Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 30 - Menyamar Jadi Manusia


__ADS_3

π™†π˜Όπ™‡π™„π˜Όπ™‰ π™π˜Όπ™ƒπ™ π˜Ύπ˜Όπ™π˜Ό π™ˆπ™€π™‰π™‚π™ƒπ™€π™‰π™π™„π™†π˜Όπ™‰ 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 π™π™„π˜Ώπ˜Όπ™† π™ˆπ™€π™‰π˜Ύπ˜Όπ˜½π™π™ π™π˜Όπ™ˆπ˜½π™π™ π™‡π˜Όπ™‚π™„, π™π™Šπ™‡π™Šπ™‰π™‚ π˜Όπ™†π™ π™π™€π™π™Žπ™„π™†π™Žπ˜Ό...


*


*


Aurora turun ke bumi, dia merubah penampilannya layaknya manusia kedatangan Aurora ke bumi hanya untuk mencari rumah baru untuknya bersama putra tercintanya.


AKU TIDAK PEDULI, DAN AKU SUDAH TIDAK TERIKAT LAGI DENGAN ISTANA UTAMA JADI INI HAKKU DAN MEREKA TIDAK BISA MELARANGKU.


Kedatangan Peri ke bumi biasanya bisa di endus oleh para musuhnya, Zakta bisa merasakan energi peri lain turun ke bumi.


AKU SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL BAU ENERGI INI, MILIK SIAPA TAPI AKU SANGAT YAKIN MILIK PERI.


Aurora masuk ke resepsionis, dia ingin membeli rumah.


" Apa yang bisa kami bantu Bu."


" Apa disini melayani pembelian rumah."


" Tentu saja, apa anda ingin membeli rumah."


" Iya, saya ingin membeli rumah."


" Kalau begitu anda melihat beberapa proyek rumah kami yang sudah jadi."


" Baiklah."


Aurora melihat album foto rumah, setelah lama memilih Aurora tertarik rumah yang dekat hutan.


" Saya pilih ini aja."


" Ini..."


Resepsionis itu terlihat ragu.


" Ada apa?"


" Rumah ini sangat besar dan harganya juga fantastis, beberapa hari yang lalu ada pengusaha terkaya di indonesia ingin membeli rumah ini tapi tidak mampu."


" Jadi maksudmu."


" Apa anda punya jaminan untuk beli rumah ini, karena rumah ini adalah proyek terbesar kami dan tentu harganya tidak main-main.


Aurora tersenyum..


" Berapa harganya."


" Saya yakin, anda akan sakit jantung mendengar harganya."


" Katakan saja."


" Anda yakin."


" Hemmm..."


" 500 Triliun."


Aurora tersenyum karena 500 Triliun itu kecil baginya.


AKU KIRA SEMAHAL APA TADI, TERNYATA HANYA SEGITU.


" Saya bayar cash, dan tolong kunci rumahnya hari ini juga saya minta."


Resepsionis itu menganga bahkan mengalir deras di mulutnya melihat uang begitu banyak.


" Hey, kau mendengarkanku."


" Ahh iya, baiklah saya akan ambilkan kuncinya."


" Hemm."


Resepsionis itu kembali bertanya atas nama siapa, Aurora menjawab dengan senang.


*


*


Chika ingin meminta maaf dengan Ghani, dia berniat ingin ke rumah Ghani tapi Chika tidak tahu dimana rumahnya.


" Kayaknya aku sudah keterlaluan sama Ghani, apa aku minta maaf saja sama dia ehhh tapi aku kan gak tau alamat rumahnya dimana?" Gumam Chika.


Sonia melihat Chika tengah berfikir.


" Apa yang kamu pikirkan Chika?"


" Mama." Kaget Chika.


" Dari tadi Mama lihat kamu bengong, mikirin apa."


AKU GAK MUNGKIN KASIH TAHU MAMA KALAU AKU UDAH NGOMONG KASAR SAMA GHANI.


" Gakpapa kok Ma, masalah kerjaan aja." Sahut Chika.


" Bener gakpapa."


" Iya Ma, gakpapa kok."


" Ya sudah."


UNTUNG AJA.


Chika seraya ngelus dadanya.


*

__ADS_1


*


Grani menyuapi Rayis, dia bertanya bagaimana keadaan Rayis sekarang.


" Bagaimana Pak, perasaannya sekarang?"


" Maksud kamu apa?"


" Maksudnya, bapak dah baikan atau belum masih pusing gak kepalanya."


" Ouhh, tidak juga yang pusing itu pikiran saya."


" Sabar ya pak."


" Iya, mana ibu kamu."


" Ibu kerja, setelah ini aku juga mau pergi kerja. Bapak gakpapa kan sendirian, kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang aja aku bisa undur pekerjaan kok."


" Tidak usah, kamu kerja saja saya tidak ingin merepotkan kamu."


" Saya tidak merasa direpotkan kok."


" Kenapa kamu manggil saya bapak, jangan terlalu formal."


