Gunawan Untuk Meliana

Gunawan Untuk Meliana
Liana kecewa


__ADS_3

Ratna hanya tersenyum mendengar Liana bicara. Namun dirinya masih memikirkan apa yang di katakan oleh Bu Fitriana, kalau sang ibu adalah mantan istri pak Pujianto.


Adam yang selalu berada di samping Ratna terus menggenggam tangannya. Saat itu juga terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar. Rupanya yang datang adalah, pak Syafi'i, Bu Nur dan putra bungsunya.


"Eeeh ada Liana, Gun, dan Adam." Sapa Bu Nur, dan mereka pun mencium tangan kedua orang tua Ratna.


Pak Syafi'i melihat sang putri yang sejak tadi selalu terdiam. Saat ia menghampiri Ratna ia melihat ada luka di bagian lengannya.


"Lengan kamu kenapa Nak?" tanya pak Syafi'i.


"Jatuh, terkena ujung meja," jawabnya.


Bu Nur melihat sikap putrinya, seperti sedang tidak baik. "Ratna, ada apa? Kenapa ko kamu sejak tadi ibu perhatikan selalu diam?"


"Harusnya yang bertanya itu aku Bu? Apa yang ibu rahasiakan dari aku?"


Bu Nur terkejut dengan apa yang Ratna katakan kepadanya. Begitupun juga pak Syafi'i.


"Kepalaku pusing, aku mau istirahat. Maaf semuanya aku tinggal kedalam." Ucap Ratna yang berjalan meninggalkan semua orang yang berada di ruang keluarga.


Bu Nur merasa sedih atas sikap putrinya. Karena merasa tak tega Liana menyentuh tangan beliau dan membawanya untuk duduk.


Adam menceritakan apa yang sudah terjadi, Bu nur dan pak Syafi'i terkejut dengan apa yang ia dengar. Kalau Bu Fitriana mengatakan tentang masa lalunya.


"Bu, apa benar kalau ibu dan ayahku pernah menjadi suami istri? Apa benar aku . mempunyai kakak yang sekarang sudah tiada?" tanya Liana dengan mata mengembun, Bu Nur tak tega melihatnya.


"Sebenarnya aku juga terkejut dengan kebenaran yang ibuku katakan. Jujur aku tak tau, begitu pun juga Ratna. Pantas saja selama ini, ibu selalu melarang ku untuk berteman dengan Ratna. Mungkin karena masalalu kalian," Bulir bening pun berhasil lolos dari Liana.


Bu Nur menghapus air mata Liana, lalu membawanya kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Nak, maafkan kami yang sudah merahasiakan itu dari kalian. Semuanya sudah kami tutup rapat-rapat dari kalian, untuk kebaikan kalian."


"Maksudnya Bu?" tanya Liana yang masih memeluk Bu Nur, ia sudah menganggap beliau seperti orang tuanya sendiri.


Flashback.


30 tahun lalu, Bu Nur pernah menjadi istri dari pak Pujianto. Ia memiliki seorang Putri kecil bernama Luna, yang masih berusia 2 tahun. Keluarga kecil yang terlihat bahagia, hingga membuat kebahagiaan itu hancur dengan adanya orang ketiga di tengah-tengah mereka.


Saat itu Bu Nur adalah wanita yang sangat di cintai pak Pujianto. Mereka memiliki seorang ART, bernama Yatmi. Di saat yang bersamaan, pak Puji mencari pengasuh untuk putri mereka.


Di saat itulah Fitriana datang untuk bekerja di tempat mereka. Karena pak Pujianto berwajah tampan dan kaya raya, ia pun jatuh hati kepada majikannya.


Karena Bu Nur juga mempunyai toko kue, ia pun sibuk dengan mengurus usahanya. Saat itu juga Fitriana mengambil kesempatan di saat pak Pujianto seorang diri di rumah, di saat Luna tertidur.


Pak Pujianto, sebenarnya tak menyukai sikap pengasuh putrinya. Yang terus menggoda dirinya, di saat sang istri ke tokonya.


Fitriana tak ingin rencananya gagal untuk menggaet majikannya. Dengan cara licik ia meminta keluarganya untuk minta bantuan ke paranormal, agar ia bisa memikat Pujianto untuk menjadi miliknya.


