
"Dengarkan aku, kamu jangan panik, harus tenang. Setelah ini kita bicarakan baik-baik hubungan kita, aku siap untuk menikahi kamu. Yakin ya sayang, yuk pegang tangan aku! Dalam hitungan ke tiga, kamu pegang tangan aku ya!" Liana mengangguk, namun, Gunawan khawatir dengan kondisinya yang sudah lemah.
"Satu, dua, tiga.."ucap Gunawan menghitung.
Gunawan sudah berhasil memegang Liana. Karena takut Meliana tak kuat, ia pun segera menarik lengan, dan Meliana pun berpegangan di leher Gun.
Meliana juga berusaha mengangkat badannya, agar dirinya tak terjatuh. Kini Liana pun selamat, dan menangis di pelukan Gun.
Begitupun juga Gunawan, rasanya takut sekali kalau sampai gadis yang ia cintai tak selamat. Gun membalas pelukan Liana.
"Jangan lakukan ini lagi ya. Please! Aku takut banget kamu sampai melakukan hal yang seperti tadi. Apalagi kamu mengatakan ada anakku, aku gak ingin kehilangan kamu dan dia." Sambil menyentuh perut yang masih rata.
Liana mengangguk, Gunawan menghapus air matanya. "Bagaimanapun juga aku harus menikahi kamu, meskipun aku harus di hajar oleh suruhan ibu mu, terlebih dahulu. Aku rela, asal kamu jadi milikku." Lalu mengecup kening.
"Meliana ..."
Terdengar sura seseorang berteriak memanggil Liana, dan ternyata itu Ratna. Ia berlari, dengan menahan rasa sakit dan menangis.
"Ratna." Gunawan memberikan ruang untuk sahabatnya dekat dengan Liana.
"Elo ngapain sih, pake niat loncat segala!" omel Ratna, Liana hanya menatap kekhawatiran sang sahabat.
"Maafin gue Na. Gue enggak mau, kalau tadi ibu gue benar-benar bawa gue ke tempat yang di mana, gue akan kehilangan dia." Liana dengan menyentuh perutnya.
"Please elo jangan lakuin itu lagi! Semua bisa di bicarakan baik-baik. Termasuk ibu loe." Liana mengangguk lalu menangis, Ratna pun ikut merasakan kesedihannya.
Adam merasa terharu melihat dua gadis yang saling berpelukan. Ia baru tau kalau Ratna itu ternyata berteman baik dengan Liana. Hanya saja pertemanan mereka terhalang, karena Bu Fitriana yang melihat seseorang dari materi saja.
Gunawan menoleh dan melihat pria yang berada di belakangnya. Dia ingat kalau orang itu, laki-laki yang bertunangan dengan Meliana.
Gunawan berdiri, dan menatap Adam dengan tatapan tak suka.
"Elo bukannya cowok yang udah bertunangan sama Liana? Terus mau ngapain loe di sini?" tanya Gun.
"Iya kamu benar tapi saya sudah --"
Adam belum selesai bicara, tiba-tiba.
__ADS_1
Dugh!
Gunawan sudah memotong pembicaraannya, dengan memberikan sebuah Bogeman kepada Adam.
"Sudah apa? Sekarang dengan elo kesini, mau ngapain? Mau ngambil Liana lagi dari gue, Hah!" Gunawan dengan raut wajah sangat emosi.
Gunawan terlihat sangat marah, melihat Adam. Ratna pun segera berdiri di tengah-tengah dua pria saat ini, memisahkan mereka.
"Gun, tahan emosi!" Ratna menengahi mereka.
"Bagaimana gue gak emosi, dia udah memasangkan cincin di jari Liana!"
"Gue ngerti perasaan elo. Tapi elo jangan main hajar, dia ngelakuin itu terpaksa. Lagian sekarang mereka membatalkan perjodohan, dan pernikahan. Karena kondisi Liana hamil!" jelas Ratna.
"Gun, apa yang di katakan Ratna benar adanya. Jangan sakiti Adam, dia gak bersalah!" timpal Liana, membuat Gunawan menahan emosinya.
Ratna melihat ada darah, yang keluar di sudut bibir Adam.
"Pak bibirnya berdarah." Sambil menunjuk.
"Tidak apa Ratna. Biar dia puas meluapkan rasa kesalnya!" jawab Adam dengan santai.
