
Ahh sial, lagi dan lagi menyebalkan.
*
*
Tiga hari sudah, saatnya Ridwan pulang dan dirinya mengabari Layla kalau hari ini dirinya pulang.
Drrt Drrt...
Sayang, hari ini aku pulang,, kata Ridwan menelpon Layla.
Layla hanya diam tak menjawab.
Ridwan bingung, tumben sekali istrinya tidak menjawab ketika dirinya menelpon.
Hallo sayang, apa kamu baik-baik saja,, tanya Ridwan mulai khawatir.
Pulanglah dengan selamat,, sahut Layla dengan nada yang sangat dingin.
Deghh,, jantung Ridwan seperti dipanah oleh pemanah api.
Kamu kenapa? tanya Ridwan.
Aku tidak papa? kalau mau pulang hati-hati dijalan,, kata Layla lagi lalu menutup telponnya sepihak.
Ckkk.... kenapa dia,, pikir Ridwan merasa aneh.
*
*
Brakkkkkkk
Rantaka mendatangi Chiya dan Malik, dia ingin membunuhnya.
Aaaaaaa,, teriak Chiya.
Chiya,, panggil Malik khawatir.
Brengsek kalian berdua akan ku bunuh kalian,, kata Rantaka dengan aura hitamnya.
Kamu tidak berhak melakukan apapun tentang kami,, sahut Malik lantang.
Oh ada tikus berani rupanya didepanku ini,, kata Rantaka.
Malik menyembunyikan Chiya dibelakang punggungnya.
Bangsaaaaaat, cepat berikan Chiya padaku dia harus melayaniku seumur hidupnya,, teriak Rantaka lalu menangkap Chiya.
Aaaa lepaskan, ikhh lepaskan aku tidak mau ikut sama kamu,, kata Chiya mencoba memberontak.
Jangan harap! sahut Rantaka.
Lepaskan istriku,, kata Malik.
Coba saja,, sahut Rantaka.
Kurang ajar!? kata Malik geram bahkan rahangnya mengeras.
Mas, mas malik pergi aku gak mau mas terluka karena aku,, kata Chiya.
Tidak, tidak Chiya. Kita akan selalu bersama hidup sampai mati, mas akan menyelamatkan kamu. Kata Malik.
Henmm adegan yang romantis,, sela Rantaka.
Aaarrhhhh,, teriak Chiya karena Rantaka mencengkeram rahangnya dengan kuat.
__ADS_1
Persetan lepaska istriku sialan,, bentak Malik.
Kau bukan tandinganku,, sahut Rantaka datar.
Bruashhhhhhh brakkkk,, Rantaka terpental.
Aaarrgggghhhh,, teriak Rantaka yang kesakitan karena punggungnya mengenai dinding saat terpental tadi.
Kauuuu,, kata Rantaka melihat Azira di depan.
Sudah aku bilang jangan mengganggu orang,, ucapku.
Kau selalu saja menghalangiku, sialan! kata Rantaka.
Karena kau akan mati ditanganku,, sahutku datar.
Cihhhh... kita buktikan siapa yang akan mati nanti,, kata Rantaka kemudian menghilang.
Azira menolong Chiya dan Malik lalu menghilang.
Hahh,, Chiya dan Malik terkejut karena baik Azira dan Rantaka mereka berdua menghilang.
Kenapa kita harus bertemu dengan orang aneh sihh mas,, kata Chiya.
Aku juga tidak tahu, yang penting kita selamat ayo kita masuk,, kata Malik.
Chiya mengangguk dan tangannya digandeng oleh Malik.
*
*
"Aishh aww...." ringis Dina di toko ketika kopi panas menimpa tangannya.
"Astaghfirullah." kata Jono kaget.
"Mana yang sakit, biar saya obati nanti bisa infeksi kalau lama-lama." kata Jono sedikit khawatir dengan tangan Dina.
Jono langsung mengobati tangan Dina, Dina dari tadi memperhatikan Jono.
"Ni orang perhatian juga." batin Dina.
"Duhhh, gemetaran tangan saya pegang tangannya Dina, saya gak boleh gemetar." batin Jono.
Fuuuuuuuuuhhhhh... Jono meniup luka ditangan Dina dengan lembut.
"Udah gak sakit lagi kan." tanya Jono.
"Iya, makasih ya." sahut Dina.
Dina kemudian melanjutkan pekerjaannya, begitu juga dengan Jono.
*
*
Tok tok tok
"La, aku pulang La... kamu dimana? aku masuk yahhh, assalamualaikum." kata Ridwan yang baru saja sampai ke rumah.
Ridwan mencari Layla tapi tidak ketemu, Ridwan bingung. "Layla kemana sihhh, aku datang kok gak disambut." kata Ridwan heran.
Ridwan kemudian menelpon Layla, Drrrrrrt.... Drrrrrrert.... tapi Layla sama sekali tidak mengangkat. "Aaakhhhh, Layla kamu dimana sihh tolong jangan buat aku khawatir." ucap Ridwan.
