
💖 SELAï¼ï¼¡ï¼´ PAGI 💖
...
Fino mengadu kepada papi dan maminya jika dirinya dipermalukan oleh seseorang.
" Mami..."
" Ada apa sayang?"
" Fino di sekolah dipermalukan mi..."
" Hah, siapa yang ngelakuin itu ke anak mami."
" Anak yang baru masuk disekolah itu miii."
" Dia apain kamu?"
" Dia ngatain aku miskin mami."
" Apahh!? Anak baru itu ngatain kamu miskin."
" Iya miiii."
" Wahhh.. kurang ajar banget anak itu sudah bikin anak mami malu, nanti dia mami kasih pelajaran."
" Bener mi."
" Iya dong sayang, Fino kan anak mami."
" Wahh kalau gitu besok mami ikut Fino yaa..."
" Iya sayang."
" Yayyyyy..."
" Hmmm..."
...
Layla menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
" Mahhh, maaaahhh ayo makan siang."
" Iya La, mama makan setelah setelah selesai menjahit baju yahh."
" Mama jahit baju siapa?"
" Coba kamu lihat, bagus gak?
" Ini baju untuk anak bayi, dirumah kan gak ada bayi mahh."
" Mama cuma mau bikin aja kok, siapa tahu Allah ngabulin doa mama supaya kalian bisa punya anak terutama Ridwan mama selalu do'ain dia untuk sembuh."
" Mama." Ucap Layla tersentuh.
" Udahh gak usah sedih, mama paham itu kok makanya mama buat baju bayi ini lebih dulu siapa tahu nanti mama gak sempet lihat cucu pertama mama."
" Mama tenang aja, aku pasti bakalan bawa mas Ridwan berobat."
" Makasih ya La, kamu sudah mau menerima Ridwan apa adanya."
" Hmmm.. aku sudah menerima Mas Ridwan apa adanya mahh, aku menikah itu untuk ibadah bukan punya anak atau wajib punya anak."
" Mama beruntung punya menantu seperti kamu."
" Makasih ya ma, ya sudah Layla panggil Ghani dulu untuk makan siang yahh."
" Iya."
Ghani sedang memikirkan bagaimana cara dirinya mengalahkan Fino.
" Cara kasar gak mungkin, dia kan masih kecil hmmm gimana yahh."
" Ghaniii.." Panggil Layla ke kamarnya, tapi Ghani tidak ada.
" Kemana Ghani?"
" Ghani di sini bun, kamar belakang." Sahut Ghani.
Layla pun mendatangi Ghani di kamar belakang.
" Ghaniiii, kamu ngapain dikamar belakang nak?"
" Bersih-bersih aja bunda."
" Kamu semua yang bersihin ini."
" Iya bunda."
" Emang Ghani pengen banget ya bobo disini."
" Pengen bunda, soalnya kamar dibelakang ini tenang."
" Berarti Ghani gak mau bobo sama bunda."
" Bukan begitu bundaaaa, Ghani sayang sama bunda tapiii... Ghani ingin bobo dikamar belakang ini karena Ghani ingin punya dedek."
" Hahhhh, apa tadi maksud Ghani."
" Kata temen Ghani kalau Ghani mau punya dedek harus pisah bobo dulu sama bunda, tapi Ghani gak tau kenapa harus pisah tapi gak papa karena pengen punya dedek ya sudah Ghani lakuin."
__ADS_1
" Hahahah, aduh lemes bunda siapa yang ngomong dan ngajarin gitu sayang."
" Temen Ghani."
" Haduhhh itu gak usah di ajarin juga, gue dah tahu." Batin Ghani.
" Ya ampuunnn.. lagi dan lagi, sudah ya sayang jangan ngomong gitu lagi yahh."
" Tapi Ghani bolehkan do'ain bunda."
" Boleh dong sayang, masa gak boleh."
" Nanti sholat ashar, Ghani mau do'ain bunda."
