Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 32 - Mengatur Strategi


__ADS_3

SEMOGA KALIAN MENYUKAI CARA PENULISANKU YANG AGAK AMBURADOL.


*


*


Layla sangat bahagia karena memiliki anak pengertian seperti Ghani.


" Ghani, Ayah sama Bunda mau pergi ke luar kota dulu urusan pekerjaan. Kamu di rumah sama Nenek yahh, gak papa kan." Tanya Layla sedikit khawatir.


Tampak wajah Ghani tidak senang, dan Layla mulai khawatir.


" Ghani marah ya sama Bunda, makanya Ghani gak jawab pertanyaan Bunda."


Ghani mendongak ke atas, kemudian tersenyum.


" Tidak kok Bunda, Ghani tidak papa di rumah berdua sama Nenek."


" Ouhhh benarkah."


" Iya."


" Syukurlahh." Ucap Layla kemudian memeluk tubuh mungil Ghani.


" Haishhhh Bunda, Ghani sudah gede."


" Aduhhh anak Bunda ini, gemesin banget sihhh."


" Hihihi.." Ghani hanya tertawa cekikikan.


*


*


Rayis pergi ke Kalimantan untuk memulai usaha barunya sebagai pemilik rumah makan terenak di sana.


Memang melelahkan, tapi inilah jalan yang di tempuh oleh Rayis.


Saat ini Rayis ada di bandara dan pamit pada Grani.


" Saya pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik."


" Iya Om." Sahut Grani.


" Om, tumben Om biasanya Bapakkan." Heran Rayis.


" Hehehehe.... Om kan mau berangkat, siapa tahu nanti sukses terus kasih Grani oleh-oleh yang banyak dehh." Sahut Grani panjang lebar membuat Rayis kesal.


" Dasar anak boros, itu ternyata incaran kamu."


" Hehehe.... gak papa kan Om."


" Gak papa, justru saya senang kok ya sudah saya pergi dulu Grani salam untuk ibumu."


" Iya Om." Sahut Grani teriak.


*


*


Lagi dan lagi, Chika kena sial dia habis di copet.


" Copet, tolooooooong.... copeeeeet." Teriak Chika tak henti-hentinya.


" Mana neng." Tanya Warga.


" Itu Pak copetnya." Tunjuk Chika pada copet yang berlari kencang.


" Ayo kejar." Teriak warga yang di ikuti warga lain.


Pencopet itu terus melihat ke belakang karena ada banyak warga yang mengejarnya.


" Woy copet woy."


" Berhenti copet."


" Copet, copet."


Itulah teriakan warga yang mengejar copet.


Copet itu tidak fokus melihat ke depan saat berlari, saat di perempatan copet itu jatuh.


Brukkkk....


" Aarrghhh.." Teriak copet itu.


Bughhhhh....


" Kembalikan dompetnya."


Copet itu takut saat warga mulai dekat.


" Nahhh itu dia copetnya, woy."

__ADS_1


Warga langsung menyerang copet itu tanpa ampun, tapi Beno dengan cepat melerai aksi hakim sendiri itu.


Bughhh.... bughhh....


" Aarghhhhh...."


" Berhenti, semuanya berhenti jangan main hakim sendiri." Teriak Beno melerai semuanya.


" Ampun pak, ampun saya terpaksa lakuin ini istri saya sakit keras saya gak punya uang buat berobat." Ucapnya dengan isak tangis.


Chika pun datang dan langsung melerai aksi hakim sendiri itu.


" Pak sudah, jangan di teruskan cukuuuuuuup." Teriak Chika saat mengatakan cukup.


Warga pun berhenti dan memilih untuk ke pinggir.


" Mana dompetku." Pinta Chika.


Dengan gemetar copet itu menyerahkan dompet pada Chika.


" Terima kasih." Ucap Chika.


Chika kemudian memeriksa isi dompetnya dan memberikan separuh uangnya untuk copet itu.


" Ini, beli obat untuk istrimu lain kali jangan di ulangi lagi."


Copet itu terharu dan langsung bersujud sambil menangis.


" Terima kasih hiksss, saya malu." Ucapnya sambil bersujud dihadapan Chika.


" Bangun, apa karena mendapatkan uang kamu bersujud padaku." Ucap Chika menohok membuat Beno yang mendengar terkesima.


Baik banget cewe ini, udah baik cantik lagi bener-bener idaman. Ucap Beno dalam hati.


Chika kemudian berdiri dan memberitahu kepada warga lain bahwa masalah selesai tidak lupa juga Chika berterima kasih pada warga sudah mau menolongnya.


" Bapak-bapak dompet saya sudah balik, terima kasih atas bantuannya."


