Ghani Si Jenius

Ghani Si Jenius
Bab 34 - Rayis Kecelakaan


__ADS_3

Manusia tidak mengetahui kesalahannya sendiri dengan cepat akan tetapi manusia bisa dengan cepat mengetahui kesalahan orang lain.


*


*


Setelah mengalahkan Rantaka, Azira menyelamatkan Arraka dan Aurora dan membawa mereka keluar demensi.


Sampai di luar demensi Azira ambruk karena kehabisan tenaga brukkkk...."Aaarrghhh." Azira kesakitan.


Khirani dan peri lain melihat Azira sedang sekarat, begitu juga dengan Aurora tapi mereka tidak bisa melihat Arraka. "Ratu." Teriak mereka melihat Ratu mereka sekarat.


Khirani langsung menghampiri Ratu dengan panik. "Ratu, kenapa bisa begini Ratu?" Tanya Khirani.


Aurora yang melihat Azira juga sekarat hatinya sangat sakit. "Khirani, dekatkan saya dengan Azira." Pinta Aurora.


Khirani akhirnya mendekatkan Azira dengan Ratu. "Apa yang ingin Ratu lakukan?" Tanya Khirani.


Aurora tersenyum, dia kemudian mengatakan bahwa Azira adalah putranya bersama Raja langit yaitu Arraka. "Azira adalah putraku, aku tidak ingin dia kenapa-napa. Dekatkan lagi Azira padaku, Khirani." Ucap Aurora sekali lagi.


Ani yang melihat semua itu jadi bingung.


Hahh, bukannya itu Ghani kenapa namanya jadi Azira terus ini dimana? Tempatnya aneh menakutkan, ucap hati Ani.


Aurora memberikan seluruh energinya kepada Azira dan Aurora meminta untuk selalu setia kepada Azira. "Aku ingin kalian selalu setia dan tunduk padanya, biar bagaimanapun darahku mengalir di tubuhnya. Uhukkkkkkkk ishhhh..." Aurora kesakitan.


Khirani dan peri lainnya menangis tersedu-sedu. "Ratu, kami akan menyembuhkan Ratu." Sahut Khirani.


"Sudah cukup, aku tidak bisa tertolong lagi karena aku sudah menyerahkan semua energiku pada Azira."


Aurora perlahan mulai tersenyum, dia mengingat kenangan masa lalu bersama suaminya yang dulu yaitu Arraka.


"Ratu." Panggil mereka.


Aurora kemudian melihat Arraka menjulurkan tangannya. "Mari bersamaku." Ucap Arraka.


Aurora pergi bersama Arraka ke suatu tempat, dimana tidak ada yang mengganggu mereka.


"Ratuuuuuuuu." Panggil semua peri.


Tubuh Aurora menghilang dan itu tandanya sudah tidak ada lagi.


"Ratu, ini tidak mungkin." Ucap Khirani.


Ani berdehem. " Ehemmm, ini sebenarnya dimana?" Tanya Ani.


Khirani mendekati nenek ani. "Biar Azira nanti yang menjelaskan nek." Sahut Khirani.


Ani hanya mengangguk.


*


*


Akhirnya Chiya mengakui siapa sebenarnya Fino. "Mas, aku bakalan jujur tapi kamu harus janji sama aku gak bakalan marah." Ucap Chiya.


"Hemmmmm." Sahut Malik hanya berdehem.


Dengan susah payah dan keberanian, Chiya bercerita di masa lalunya. "Dulu sebelum aku nikah sama kamu, sebelum kamu melamar aku malamnya aku didatengin seseorang yang menakutkan. Dia bukan manusia, aku juga tidak tahu yang pasti dia bukan manusia. Saat itu ketakutan hiks... dia menyeringai seperti setan dia membawaku ke suatu tempat dia memintaku untuk diam aku takut banget waktu itu, dia bilang kalau aku tidak mengikuti perintahnya maka semua keluargaku mati. Akhirnya aku ikut sama apa yang dia lakukan, dia mengirim sesuatu ke rahimku hikssss ternyata aku disuruh mengandung anak yang aku tidak tahu itu anak siapa. Hiks... maafin aku, kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau." Ucap Chiya pasrah.


Happpp...


Malik memeluk Chiya dan mengecup keningnya sambil meneteskan air mata lalu membelai air mata. "Maafkan aku, tidak bisa melindungimu." Hanya itu yang di ucapkan Ghani.

__ADS_1


*


*


Cup...


Ridwan m*lum*t bibir milik Layla, tidak lupa tangannya bergerilya di gunung perbukitan yang kenyal-kenyal seperti jelli penunda perut lapar.🤣🤣🤣🤣


Layla tidak kalah agresif, dia juga melepaskan baju milik Ridwan.


" Ehmmmmm..." Desah Layla karena perbukitannya di em*t oleh bayi besar.


AUTHOR." LAKI-LAKI ITU TIDAK PERNAH DEWASA, KENAPA? KARENA DIA TERUS NEN SAMPAI TUA.


