Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 7


__ADS_3

💜 𝓢𝓮𝓶𝓸𝓰𝓪 𝓫𝓮𝓼𝓸𝓴 𝓳𝓮𝓻𝓲𝓱 𝓹𝓪𝔂𝓪𝓱𝓴𝓾 𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝔂𝓪𝓻𝓴𝓪𝓷


💛💛💛


Ridwan langsung membaringkan mamanya di kamar, dan Layla mengganti baju mertuanya itu.


" Mama kenapa yah?" Tanya Layla.


" Ayah gak sengaja nabrak mama." Sahut Ridwan was was.


" Astaghfirullah, kok bisa yah." Ucap Layla.


" Ayah gak tahu bunda." Sahut Ridwan.


" Ya sudah kita tunggu bunda sadar dulu." Ucap Layla.


Tidak lama kemudian Ani sadar sekitar jam 1 pagi, Ani membuka matanya dan mengucek matanya lalu tertegun sebentar dan akhirnya benar-benar sadar.


" Astaghfirullah aku dimana." Ucap Ani kaget sambil melihat ke sekeliling.


" Dimana ini." Ucap Ani takut.


" Gak papa ma, ini dirumah Ridwan." Ucap Ridwan.


" Ridwannn.. hiks hiks." Setelah melihat Ridwan Ani tiba-tiba nangis.


" Mama kenapa?" Tanya Ridwan bingung.


" Mama dah gak tahan sama papa kamu Wan." Sahut mama Ani.


" Mama." Ucap Layla kasiha.


Iya Layla tahu sekali tabiat mertua laki-laki nya itu, Ridwan kemudian memeluk mamanya untuk menenangkan.


" Mama, ada Ridwan disini. Setelah Ridwan keluar dari rumah, mama tidak akan bisa disakiti oleh siapapun termasuk papa." Ucap Ridwan.


☙☙☙☙☙


Rayis tidak tahu apa yang telah terjadi sama Ani, tapi perasaannya saat ini sedang berkecamuk entah bagaimana?


" Apa yang aku lakukan ini benar? Aku akui, banyak salah pada Ani." Ucap Rayis.


" Ani aku minta maaf." Ucap Rayis.


Pagi ini Fino kembali membuat ulah, dia tidak mau pergi sekolah keinginannya hanya main game.


" Fino sayang kok kamu belum mandi." Tanya Chiya.


" Gak mau, Fino maunya main game." Sahut Fino.


" Fino gak bisa kaya gitu dong, kamu harus sekolah." Ucap Chiya sambil mengangkat tubuh Fino untuk pergi ke kamar mandi.


" Gak mau." Fino berontak dan memukul wajah Fino.


" Aaahhh... aw sakitnya Fino...."Teriak Chiya.


Para pelayan yang mendengar teriakan nyonya Chiya langsung mendatangi.


" Nyonya ada apa?" Tanya para pelayan.


" Astaga nyonya?" Ucap salah satu pelayan lalu membantu Chiya berdiri.


" Ada apa ini." Ucap Malik yang tiba-tiba ada dibelakang.


" Ini pak, den Fino." Sahut pelayan.


Malik menatap Fino dan menyuruh para pelayan untuk ke belakang.

__ADS_1


" Kalian semua kembali bekerja, biar saya yang urus." Ucap Malik.


" Baik pak." Sahut para pelayan lalu pergi.


" Chiya kamu juga pergi, aku mau bicara sama Fino." Ucap Malik lagi.


" Kamu mau bicara apa sama Fino, jangan marahin Fino yahh." Ucap Chiya.


" Hmmm." Sahut Malik hanya berdehem.


Chiya pun pergi meninggalkan Malik dan Fino berdua di kamar.


Malik terus menatap Fino dengan seksama, jujur di saat mamanya ada di rumah Fino teratur dalam hal semua tugas walaupun harus di omelin sama mamanya.


" Fino." Ucap Malik.


" Huh." Fino membuang mukanya.


Shiiiiitttt, Malik menjewer telinga Fino.


" Sakit papi...." Rintih Fino sambil menangis.


" Kamu mau sekolah atau tidak." Ucap Malik.


" Hiks... hikss mau pi.. Fino mau sekolah." Ucap Fino sambil nangis.


" Bagus, cepat mandi papi tunggu dibawah." Ucap Malik dengan wajah menyeramkannya.


" Iya pi." Sahut Fino lalu lari ke kamar mandi.


ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡


Saat sarapan pagi di rumah Ridwan, Layla mengusulkan untuk menyekolahkan Ghani.


" Yah, kayaknya kita harus masukin Ghani ke sekolah deh." Ucap Layla.


" Emmm.. dimana yahh." Pikir Layla.


" Ghani, Ghani siapa?" Tanya Mama Ani karena dari tadi bingung.


" Ehe, mama pasti belum tahu tentang Ghani bun." Ucap Ridwan.


