Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 35 - Beno dan Chika Menikah


__ADS_3

Hay guysss...


Enam bulan kemudian, Chika tampak bahagia sekarang.


"Aku gak nyangka, sekarang kamu dah jadi suamiku." Ucap Chika.


Beno langsung memeluk Chika dari belakang dan mencium ubun-ubunnya dengan pelan.


"Namanya juga jodoh sayang, kita tidak bisa menerka siapa yang akan jadi jodoh kita." Sahut Beno dengan lembut.


Chika memegang tangan Beno dan tersenyum.


"Aku sayang sama kamu Mas." Ucap Chika.


"Aku juga, teruslah disisiku yahhh jangan pernah tinggalin aku." Jawab Beno.


*


*


Saat ini Layla dinyatakan hamil 3 bulan, betapa senangnya Layla. Anak yang dinanti-nantikannya bersama suami kini hadir dalam perutnya.


"Sayang, kamu sehat-sehat ya disana." Ucap Layla sambil mengelus perutnya yang mulai buncit.


"Anak kita pasti sehat sayang, siapa dulu orang tuanya." Sahut Ridwan yang baru masuk kamar.


"Sayang, kamu pulang bukannya tadi kamu ke toko yahhh." Ucap Layla.


"Aku hanya rindu sama kamu dan juga ingin bicara sama calon anak kita ini." Sahut Ridwan memegang perut istrinya itu.


Hmehehehe...


Mereka berdua sangat bahagia, Ghani pun mengetuk pintunya.


Tok tok tok


"Siapa sayang." Tanya Layla.


"Nggak tau, aku buka dulu." Sahut Ridwan kemudian membuka pintu.


Cekelekkkk...


"Ayahhhh, Bundaaaa." Ucap Ghani sumringah.


"Ghani, kamu ngapain kesini." Ucap Ridwan.


"Ghani kangen sama Ayah dan juga Bunda, emang Ghani gak boleh kesini." Ucap Ghani sedih.


"Bukan begitu Ghani, kamu kan tahu Bunda kamu lagi hamil dan dia sangat sensitif apalagi mencium bau badan kamu nanti dia mual." Ucap Ridwan menjelaskan kepada Ghani.


"Kenapa bisa begitu, Ghani kan tidak bau." Sahut Ghani yang tidak terima dibilang bau.


"Bukan begitu sayang, tapi-"


Huekkkkk huekkkkk...


Layla tiba-tiba mual dan ingin muntah.


"Layla." Ucap Ridwan langsung lari ke arah Layla.


"Mas, aku mual mas tolong Ghani suruh dia keluar."Ucap Layla.


"Iya sayang, aku suruh Ghani keluar dulu." Sahut Ridwan kemudian membaringkan Layla dan menyuruhnya istirahat.


Ridwan kemudian membawa Ghani keluar.


"Ghani kamu masuk kamar dulu."


"Kenapa Yah, Ghani kan mau ketemu sama Bunda juga mau ketemu sama dedek." Ucap Ghani sendu.


Dan itu didengar oleh Ani.


"Kenapa Bunda begitu, apa Ghani dilupain karena Ayah Bunda sudah punya anak."


"Bukan begitu Ghani, tapi Bunda kamu itu-"


"Iya, Ghani tahu. Bunda suka mual dan muntahkan kalau ketemu sama Ghani, makanya Ayah suruh Ghani di kamar terus." Ucap Ghani lalu masuk kamar dan menguncinya rapat-rapat.


Tok tok


"Ghani Ayah bisa jelaskan kenapa Bunda seperti itu."


Tok tok


"Ghani buka pintunya, Ayah mau bicara."


Ani yang melihat khawatir dan langsung menegur Ridwan.


"Ridwan, biar Mama yang bicara sama Ghani. Sebaiknya kamu kasih pengarahan sama Layla, jangan bersikap seperti itu terhadap Ghani dia masih kecil."


"Iya Ma, Ridwan ke kamar dulu."


Tok tok


"Ghani sayang, ini nenek boleh buka pintunya."


Ceklekkk

__ADS_1


"Kenapa nek?"


"Nenek mau bicara, boleh nenek masuk."


"Boleh, masuk nek."


Kini mereka berdua duduk diranjang.


"Kamu kecewa yahhh sama Bunda?" Tanya Nenek


"Gimana gak kecewa, terus aja usir Ghani. Walaupun Ghani udah besar tapi kalau di gituin Ghani pengen nangis."


"Ya ampun, bocah besar kalau sudah ngambek di kasih apa yahh." Goda nenek.


"Ishhh apaan sihhh nek, gak lucu tau."