Saat itu juga, Arga dan kedua orang tuanya datang menghampiri Liana. Terlihat Fitriana sangat marah, saat putrinya berada dalam pelukan Gunawan.
"Hei kamu. Lepaskan Liana dan menjauhlah!" cecar Fitriana.
Saat tangannya ingin menyentuh tangan Liana, Adam menahan lalu menjauhkan darinya.
Gunawan, Liana dan Ratna terkejut melihat Adam begitu berani melakukan itu kepada Bu Fitriana. Begitupun juga dengan Arga dan juga ayahnya tercengang dengan apa yang mereka lihat.
"Cukup Bu! Jangan paksa, dan sakiti Liana lagi. Dia sudah cukup menderita, dengan apa yang ibu lakukan kepadanya. Apalagi dengan kondisi dia yang sedang mengandung, jangan coba-coba menyakiti dia kembali!" ucap Adam penuh dengan ancaman.
"Pria ini harus bertanggung jawab atas kehamilan Liana. Apalagi mereka berdua saling mencintai, jangan pisahkan mereka!"
"Cukup, saya tidak ingin mendengar omong kosong dari kamu Adam. Biarkan kamu membatalkan perjodohan ini, tapi aku tetap tak ingin mereka berhubungan!" kekeh Bu Fitriana.
"Liana sedang hamil, apa anda akan tetap ingin merawat kehamilannya. Tadi saja ibu berniat ingin mengugurkan kandungan putri anda sendiri," Adam dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Dengar Bu! Saya tidak akan membiarkan ibu menyuruh Liana untuk melakukan perbuatannya keji itu. Bisa saja ibu saya masukan ke dalam penjara karena berniat ingin melakukan kejahatan!" ancam Adam.
Bu Fitriana terkejut dengan apa yang Adam katakan kepadanya.
"Kamu mengancam saya?" tanya Bu Fitriana dengan tatapan tajam.
"Ya, karena ibu sudah melakukan kejahatan kepada Liana. Apalagi memaksanya untuk melakukan ab*rs*. Dengar Bu itu sudah tindakan kriminal!" Ancam Adam kembali.
Gunawan terkejut dengan apa yang ia lihat, kalau Adam membela dirinya.
"Bu apa yang dikatakan oleh Adam benar. Kalau apa yang ibu lakukan sudah tindakan kejahatan," kata Arga.
"Bu sudah jangan sakiti Liana lagi! Ayah tak tega melihat putri kita, hampir melakukan hal yang seperti tadi,"
Liana merasa terharu, karena kakak dan sang ayah, masih peduli kepadanya.
"Bu izinkan saya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Liana. Saya mengaku salah sudah melakukan itu kepadanya. Saya berjanji, akan membahagiakan Meliana, tidak akan membuat putri anda bersedih atau menderita." Kata Gunawan memberanikan diri mengatakan di hadapan Bu Fitriana.
"Kamu punya apa, berani sekali bicara seperti itu kepada saya?" tanya Bu Fitriana dengan meremehkan Gunawan.
"Saya sudah membuka usaha bengkel hasil keringat saya sendiri. Meskipun bukan usaha yang besar, tapi saya janji akan membahagiakan Liana, dan takkan membuatnya bersedih!" jawab Gunawan dengan sungguh-sungguh.
Liana, dan Ratna tersenyum melihat Gunawan yang begitu tegas mengatakan kepada Bu Fitriana.
Bu Fitriana menatap Gunawan dan Adam dengan tatapan tajam.
"Baik. Saya mengizinkan kamu menikahi Liana. Tapi saya ingin melihat apa yang kamu katakan benar adanya. Jika kamu takkan membuat putri saya menderita!"
Gunawan dan Liana tersenyum mendengar jawaban dari Bu Fitriana. Kalau beliau merestui hubungan mereka.
Begitupun juga dengan Adam dan Ratna, ikut bahagia mendengarnya. Pak Pujianto, merasa terharu, dengan jawaban istrinya.
"Bu. Apakah ibu benar-benar menyetujui Gunawan menikahi aku?" tanya Liana.
"Iya, ibu mengizinkan dia menikahi kamu. Tapi ingat ibu melakukan ini, agar kamu tidak melakukan hal yang seperti tadi!" Liana mengangguk dan memeluk sang ibu.
Arga tersenyum melihat Liana dan ibunya saling berpelukan. Begitupun dengan Gunawan, ia tak percaya jika hubungannya direstui oleh Bu Fitriana.
__ADS_1
Bersambung.....