
πΌππ ππΌπππΌπ πΎπΌπππ, ππΌππ πΌππΌ ππΌπππΌπ πππππ π½ππππππΌπ πΏππππΌπππ.
*
*
Tiba-tiba Azira bisa melakukan teleportasi berpindah tempat, mungkin ini kemampuan murninya.
" Lebih baik aku ke rumah Mama dulu dan menghajar peri bawahan itu, karena sudah berani menyamar menjadi diriku." Gumam Azira.
Peri juga makan, kalau di kayangan makannya terbuat dari cahaya dan angin, maka main halnya dengan di bumi.
" Sekarang kita masak apa?"
" Aku dengar manusia makan nasi, coba kita masak nasi."
" Ouhh benar juga, ayo kita masak nasi."
" Tunggu! Ucap Khirani.
" Ada Ran."
" Memang kalian tahu cara masak nasi."
" Astaga."
Mereka berdua tepuk jidat.
" Apa kita harus bertanya pada Ratu."
" Tidak usah, rasanya tidak sopan."
" Hemm benar juga."
" Ahh iya kau tau, siapa laki-laki yang ada di samping kamar Ratu?"
" Aku belum tau, rumor yang aku denger itu putranya Ratu kan."
Uhukkk...
Khirani terbatuk.
" Kamu kenapa Khirani."
" Tidak papa."
HAHHH, RATU PUNYA PUTRA KENAPA AKU TIDAK TAHU.
*
*
Azira berhasil menemui tiruannya.
" Maaf sudah membuatmu sakit."
" Kamu minta maaf pada dirimu sendiri."
" Heheheh..."
" Ceritakan padaku ya nanti."
Tiruan Ghani mengangguk dan testtt... menghilang.
" Baiklah saatnya aku berubah."
Cresss....
Azira kembali menjadi Ghani kecil, Ghani sudah tahu jika Ibunda Ratu sudah membuat kunci pada tubuhnya. Tapi Ghani punya cara lain untuk menghentikan rasa sakit itu, entahlah dia dapat darimana mungkin dari author.
SEMBARANGAN.
Ghani mulai mengetahui bahwa Bunda angkatnya ini ingin sekali punya anak, Ghani tersenyum.
" Apa itu misiku." Gumam Ghani.
Clingg....
Bles hhh tiba-tiba ada yang menyerang Ghani, dan membawanya ke hutan.
" Siapa kau, beraninya mencari masalah."
" Hahah, keturunan setengah Arraka sangat menyenangkan bisa membawamu kesini Hiyaaa.."
Bugh-h... crahhhh...
__ADS_1
Feuahhhhh...
" Semburan api." Ucap Zakta menyerang Ghani.
Dengan cepat Ghani memblok serangan itu dengan perisai air.
" Mahkota air." Ucap Ghani.
Saat mereka beradu kekuatan, tiba-tiba seseorang keluar dari tubuh Ghani dan langsung menyerang Zakta dengan cepat.
Zakta sempat melihat wajah orang itu, dirinya sangat terkejut.
" Kau." Tunjuk Zakta lalu kemudian matanya mulai buram dan pingsan.
Sosok itu kembali ke tubuh Ghani dan Ghani mulai sadar.
Ghani melihat Zakta pingsan, dirinya bingung ada berapa banyak dia punya musuh.
" Dia siapa?" Gumam Ghani.
Saat Ghani ingin menyentuh, tiba-tiba ada tangan lembut yang mencegahnya.
" Kauuu..."
" Kenapa kamu keluar dari rumah dan tidak bertanya dulu pada Ibunda."
" Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang aku mau."
" Tapi bisakah kamu menghormati saya sebagai Ibunda resmimu." Ucap Aurora sendu.
Ghani tersenyum lalu menatap danau dengan lekat, Ghani mengajak Aurora untuk duduk di tepi danau dan mulai obrolan yang hangat dan jujur.
" Aku tidak tahu dan masih belum paham kenapa kau tiba-tiba menjadi Ibundaku dan aku jadi putramu, lepas dari itu aku senang menjadi putramu walaupun tidak menampik kemungkinan aku juga anak Rani Marshel sekaligus putra Layla dan Ridwan. Aku berharap sedalam mungkin kita berkumpul semuanya, orang yang aku sayangi tapi aku sadar salah satu harus berpisah. Aku bingung harus pilih yang mana, Ibunda aku akan bersama Bunda Layla dengan sepenuh jiwaku juga akan membahagiakan Mama Rani dan Juga Ibunda Aurora."
Aurora hanya diam mendengar semua curhatan dari putranya ini.
Satu hal yang membuat Aurora kesini, dia melihat kepulan asap dan angin hitam.