Bahkan Bu Nur menyadari perubahan sikap suami, setelah satu bulan kemudian. Suaminya yang biasanya selalu bersikap manis kepadanya, kini acuh dengannya dan juga putrinya.


Bahkan Bu Nur sampai memergoki, kalau Fitriana tidur bersama suaminya. Di saat itu juga ia pergi dari rumah besar itu, dengan mengajak putri kecilnya.


Rasa sakit, dan kecewa ia rasakan. Saat dirinya melihat suami dan ART nya bercumbu mesra di kamar mereka.


Ternyata dari perpisahan dengan sang suami, kondisi kesehatan Bu Nur terganggu. Ia jatuh sakit, dan Luna pun di asuh oleh neneknya.


Setelah beberapa bulan kemudian, Bu Nur sudah mulai berdamai dengan kondisinya yang sudah berpisah dengan sang suami.


Bu Nur terpaksa menjual toko kue nya, dan pergi dari tempat yang pernah membuatnya kecewa. Apalagi ia mengetahui, kalau mantan suaminya sudah menikah dengan Fitriana.

__ADS_1


Enam bulan kemudian Bu Nur di jodohkan oleh orang tuanya, dengan pria baik bernama Syafi'i. Laki-laki baik yang juga juga pintar mengambil hati putri kecilnya. Hingga sebulan kemudian, akhirnya mereka pun menikah.


Kini bu Nur mulai merasakan kebahagiaan, karena memiliki suami baik yang sabar dan mampu membuatnya mulai mencintainya. Hingga mereka pun di karuniai seorang bayi laki-laki yang di beri nama Adnan.


Namun Bu Nur di buat sedih kembali, saat putri kesayangannya di bawa oleh mantan suaminya. Karena belum di berikan momongan, mereka akhirnya membawa Luna untuk tinggal dengannya.


Namun baru dua bulan tinggal bersama mereka. Bu Nur dan pak Syafi'i harus mendengar kabar kalau Luna sakit, dan di rawat.


Sampai akhirnya Bu Nur dan pak Syafi'i pun datang untuk menjenguk putri mereka. Namun sayangnya terlambat, ia harus mendengar kabar duka. Kalau Luna sudah tiada untuk selamanya.


Di saat itu juga, Bu Nur menangis histeris atas kepergian putri yang sangat ia cintai. Pak Syafi'i pun juga merasakan hal yang sama, sudah kehilangan Luna, anak sambungnya.


Pak Pujianto sangat menyesal, karena ia tak berhasil menyelamatkan putri kecilnya. Di saat itu juga, Bu Nur dan pak Syafi'i menutup kisah masalalu nya itu. Kalau dirinya pernah memiliki hubungan dengan Puji, dan Fitriana.


Flashback of.


Liana menangis saat mendengar cerita dari Bu Nur, apalagi saat mengetahui ternyata ibunya seorang pelakor, yang merebut kebahagiaan orang lain.


Gunawan tak dapat berbuat apa-apa, selain menenangkan istrinya. Bu Nur tak tega melihat Liana yang nampak hancur saat mengetahui ibunya adalah seorang wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan dirinya.


"Maafkan ibu Liana Bu. Jujur aku sangat kecewa, karena ibuku adalah orang yang sudah merusak kebahagiaan ibu." Liana dengan isak tangisnya.


"Meliana, sudah Nak. Itu semua sekarang hanya tinggal kenangan, yang harusnya tak perlu di buka kembali. Yang terpenting, doa' ibu untuk Luna takkan pernah ada akhirnya." Sambil membelai lembut wajah Liana.


"Kamu jangan membenci ibumu, bagaimana pun ia adalah wanita yang sudah melahirkan kamu." Liana mengangguk.


Bu Nur meminta Gunawan untuk membawa Liana untuk pulang dan beristirahat. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil, membuatnya sangat khawatir.


Sedangkan Adam sendiri juga khawatir dengan kondisi Ratna, yang sejak tadi mengurung dirinya di kamar. Karena waktu juga sudah malam, akhirnya ia berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2