
π°πΊπ π»π°πΆπΈ πππΊπ° π±π°π²π° π½πΎπ π΄π» ππ΄π½ππ°π½πΆ πΈππ EHEM-EHEMππππ π°πΏπ°π»π°πΆπΈ ππ΄ππ°πΌπ° π²π΄ππ΄, π°πΊπ ππ°π»π°π· πΆπ°πΊ ππ°π·π·π·...
*
*
Azira terus-terusan dihajar oleh Aurora karena melakukan kesalahan saat berlatih.
" Fokuskan pikiran kamu, Azira."
" Cihhhh." Azira terus berdecih karena tidak suka dengan pelatihan ini.
" Jangan terus merungut atau Ibunda akan menghukummu."
Dengan sekali tebasan, Azira berhasil membelah air terjun itu dan membuat Aurora tersenyum.
KAU SUDAH BERHASIL AZIRA, TAPI INI BELUM CUKUP KAMU BELUM DIBILANG HEBAT.
" Aakhhh, aku sangat lelah bolehkah aku istirahat."
" Tentu saja, kenapa tidak boleh?"
Aurora menyuruh Azira duduk di bawah pohon yang rindang.
Prok prok prok
Aurora menepukkan tangannya tiga kali lalu datanglah seorang sayang membawakan makanan dan minuman yang lezat.
" Makanlah, kamu pasti sudah sangat lapar."
Azira bodo amat sekarang dia ada dimana yang terpenting sekarang perutnya tidak lagi keroncongan karena latihan yang berat.
Aurora memandang Azira dengan intens dan tersenyum sendiri.
KAMU AKAN MENJADI RAJA SAYANG, PERTARUNGAN KAMU YANG SEBENARNYA SEBENTAR LAGI AKAN DIMULAI KARENA ITU IBUNDA TERUS MELATIH KAMU.
Kemudian Azira teringat dengan kehidupannya yang sebelumnya, kali ini dia akan mencari cara untuk keluar sementara.
GUE HARUS BISA KELUAR DARI SINI, TAPI BAGAIMANA CARANYA.
*
*
Rayis masih terbaring lemah di kasur, ya! dia diselamatkan oleh seorang gadis yang sederhana kebetulan dia adalah tetangga Rayis.
" Kenapa dengan Om ini, kalau saja aku terlambat mengikutinya mungkin dia sudah mati minum racun itu." Ucap gadis itu bernama Grani.
" Grani, apa dia sudah siuman."
" Belum Bu, mungkin sebentar lagi semoga aja gak parah."
" Iya, Ibu lanjut kerja dulu yahh."
" Iya Bu."
Fyuhhhh... Grani menyeka peluhnya karena pagi tadi habis olahraga.
" Ahh iya aku belum mandi." Ucapnya.
*
*
Sering beriringnya waktu, Zakta dan Fino mulai akrab bahkan sekarang Fino melatih ilmunya untuk persiapan pertarungannya nanti.
" Fokuskan pikiranmu Fino, jangan sampai melesat."
Bwuahhhhhh...
Fino melempar sesuatu ilmu dari tangannya untuk membelah daratan dan itu berhasil.
BAGUS, AKU TIDAK SABAR MENUNGGU PERTARUNGAN KALIAN.
Chiya mencari Fino karena harus makan siang.
" Fino kemana sihh dicariin gak ada kebiasaan banget tuh anak." Kesal Chiya.
Malik keluar.
" Kamu mau kemana Mas?"
" Keluar."
" Iya aku tau kamu mau keluar tapi mau kemana?"
" Kantor."
Malik begitu dingin menjawab semua pertanyaan Chiya.
Chiya mengejar Malik sampai depan pintu.
" Mas." Mencengkram tangan Malik.
" Ada apa Chiya, aku buru-buru."
" Kamu tuh kenapa sihh, akhir-akhir sering pergi pagi terus pulangnya terlambat terus gak kayak biasanya."
__ADS_1
" Pekerjaanku numpuk, jangan terus mengacau!
Malik pergi tanpa menoleh ke Chiya dan melajukan mobilnya.
" Kamu kenapa sih Mas." Ucap Chiya lirih memandang mobil suaminya yang perlahan menghilang.
*
*
Chika seperti gelisah di meja kerjanya.
" Duhh... kok aku tadi bisa kasar sama Ghani yahh." Gumam Chika.
* FLASHBACK OFF *
" Besok-besok kamu gak usah anterin aku, gak enak dilihat guru lain malah ngejatohin citra bagus sekolah Tk ini. Apa kata guru yang lain, melihat guru anak-anak di antar sama kamu."
" Terima kasih, saya pergi dulu."
* FLASHBACK ON *
TOK TOK TOK...
" Ada apa anak-anak?"
" Bunda, kita jadi gak hari ini jenguk Ghani."
" Ya allah, Bunda sampai lupa. Ya sudah, Bunda siap-siap dulu yahh."
" Iya Bunda." Sahut Diva.
