Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 42 - Kita Cerai


__ADS_3

"Kirim padaku nomor yang mengirim foto panas itu nanti aku selesaikan, sekarang kamu harus pulang ini hujan lebat sekali nanti kamu sakit." kata Azira menarik tangan Layla yang awalnya jongkok kemudian berdiri.


Degggg,, jantung mereka berdua berdetak kencang.


Mata mereka saling menautkan dan terkunci selamanya.


Sedangkan Ridwan bergegas mengambil payung untuk Layla, tapi dia melihat Layla dengan laki-laki lain, mereka berpelukan dan itu membuat Ridwan marah dan menampar laki-laki itu sampai mereka bertengkar dan Layla sudah sakit hati dengan suaminya ia memilih ikut bersama Azira atau Ghani Marshel.


Bughhhh,, Ridwan menampar Azira.


"Dasar brengsek anda, berani-beraninya anda memeluk istri saya sialan." Ridwan memaki Azira, bukan takut justru Azira tersenyum dia ingin melihat reaksi Layla.


Bughhhh,, Ridwan kembali memukul Azira.


Saat Ridwan ingin memukul lagi, Layla langsung mendorong Ridwan.


"Cukup mas!" kata Layla.


"Kamu bela laki-laki ini ketimbang suami kamu Layla." geram Ridwan.


Layla hanya diam mendengar ucapan Ridwan.


"Apa kamu tahu Layla, tidak pantas seorang istri berpelukan dengan laki-laki lain selain suaminya!" teriak Ridwan.


"Apa yang akan kamu sampaikan Layla." batin Azira.


"Ummmm... sepertinya aku semakin yakin untuk tidak mempertahankan hubungan ini, kembalilah ke istrimu si Dona dan juga anak kamu Stela, biar bagaimanapun aku sudah keguguran dan tidak ada lagi harapan membina rumah tangga bersama orang yang tega berbohong demi kualitas kenikmatan, aku tidak bisa! Aku minta cerai." ucap Layla.


Deggggghhhhhh... bagai disambar petir disiang bolong itulah yang dirasakan Ridwan.


"Kamu bicara apa La, aku gak akan menceraikan kamu, aku cinta sama kamu." ucap Ridwan.


"Kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu menikah diam-diam bersama dia bahkan punya anak." kata Layla lagi.


"Itu aku... aku... sebenarnya itu eemmm.. sebenarnya..."


"Ghani bawa aku." pinta Layla.


Dengan senang hati aku membawa Layla dari situ, tapi saat aku ingin membawa Layla, Ridwan menghentikanku.


"Jangan pernah berani menyentuh istri saya apalagi menyentuhnya." kata Ridwan.


"Istri anda yang mana yahh, yang tua apa muda." sahutku.


"Kurang ajar...." marah Ridwan.


Bughhhh


Bleshhhhhh


Aku berhasil menangkis pukulan Ridwan dengan mudah, karena dia bukan tandinganku.


Aku berebut dengan Ridwan dan aku juga khawatir dengan Layla yang wajahnya pucat.


Brukkkkkk,, aku menendang Ridwan sedikit dengan energi sehingga ia terpental cukup jauh.


Aku langsung menggendong Layla dan membawanya ke rumah dengan mobil.


"Tungguuuuu.... jangan bawa istri sayaa......" teriak Ridwan.


Bremmmm....,, aku membawa Layla ke rumah pribadiku.


Aku sangat khawatir dengan Layla yang wajahnya makin pucat.


"La, kamu masih bisa nahan iya kan sebentar lagi kita sampai sabar yahhh." ucapku sedikit risau.

__ADS_1


*


*


Chika masih belum percaya jika Ghani anak pintar itu meninggal, Beno yang melihat istrinya melamun menyentuh pundaknya.


"Kamu kenapa?" Tanya Beno khawatir.


"Gak papa ko mas, cuma gak percaya anak itu meninggal padahal anaknya pinter banget." Sahut Chika.


"Namanya juga sudah ajal sayang, kita gak bisa ngelawan." Ucap Beno.


"Iya juga sihh, tapi kenapa yahh orang-orang baik itu selalu dipanggil duluan." Ucap Chika berupaya memikirkan kegelisahannya selama ini.


"Itu karena allah sayang sama mereka, allah tidak mau hambanya banyak melakukan dosa dan hidup dalam dunia yang penuh kerusakan ini." Sahut Beno.


"Apa harus begitu sayang." Tanya Chika lagi.


"Iya sayang." Sahut Beno membelai belakang kepala istrinya itu tapi tiba-tiba Chika mual dan mau muntah.


