Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 28 - Hampir Saja


__ADS_3

💓 KYAAAAAA... KENAPA AKU KESENGSEM BEGINI SENYUM-SENYUM BACA NOVEL💓


*


*


Sosok jahat yang terus mengintai Fino adakah peri jahat yang berkhianat 10 ribu tahun yang lalu, namanya Zakta.


" Sebentar lagi, pertarungan mereka akan dimulai hahahahahahah...lihat Arraka keturunanmu akan saling membunuh paman dan keponakan jahahahahah..." Tawa Zakta dalam demensi pribadinya.


Fino adalah reinkarnasi anak Zandala dan Arrala, cucu Arraka yang tidak di akui. Sedangkan Ghani adalah anak Arraka dengan Aurora yang tidak direstui alam.


Keturunan murni Arraka dengan Glani sudah lama musnah dan tak punya keturunan murni, sedangkan Aurora hanya memiliki Ghani atau Azira.


Sebenarnya setelah berpisah dengan Arraka, Aurora pernah menikah akan tetapi pernikahan mereka hancur akibat kekasih Aurora berpaling hati ke Arrala ( Putri Arraka ) dan itu membuat Aurora memutuskan untuk pergi dari istana dan membuat istana baru.


*


*


Peri bawahan yang sudah menyamar jadi Ghani bersiap menjemput Chika dari rumahnya, Rani minta supaya Ghani jangan terlalu berharap dengan Chika karena Rani merasa Chika bukan orang yang tepat untuk Ghani.


" Ghani, kamu mau berangkat nak?" Tanya Rani sambil membenahi pakaian kantornya.


" Iya." Sahut Ghani palsu.


" Mama harap Chika orang yang baik untuk kamu, entah kenapa Mama khawatir kamu akan patah hati."


" Apa maksud manusia." Batin Ghani palsu.


Rani yang melihat anaknya diam saja melanjutkan kata-katanya lagi.


" Mama bukan membebani pikiranmu, tapi Mama minta kamu pikirkan baik-baik tentang Chika." Pesan Rani.


" Iya Ma, Ghani berangkat dulu yahh."


" Iya sayang, hati-hati yahh."


Ghani palsu melakukan penyamaran selayaknya manusia, karena dirinya sudah berpengalaman hal seperti ini.


*


*


Layla menanyakan keadaan Ghani kecilnya kepada dokter.


" Dok, bagaimana anak saya?"


" Alhamdulillah bu, dia baik-baik saja untungnya cepat dibawa ke rumah sakit kalau tidak nyawanya tidak akan tertolong. Sekarang kondisinya masih lemah, jangan terlalu sering di ajak bicara dulu biarkan dia istirahat."


" Tapi kenapa anak saya bisa begitu dok, karena sebelumnya anak saya baik-baik aja."


" Saya juga belum tahu, saya baru menangani pasien seperti anak ibu nanti kita periksa lagi."


" Ouhh begitu ya dok, apa kami bisa menjenguknya."


" Boleh." Sahut dokter itu lalu pergi.


Ridwan dan Layla masuk ke ruang rawat Ghani, sangat jelas tubuh kecil itu saat ini sedang lemas.


" Ghani." Panggil Layla dengan penuh kasih sayang.


" Bunda...Ayah..." Sahut Ghani dengan lirih.


" Mana yang sakit sayang." Tanya Layla sambil membelai pucuk kepala Ghani.


Tiruan Ghani menggeleng pelan." Gue seperti ini karena kehabisan energi, pemilik tubuh asli sepertinya kehilangan energi extranya dan gue gak bisa menghilang begitu aja tanpa izin tubuh asli. Kalau terus begini, aku dan tubuh aslinya bisa... mati." Batin tiruan Ghani.


" Sayang, apa yang kamu pikirkan nak." Tanya Ridwan.


" Gak papa kok Ayah, Ghani cuma lelah aja." Sahut Ghani pelan.


" Ya sudah, istirahat ya sayang." Ucap Ridwan lagi sambil membelai tangan Ghani yang mungil.


Tidak lama kemudian Ghani tertidur karena pengaruh infus.


" Bunda, Ayah harus ke toko dulu Bunda gak papa kan di tinggal sendiri."


" Iya gak papa kok Yah, oiyahh nanti Ayah kasih tahu wali kelasnya Ghani ya kalau Ghani gak masuk sekolah karena sakit."

__ADS_1


" Iya Bunda, nanti siang Ayah kesini lagi."


" Iya Ayah."


Cup


" Ayahhh.."


" Heheh.."


*


*


Karena dipecat dari kerjaan barunya, Beno memutuskan untuk melamar kerja di perusahaan A.M. Company.


" Sesuai kriteria yang saya baca dari surat lamaran, kamu diterima sebagai admin di perusahaan ini."


