Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Aku terpaksa


__ADS_3

Gunawan sekarang tak kesepian lagi, jika berada di kontrakan. Semenjak adanya pak Amir yang menempati kontrakan sebelahnya.


Suatu hari, Gunawan habis membeli sesuatu. Saat itu juga, ia melihat Tasya yang baru turun dari angkot, Gun pun segera menghampirinya.


"Tasya," panggil Gunawan.


"Gun," jawabnya.


"Tasya, ko kamu sendirian, pangeran Doni kemana?" tanya Gunawan, dengan ngeledek.


"Dia belum balik. Lagi sift siang, nanti dia kesini kok. Katanya sih dia mau ke rumah, ada perlu juga sama kamu Gun,"


"Siap gue selalu di rumah ko. Kamu mau pulang kan? Kalau gitu bareng aja yuk!" ajak Gunawan.


"Ya udah deh, bareng. Thanks ya Gun, tebengannya." Gunawan menganggukkan kepalanya.


Tasya pun naik ke atas motor Gunawan, dan pulang bersama. Namun motor Gun berhenti saat melihat seorang wanita, di depan pagar rumah.


Gadis itu menatap Gunawan dengan raut wajah kesalnya. Lalu Gun mematikan mesin motornya, dan Tasya pun turun.


"Siapa Gun?" tanya Tasya.


"Dia Liana," jawab Gunawan, namun tatapannya masih mengarah kepada Meliana.


Meliana menatap Gunawan dan Tasya dengan tatapan tajam.


"Sayang." Gunawan menghampiri Liana, dan mencoba menyentuh tangannya.


Namun Liana menghindar, dan itu membuat Gunawan tertegun melihat sikap Liana.


"Bagaimana kabar kamu Gun. Sepertinya selama aku tidak bertemu kamu, sekarang kamu sudah mendapatkan pengganti yang baru!" sindir Liana.


Gunawan menggelengkan kepalanya.


"Itu gak benar sayang. Aku bisa jelaskan semuanya ke kamu, dan siapa gadis ini." Gunawan maju satu langkah, namun Liana justru mundur dan menghindar.


"Kamu tidak perlu berbohong lagi Gun. Aku sering melihat kamu selalu berduaan bersamanya, dan tertawa bahagia saat berboncengan!"

__ADS_1


"Maaf, kaya nya kamu salah paham deh! Aku dan Gunawan enggak ada hubungan apapun," Tasya menjelaskan, namun Liana tidak mau mendengarkannya.


"Saya gak ajak kamu bicara, kenapa kamu menjawab!" jawab Liana dengan ketus, membuat Tasya terdiam.


"Liana, yang di katakan Tasya benar. Aku dengan dia gak ada hubungan apapun. Dia itu ...."


"Aku gak mau mendengarkan kebohongan kamu Gun!"


"Sayang, aku gak berbohong. Aku mengatakan ini jujur, aku kangen banget sama kamu Liana." Kata Gunawan menggenggam tangan gadis yang sangat ia rindukan.


Liana melepaskan tangannya dari genggaman Gunawan dengan kasar.


PLAK!


Meliana menampar Gunawan dengan sangat keras di pipinya.


"Dasar pembohong. Aku melihat kamu, sering bersamaan dengan dia di atas motor. Tapi kamu masih mengelak!"


"Kamu jahat Gun! Setelah apa yang aku lakukan dan aku berikan kepada kamu. Sekarang kamu malah menyakiti hati aku, kamu bermain di belakang ku dengan dia!"


Gunawan menggelengkan kepalanya. "Sayang aku bisa jelaskan. Aku bukan pria yang seperti itu, aku justru juga mengkhawatirkan keadaan kamu, aku kangen banget sama kamu.


"Liana, aku mohon kamu jangan seperti ini. Aku cinta kamu,aku juga kangen banget sama kamu." Gunawan menggenggam tangan Liana.


"Lepasin Gun." Liana berontak.


Saat itu juga tepat di belakang Liana ada dua orang bodyguard, yang waktu itu pernah menghajar Gunawan.


"Ayo non, ibu sudah menunggu di dalam!" kata salah satu pria dengan wajah dingin saat menatap Gunawan.


Meliana mengangguk. "Gun, lepaskan tanganmu. Aku ingin kembali, aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi!"


"Tapi Liana, aku masih sangat merindukan kamu. Aku tidak bersemangat menjalani hari-hari tanpa melihat kamu." Gunawan masih enggan melepaskan tangan Meliana.


"Gun lepasin. Aku tidak ingin mereka menyakiti kamu lagi. Sepertinya memang aku harus menjauh dari kamu, agar kamu bisa tenang menjalani kehidupan kamu,"


Gunawan terdiam mendengar Meliana mengatakan itu. Entah kenapa hidupnya seperti hancur, saat gadis yang ia cintai harus menjauh darinya.

__ADS_1


Liana melepaskan tangannya dari Gunawan, dan berjalan menjauh meninggalkannya.


Saat Liana menjauh, dan masuk kedalam mobil. Gunawan tersadar dari lamunannya, lalu berjalan mengejar kekasihnya.


"Liana, jangan seperti ini sayang. Aku tidak ingin kamu menjauh dari aku!"


Namun sayang mobil itu semakin jauh darinya. Tubuh Gunawan lemas, saat ia tidak bisa menahan Liana untuk tidak pergi.


"Liana, kenapa kamu tega! Kenapa kamu ingin menjauh dari aku. Bukankah kamu yang bilang, kita harus memperjuangkan hubungan kita. Tapi sekarang justru kamu yang menyerah!"


Tasya melihat Gunawan seperti itu merasa tak tega, ia pun berjalan menghampirinya.


"Gun." Tasya menyentuh pundak Gunawan.


Gunawan menoleh ke arah Tasya, dan tersenyum kecut.


"Dia pergi syah. Dia menyerah untuk mempertahankan hubungan ini!" ada wajah kekecewaan pada Gunawan.


"Maafkan aku ya Gun. Gara-gara aku, kalian jadi bertengkar dan seperti ini!" Tasya merasa tak enak hati.


"Ini bukan salah kamu Syah" jawab Gunawan, terlihat lesu.


"Sekarang kita pulang Syah!" ajak Gunawan dan Tasya mengangguk.


Kini mereka sudah kembali ke rumah. Sejak kejadian itu, Gunawan kembali lesu, tak bersemangat.


Begitupun juga Meliana yang saat ini berada di dalam kamarnya, yang menangis sejak kejadian sore tadi.


Satu sisi dia bahagia bisa melihat Gunawan kembali, meskipun harus kecewa karena melihatnya dengan wanita lain.


Tapi di satu sisi lain, ia terpaksa mengatakan itu, untuk menuruti perkataan sang ibu. Karena kalau tidak, Gunawan bisa di sakiti oleh orang suruhan ibunya.


Meskipun Gunawan mempunyai beladiri, tetapi jika di keroyok dengan banyak orang. Liana juga akan khawatir dengan keselamatan Gun. Apalagi dia tau kekasihnya abis sakit sejak kejadian waktu itu.


"Maafkan aku Gun. Aku tidak ingin kamu di sakiti oleh orang suruhan ibuku. Sebenarnya aku sayang kamu, aku terpaksa mengatakan itu. Untuk menuruti perkataan ibu, agar menjauhi kamu,"


Liana, menangis saat menatap Gunawan di selembar foto. Lalu di kecupnya, lembaran kertas, terdapat gambar pria dengan yang senyum manis.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2