Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 27 - Tertahan


__ADS_3

💓AKU CEGUKAN PAGI INI💓


" Hiks...hiks... Azira, hiks...hiks... kamu kembali sayang." Ucap Aurora sambil menangis.


Ghani yang dari tadi tidak mengerti apa yang dimaksud Ratu Peri ini bertanya.


" Ngapain lo meluk gue, pake nangis lagi." Ucap Ghani.


Aurora melepaskan pelukannya, dan mengatakan kalau Aurora ingin Ghani tinggal disini selamanya.


" Kamu mau kan tinggal disini, iya kan." Ucap Aurora.


" Maksud lo apa sihh, gue gak paham nihh malah nyuruh gue tinggal disini terus maksudnya apa bawa gue kesini dan gue gak tau lagi dimana ini." Oceh Ghani sambil melirik kesana-kemari.


" Hahahahaha..."


" Apanya yang lucu."


" Kamu lucu yahh."


" Dihhh, lucunya dimana yang ada gue kesel lepasin gue cepet."


" Enggak."


" Kenapa?"


" Karna kamu Azira, anak saya." Ucap Aurora.


Deghh...


" Apa maksudnya ini." Batin Ghani.


" Lo jangan ngaco, nyokap gue Rani Marshel."


" Iya, dia memang ibu kamu tapi saya tetap Ibundamu yang harus kamu hormati."


" Maksud lo apa?"


Aurora tersenyum, saatnyalah dirinya membuka kunci itu di dada Ghani. Benar dugaan Aurora, tanda lahir di dada Ghani terhubung dengan demensi pribadinya.


Dengan paksa, Aurora mengambil sesuatu dalam dada Ghani. Ghani merasakan sesuatu yang keras dan sakit keluar dari tubuhnya, benar saja sebuah pedang keluar dari tubuh Ghani.


" Aaachhh, apa yang lo lakuin aakhhh...sakit." Rintih Ghani kesakitan.


" Hiaaatt." Aurora berhasil mengeluarkan pedang itu dan seketika pakaian Ghani berubah memakai jubah hitam kebiruan dan mahkota agung di kepalanya. Ghani pingsan, setelah pedang itu di ambil oleh Aurora. Dan itu berdampak pada tiruan Ghani di rumah Ridwan dan Layla, ya tubuh Ghani seketika mengejang dan demam malam itu juga.


" Aarrghhhh.." Teriak Ghani kemudian pingsan.


Aurora yang melihat perubahan pakaian Ghani sekarang paham, kenapa Arraka ingin membunuh anaknya sendiri tapi dengan penuh keyakinan Aurora akan menjinakkan Ghani dan membuatnya patuh pada perintahnya.


" Aku harus membuat tanda kunci ditubuh Azira, jika dia melawanku." Ucap Aurora.


Aurora menyentuh perut Azira dan memberikan tanda bulan sabit dibagian pusat. Itu dilakukan Aurora untuk menghukumnya nanti jika melawan, Aurora kemudian membawa Azira ke kamar dan membaringkannya di ranjang kayangan.


Aurora ingat jika Azira berasal dari bumi, Azira kemudian menyuruh salah satu peri bawahannya menyamar jadi Ghani.


" Ada apa Ratu."


" Kamu turun ke bumi dan menyamarlah jadi Ghani."


" Saya tidak tahu, seperti apa rupanya."


" Kamu menyamar seperti orang ini."


Peri bawahan itu memandang Azira, kemudian berubah.


" Bagus, turun sekarang dan jangan katakan apapun termasuk Khirani lakukan sesuai perintah Khirani selama di bumi dan ikuti kemauan orang tuanya."


" Baik."

__ADS_1


Peri bawahan itu pun menghilang dari pandangan Aurora, kemudian Aurora mendekati Azira yang sudah dibaringkannya di ranjang.


Aurora membelai Azira dengan lembut, dirinya tak menyangka ribuan tahun lamanya akhirnya bertemu putranya.


" Mulai sekarang, kamu tinggal disini Azira." Ucap Aurora.


*


*


*


Saat Rayis tidak punya harapan lagi untuk hidup karena miskin, dia berniat bunuh diri di tempat yang sepi supaya orang tidak melarangnya lagi.


Rayis pergi ke hutan, membawa sebotol racun serangga.


" Untuk apalagi saya hidup, tidak ada gunanya. Saya malu, saya sangat malu." Batin Rayis yang terus berjalan ke arah hutan.


Sesampainya di hutan, cukup lama Rayis melirik ke sekitar hutan dirinya menitikkan air mata mengingat masa lalu.