Tidak lama kemudian Chika keluar membawa beberapa buah-buahan.
" Ayo anak-anak."
*
*
" Layla." Panggil nenek.
" Mama, kok mama kesini."
" Mama mau jenguk Ghani."
" Tapi mama kan harus istirahat."
" Mama tuh kangen sama Ghani, mama juga bosen di rumah."
" Mhehehe.. Mama-mama ya udah yuk masuk."
*
*
" Bagaimana?" Tanya Aurora.
" Saya rasa perempuan itu tidak baik untuk Azira, Ratu."
" Hemm, saya sudah menduganya makanya saya menahan dia disini."
" Sekarang rencananya apa Ratu?"
" Kamu jauhi dia, tak usah bertemu dengannya lagi."
" Baik."
AHH SIALAN, AKU SANGAT MENGANTUK APALAGI SETELAH LATIHAN ENTAH KENAPA AKU SANGAT MENGANTUK.
Karena sangat lelah itulah yang membuat Azira mengantuk dan tertidur.
Aurora melihat Azira tertidur dia tersenyum dan membelai pucuk kepala anaknya itu.
" Jangan melawan Ibunda lagi Azira, saya sangat sayang denganmu kamu harus tinggal di sini selamanya."
*
*
" Khirani."
" Ratu."
" Aku ingin bicara denganmu, ikut aku."
SKIPPP...
" Kenapa kamu menghukum Ghani dulu, apa kesalahannya?"
" Kenapa Ratu menanyakan anak itu."
" Katakan saja, jangan membantah."
" Dia terlalu nakal dan egois Ratu, karena kenakalannya yang tidak bisa dimaafkan membuat saya mengutuknya."
" Membuat kesalahan apa dia?"
__ADS_1
" Dia balapan Ratu, akhirnya menabrak seseorang dan orang itu meninggal. Karena Mamanya sangat sayang banget sama dia, akhirnya Mamanya yang mengaku kalau dirinyalah yang menabrak makanya Mamanya yang masuk penjara bukannya berhenti Ghani malah main balapan liar dia tidak memikirkan perasaan Mamanya sendiri."
" Ouhh begitu yahh."
ANEHH, KENAPA RATU MENANYAKAN GHANI.
*
*
TOK TOK TOK...
Ceklekk...
" Bu Chika." Ucap Layla.
" Saya dan anak-anak mau menjenguk Ghani."
" Ouhh silahkan Bu, masuk."
" Bunda siapa?" Ucap tiruan Ghani lirih.
" Cepat sembuh yahh murid Bunda yang ganteng ini." Ucap Chika sambil mengelus dahi Ghani.
" Astaga, kok panas." Kaget Chika.
" Dari pagi tadi Ghani demam Bu, saya bingung harus bagaimana?" Ucap Layla sedih.
" Ghani gak papa bunda."
GHANI...
" Ouh iya ini ada buah untuk Ghani sama temen-temen di makan yahh."
" Terima kasih Bunda Chika."
" Iya sayang."
" Ee Bu Layla kayaknya kami gak bisa terlalu lama jenguknya ada yang harus di urus."
" Gak papa kok Bu Chika, justru saya seneng anak saya dijenguk."
" Ya sudah kami semua pulang dulu, ayo anak-anak ucap salam."
" Ghani, kami pulang dulu yahh Assalamu'alaikum."
" Wa' alaikumsalam." Sahut Layla dan Ani.
*
*
Rayis sudah siuman, dirinya bingung dirumah siapa dia.
SAYA DIMANA INI?
" Bapak sudah siuman, Alhamdulillah." Ucap Grani.
Rayis hanya melihat gadis cantik yang memakai hijabnya dengan sederhana tapi masih kelihatan cantik.
" Kamu siapa?"
" Saya Grani Pak, bapak saya temuin di hutan."
Rayis mengingat kembali apa yang sudah terjadi, iya! Rayis mencoba bunuh diri.
" Kenapa kamu menolong saya."
" Karena bunuh diri itu dosa pak."
" Tapi dosa saya sudah terlalu banyak."
" Apalagi kalau bapak bunuh diri makin tambah dosanya."
" Kenapa bisa begitu."
" Kan sudah dikasih tahu, bunuh diri itu dosa pak. Iblis suka kita bunuh diri, Tuhan gak suka hambanya bunuh diri."
KENAPA ANAK SANGAT HANGAT, SIAPA DIA.
" Kamu mengenal saya?"
" Tentu."
" Apa yang kamu tahu."
" Saya gak perlu menjabarkan semuanya tentang bapak, yang saya mau bapak semangat untuk hidup jangan diulangi yahh, ingat itu dosa."
" Grani, sudahhh... jangan diceramahi terus Pak Rayisnya."
" Ibu." Cemberut memanyunkan bibirnya setengah.
Rayis yang melihat Ibunya Grani melotot, dia mengenal Ibunya Grani.
DIA...
*
__ADS_1
*