Huekkkkk,,


Chika langsung pergi ke kamar mandi dan memuntahkannya di wastafel, Beno yang melihat langsung khawatir.


"Kenapa sayang? Kamu sakit?" Tanya Beno.


Huekkkk


"Enggak ko sayang tapi ini tiba-tiba aja mualnya." Sahut Chika tapi masih mual-mual dan kembali muntah.


Huekkkkkk..


Huekkkkkk..


Sonia yang mendengar langsung mendatangi Chika.


"Gak tau ma, mungkin masuk angin." Sahut Chika.


Huekkkkk,, Chika muntah lagi.


Sonia malah curiga kalau Chika ini hamil.


"Jangan-jangan kamu hamil, tanda-tanda kamu ini kek orang hamil lohh." Kata Sonia.


"Masa sihh ma, orang baru beberapa bulan." Sahut Chika.


"Bisa jadi sayang, aku kan top cer." Sela Beno.


"Apaan sihhh." Kata Chika.


"Periksa aja dulu Chik, siapa tau kan.


"Iya sayang, periksa aja siapa tau kan." Sambung Beno.


"Hemmmmmm.." Sahut Chika hanya berdehem.


*


*


Benar saja yang dikhawatirkan Azira, Layla demam dan harus di infus.


"Kamu sangat panas La, sebaiknya kamu istirahat ya.." Kata Azira.


"Kasihan Layla dia harus demam, sudah kehilangan calon anaknya malah diselingkuhi begitu." Batin Azira.

__ADS_1


"Ahhh iya aku lupa." Gumam Azira.


Azira lupa mengunjungi demensinya untuk menjenguk mamanya, kini dia harus mencari cara untuk menghidupkan kembali mamanya.


"Sebaiknya aku suruh Khirani merawat Layla." Batin Azira.


Azira mendatangi Khirani supaya menemani Layla.


"Ada apa pangeran?" Tanya Khirani.


"Saya minta kamu temani Layla, dia lagi demam."


"Bagaimana dengan tugas saya." Sahut Khirani.


"Itu gampang, biar saya yang urus." Tukas Azira.


"Eeee....."


"Apa?"


"Apa Layla bisa melihat saya." Ucap Khirani hati-hati.


"Pakai ini." Azira memberikan cincin pada Khirani.


Khirani mengambil cincin itu, dia sedikit ragu dengan cincin ini.


"Pakai." Titah Azira.


Khirani pun memakai cincin itu, seketika bayangannya dicermin langsung ada, Khirani sangat kaget.


"Kenapa bisa? Cincin ini...." Kata Khirani melongo lalu menatap Azira.


"Tentu saja bisa, karena aku yang membuatnya dan hanya aku yang bisa mengaktifkan cincin itu." Penjelasan Azira.


"Ouhhh." Sahut Khirani.


"Mulai sekarang kamu pakai cincin itu dan setiap kamu memakai cincin itu sayap kamu menghilang, dan sayap kamu akan kembali ketika cincin itu dilepas." Kata Azira menjelaskan.


"Hebat, ini penemuan yang hebat pangeran." Sahut Khirani.


"Saya ada urusan, sebaiknya kamu ke rumah saya dulu eee satu lagi jangan biarkan siapapun masuk kamu bisa menghajar mereka dengan cincin itu.


"Baik." Sahut Khirani kemudian menghilang begitu juga dengan Azira.


*


*


Brakkkk,,


Haaaaaahhhhh...


"Kenapa kamu ninggalin aku La, aku ini suami kamu. Kenapa kamu gak bilang kalau kamu keguguran." Teriak Ridwan dirumahnya sambil melihat foto Layla.


"Hiksss.... kenapa kamu La, kenapa kamu kaya gitu sama aku, aku ini suami kamu La." Ucap Ridwan lagi yang tidak peduli dengan keadaan dirinya.


"Kenapa keluargaku hancur begini, aku salah, aku banyak salah hiks... Ghani apa kamu menghukum Ayah begini Ghan, tolong kamu hadir sekali aja Ayah mohon..." Kata Ridwan meringis dan merintih.


Haaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh,, teriak Ridwan kemudian mengunci dirinya dikamar dengan mematikan lampu.


*Pov Ridwan*


Aku pikir bisa hidup tanpa Layla, makanya aku berani mengambil langkah untuk menikah lagi secara diam-diam, tapi ternyata aku begitu lemah dan tidak bisa hidup tanpa Layla.


*

__ADS_1


*


__ADS_2