
Liana, menangis saat menatap Gunawan di selembar foto. Lalu di kecupnya, lembaran kertas, terdapat gambar pria dengan yang senyum manis.
Sejak kejadian itu, Liana dan Gunawan sudah benar-benar tak pernah bertemu. Bahkan sampai dua Minggu lamanya, tak ada kabar tentang mereka.
Sampai suatu hari, Ratna yang sedang libur bekerja, dan memainkan gitarnya. Mendengar ketukan pintu, ia pun berhenti main gitar. Saat di buka, ternyata ada sang kaka yang bernama Adnan, memberikan senyuman kepadanya.
"Iya kak Adnan, ada apa?"
"Itu di luar ada Liana, di antar kakaknya. Temuin mereka sana!"
"Liana, dan kakaknya. Tumben di antar, biasanya sendirian?" Adnan hanya menganggukkan kepalanya.
"Gak tau, yasudah sana kamu lihat aja. Kayanya Liana sedang sedih!"
"Sedih? Aku jadi kepo. Yasudah aku temuin dia dulu," Adnan mengangguk.
Ratna akhirnya keluar menemui sahabat dan juga kakaknya. Yang di mana mereka berdua duduk di kursi.
"Liana," panggil Ratna.
Liana, yang sedang menundukkan kepalanya, lantas melihat ke sumber suara. Ia tersenyum saat Ratna berada di hadapannya.
"Ratna." Liana segera menghampiri sahabatnya, lalu memeluknya.
Ratna pun nampak bingung, karena Liana menangis sesenggukan.
"Elo kenapa Liana? Kok nangis seperti ini, sebenarnya ada apa?" tanya Ratna masih bingung sahabatnya menangis.
"Sebenarnya Liana kenapa kak?" tanya Ratna ke Arga, kakaknya Meliana.
"Ratna ingin curhat dengan kamu, biarkan dia yang mengatakan masalahnya. Aku hanya mengantarkan adikku saja," jawab Arga, dengan lembut.
"Kalau begitu sekarang elo istirahat di kamar gue dulu! Kak aku antar Liana ke dalam dulu sebentar," ucap Liana dan Arga mengangguk.
Ratna mengantar Liana ke kamarnya, sedangkan Arga masih menunggu di kursi. Entah kenapa ada senyuman saat ia melihat gadis dari sahabat adiknya.
"Ternyata rasa ini, belum hilang Na." Arga menyentuh dadanya sendiri, bibirnya berbentuk senyuman.
Sedangkan di dalam kamar, Liana nampak murung. Ratna menyuruhnya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Sekarang elo istirahat, dan tenangkan dulu diri loe! Sekarang gue tinggal keluar sebentar, nanti gue kesini lagi ya!" suruh Ratna, dan Liana mengangguk.
Kini Liana berbaring, dan Ratna pasangkan selimut untuk sahabat. Setelah itu ia tinggalkan Meliana agar bisa beristirahat.
Kini Ratna kembali menemui Arga, yang masih duduk melamun.
"Ekhem ." Ratna berdehem.
Arga terkejut mendengarnya, lalu tersenyum melihat Ratna yang kini ada di sampingnya.
"Ratna,"
"Kakak mau minum apa?" tanya Ratna.
"Enggak usah Na. Aku tidak lama ko, aku harus berangkat lagi," jawab Arga, dan Ratna mengangguk.
"Oh iya? Bagaimana Liana, dia sudah tenang?"
"Dia sudah tenang. Sekarang sedang beristirahat di kamar," jawab Ratna.
"Syukurlah. Dia memintaku untuk di antar ke sini. Ratna tolonglah nasihati adikku, untuk mengikuti apa yang di minta ibu!" Arga memohon bantuan kepada gadis yang ada di hadapannya.
"Untuk masalah hubungan Liana dengan Gunawan? Itu maksudnya?" tanya Ratna kembali.
"Maksudnya aku di suruh menasihati Liana, untuk mengakhiri hubungannya dengan Gunawan? Kenapa bukan kalian, kenapa harus aku? Kamu kan kakaknya, harusnya kamu yang nasihati adik kamu, buka aku!" sindir Ratna.
Arga diam mendengar sindiran Ratna.
"Bukan begitu Na. Mungkin hanya perkataan kamu, yang dia bisa dengarkan. Untuk kebaikan dia juga, aku tak tega jika melihat Liana selalu di hukum ibu!"