" Iya, makasih ya sayang. Ya sudah, kita makan siang sekarang ayo."
" Iya bunda."
" Mungkin, hanya ini yang bisa gue bantu." Batin Ghani.
...
Bagas sedang mengurus Beno yang sakit dan tagihannya mencapai sepuluh juta, betapa terkejutnya Bagas mendengar harga begitu.
" Apahh sepuluh juta, apa gak salah hitung sus."
" Tidak pak, kami tidak salah hitung."
" Ouhh ya sudah makasih yahh."
" Iya."
Bagas langsung menelpon Vio untuk memberitahu Beno masuk rumah sakit dan butuh biaya banyak.
Tut tut tut...
" Vio angkat, napa sihh susah banget dihubungi akhhhhh..."
Tut tut tut...
" Akhhhhh, apa sihh susah banget." Ucap Bagas dengan kesal.
" Dia pasti lagi sama berondong kesayangannya itu, gak tau anak sakit." Umpat Bagas.
" Dulu uang sepuluh juta dikit buat aku tapi sekarang, Aakkkkhhhh bangsa*t cihhhh." Decih Bagas.
" Awwww... sakitnyaa, muka gue pada bonyok begini hilang dehh kegantengan gue." Ucap Beno sambil memegang pipinya yang luka.
Brakkkk...
Bagas masuk dengan wajah yang sulit di artikan.
" Apa saja yang kamu lakukan diluar."
" Gimana papa gak marah, kamu tu harus tahu tagihan rumah sakit itu berapa seharusnya kamu itu tau dan sadar kita sekarang itu tidak seperti dulu lagi."
" Iyahhhhhh."
" Iyah iya, kamu urus tagihan itu. Papa sudah tidak punya uang lagi, mama kamu entah kemana selingkuh anak sama ibu sama aja."
" Jangan pernah hina mama ya pah."
" Kenapa? Kamu marah, ouhh papa tahu karena kamu sama ibu kamu itu sama-sama kurang ajar."
" Cukup yahh pahh."
" Kenapa, kamu mau melawan papah."
Bughhh...
" Meski aku sakit bukan berarti papa bisa menghina mama." Ucap Beno setelah menampar Bagas.
" Akhhh, ok ini tamparan pertama kamu kann. Urus diri kamu sendiri, jangan pernah tunjukkan wajah kamu ke saya lagi."
" Dasar anak tidak tahu di untung."
Bagas marah dan meninggalkan Beno sendirian di rumah, kali ini Bagas benar-benar dipuncak kemarahan.
...
Setelah makan siang, Ghani membantu bundanya nyuci piring.
" Ehh bunda, Ghani bantuin nyuci piring yahh."
" Kamu mau bantuin bunda nyuci piring."
" Iya bunda, emang kenapa?"
" Gak papa sihh, cuma bunda heran aja kamu mau nyuci piring emang bisa."
" Bunda ngeremehin Ghani yahh."
" Ehh enggak, bunda gak ngeremehin Ghani."
" Tadi apa coba."
" Ya bunda kan cuma nanya aja, soalnya kamu kan anak laki-laki."
" Hehehe... ya sudah bunda, Ghani yang nyuci yahh bundaaa duduk aja."
" Ok, bunda duduk disini mau lihat Ghani nyuci piring."
__ADS_1
" Ok bunda."
Ghani pun mencuci piring didepan bundanya dengan baik, Layla yang melihat hampir tidak percaya.
" Ini beneran Ghani, anak ini selalu saja penuh kejutan." Batin Layla.
" Huhh, ini sihh pekerjaan mudahh karena aku seorang Chef pastilah gampang. Ehh gue harus susun rencana sekarang nihh biar si Fino songong itu sedikit jera." Batin Ghani.
...
Chika memeriksa semua perkembangan anak murid, dia tersenyum dengan perkembangan Ghani.
