
Ridwan datang ke rumah istri keduanya dan memarahi Dona habis-habisan, karena sudah mengirim foto mereka berdua.
Brakkkk...
"Dona, apa yang sudah kamu lakukan pada Layla, hahhh! Teriak Ridwan.
"Paan sih kamu mas, baru datang marah-marah." Sahut Dona gak terima dimarahi.
"Kamu itu yahh kalau dikasih tau itu ada aja alasannya, ngeles pinter banget." Maki Ridwan.
"Kamu mas yang aneh, datang gak jelas langsung marah-marah gimana gak darting aku. Lagian aku capek jadi istri simpanan kamu, kamu hanya memanfaatkan aku supaya kamu bisa punya anak iya kan." Ucap Dona.
"Donaaaa!" Kata Ridwan ingin menampar Dona.
Plaakkkkk,, Ridwan menampar Dona lagi, bahkan membantingnya dan kepala Dona terjedot tiang tangga.
Aaaaarrgghhh,, rintih Dona kesakitan.
Tiba-tiba Stela melihat papa ingin menampar mamanya, Stela langsung berteriak.
"Papaaaa..!" Teriak Stela di pintu kamarnya.
"Stela." Ucap Ridwan menoleh.
Stela menangis melihat keadaan mamanya yang berantakan.
"Hiks...hiks..papa jahat, papa pukul mama." Ucap Stela kecil.
Ridwan langsung memeluk Stela dan meminta maaf.
"Maafin papa, papa gak ada maksud nyakitin mama sayang jangan benci papa yah." Bujuk Ridwan.
"Tapi mama berdarah pa...hiks...papa jahat." Rengek Stela.
"Gak sayang, enggak! papa gak mukul mama, tadi papa lagi emosi sayang." Ucap Ridwan.
"Kamu bohong mas, jelas-jelas tadi kamu mukul aku." Ucap Dona tidak terima.
"Dona kamu diam, ada Stela disini." Sahut Ridwan.
"Papa jahat hiks..." Stela berusaha mendorong papanya sendiri.
"Stela jangan begini sayang." Bujuk Ridwan lagi.
"Papa jahaaaaaaattt." Teriak Stela.
" Stelaaaaaa..." Teriak Ridwan kemudian menampar pipi halus anaknya sendiri.
Plakkkkkk...
Dona kaget dengan apa yang dilakukan Ridwan.
Ridwan juga baru sadar sudah menampar putrinya sendiri, menatap tangannya yang menampar Stela.
Hiks...hiks...hiks... Stela menangis sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah, Dona yang melihat itu langsung emosi lalu mengambil tas dan menimpuk tubuh Ridwan.
"Kurang ajar kamu mas, dasar gak punya hati kurang ajar kamu, jangan pernah cari aku sama Stela lagi." Ucap Dona kemudian menggendong Stela dan pergi.
"Dona aku minta kamu berhenti." Ucap Ridwan tapi sepertinya Dona tidak menggubris omongan Ridwan.
"Dona, kamu mau bawa kemana Stela dia anak aku." Ucap Ridwan lalu mengejar Dona tapi terlambat Dona dan Stela sudah masuk taxi.
"Aaaakhhhhh." Teriak Ridwan frustasi.
__ADS_1
*
*
Azira sekarang mengerti dia harus membunuh Rantaka, karena darahnya bisa membangkitkan mama Rani. "Baiklah, akan aku bunuh dia karena dia sudah berani membuat mama seperti ini." Ucap Azira memandang tubuh mama Rani yang membeku. "Ma, Azira akan buat mama tersenyum lagi, Azira janji ma." Ucap Azira lagi.
Azira kemudian ingat tentang demensi kerajaan langit. "Aku harus kesana." Ucap Azira.
Saat Azira menelusuri kerajaan langit ada beberapa patung raksasa yanh rusak dan yang lebih anehnya kenapa hanya ada satu patung kecil yang tidak rusak padahal patung lainnya mengalami kerusakan parah.
"Patung kecil ini patung apa sebenarnya." Gumam Azira.
Tiba-tiba patung itu hancur seketika dan itu membuat Azira mundur dengan cepat.
"Ahh sial, ada apa dengan tempat ini menyebalkan." Kata Azira.
*
*
Dona dan Stela tekadnya sudah
bulat untuk menjauh dari Ridwan
yang mulai stres.
"Jangan pernah berani kamu bawa kabur Stela dariku Dona, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Stela dariku." Ucap Ridwan menyeringai.
"Papa jahat hiks... papa lukai mama hiks... hiks.. papa jahat.." Teriak Stela memukuli dada papanya.