Aurora juga merasa aneh dengan Azira yang bisa mengalahkan Zakta.
" Kenapa kamu bisa mengalahkan Zakta."
" Apa maksud Ibunda."
" Tentu bisa."
Aurora mendengar suara yang tidak asing baginya, Aurora menoleh ke samping kanan ternyata Azira sudah pingsan.
" Azira." Pekik Aurora.
" Tenanglah." Ucap Seseorang.
Aurora mengarah ke depan, dia melihat sosok warna putih yang dia kenal.
" Kau."
" Lama tidak berjumpa Aurora."
" Apa yang sebenarnya terjadi."
" Hemmmm, menurutmu?"
" Jangan membuatku pusing, cepat katakan yang sebenarnya. Bukankah kau sudah mati, lalu kenapa sekarang berada di sini." Bentak Aurora.
" Hahahahah, kau masih saja menggemaskan Aurora."
" Cepat katakan Arraka."
" Kamu benar, aku memang sudah mati."
" Tapi kenapa kau ada disini, kau nyata disini."
" Hehehe.. aku sangat beruntung bisa memiliki anak denganmu, walaupun itu juga awal malapetaka kerajaan langit."
Creshhh...
Aurora mengacungkan pedangnya di leher Arraka.
" Dulu kau ingin membunuh putraku, tapi sekarang kenapa kau berada dalam tubuhnya bajingan." Maki Aurora.
Arraka tersenyum.
" Coba saja jika kau bisa membunuhku." Tantang Arraka.
Aurora kesal dan menebas leher Arraka, tapi sayangnya Los.
__ADS_1
" Kau, lehermu kenapa bisa."
" Tentu saja, karena aku bukan lagi Raja Langit atau pun suamimu karena aku sudah mati."
" Tapi-"
" Aurora." Panggil Arraka.
Aurora mendongak dan melihat wajah Arraka yang damai dan cerah.
" Ada satu hal yang tidak aku sampaikan padamu dan alasan kenapa aku membuang putra kita ke kutub utara. Itu karena ada kutukan iblis, aku tidak mau anakku menjadi iblis satu-satunya cara adalah menjauhkan energiku dan energimu padanya agar kutukan iblis tidak mencium energi putra kita."
" Apa maksudmu?" Masih bingung.
" Kalau kita yang membesarkan putra kita, maka putra kita akan menjadi Raja Iblis dan jika sudah menjadi Raja Iblis dia akan membunuh kita semua dan mengeluarkan roh jahat dari neraka lalu membebaskan roh jahat dari keputusasaan dan mengendalikan mereka semua untuk menghancurkan dunia ini."
" Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal hiks..."
" Itu juga alasanku untuk tidak memberitahumu, supaya kau bisa hidup lebih lama lagi. Aku yakin kau akan mengorbankan dirimu, aku tidak rela itu."
" Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu?"
" Aku sangat me-"
" Apa?"
" Aku sangat menyayangimu Aurora."
Deghhhh...
" Aku pergi dulu."
Aurora terduduk lemes dia sangat syok dan terkejut.
Huppppp...
Azira sadar kembali.
" Ahh kepalaku kenapa?"
Azira membenarkan cara penglihatannya dan melihat Ibundanya duduk lemas.
" Ibunda kenapa?" Tanya Azira.
" Tidak, hanya ingin duduk saja." Sahut Aurora.
Azira membantu Aurora berdiri dan membawanya ke rumah.
" Ibunda istirahat dulu, aku akan kesini lagi menjenguk Bunda."
Cup...
" Azira sayang Ibunda Ratu."
*
*
Fino menyeringai menatap dirinya dicermin.
" Kurang ajar, Zakta sudah mati pasti kakek tua yang membunuhnya. Siall, aku akan membunuhmu Azira." Ucap Fino dipenuhi aura gelap.
" Chiya... Chiya kesini kamu." Panggil Malik meluap-luap.
" Ada apa sihh Mas teriak-teriak, aku denger kok."
Plakkkk...
Malik menampar Chiya dengan keras.
" Apa yang Mas lakukan ke aku." Ucap Chiya tidak terima.
" Itu pantas buat j*l*ng buat kamu, hemmm siapa Fino?".
" Mas Malik kamu."
" Jawab aku!!
Bukannya menjawab, Chiya malah menangis tersedu-sedu.
*
*
ππππ πΌππ ππΌπππΌπ πππππΌππππ, πππΏπΌπππΌπ ππΌπππΌπ πππππππΌπππΌππ ππ ππππΌππΌ ππΌπ ππ πππΏπΌππ πΏπ πππππΌπ ππππΌππΌππΌπ ππΌππ ππππΌππΏπΌ πππ.
__ADS_1