" Memang Ghani siapa, mama belum tahu. " Sahut mama Ani sekali lagi.


" Jadi gini ma, waktu kami pertama kali pindah kesini malah nabrak anak kecil kisaran 5 tahun karena orang tuanya gak ada kami rawat deh namanya Ghani anaknya ganteng ma, imut lagi gemesin dehh." Ucap Layla sambil bercerita dengan semangat.


" Kayaknya Layla benar-benar senang kalau bercerita tentang Ghani." Batin Ridwan.


" Wahh mama belum ketemu nihh, kalau kamu ceritanya sampai begitu pasti anaknya pinter." Sahut Mama Ani.


" Ghani emang anak pinter ma, cuma tadi setelah sholat subuh aku suruh tidur lagi." Ucap Layla.


" Kok di suruh tidur lagi bun." Tanya Ridwan.


" Sebenarnya bunda mau cerita sama ayah tadi malam tapi gak tepat waktunya, jadi siang tadi waktu bunda menata laundry dan buat brosur dua preman datang mau macam-macam sama bunda tapi Ghani melawan preman itu dia bilang jangan dekati bundanya tapi.. malah Ghani yang di lempar sampai pingsan. Bunda takut, makanya tadi malam bunda periksa suhu tubuh Ghani dan benar dia panas pas subuh udah agak turun panasnya." Cerita Layla.


" Astaghfirullahalazim, kenapa bunda gak telpon sama ayah aja." Sahut Ridwan.


" Maaf ayah, bunda panik." Sahut Layla.


Ghani yang sudah agak nyaman badannya kembali bangun dan mendengar suara rame.


" Suara apa itu, kok rame sekali." Gumam Ghani yang kemudian keluar menuju suara suara berisik itu.


" Bunda." Panggil Ghani.


" Ehh Ghani, sudah baikan sayang." Sahut Layla menoleh ke arah Ghani dan langsung menyuruhnya duduk.

__ADS_1


" Ghani sayang duduk sini, ada yang mau kenalan sama Ghani nihh." Ucap Layla.


Ghani pun duduk di samping bundanya, dan menatap mama Ani Ridwan dan Layla yang melihat pun paham.


" Itu mamanya Ayah, Ghani panggil nenek." Ucap Layla.


" Benarkah." Sahut Ghani.


" Aku harus sopan." Batin Ghani.


" Hay sayang, kenalin nenek Ani." Ucap Mama Ani menyodorkan tangan kanannya itu.


Ghani pun menyambutnya dengan sopan lalu menjawab.


" Ghani." Sahut Ghani dengan sopan.


" Wahh pinternya." Ucap mama Ani.


" Apa Ridwan bilang, anaknya pinter ma." Ucap Ridwan.


" Iya Ridwan." Sahut Mama Ani.


" Ini kapan makannya kalau ngobrol terus." Sela Layla.


" Ahahah." Mama Ani dan Ridwan tertawa receh.


ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡


Fino terpaksa sekolah hari ini, karena di rumah dia di marahi papinya dia melampiaskan amarahnya di sekolah.


Fino langsung mendorong orang yang dia anggap mengganggu jalannya.


" Minggir." Ucap Fino mendorong salah satu temannya.


" Aww, Hati-hati dong jalan gimana sih." Protes temannya.


" Terserah aku." Sahut Fino dengan sombong.


" Huuu dasar." Sahut temannya yang di iringi anak lainnya.


ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡ᥫ᭡


Ridwan dan keluarga mau mendaftarkan Ghani sekolah di tempat biasa, tapi mama Ani inisiatif ingin menyekolahkan di sekolah elit tempat high school 25.


" Gimana kalau Ghani di daftarkan di high school 25." Tawar Mama Ani.


" Maa itu sekolah mahal, perbulannya aja 10 juta Ridwan dan Layla gak punya uang." Ucap Ridwan.


" Iya ma, gak perlu mahal yang penting Ghani sekolah dan pendidikannya bagus." Sahut Layla.


" Kalian berdua tenang aja, mama yang akan membiayai sekolahnya Ghani sampai dia sukses." Ucap Ani.


" Tapi ma, Ridwan dan Layla ingin kami berdua yang menyekolahkan Ghani dan membiayainya." Ucap Ridwan.


" Gak masalah, Ghani bisa masuk lewat beasiswa kalau mau? Nanti biar mama yang urus, pokoknya kalau mama yang urus semua beres." Ucap Ani.


" Ya sudah kalau gitu, terserah mama aja." Sahut Ridwan.


" Ghani seneng gak sekolah." Tanya Layla gemas.


" Aduhh, seneng enggak malu iya tapi aku harus pura-pura senang." Batin Ghani.


" Seneng kok bunda." Sahut Ghani dengan imutnya dimata Layla.


ᥫ᭡ Bacalah ᥫ᭡


"

__ADS_1


__ADS_2