" Ahhh gak papa neng, kita ikhlas kok bener gak bapak-bapak." Ucap salah satu warga.


" Iya bener." Sahut mereka lagi.


" Ya sudah, lebih baik kita bubar." Ucap Beno membubarkan semuanya.


Beno juga menyuruh copet itu untuk pergi.


" Apalagi yang kamu tunggu, ayo sana pulang."


" Terima kasih Mas, Mbak." Ucap copet itu sambil berlalu.


Chika yang melihat Beno bertanya apakah dirinya yang menangkap copet itu.


" Maaf, apa kamu tadi yang menangkap copetnya."


" Ehhh, iya. Saya kenapa emang?"


" Enggak, saya cuma mau bilang makasih aja."


" Cuma makasih doang nih."


" Terus apa, kamu kalau bantu orang tuhhh yang tulus."


" Saya tulus kok orangnya."


" Terus tadi apa?"


" Yaaaaahhh, bisakan kasihhh nomor wa atau semacamnyalah."


" Helehh, modus."


" Hehehe... kasih atau enggak nihhh."


" Ya udah, mana ponselnya."


" O yahh, tunggu bentar. Nihhhhh."


Chika menulis nomor wa-nya di ponsel Beno.


" Nih sudah selesai, aku pulang dulu."


" Ouhh sudah selesai yah, makasih yahh udah mau kasih nomor hati-hati di jalan." Ucap Beno.


" Iya." Sahut Chika pergi meninggalkan Beno.


*


*


Ghani benar-benar harus mengatur strategi untuk menyelesaikan masalah yang dia hadapi sekarang.


" Apa yang harus aku lakukan sekarang, biar bagaimanapun aku lahir di rahim Mama Rani." Gumam Ghani.


Mana rencanaya lagi Ayah sama Bunda pergi keluar kota, semoga saja Nenek Ani tidak cerewet. Ucap Ghani dalam hatinya.

__ADS_1


Deghhh...


Ghani menatap langit yang mencekam.


Langit itu kenapa, ucap hati Ghani.


Tiba-tiba muncul sebuah tangan dengan mencakar, tiba-tiba Ghani pingsan keluarlah sosok Arraka terbang menuju tempat mencekam itu.


" Sial, cakar itu makin kuat saja aku harus menyegelnya." Ucap Arraka.


Hiattttt...


" Mahkota agung cyahhhhhh." Ucap Arraka berusaha mengembalikan cakar itu ke dalam langit.


Arraka tampak berusaha mengembalikan cakar itu tapi kekuatannya tiba-tiba terhisap.


" Apa-apaan ini, kekuatanku tidak berpengaruh." Geram Arraka.


Saat Arraka ingin terhisap ke tapak cakar itu, tiba-tiba ada yang menyerang tapak cakar itu sampai membuat Arraka terpental.


" Aarrghhhh..." Teriak Arraka.


" Arraka."


Bleshhhhh...


Aurora sengaja menabrakkan dirinya saat Arraka terpental.


" Aurora, kenapa kamu ada disini."


" Sudah diam, bagaimana caranya kita menghentikannya."


" Kita harus punya kekuatan besar untuk mendorongnya kembali."


" Kita satukan kekuatan."


" Baiklah, mari kita coba."


Aurora dan Arraka sedang menyatukan kekuatan mereka dengan dasyatnya.


" Sekarang Aurora, cyahhhhhh."


Mereka berdua dengan sekuat tenaga.


Hiaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Bwuahhhhhh....


Akhirnya cakar itu masuk kembali ke dalam langit.


Huhhh...


Arraka dan Aurora menghela nafasnya, mereka berdua senang.


" Akhirnya, kita berhasil."


" Itu hanya sementara Aurora, kita harus waspada."


" Iya aku tahu, kamu mau kembali."


" Iya."


" Baiklah."


Cling...


Mereka berdua hilang, Ghani sadar kembali.


*


*


Pagi-pagi sekali Layla dan Ridwan pergi, saat Ghani masih terlelap.


" Ma, tolong jaga Ghani yahh." Pinta Layla.


" Tanpa kamu suruh pun, akan Mama jagain yang penting sekarang kalian harus bulan madu."


" Iya Ma." Sahut Layla tersipu malu.


" Gak usah malu, itu manusiawi." Ucap Ani.


" Iya, Layla ngerti kok."


" Ya sudah Ma, Ridwan dan Layla pergi dulu.


" Iya Ridwan, hati-hati yah."


" Daaachhh Ma." Ucap Ridwan.


" Daaachhh..." Balas Ani.


" Ya allah, berikanlah mereka anak nanti ya allah." Doa seorang ibu pasti terkabul.


*

__ADS_1


*


__ADS_2