"Diam kamu Stela atau papa pukul lagi kamu, hahh!" Bentak Ridwan.
Brukkk....
"Ayo sayang kita pergi dari sini, jangan sampai papa menangkap kita." Ucap Dona sambil berlari.
"Dona.....mau kemana kamu hahh, jangan ambil Stela dari aku! jangan kabur kamu, berhenti!" teriak Ridwan seperti orang kesetanan.
Hafff...
Ridwan berhasil mencekal tangan Dona dan kembali merebut Stela.
Hikss...hiks...hiks... Stela menangis di gendongan papanya.
Bughhhhh,, Ridwan mendorong Dona sampai ke tengah jalan tapi tiba-tiba...?
Brakkkkkkk...
Sebuah mobil melaju kencang sudah menabrak Dona, sampai Dona terpental jauh.
"Mama.........!" Teriak Dona.
"Dona... ya allah Dona, Dona..." Begitu juga dengan Ridwan meneriaki Dona yang sudah terkapar berdarah, Ridwan yang melihat mobil kabur langsung
berdiri dan mengejar mobil itu. "Woyyy jangan lari, sialan!" teriak Ridwan tapi mobil itu sudah pergi jauh.
Ridwan langsung mengangkat Dona
lalu membawanya ke mobil. "Stela kamu masuk yahh." Pinta Ridwan.
Ridwan dan Stela menuju rumah sakit. "Dona kamu bertahan yahh, sebentar lagi kita sampai." ucap Ridwan gemetar.
"Hiks...hikss mama jangan tinggalin Stela, mama...Stela sayang sama mama." Ucap Stela menangis.
__ADS_1
"Dokter-dokter, tolong istri saya dok..." teriak Ridwan sambil menggendong Dona.
Dokter dan perawat datang kemudian memeriksa Dona, banyaknya darah yang keluar membuat Dona kritis belum lagi luka dikepala Dona akibat terbentur aspal dengan keras.
"Sus, lakukan pengecekan darah dan jantung." titah dokter.
"Baik dok." sahut perawat itu.
Ridwan mondar-mandir diluar, sesekali menenangkan Stela.
"Stela sayang, mama gak papa ko kamu tenang aja ya sayang ada papa disini." ucap Ridwan membelai pucuk kepala Stela.
"Mama hiks...." Stela hanya bisa menangis melihat mamanya tadi berdarah-darah.
Suster melihat jantung pasien makin melemah. "Dok jantung pasien makin melemah dok." Ucap suster itu.
"Siapkan defibrillator sus." ucap dokter itu.
"Baik dok." sahut perawat.
" Satu...dua...tiga..." Ucap dokter itu.
Beberapa kali dokter menggunakan alat terapi jantung, namun jantung pasien makin lemah dan net net net net...
"Dok jantung pasien...?" ucap suster melihat jantung pasien nol.
"Kita sudah berusaha keras, ini kehendak tuhan." ucap dokter lalu dokter dan suster keluar.
Ceklekkk..
"Dok, gimana istri saya gak papa kan dok?" tanya Ridwan penuh harap.
"Maaf pak, kami sudah berusaha keras tapi tuhan berkehendak lain istri bapak meninggal." sahut dokter itu.
Deghhh...
"Me-men-mening-meninggal, dokter bilang istri saya meninggal begitu haha... dokter yang benar aja dok, gak mungkin istri saya meninggal dok gak mungkin istri saya itu orangnya kuat gak mungkin dia meninggal!" teriak Ridwan di akhir kalimat dengan kelit lidah Ridwan bergetar ketika tahu istrinya meninggal.
"Mama...meninggal, mama....hiks hiks..hiks.. mama jangan tinggalin Stela mahhh, hiks...hiks..Stela sama siapa ma hiks...hiks..." ucap Stela sesenggukan menangis.
Ridwan langsung menampar wajahnya karena merasa bersalah.
Bughhhh...
"Bodoh kamu Ridwan."
Bughhhh...
"Gak berguna kamu Ridwan."
Bughhh...
"Suami sialan kamu Ridwan."
Bughhh bughhhh bughhh...
"Bodoh, bodoh, bodoh..." ucap Ridwan tak berhenti menampar dirinya sendiri.
"Tolong bapak jangan begini, ini sudah takdir tuhan pak." ucap dokter itu sambil menghentikan aksi Ridwan.
Suster itu juga menenangkan Stela dan membawanya ke kamar untuk di periksa mentalnya, tidak lama kemudian Ridwan jatuh pingsan.
"Keluarga yang malang." ucap dokter itu yang selesai memeriksa Ridwan, begitu juga dengan Stela yang berbaring satu kamar dengan Ridwan.
__ADS_1