
"Bagaimana rasanya, hemm? Enggak enak kan?" tanya Ratna dengan senyuman menyeringai. Setelah itu ia meninggal Anya, Cindy dan Zara di sana, dengan raut wajah menahan kesal.
Ratna keluar dari tempat mereka dengan wajah, baju dan rambut yang basah, seperti kucing kecebur got. Ia juga terlihat kesal, kelakuan tiga cewek bar-bar di dalam.
Ratna berjalan menuju parkiran dengan cepat, agar bisa menghindar dari Adam. Yang selama ini selalu menahannya untuk pulang. Tanpa ia sadari ternyata sosok pria yang ingin ia hindari memang sudah menunggunya, didalam mobil.
Saat Ratna menyalakan motor, Adam segera menghampirinya.
"Ratna, kamu mau ke mana?" tanya Adam menghentikan.
"Pulang!" Ratna dengan ketus.
"Kamu mau pulang. Hei kamu kenapa? Muka, rambut, baju kamu basah kaya gitu?"
Tak ada jawaban dari Ratna, dan Adam merasa bingung dengan diamnya gadis di hadapannya.
Ratna tak dapat untuk mengatakan apa yang terjadi kepada dirinya saat ini. Ratna memakai helm, namun ia di buat terkejut karena Adam menggenggam tangannya.
Adam yakin ada sesuatu yang terjadi kepada Ratna. Sampai gadis itu harus bersikap dingin kepada dirinya.
"Kamu kenapa? Please jangan diam begini. Apa ada masalah, biar aku tanya kepada anak-anak yang lain?" tanya Adam membuat Ratna semakin berat untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kayanya pendekatan bapak ke saya, harus berakhir. Saya tidak ingin kalau ada yang salah paham bahkan tak suka," jelas Ratna.
"Maksudnya, kenapa kamu harus mengakhiri niat ki untuk mendekati kamu? Sebenarnya ada apa si Na, kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Aku tau, kalau ada yang menyakiti kamu sampai seperti ini. Karena melihat kamu dekat dengan aku?" tebak Adam.
Ratna tak menjawab, Adam semakin yakin apa yang di katakannya benar. Saat itu handphone Adam berbunyi, dan ia segera mengangkat panggilan teleponnya.
Di saat itu juga Ratna mengambil kesempatan untuk kabur, Adam terlihat menahan rasa kesalnya saat gadis yang ia sukai melarikan diri.
Malam harinya, Adam mengunjungi rumah Ratna. Saat mengetuk pintu, ternyata pak Syafi'i yang membukanya.
"Assalamu'alaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumsallam, loh Nak Adam," Adam tersenyum, lalu mencium tangan pak Syafi'i, karena rasa hormatnya.
"Ratna nya ada Oak? Saya ingin bertemu dengannya?" tanya Adam.
"Owalah, maaf Nak, Ratna tadi baru saja keluar naik motor," ada wajah kecewa pada Adam, karena terlambat.
"Kalau boleh tau Ratna kemana ya Pak?"
"Waduh, kalau kemana-mananya bapak kurang tau Nak. Tadi dia pamitannya cuma ingin keluar aja," jawab pak Syafi'i.
"Apa ada yang penting, biar bapak hubungi Ratna untuk pulang?"
"Jangan Pak, takut mengganggu Ratna nanti. Kalau begitu saya pamit saja pak, tadi saya hanya kebetulan lewat dan ingin mampir ada yang ingin saya tanyakan. Tapi nanti saja di tempat kerja, saya baru bertanya dengannya," kata Adam.
"Yasudah kalau begitu, maaf ya Nak!"
"Iya Pak, kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsallam," jawab pak Syafi'i.
"Kemana dia, aku rasa dia itu menghindar dariku. Sebenarnya ada apa dengan dia, kenapa sikapnya seperti itu." Adam sambil fokus menyetir mobil.
Sedangkan di tempat lain Ratna sedang duduk dengan di temani oleh Gunawan.