"Tuhh bocah besarnya lagi ngambek." Ucap nenek lagi.


Ghani hanya bisa memalingkan mukanya.


*


*


Ridwan mendekati Layla yang sedang rebahan.


"Mas." Ucap Layla menoleh ke samping.


"Udah baikan sekarang."


"Iya."


"Udah gak mual lagi sekarang."


"Iya, dah gak mual lagi sekarang emang kenapa mas."


"Apa kamu sudah tidak sayang lagi sama Ghani."


"Kenapa mas ngomong gitu."


"Ghani tadi menangis, dia bilang kamu sudah gak sayang lagi sama dia."


"Aku sayang ko mas sama Ghani, kenapa nanyanya begitu."


"Ghani cuma mau ketemu sama kamu, tadi aku lihat dia sering mandi malahan mandi lima kali dia tadi."


"Ahh yang bener mas."


"Iya, jadi mas harap kamu jangan terlalu nampak kalau kamu lagi mual ketemu sama dia."


"Aku usahain mas."


*


*


Khirani dan peri lainnya sedang sibuknya saat ini, mengingat ratu mereka sudah tidak ada.


"Azira kemana?


"Mungkin dia ada urusan."


"Itu anak benar-benar menyebalkan, dia adalah satu-satunya harapan kita malah gak ada." Ucap Khirani kesal.


*


*


Sore harinya, Ghani ingin membuat susu untuk Bundanya.


"Bunda pasti seneng aku buatin susu." Gumam Ghani.


Sedangkan Layla ingin ke dapur ingin minum karena haus.


Tiba-tiba huekkkkkkk


"Emghh ada Ghani ternyata, pantes aku mual." Ucap Layla.


Ghani menoleh ke belakang.


"Bunda, Bunda ada disini."


"Hemnm." Layla menahan mual padahal jarak keduanya lumayan jauh.


Ghani langsung menghampiri Layla yang tengah berdiri di samping kulkas.


"Ghani stop, kamu berdiri disana."


"Kenapa bunda, bunda jijik ya sama Ghani."


"Bukan begitu Ghani, bunda minta kamu tetap disana."


"Terus."


"Kamu ngapain didapur."


"Ghani buat susu, untuk bunda."

__ADS_1


"Bunda gak suka susu."


"Bukannya bunda suka susu ya."


"Untuk sekarang enggak, kalau mau Ghani minum aja."


"Tapi ini Ghani buat untuk bun-"


Belum selesai bicara, Layla sudah meninggalkan Ghani.


Ghani sedih lagi.


*


*


Pagi ini Ghani membantu neneknya menyiapkan makanan.


"Ridwan, ayo makan ajak juga Layla."


"Iya ma."


Ridwan akhirnya makan, tapi Layla tidak makan."


"Lhoh, Layla gak makan Wan."


"Masih di kamar Ma, mungkin masih pusing."


Ponsel Ridwan berbunyi, ting...


( Mas, bawain aku makanan ke kamar )


Selesai makan, Ridwan langsung mengambil makanan untuk Layla.


"Itu makanan mau dibawa kemana?"


"Ke kamar Ma, Layla mau makan di kamar."


"Ouhh." Ani sambil melirik Ghani.


Sedikit sakit hati Ghani, tangannya meremas sendok.


Skipp..


Tok tok...


"Iya ada apa ma."


"Ridwannya mana, dia harus antar Ghani sekolah."


"Ya ampun, mas ridwannya udah berangkat ma."


"Lahh gimana sihh, Ghani gak ada yang ngantar ini."


"Layla sebenarnya pengen ngantar ma, tapi mama lihat sendiri kan keadaan Layla gimana?"


"Gakpapa ko, Ghani berangkat sendiri aja."


"Ehh jangan Ghani, kamu masih kecil." Larang Ani.


Layla hanya diam.


Bahkan bunda gak melarang aku mau pergi sendiri.


"Biar nenek aja yang ngantar kamu."


"Mama serius." Kaget Layla.


"Iya La Mama serius, ayo Ghani kita berangkat assalamualaikum."


"Wa' alaikumsalam." Sahut Layla.


Skipp..


"Aduhhh, padat banget jalannya." Ucap Ani.


"Kita tunggu aja nek, bahaya ini."


"Iya sayang."


"Nek jalannya udah sepi."


"Ouhh iya bener ayo kita nyebrang."


Di arah kiri mobil sedan dengan kecepatan tinggi.


Ghani melihat mobil sedan.


"Nenek awas."


"Aaaaaaaaa."


Brakkkkkk...


"Neneeeekkkk."


Mobil yang menabrak nenek ani langsung pergi, tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


*


*


__ADS_2