" Emang bapak mau dipanggil apa."


" Bagaimana kalau Daddy saja."


" Haishhhhh, norak."


" Hahahah... tidak juga."


" Ya sudah, bapak dah habis juga makannya aku berangkat kerja dulu."


" Masih bapak ya manggilnya."


" Haishhh... bapak ini maunya apa sihh, jangan Daddy lahh norak itu."


" Coba aja dulu."


" Haishhh, ga ahh malu."


Grani keluar.


Rayis menatap punggung gadis itu perlahan menghilang, Rayis tidak sadar jika dirinya sekarang lebih banyak tertawa.


AKU BELUM HANCUR, AKU AKAN PERGI KE KALIMANTAN KARENA AKU MASIH ADA SEDIKIT DISANA.


" Baiklah Tuan Rayis, kita mulai bekerja keras sekarang." Gumam Rayis semangat.


*


*


Beno sedang bekerja di perusahaan A.M. Company.


" Ghani, kamu dipanggil ke ruang nyonya."


" Iya."


Beno pun mengetuk pintu, tok tok tok...


" Masuk." Sahut suara dari dalam.


Ceklekkk...


" Silakan duduk."


Beno mendudukkan pantatnya ke kursi yang sudah disediakan.


" Saya minta kamu periksa data dari PT. Mahesa, kamu bisa kan."


" Bisa nyonya."


" Ya sudah, kembali bekerja."


" Baik."


Beno keluar.


" Alhamdulillah." Gumam Beno ngelus dadanya.


π˜Όπ™‡π™ƒπ˜Όπ™ˆπ˜Ώπ™π™‡π™„π™‡π™‡π˜Όπ™ƒ 𝙂𝙐𝙀 π™‚π˜Όπ™† π˜Ώπ™„π™‹π™€π˜Ύπ˜Όπ™, π™Žπ™€π™ˆπ™Šπ™‚π˜Ό π˜Όπ™…π˜Ό 𝙄𝙉𝙄 π˜Όπ™’π˜Όπ™‡ π™”π˜Όπ™‰π™‚ π˜½π˜Όπ™„π™† π˜Όπ˜Όπ™ˆπ™„π™„π™‰.


*


*


Andi sangat kecewa karena tidak bisa bertemu Ghani.


" Aargh sialan." Dengus Andi.


" Kenapa ya sekarang kita susah banget ketemu Ghani, gak bisa lagi dong kita nikmatin fasilitasnya." Ucap Deni sambil ngerokok.


" Emang b*ngsa*t tuh si Ghani, sombong banget jadi orang." Geram Andi.


* π™π™‡π˜Όπ™Žπ™ƒπ˜½π˜Όπ˜Ύπ™† π™Šπ™π™ *


" π™ƒπ˜Όπ™‡π™‡π™Š π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰, π™ˆπ˜Όπ˜½π˜Όπ™ 𝙔𝙐𝙆."


" π™€π™‰π™‚π™‚π˜Όπ™†, π™Žπ˜Όπ™”π˜Ό π˜½π˜Όπ™‰π™”π˜Όπ™†π˜Όπ™‰ π™π™π™π™Žπ˜Όπ™‰ π˜Ώπ™„ π™†π˜Όπ™‰π™π™Šπ™."


" π˜Όπ™ƒπ™ƒ π™Žπ™Šπ™ˆπ˜½π™Šπ™‰π™‚ 𝙇𝙐𝙃𝙃 π™Žπ˜Όπ™ˆπ˜Ό π™π™€π™ˆπ™€π™‰ π™Žπ™€π™‰π˜Ώπ™„π™π™„."


" π™„π™”π˜Ό 𝙉𝙄𝙃𝙃 π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰, 𝙂𝙐𝙀 π™Žπ˜Όπ™ˆπ˜Ό π˜Όπ™‰π˜Ώπ™„ π™ˆπ˜Όπ™ π™‰π™‚π˜Όπ™…π˜Όπ™†π™„π™‰ π™‡π™Š 𝙉𝙄𝙃𝙃 π™†π˜Όπ™”π˜Ό π˜Ώπ™π™‡π™ π™‡π˜Όπ™‚π™„ π™†π™„π™π˜Ό π™†π˜Όπ™‰π™‚π™€π™‰."

__ADS_1


" π™π˜Ώπ˜Όπ™ƒπ™ƒ, 𝙂𝙐𝙀 π˜Ώπ˜Όπ™ƒ π™‚π˜Όπ™† 𝙂𝙄𝙏𝙐 π™‡π˜Όπ™‚π™„ π™ˆπ™€π™‰π˜Ώπ™„π™‰π™‚ π™Žπ™€π™†π˜Όπ™π˜Όπ™‰π™‚ π™†π˜Όπ™‡π™„π˜Όπ™‰ π™‹π™π™‡π˜Όπ™‰π™‚ π™”π˜Όπ™ƒπ™ƒ."