"Elo kenapa, nyuruh gue kesini? Ada masalah, Hemm?"
"Gue mau resign Gun, dari tempat kerja," Gunawan terkejut mendengar yang Ratna katakan.
"Resign dari restauran, kenapa memangnya? Ada masalah?" Ratna mengangguk. "Dengan Adam?" tanya Gunawan.
Ratna menggelengkan kepala. "Bukan dengan dia, tapi dengan karyawan yang lainnya,"
"Yaelah Na. Kalau masalah sama karyawan udah biasa jangan heran, yang penting elo kerja bener dan gak berulah!" jawab Gunawan.
"Bukan begitu Gun, cuma mereka ..." Ratna menceritakan kejadian yang di alami, Gunawan yang mendengar ikut kesal.
__ADS_1
"Begitu Gun, gue gak mau masalah ini akan terus-terusan seperti ini. Gue kerja jadi gak nyaman, dan gue gak mau anak-anak jadi menilai buruk gue yang enggak-enggak,"
"Terus Adam pasti kecewa dong Na? Apa persamaan elo gak ada sama sekali ke dia?"tanya Gunawan.
"Sebenarnya gue mulai nyaman kalau dekat dengan dia. Tapi, jika gue dan dia saling bertemu di satu tempat yang sama, justru gue semakin risih gak nyaman. Apalagi di area restauran, pasti banyak pasang mata yang gak suka ngeliat kedekatan kita. Pasti elo tau gue kaya gimana Gun, tanpa gue harus jelasin,"
Gunawan mengangguk, karena dia tau sahabatnya satu ini seperti apa. Dia lebih baik keluar dari zona nyaman, dari pada harus mengahadapi keributan terus menerus.
"Terus elo beneran mau resign dari sana?" tanya Gunawan, dan Ratna mengangguk.
"Oh iya Na, sepupu gue, anaknya paman Seno. Kemarin dia bilang, lagi ada lowongan tuh di tempat gawe nya. Coba deh elo masuk di sono!"
"Seriusan Gun, coba tanya ke dia, masih ada gak? Kalau iya, besok gue ke sana. Kebetulan besok gue libur,"
"Oke," Gun lalu menghubungi sepupunya untuk bertanya tentang lowongan kerja untuk Ratna.
Kini Ratna sudah kembali pulang ke rumah, namun saat ingin masuk ke dalam kamar, pak Syafi'i memanggilnya.
"Ratna,"
"Iya Yah ada apa?" Ratna menghentikan langkahnya.
"Kamu dari mana? Tadi bos kamu kesini, mencari kamu," ucap sang Ayah.
"Aku keluar bertemu sama temen, biarkan yah. Kalau pak Adam kesini, mungkin dia kebetulan lewat aja," jawab Ratna asal.
"Iya dia juga bilang begitu, katanya kebetulan lewat aja si. Dia mau mampir ada yang ingin dia tanyakan ke kamu," Ratna terkejut dengan yang ayahnya katakan.
"Yasudah kalau begitu, Ratna masuk dulu ya Yah,"pamitnya, dan sang ayah mengangguk.
Ratna pun masuk ke dalam kamar, dan mengunci kamar. Di sana ia melamun mengingat dirinya yang akhir-akhir ini dekat dengan Adam. Ia seperti merasakan kebahagiaan kembali seperti saat bersama Arga dulu.
"Kalau boleh jujur gue mulai nyaman jika sama dia. Tapi jika di restauran, aku merasa tak enak dengan yang lainnya, jika dia mendekat. Ya ampun, di saat hati ini mulai move on dari Arga, kenapa harus ada masalah yang mencoba menghalanginya." Ratna memeluk guling.
sedangkan di dalam rumah yang besar, seorang pria duduk termenung dan sangat gelisah. Karena sejak tadi ia menghubungi seseorang, namun tak ada jawabannya.
__ADS_1
Bersambung...