Disebuah rumah sakit dengan tatapan kosong, layla meneteskan air mata, matanya tertuju di brankar ada seonggok daging yang tertidur pulas.
"Kenapa kamu ninggalin bunda, bunda sayang sama kamu Ghani hiks....hiks...hiks... bunda sayang sama kamuuu....." kata layla lemas.
__ADS_1
Perawat masuk.
"Maaf bu, kita mau membersihkan jenazahnya dulu nanti setelah ini jenazahnya mau dibawah kemana?" tanya perawat.
Layla tersenyum kecut "Bawa ke rumah saya aja, nanti saya siapkan kalau kalian ingin memandikannya silahkan." ucap Layla dengan gontai keluar.
Kemudian Azira muncul dan menarik tangan Layla. "Kamu ikut saya bisa." kata Ghani atau Azira.
"Apa kamu sudah gila, hah! saya ingin mengurus pemakaman anak saya, jangan ganggu saya." ucap layla ketus lalu menghempaskan tangan Ghani. "Minggir, jangan halangi saya." ucap layla lagi.
Ghani Marshel tersenyum melihat kepedulian Layla pada dirinya. "Layla aku minta maaf sudah bikin kamu sesek begini, tapi aku janji akan membuka aib busuk suamimu itu." batin Ghani Marshel.
*
*
Ridwan sedang menunggu Layla, tapi samar-samar Ridwan mendengar suara ambulance makin dekat ke rumahnya, Ridwan kemudian membuka pintu dan melihat ambulance singgah didepan rumahnya dan ada istrinya. "Layla..." kata Ridwan kemudian mendekati Layla.
Tidak lama kemudian mayat Ghani keluar dan itu membuat Ridwan mematung. "Layla, ini sebenarnya apa yang terjadi kenapa Ghani ada disitu.... dikeranda." kata Ridwan.
"Kamu sudah lihat sendiri dan itulah kenyataannya." sahut Layla, kemudian Layla menyuruh untuk masuk. "Pak masuk aja, letakin anak saya disini." kata Layla.
Semua sudah siap dan banyak tamu yang berdatangan, Chika dan anak murid lainnya berduka.
Ridwan masih belum ngeh dengan kandungan Layla, dia tidak menyadari perut istrinya rata.
"Diva gak nyangka kalau Ghani secepat ini hiks....hiks...hiks... meninggalkan kita." kata Diva menangis terisak-isak.
"Iya Div, Safana juga gak menyangka hiks...hiksss..." kata Safana juga.
Azira hanya bisa melihat dari jauh acara duka itu, disitu dia bisa melihat energi Ridwan yang tidak baik. "Sebenarnya apa yang disembunyikan Ridwan." batin Azira, Azira merasa ada bahaya yang mengiringi Layla. "Aku harus menjaga Layla, aku yakin energi tadi sangat tidak baik." batin Azira.
Pemakaman Ghani berlangsung duka yang mendalam, semua orang satu-persatu pergi meninggalkan makam kecuali Layla yang masih setia jongkok di samping batu nisan Ghani dengan tatapan kosong.
"Layla ayo kita pulang." ajak Ridwan.
"Tinggalkan aku sendiri, aku hanya ingin bersama anakku untuk terakhir kalinya." sahut Layla.
Akhirnya Ridwan menuruti kemauan Layla. "Baiklah, aku tunggu kamu dimobil yahhhh harinya sangat mendung sepertinya sebentar lagi hujan akan turun." kata Ridwan.
Ridwan kemudian menunggu Layla dimobil.
Tik tik tik tik... hujan mulai turun satu pertitik membasahi tubuh Layla dan tiba-tiba...?
Raaaaaakkkkkk... suara hujan itu langsung bergemuruh lebat seketika.
"Sampai kapan kamu menangis, air mata kamu terlalu berharga Layla, aku tidak mau melihatmu menangis." kata Azira sambil memayungkan agar Layla tidak kehujanan.
"Ghani Marshel, apa aku ini bodoh. Aku kehilangan semuanya, calon anakku, anak angkatku bahkan sekarang perselingkuhan suamiku hiks...hiks... dunia ini terlalu kejam Ghani." kata Layla sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Darimana kamu tau suami kamu selingkuh." tanya Azira.
"Ada seseorang yang mengirim foto panas mereka berdua sedang bercinta." sahut Layla.
"Kamu punya nomorku." kata Azira.
"Kemaren aku sudah menyimpan nomormu." sahut Layla.
"Kirim padaku nomor yang mengirim foto panas itu nanti aku selesaikan, sekarang kamu harus pulang ini hujan lebat sekali nanti kamu sakit." kata Azira menarik tangan Layla yang awalnya jongkok kemudian berdiri.
Degggg,, jantung mereka berdua berdetak kencang.
Mata mereka saling menautkan dan terkunci selamanya.
*
*
__ADS_1