Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 33 - Energi Ratu Menghilang


__ADS_3

Kita tidak tahu ajal menjemput kita bagaimana, makanya kita disuruh berbuat baik dimana pun berada.


*


*


Malik terus memaksa Chiya untuk jujur, Fino itu anak siapa?


" Bilang sama aku Chi, Fino itu anak siapa hahhhh! Kamu tau kan aku tidak suka dibohongi." Bentak Malik.


" Maafin aku Mas, tolong jangan begini aku mohon. Aku janji, aku bakalan cerita semuanya ke kamu. Tapi aku mohon tolong jangan marah. " Sahut Chiya memelas dengan menangkupkan kedua tangannya.


" Aku maunya sekarang Chi, aku tidak ingin dibohongi. Jangan buat aku marah." Ucap Malik menatap datar sang istri.


" Maaf." Hanya kata itu yang bisa di keluarkan oleh Chiya, sehingga membuat Malik marah dan meninggalkan Chiya.


Chiya menatap nananr punggung Malik yang meninggalkannya.


Sekali lagi aku minta maaf Mas, aku harap kamu tidak benar-benar meninggalkanku. Aku sayang kamu, ucap batin Chiya.


*


*


Ghani berusaha membagi waktunya, apalagi saat ini tinggal bersama Nenek.


" Nenek capek." Tanya Ghani saat makan siang.


" Enggak kok, emangnya kenapa?" Sahut Nenek.


" Kalau Nenek capek, Ghani bisa kok nyuci piring."


" Hahaha... ada-ada aja kamu Ghani, udah ahhh kalau masalah cuci piring Nenek masih sanggup."


" Ghani cuma gak mau Nenek sakit, kalau Nenek sakit Ghani sedihh."


" Emmmmmm, cucu Nenek ini perhatian sekali sama Neneknya." Gemas Nenek Ani.


" Ehehehehe..." Ghani hanya tertawa pelan.


" Ya sudah, sebaiknya Ghani belajar biar Nenek yang cuci piring cuma dua kok udah yahh belajar yang semangat."


" Iya Nek."


*


*


Ghani masuk kamarnya, duduk di samping ranjang seraya memikirkan sesuatu yang bisa diterima oleh akal orang yang dia sayangi.


" Tuhan, aku ingin dapat jawabannya." Ucap Ghani pelan.


Cling...


Khirani muncul.


" Hey, apa yang kamu pikirikan." Tanya Khirani.


" Hemmm, ngapain kamu kesini buat moodku memburuk saja." Sahut Ghani.


" Kamu marah."


" Pikir aja sendiri."


" Dasar ya kamu, aneh. Aku tuhh tanya, malah balik marah au ahhh."


Ghani hanya diam, baru ngeh dengan bahasa mereka berdua tadi.


Kok bahasanya aku kamu yahhh, kenapa harus marah sama dia duhhh mulai pusing nihhh dah ahhhh, ucap Ghani dalam hati.


*


*


Arraka dan Aurora masuk ke demensi mereka yang dahulu.


" Kamu masih ingat demensi ini."


" Iya aku masih ingat, dulu disini kamu sering marah-marah karena aku telat datang benarkan."


" Yahhh begitulah, karena aku terlalu mencintaimu Aurora."


" Jangan terlalu menggodaku Arraka, aku tidak suka."


Padahal pipi Aurora sudah memerah.


Arraka melihat pipi Aurora yang sudah memerah hanya tersenyum, kemudian Arraka menggoda lagi.


" Yakin, tapi aku lihat kamu masih mencintaiku."


" Ahhh sudahlah Arraka, aku benci mengingatnya."

__ADS_1


" Ahahaha, baiklah. Ayo kita pulang."


Saat mereka ingin pulang, tiba-tiba ada yang menyerang.


Bugh....


" Arraka, kamu baik-baik saja."


" Sial, aku tidak papa."


" Dia...?"


Hahahahah...


" Hay Kek, kita bertemu."


" Kau."


" Ya, aku adalah anak keturunan yang kamu buang."


" Fino." Ucap Arraka.


" Kau juga boleh memanggil namaku dengan sebutan Fino, tapi sekarang namaku bukan lagi Fino tapi Rantaka." Ucap Fino.


" Kau seharusnya tidak bisa kesini, bagaimana kau bisa kesini."


" Hmhehe jangan pernah meragukan kemampuanku Arraka."


Hiaattt cyahhhhh....


Aaaaarrghhhh...


Arraka dan Aurora terpental mendapatkan serangan dari Rantaka.


" Aku sudah muak dengan kalian." Emosi Rantaka benar-benar meluap.


" Dasar cucu durhaka, inilah yang aku takutkan. Zandala, Arrala brengsek kalian." Teriak Arraka.


Rantaka sangat marah ketika orang tuanya di rendahkan.


" Cukup orang tua, seharusnya kau kembali ke alammu. Disini bukan tempatmu, enyahlah!!!


Crashhhhh...


Rantaka mengikat Arraka dengan rantai besi.