"Terus aku harus meminta kepada adik kamu, untuk mengakhiri hubungan mereka? Enggak, aku gak mau! Aku hanya seorang teman, yang ingin melihat kebahagiaan pada sahabat ku. Aku juga gak berhak untuk meminta mereka putus,"
"Aku bukan orang jahat kak, aku juga gak tega melihat sahabatku sedih seperti tadi. Itu bukan hak ku juga untuk memaksanya. Apalagi mereka berdua teman baikku, gak mungkin!"
"Memang apa salahnya mereka mempunyai hubungan sih? Sampai mereka di paksa harus mengakhiri hubungannya. Apa karena Gunawan miskin, dan dinilai anak brandal?" Gun bukan berandalan, dia pria baik yang hanya saja kurang perhatian dari orang tuanya, yang sudah berpisah!"
"Ratna, dengarkan aku dulu! Aku juga tak tau, kenapa ibu begitu tidak menyukai dia. Ibu hanya meminta kami, untuk mengikuti apa yang ia katakan. Aku juga tidak ingin, kalau Liana nasibnya seperti aku, karena aku pernah melukai perasaan wanita yang ku suka!" kata Arga dengan wajah menunduk terlihat penyesalan.
Ratna merasa bersalah dengan apa yang di katakan oleh Arga. Karena dia tau, wanita yang di maksud siapa.
__ADS_1
"Rasa penyesalan itu, selalu hadir setiap waktu Na. Aku sudah menyakiti hati kamu, dan membuat kamu kecewa. Aku minta maaf!"
"Aku sudah melupakan itu, kamu jangan khawatir kak. Aku sudah memaafkan kamu, lagian benar kata ibumu. Aku hanya gadis miskin, yang tak pantas di sukai oleh pria yang seperti kamu." Ada senyuman getir saat Ratna mengatakan itu.
"Lagian gadis yang waktu itu kamu kenalkan, di saat ulang tahun kamu. Dia cantik, dan feminim. Tidak seperti aku yang seperti ini, cantik tidak, apalagi bersikap manis," Ratna terkekeh.
'Tapi bagiku kamu tetap wanita yang cantik dan unik. kamu mampu mengalihkan duniaku selama ini Ratna.' gumam Arga dalam hatinya.
"Semoga kamu bisa menemukan gadis yang mencintai kamu, dan pastinya keluarga kamu menyukai dia,"
'Kalau bisa, aku hanya ingin kamu Na. Karena jujur aku masih mencintai kamu, yang apa adanya di diri kamu. Kamu lucu, unik, asyik. Aku bahagia jika berada di dekat kamu. Pantas saja Liana begitu dekat dengan kamu, karena sikap kamu begitu dewasa, bisa menenangkan dia. Itulah ke unikkan kamu yang jarang di miliki orang lain.'
"Amiin ... tapi kalau bisa aku ingin yang seperti kamu," jawab Arga membuat Ratna terdiam mendengar.
Arga tau, kalau Ratna mendengarnya merasa risih. Ia pun segera melihat jam yang berada di tangannya.
"Ratna, kalau begitu aku pamit ya! Sudah jam segini, aku sudah ada janji dengan seseorang,"
"Iya, hati-hati!" ucap Ratna, membuat Arga tersenyum mendengarnya, dan mengangguk.
Arga pun kini, sudah meninggal rumah Ratna.
Setelah kepergian Arga, Ratna pun kembali masuk ke dalam kamarnya, dengan membawakan teh hangat untuk Liana.
"Liana, nih gue bawa teh hangat. Di minum dulu ya! Setelah itu, elo bisa cerita sedikit-sedikit masalah elo ke gue!"
Liana pun duduk, lalu meminum teh hangat buatan sahabatnya. Ratna menatap wajah sedih pada teman baiknya, terlihat sekali dia begitu amat sedih, dengan masalahnya.
Sebenarnya Ratna sangat tidak menyukainya atas sikap ayah dan ibu sahabatnya. Yang terlalu angkuh dan sombong dengan apa yang di milikinya. Karena keinginan orang tuanya, hingga anak menjadi korban dan merelakan kebahagiaan untuk ke egoisannya. Terutama Bu Fitriana, dia tidak peduli meskipun hati anak-anaknya terluka dan kecewa.
Setelah meminum teh hangat, Liana sedikit lebih tenang. Tidak seperti awal dirinya datang ke rumahnya.
"Elo kenapa?"
"Ratna, gue putus dengan Gunawan." Jawab Liana, dengan menutup wajahnya dan menangis.
Ratna terkejut mendengar pengakuan Liana, ada rasa tak percaya kenapa bisa mereka mengakhiri hubungannya. Padahal dirinya tau, kalau mereka berdua saling mencintai, dan akan berusaha mempertahankannya.
Bersambung ....
__ADS_1