" Anak ini cerdas banget hihh, gak cuma cerdas tapi dewasa dari anak seusianya. Tapi, aku lebih khawatir kalau Fino mengganggunya. Semoga aja Fino tidak mengadukan hal ini kepada Tuan Rayis, kalau sampai mengadukan aku tidak bisa menolong Ghani."
" Ahh iya benar, aku harus kasih tahu bundanya."
Tut tut tut...
" Siapa yang nelpon sayang." Tanya Ridwan.
Layla melihat ponselnya dan tertera nama Bunda Chika.
" Ouhh gurunya Ghani Sayang."
" Ya sudah angkat, siapa tahu penting."
Klik...
[ Hallo. ]
[ Assalamu'alaikum, dengan bunda Layla. ]
[ Wa' alaikumsalam, dengan saya sendiri ada apa ya bu. ]
[ Saya cuma mau kasih tahu tentang anak ibu si Ghani siang tadi, sebenarnya Ghani di sekolah tadi tidak jatuh tapi di dorong sama Fino cucu Tuan Rayis. Semoga aja Fino tidak mengadu pada Tuan Rayis yang tidak-tidak bu, kalau sampai mengadu saya dan kepala sekolah tidak bisa berbuat apa-apa. ]
[ Ouhh begitu yahh, iya saya mengerti bu makasih ya informasinya. ]
[ Itu aja kok yang mau saya sampaikan, ya udah assalamu'alaikum. ]
[ Wa' alaikumsalam. ]
Tut tut tut...
" Ada apa sayang, kok wajahnya murung begitu." Tanya Ridwan yang tampak khawatir melihat wajah istrinya yang berubah murung.
" Ini sayang, tadi disekolah Fino nge dorong Ghani sampai bibirnya berdarah jontor gitu tapi Ghani ngaku dia cuma jatuh."
" Fino berulah lagi yahh." Sahut Nenek Ani dari belakang.
" Mama, mama belum tidur yahh." Ucap Layla.
" Mana bisa mama tidur, Ghani mau tidur sama mama dia udah tidur."
" Hahh Ghani tidur sama mama." Ucap Layla.
" Biar Ridwan angkat Ghani ke kamar Ridwan yah ma."
" Eh jangan, jangan kasihan dia kecapean kelihatannya."
" Ouhh." Ucap Ridwan.
" Tadi mama gak sengaja lihat badannya Ghani, kayaknya Ghani gak cuma di dorong tapi dipukul mama lihat badannya biru. Ridwan kamu harus ambil tindakan, Fino itu memang masih kecil tapi wataknya mirip sekali dengan namanya bahaya buat Ghani yang masih polos."
" Iya mas, aku khawatir sama Ghani."
" I iya iya, nanti mas coba bicara sama papa."
" Tapi kamu jangan kasih tahu mama ada disini yahh."
" Iyah ma."
...
Saat tengah malam, Ghani bangun dan melihat Nenek Ani tidur pulas ini kesempatan Ghani memberi pelajaran anak sombong itu.
Ghani pergi ke rumah Fino ya Ghani akui banyak penjaga yang sedang berjaga, dia harus hati-hati.
" Banyak juga penjaganya, ok Fino kamu bakalan nangis kejer huhh."
Ghani masuk dan memeriksa apakah ada CCTV, jika ada dia akan mencari celah untuk masuk.
" Dimana yah kamarnya Fino?"
Ceklekkk...
" Waduhhh, pasutri nihh salah kamar gue."
Ghani kembali mencari kamar Ghani dan memilih jalan ke kiri tapi saat masuk malah kamar Tuan Rayis.
" Anjrittt malah suami nenek Ani salah kamar lagi nihh gue, ahh."
" Nahh itu tuhh pasti kamar anak songong itu."
" Tuhkan benerr, nangis kejer kamu."
Ghani mengangkat tubuh Fino lalu mencari gudang dan meletakkannya di gudang.
" Selamat menangis kamu Fino."
Ghani sangat senang dan kembali pulang, dia berharap Fino nangis kejer.
__ADS_1
...