Ouhh iya makasih." Sahut Chika kemudian mengambil kunci itu.
Sonia menyapa Rani dengan hangat, dan sepertinya Sonia pernah melihat Rani.
" Sepertinya saya pernah melihat ibu, tapi dimana ya..?" Ucap Sonia.
Rani yang merasa dirinya dipertanyakan langsung memperkenalkan diri.
" Kenalkan, nama saya Rani Marshel dan ini anak saya Ghani Marshel.
" Masyaa allah, pantesan saya familiar lihat muka Bu Rani ternyata orang terkenal tohh." Sahut Sonia terkejut begitu juga dengan Chika. Saking terkejutnya, Sonia lupa memperkenalkan dirinya sendiri.
" Duhh.. saya gak nyangka ada konglomerat yang bertamu di rumah saya, sebuah kehormatan untuk saya." Ucap Sonia lagi.
" Ahh ibu terlalu berlebihan." Sahut Rani.
" Apa kalian sudah makan malam." Tanya Sonia.
" Belum Tante." Sambung Ghani.
" Wahh kebetulan sekali saya dan Chika belum makan malam, ayo sama-sama kita makan malam." Ajak Sonia, kemudian Sonia menyuruh Ghani dan Mamanya ke meja makan.
Dimeja makan mereka sangat senang dan bahagia, bahkan Rani dan Sonia terlihat cocok. Karena selama ini, Sonia mengagumi publik figur pengusaha terkenal seperti Keluarga Marshel terutama Sonia kagum dengan Rani.
*
*
*
Apa kalian tidak bertanya padaku, apa aku bahagia dengan semua ini?
Huhh menyebalkan hidup ini terus berputar, tapi kenapa putaran itu tidak tepat padaku.
__ADS_1
Ahhh aku malah curhat sama kalian, sedengg ihhhh dasarrr!