" Seru juga, kalau aku bisa mengikatmu disini." Ucap Rantaka.


" Tidak Aurora, ini sangat berbahaya ayo pergi. Cepat pergi Aurora, dia berbahaya."


" Arraka, aku tidak akan pergi. Kita harus bersama, selamanya."


" Jangan Aurora." Sahut Arraka gelisah.


" Wuhahaha... lihatlah pasangan romantis ini, rela mati bersama rupanya akan ku kabulkan."


" Ahhhhh..." Teriak Aurora karena lehernya sudah terikat dengan tali milik Rantaka.


Bughhhh...


Rantaka terus membanting Aurora menggunakan tali itu ke bawah.


" Panah api Zwuahhhhhhh." Rantaka meluncurkan panah api ke arah Aurora.


Brushhhhhh...


" Auroraaaaaaaaaa." Teriak Arraka.


Aurora sekarat.


" A zi ra."


Saat ini Ghani sedang belajar, Nenek Ani datang.


" Cucu Nenek yang semangat belajarnya yahhhh."


" Iya Nek."


" Nihhh, Nenek buatin susu."


Saat Ani ingin menyentuh Ghani, tiba-tiba Ghani menghilang.


" Ahhh, Ghani."


Khirani yang melihat itu secara langsung, dengan cepat mengikuti energi Ghani.


" Mustahil." Ucap Khirani.


Bughhhh...


Ghani langsung menyerang Rantaka dengan pukulan keras.

__ADS_1


Azira melihat Ibundanya lemah terkapar dan tak berdaya.


" Brengsek, apa yang kau lakukan pada Ibundaku." Marah Azira.


" Hahaha, lawan yang imbang sudah datang rupanya."


Tanpa menjawab pertanyaan Azira, Rantaka langsung menyerang.


Hoyaaaaahhhh bughhh bughhhh...


Brahhhhhhhhh " Sial." Geram Rantaka serangannya tidak kena.


Hupppp Krakkk... brakkkkk bughhh...


Fwuahhhhh..." Dasar sialan." Gumam Azira dari tadi tanpa hentinya.


Mereka berdua bertarung sangat lama, terlihat power mereka sangat hebat.


Saat mereka berdua bertarung ada banyak kerajaan langit kena dampaknya, bahkan di bumi juga kena dampaknya.


" Aaaaa... apa itu." Pekik warga yang melihat cakar tangan keluar dari langit.


Angin kencang, pemadaman listrik dimana-mana.


Nenek Ani yang melihat Ghani menghilang menjadi panik.


" Ghani kamu dimana? Aaawww." Nenek Ani tertimpa lemari karena gempa.


Khirani sudah menemukan pintu demensinya, tapi dia tidak bisa masuk.


" Perasaanku tidak enak, sebaiknya aku kembali."


" Ahh sakit, kakiku ouhh tidak awww sakit." Ucap Nenek Ani tidak bisa bergerak.


Khirani kembali ke rumah Ghani dan merasakan gempa.


" Astaga, rumah ini bergerak ada apa ini apa nenek itu baik-baik saja." Ucap Khirani berusaha mencari nenek ani.


" Tolong, tolong saya." Teriak nenek ani.


" Astaga, aku harus menolongnya." Pekik Khirani melihat Nenek Ani tertimpa lemari besar.


Setelah selesai menyingkirkan lemari itu, Khirani membawa nenek ani ke demensi yang tadi.


" Maaf ya nek, aku harus membawa nenek kesini." Ucap Khirani sedikit bersalah kemudian memandang pintu demensi.


" Kenapa aku tidak bisa masuk kesini." Guman Khirani.


Di dalam demensi.


Fwuahhhhhhh... bughhh...


" Kurang ajar, kenapa kau membunuh ibundaku bangsat." Kali ini Azira benar-benar marah.


" Hahahah... karena dia adalah musuhku, kau juga seharusnya mati." Sahut Rantaka walau sudah terpojok dengan kekuatan Azira.


" ****.... sial kau heahhhh." Azira membanting Rantaka.


Di luar demensi.


Semua peri datang ke Khirani.


" Khirani, apa kamu bisa merasakan sesuatu yang aneh."


" Kalian datang kesini, kenapa bisa."


" Kami melacakmu, energi Ratu."


" Aku merasakan energi Ratu menghilang dalam demensi ini." Sahut Khirani.


Semua peri melihat ke arah nenek ani, Khirani paham.


" Ahh itu bisa aku jelaskan, yang terpenting sekarang adalah Ratu." Ucap Khirani.


Salah satu peri, mengusulkan untuk menyatukan kekuatannya.


" Kita bisa menyatukan kekuatannya untuk melihat yang terjadi di dalam, tapi kita tidak bisa masuk." Ucapnya menjelaskan.


" Itu tidak papa, yang penting kita harus tahu keadaan Ratu kita."


" Ayo, kita satukan kekuatan."


" Hmmmm..."


Mereka semua menyatukan kekuatan.


Hiahhhhhhhh...


*


*

__ADS_1


"


__ADS_2