" Maafkan aku Ani, maafkan aku." Itulah yang dikatakan Rayis.


Rayis mengingat semua kesalahannya pada Ani, dan itu terbayang bagaimana dirinya menekan Ani dan menyakiti hatinya.


Sambil sambil membuka botol racun itu, kemudian mengingat kembali dengan perlakuannya pada Ridwan dan istrinya.


" Ridwan, maafkan Papa nak. Papa gagal jadi Ayah yang baik untuk kamu, Papa tidak bisa membahagiakan kamu waktu itu." Batin Rayis lagi berkecamuk.


" Saatnya aku pergi." Gumam Rayis.


Rayis kemudian meminum racun itu, saat seteguk berhasil diminum Rayis tiba-tiba ada tangan yang merebut botol minum itu dan langsung menyangga tubuh Rayis yang sudah kena efek racun.


" Apa yang Kakek lakukan hahh, dasarr kalau ada masalah itu cerita jangan pakai jalan pintas." Ucap perempuan itu langsung membawa Rayis keluar dari hutan.


*


*


*


" Tuan, apa Tuan sudah mengerti." Ucap sosok itu.


" Maksudmu, aku harus membunuh Ghani betulkan."


" Wahh, tuan kecil benar-benar cerdas."


" Hahah...aku memang dari dulu sudah cerdas, tidak diragukan lagi."


" Ahh, tuan kecil memang hebat."


" Benarkahh, aku sangat senang kamu memujiku maaf bolehkah kamu memujiku terus."


" Boleh."


" Hahaha, lihat Ghani sekarang aku akan menghajar kamu habis-habisan."


" Benar tuan, dia harus mati."


" Cihhh.."


*


*


*


Layla berteriak memanggil suaminya.


" Ayahhh, Ayahhhh Ghani yahhhh." Teriak Layla.

__ADS_1


" Ada apa bunda, kenapa teriak-teriak."


" Ghani Yahh, Ghani dari tadi gak bangun-bangun hiks... badannya panas yahhh."


" Coba sini Ayah periksa, astaghfirullah panas sekali badannya. Bunda ayo kita bawa ke rumah sakit, Ayah takut Ghani kena step."


" Iya Ayah."


Ridwan dan Ghani langsung membawa tiruan Ghani ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ridwan menggendong Ghani dan Layla lari untuk menemui dokter.


" Dokter, dokter tolong anak saya dok." Ucap Layla.


Dokter dan perawat langsung memeriksa tiruan Ghani.


Layla tampak panik dan khawatir, Ridwan yang melihat langsung menenangkan istrinya.


" Bunda, duduk dulu yahh."


" Bunda khawatir yahhh, seharusnya tadi siang Ghani itu gak boleh main sama temennya di luar. Diluar kan panas, sekarang badannya panas kann."


" Sudah Bunda, kita tunggu dokter memeriksa dulu."


" Hiks..."


" Sudahh, tenang."


*


*


Azira mulai siuman, dan dia merasa tidur di kasur yang sangat empuk dan lembut melebihi kain sutra.


" Gue dimana? Uhukkk, ehh dada gue sakit banget."


Azira terkejut melihat dirinya tidur bersama wanita yang tak lain adalah Ratu Peri, Azira mengingat kembali apa yang terjadi.


" Lo? Heyy bangun, ngapain lo tidur sama gue dan lo bawa gue kemana si*lan." Maki Azira.


" Hemm.. coba kau lebih sopan padaku Azira, aku ini Ibundamu berkatalah dengan sopan." Ucap Aurora yang matanya masih merem.


" Azira, siapa yang lo maksud?"


" Kamulah, siapa lagi."


" Nama gue Ghani yak bukan Azira, jangan mengada-ada. Gue mau pulang, tolong balikin gue ke rumah." Rengek Ghani.


Aurora membuka matanya dan menoleh ke arah Azira.


" Kamu tetap disini, temani Ibunda."


" Gue dah bilang, gue mau pulang cepat tunjukkan jalannya."


Ghani langsung beranjak dari ranjang dan mencari pintu tapi tidak ditemukan.


" Mana sihh pintunya, tolong kasih tau gue dimana pintunya."


" Hoammmmmmm." Menguap.


" Cihhh, apaan sihh dia ditanya malah menguap apa dia beneran Ratu Peri." Gumam Ghani pelan.


Aurora hanya cekikikan tertawa mendengar gumamannya Azira, putranya.


" Sampai ribuan tahun, kamu tidak akan menemukan pintunya Azira." Batin Aurora sambil senyum.


*


*


SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN NOVELKU YAHHH.

__ADS_1


__ADS_2