" Benarkah itu." Ulang Beno sekali lagi.


" Iya, selamat yahh."


Mereka kemudian saling berjabat tangan, Beno sangat senang. Dengan perasaan gembira, Beno pulang senyuman yang mengembang bagaikan adonan yang empuk dibuat bolu.


" Gue harus bekerja keras, mungkin ini awalnya harus semangat." Gumam Beno di jalan setelah turun dari bus.


Tapi saat di jalan, ada yang melempar kaleng suprite mengenai kepala Beno.


Bughhj...


" Aww..."


Beno melihat ada kaleng di sampingnya, siapa yang melempar.


" Siapa yang ngelempar." Ucap Beno sambil celingak-celinguk mencari pelaku.


" Jahahah, lihat si miskin celingak-celinguk nyariin siapa yang lepar." Ucap Andi di atas motornya.


" Huhh, gila aja dia yang dulu digilai banyak cewe hidup miskin kayak gitu." Sambung Deni.


Beno tidak melihat ke arah Andi dan Deni jadi dia tidak tahu kalau Andilah yang melempar dengan sengaja.


" Ehh, kita ke rumah Ghani yuk." Ajak Andi.


" Emang dia ada dirumah."


" Gue kemaren lihat dia di kantor Mamanya."


" Serius lo."


" Iyalah."


" Ya udah kita kesana."


" Ayo."


Bremmmm.....


*


*


Ghani palsu sudah menunggu Chika di luar, Chika yang melihat Ghani sedikit canggung.


" Ayo aku antar."


" Iya."


" Tante, aku antar Chika dulu yahh."


" Iya Ghan, jagain anak tante yahh."


" Pasti."


" Mama kok ngomongnya gitu sihh."


" Iya gak papa, baguskan Mama minta tolong sama Ghani."


" Tapi jangan begitulah Ma, malu-maluin."

__ADS_1


" Sudah Chik, ayo kita berangkat."


" Iya, Chika pergi dulu yahh Ma Assalamualaikum."


" Wa' alaikumsalam."


Ghani palsu membuka pintu mobil untuk Chika, Sonia yang melihat itu hanya senyum saja.


DIJALAN...


" Jangan senang dulu, Mama bicara kaya gitu tadi cuma ngelantur aja ngigau."


" Kenapa?"


" Kenapa-kenapa, udah jalan aja."


" Ini saya tidak salah lihat, dia bersikap seperti ini sama Ghani alias Tuan Azira." Batin peri bawahan.


SESAMPAINYA DISEKOLAH TK...


Ridwan baru saja turun dari mobil dan Chika keluar dari mobil Ghani.


" Nahh itu dia." Ucap Ridwan yang melihat Chika turun dari mobil.


" Assalamualaikum." Ucap Ridwan.


" Ehh Pak Ridwan, Wa' alaikumsalam ada apa?" Sahut Chika.


" Saya kesini mau ngasih tahu aja, kalau Ghani hari ini gak masuk sekolah dia sakit."


" Ghani sakit." Ulang Chika, kemudian bertanya lagi." Ghani sakit apa ya Pak, saya lihat kemaren baik-baik aja."


" Kalau itu masih diperiksa sama dokter."


" Ouhh ya udah, moga cepat sembuh ya pak nanti siang saya sama anak-anak lain nanti jenguk Ghani."


" Terima kasih ya, sebelumnya mohon maaf saya pergi dulu."


" Ah iya pak, silakan."


Ridwan pergi sambil mengangguk kepala sedikit.


*


*


" Kenapa Ratu akhir-akhir ini sering pergi ke demensinya yahh." Ucap peri tanaman.


" Wahh aku tidak tahu itu, karena hanya ratu yang bisa masuk ke demensinya." Sahut peri hewan.


" Ahh sudahlah, tidak usah dipikirkan nanti juga Ratu kembali."


" Iya, kau benar."


*DEMENSI RATU*.


Aurora sedang menatap Azira yang berusaha mencari pintu keluar.


" Sampai kamu tua pun kamu tidak akan dapat pintu itu, Azira."


" Kan dah gue bilang, nama gue Ghani Marshel bukan Azira. INGAT ITU BAIK-BAIK! "


" Huh, anak ini sangat susah di ajak bicara." Kesal Aurora.


Aurora menggunakan kekuatannya untuk menarik Azira ke hadapannya.


" Apa-apaan ini, lepaskan." Teriak Azira.


Hufff...


" Aarghhh..." Rintih Azira memegang perutnya.


" Ibunda minta, yang sopan bicaranya. Ibunda akan mendidik kamu disini, patuhi peraturan disini." Tegas Aurora sampai matanya berwarna biru.


Mata Ghani melotot ingin keluar karena takut dan terkejut.


*


*

__ADS_1


__ADS_2