" π™‚π˜Όπ™† π˜½π™„π™Žπ˜Ό π™†π˜Όπ™”π˜Ό 𝙂𝙄𝙏𝙐 π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰, π™ˆπ˜Όπ™Žπ˜Ό π™‡π™Š π™‰π™‚π™π™Žπ™„π™ π™π™€π™ˆπ™€π™‰ π™‡π™Š π™Žπ™€π™‰π˜Ώπ™„π™π™„ π™Žπ™„π™ƒπ™ƒ."


" π™„π™”π˜Ό 𝙉𝙄𝙃𝙃 π™‚π˜Όπ™† π˜Όπ™Žπ™”π™„π™†."


" π™‹π˜Όπ™† π™Žπ˜Όπ™π™‹π˜Όπ™ˆ, π™π™Šπ™‡π™Šπ™‰π™‚ π˜½π˜Όπ™’π˜Ό π™ˆπ™€π™π™€π™†π˜Ό π™†π™€π™‡π™π˜Όπ™ π™”π˜Όπ™ƒπ™ƒ."


" 𝙀𝙃𝙃 π˜Όπ™‹π˜Ό-π˜Όπ™‹π˜Όπ˜Όπ™‰ 𝙉𝙄𝙃𝙃 π˜Όπ™ƒπ™ƒ π™†π™π™π˜Όπ™‰π™‚ π˜Όπ™…π˜Όπ™ π™‡π™Š π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰π™„, π˜½π™π™€π™‰π™‚π™Žπ™€π™† π™‡π™Š π™€π™ˆπ˜Όπ™‰π™‚ π˜Όπ™’π˜Όπ™Ž π™‡π™Š 𝙂𝙐𝙀 π™ƒπ˜Όπ™…π˜Όπ™ π™‰π™π˜Όπ™ π™‡π™Šπ™ƒπ™ƒ.


π˜Όπ™‰π˜Ώπ™„ π˜Ώπ˜Όπ™‰ π˜Ώπ™€π™‰π™„ π™π™„π˜Ώπ˜Όπ™† π™Žπ™„π˜Όπ™‹π˜Ό π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰π™„ π™”π˜Όπ™‰π™‚ π™ˆπ™€π™π™€π™†π˜Ό π˜Όπ™…π˜Όπ™† π™‰π™‚π™Šπ™ˆπ™Šπ™‰π™‚, π˜Ώπ™„π˜Ό π™ƒπ˜Όπ™‰π™”π˜Ό 𝙋𝙀𝙍𝙄 π˜½π˜Όπ™’π˜Όπ™ƒπ˜Όπ™‰ π™”π˜Όπ™‰π™‚ π™ˆπ™€π™‰π™”π˜Όπ™ˆπ˜Όπ™ π™…π˜Όπ˜Ώπ™„ π™‚π™ƒπ˜Όπ™‰π™„.


* π™π™‡π˜Όπ™Žπ˜½π˜Όπ˜Ύπ™† π™Šπ™‰ *


*


*


Khirani merasa aneh dengan Ghani, lebih ke dewasa dan pembawaannya tenang.


" Anehh, ada apa dengan anak itu kenapa dia sangat berbeda." Ucap heran Khirani.


Cling...


" Kau."


" Kembali ke kayangan."


" Baik."


Sampai di kayangan, Khirani dibuat terkejut karena kayangan hancur total dan berantakan.


" Ada apa ini."


" Kita diserang."


" Apahhh!"


" Apa Ratu sudah tahu."


" Tidak, Ratu belum tahu."


" Ahh bagaimana ini."


Saat semua peri dilanda panik.


Cling...


" Ratu." Pekik mereka.


" Ikuti aku."


Aurora membuat lubang demensi agar terhubung dengan rumah yang dia beli kemaren.


Slupppp...


Lubang demensi itu tertutup.


" Ahhh sialan."


Ucap Zakta yang ingin mengejar mereka tapi gagal.


Cling...


Sampai dalam rumah yang sangat besar.


" Ini dimana Ratu?"


" Diamlahh."


Semua peri diam.


" Pakai cincin ini."


Mereka semua mengambilnya.


" Cincin apa ini Ratu?" Tanya Khirani penasaran.


" Cincin Peri cahaya."


" Aku tidak pernah mendengar nama cincin itu."


" Ini cincin peri cahaya, khusus untuk peri."


" Buat apa Ratu?"


" Kita sekarang ada di bumi, energi peri di bumi bisa di endus oleh makhluk jahat atau pun musuh. Cincin ini menutupi energi peri kalian, pakailah."


Mereka semua memakainya.


" Wahh bagus juga cincinnya?"


" Hehehe, sejak kapan peri tergiur dengan cincin."


" Sekarang."


" Ah sudahlah."


" Kalian bisa pilih tempat tidur kalian, dan besok mulai bekerja untuk melawan musuh kekuatannya besar."


" Baik Ratu."


*


*

__ADS_1


SUDAH AKU KATAKAN, AKU SANGAT MENGANTUK.


__ADS_2