LAYLA." MESUM KAU THOR, JANGANLAH AKU MALU NIHHH ISHHHH...🤭🤭🤭🤭🤭


AUTHOR." MENURUT LO GUE HARUS TULIS CERITA MENDESAH LO KARENA MAU BUAT DEBAY, IYA BEGITU.


LAYLA." IYALAH, MASA ENGGAK.


AUTHOR." HAISHHHHH... NIH PERAN SATU NYUSAHIN GUE MULU.


Kini pakaian mereka terlempar dimana-mana, Ridwan mengisap benda kenyal-kenyal itu setsetset...membuat Layla menggelinjang nikmat tak terkira.


Layla kembali mendesah. "Aaaaaaaahhhhh terus uhhhhh."


Kini ******* itu makin panjang, sampai pada puncaknya Ridwan memakai surga dunia itu untuk membuat debay.


Jlebbbb...


"Aaaaaaaaaaaaaahhhh." Desah Layla makin kencang.


Tidak mau kalah, Layla ganti posisi kini dirinya yang di atas.


Plakkkk plakk plakkkk...


Ridwan terus memukul bok*ng milik Layla, agar Layla mendesah dan menyebut namanya.


"Aaaaaachhhh sayang Ridwan aku mau keluar."


"Keluarkan saja sayang, kita bareng-bareng yuk."


****....


"Aaaaaaahhhh."


Mereka berdua lelah bahkan berkeringat dan saling memandang. "Sayang terima kasih yahh, kamu sangat nikmat." Puji Ridwan.


Layla tersipu malu, dirinya tidak menyangka jika Mas Seperti itu. Mas, jangan begitu ahhh aku malu."


"Kenapa harus malu, kita kan suami istri." Ucap Ridwan kemudian memeluk Layla dari belakang tidak lupa menyentuh perbukitan itu tidak dimainkan cuma menempel saja.


"Tetap saja aku malu mas."


"Ehehehe... kamu aneh sayang."


Layla membalas pelukan suaminya itu dan kembali bercinta.


AUTHOR." AU AHHH PUSING GUE MAU NYERITAIN ADEGAN KALIAN, MAU GAMBAR ADEGAN KALIAN AKU GAK BISA NGELUKIS.🤭🤣🤣


*


*

__ADS_1


Saat Rayis dalam perjalanan naik motor mau pulang, tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan.


Brukkk...


"Aaaaarrghhh." Rintih Rayis.


Bughhh..


Rayis terlempar dan kepalanya terbentur trotoar.


Sedangkan mobil tadi langsung lari tak bertanggung jawab.


Banyak darah yang ada di tubuh Rayis, banyak orang juga yang langsung membantu.


"Kasihan yahh, moga aja dia gak kenapa-napa."


"Siapa yahhh yang nabrak."


"Kejam, menabrak malah ditinggal."


Itulah bisikan warga yang melihat Rayis terkapar.


Saat dalam ambulance, Rayis terus menyebut nama orang-orang yang dicintainya. "Ani, Ridwan, Malik. Aku minta maaf pada kalian, tolong aku sekarang. Aku sendirian, aku tidak mau itu tapi sekarang aku sepertinya akan sendirian." Gumam Rayis.


"Pak, bapak harus kuat sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Ucap sopir itu.


"Aniii..." Rayis terus memanggil.


Sesampainya di rumah sakit, Rayis langsung diperiksa.


"Innalilahi wa innailaihi raji'uuuunn." Ucap dokter dan suster bersamaan.


Iya Rayis meninggal karena benturan dan pendarahan otak, lalu kehabisan banyak darah.


*


*


Azira sadar dan membuka matanya, dia melihat ada banyak peri didepannya. "Apa yang kalian lakukan, dan ini kepalaku pusing sekali sialan." Ucap Azira.


Khirani menepuk pundak Azira. "Kamu bertarung dengannya, dan hampir mati untungnya Ratu sudah mengirimkan energinya sama kamu. Ratu juga sudah menitipkan kamu pada kami." Jelas Khirani memberitahu semuanya.


Masih memegang kepalanya. "Sekarang, Ibunda dimana?" Tanya Azira.


"Menurut kamu, apa dia selamat." Tanya Khirani kembali.


Huhhhh.. Azira menghela nafas kasar.


"Aku tidak akan bertanya lagi." Ucap Azira.


Azira kemudian memandang Nenek Ani, lalu berdiri dan menghampiri Nenek Ani. "Ayo kita pulang, nanti Ghani jelaskan dirumah." Ucap Azira.


Nenek awalnya merasa takut, tapi Azira meyakinkan jika dirinya tetaplah Ghani.


"Aku tetap Ghani cucu nenek." Ucap Azira.


Ani tersenyum dan langsung memeluk. "Nanti sampai di rumah ceritakan semuanya." Pinta Ani.


"Pasti Nek, pasti itu." Sahut Azira.


*


*

__ADS_1


__ADS_2