
Ada kekecewaan yang di rasakan Ratna saat membaca isi chat. Lalu ia melihat ada mobil berwarna hitam, berjalan jauh. Ratna yakin kalau itu Adam, karena ia mengenal plat nomor kendaraannya.
"Jujur aku kecewa dengan pesan kamu, yang membiarkan aku bersama Arga. Tapi jika memang itu mau kamu, baik aku ikuti!"
Pesan Ratna kepada Adam, yang terlihat kesal. Arga masih menatap dengan tatapan berharap.
"Yasudah, mau bicara di mana?" tanya Ratna.
Arga tersenyum mendengarnya. "Ayo ikut, kita ke suatu tempat untuk bicara." Membuka pintu mobil.
Ratna pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Arga. Lalu mereka pun pergi, menuju tempat untuk bicara.
15 menit Arga membawa Ratna ke cafe tempat kenangan mereka.
"Kita kesini ya?" Arga dengan senyuman.
Ratna masih menatap sekitar, di mana masih terlintas bayang-bayang dirinya pernah tertawa bersama pria di sampingnya.
Lalu Arga mengajak untuk masuk, dan duduk di tempat di mana tempat favorit mereka. Dada Ratna kembali berdetak saat mengingatnya.
"Kok diam sih? Yuk masuk ke dalam!" ajak Arga dan Ratna mengangguk, lalu mereka pun masuk ke dalam.
Saat masuk lalu mereka duduk di tempat yang biasa, sampai karyawan di cafe, masih mengingat Ratna dan Arga.
"Wuih Mas bro, udah lama banget gak datang. Bagaimana nih kabar kalian berdua?" sampa pria dengan akrab.
"Alhamdulillah Do kami berdua sehat. Kamu sendiri bagaimana? timpal Arga.
"Alhamdulillah sehat." Jawab nya, Arga dan Ratna mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu kalian mau pesan apa nih? Soalnya ada menu minuman terbaru dari kami." Meletakkan buku menu ke meja Arga.
Arga dan Ratna memesan minuman dan makanan, setelah itu Aldo pun pergi meninggalkan mereka.
Ratna terlihat menjadi diam saat bersama Arga, ia tak nyaman jika berdua dengan pria yang pernah ia sukai.
Apalagi saat ini, Arga masih menatapnya, dengan senyuman manis. Setelah menu mereka datang. Karena ia merasa tak nyaman jika terus di tatap dengan pria di hadapannya. Ratna memulai membuka obrolan.
"Kamu mau bicara apa?" Arga tersenyum mendengar Ratna bicara.
__ADS_1
"Kamu makin cantik Na, entah kenapa aku suka jika terus menatap kamu seperti ini," jawab Arga membuat Ratna tak nyaman.
"Kak, sebenarnya ingin bicara apa. Jika hanya untuk ngegombal, lebih baik aku pulang." Ratna hendak bangun dari duduknya, namun Arga menahannya.
"Iya maaf. Sekarang aku minta kamu duduk kembali!" pinta Arga, dan Ratna pun duduk kembali.
Arga menatap wajah Ratna terlihat kesal, ia pun pasrah dengan perubahan sikap gadis di hadapannya itu.
"Maaf jika membuat kamu kesal. Aku merasa senang aja, karena kita bisa duduk bersama lagi," ucap Arga.
"Kak, aku juga senang kita bisa duduk di sini lagi. Tapi sekarang kita gak bisa seperti ini terus menerus. Aku gak nyaman karena ibumu yang terus menegur ku untuk tidak mendekati kamu!"
"Na, apa tidak ada kesempatan untukku? Ratna jujur di hatiku masih menyimpan nama kamu, dan kenangan kita? Apa kamu sudah melupakan itu?"
Ratna terdiam, jujur ia belum bisa melupakan kenangan saat-saat bersama Arga dulu. Namu dirinya sedang berusaha untuk tidak mengingatnya kembali, karena sekarang hatinya sudah terisi oleh pria lain.
"Maaf kak, please aku sedang tidak ingin membahasnya lagi. Karena itu sudah menjadi masa lalu," ucap Ratna terpaksa mengatakan itu.
Terlihat wajah kekecewaan di wajah Arga.
"Maaf! Sebenarnya aku mengajak kamu ingin mengajak kamu untuk balikan kembali seperti dulu!" Ratna terkejut mendengarnya.
"Aku ingin mengajak kamu untuk memulai hubungan baru dengan ku, aku ingin memasangkan cincin ini di jari manis kamu!" Ratna mendengarnya merasa sesak.
"Na jujur, aku masih sangat mencintai kamu. Hatiku masih menyimpan kamu dan kenangan kita. Aku ingin menikah dengan kamu! Meskipun ibuku melarangnya," terlihat mata Arga memerah.
"Kak kamu tau, ibu kamu sangat tidak menyukai aku. Terus kamu mau menikahi aku, maaf aku gak bisa!" tolak Ratna.
"Ratna, kita bisa terus berjuang untuk meluluhkan hati ibuku." Pinta Arga menggenggam tangan .
Ratna menghempaskan tangan Arga.
"Maaf aku enggak bisa! Aku gak mau, seperti Gunawan dan Liana!"
"Ratna, tapi kita belum mencoba lagi! Na aku sangat mencintai kamu. Na, aku gak mau sampai aku di jodohkan dengan wanita lain. Aku hanya ingin kamu!" Arga dengan wajah memohon.
Ratna menatap Arga, yang masih menggenggam tangannya saat ini. Rasanya ia tak tega, dengan apa yang di lakukan oleh mantan kekasihnya ini.
__ADS_1
"Ka Arga. Tapi maaf aku gak bisa menerima permintaan kamu ini. Karena di hatiku saat ini ada nama pria lain. Aku juga tidak bisa menjalin hubungan, jika harus bertentangan dengan orang tua." Ratna melepaskan genggaman Arga.
Terlihat Arga dengan wajah kecewa, saat mendengar penolakan Ratna. Apalagi saat mengatakan ada pria lain di hatinya saat ini. Hatinya merasa sakit dengan kejujuran gadis di hadapannya.
"Maaf kak, jika aku melukai hati kamu. Tapi jika aku menerima kamu, aku gak bisa. Karena orang tuaku juga tak suka, jika aku menjalin hubungan dengan kamu. Karena sikap ibumu yang selalu membenciku dan pernah menghina keluarga ku." Ratna menggenggam tangan Arga.
Terlihat mata Arga memerah, dan mengeluarkan bulir bening. Mendengar apa yang Ratna katakan.
"Maaf ya kak. Tapi kita masih bisa berteman baik, tanpa harus memiliki hubungan spesial,"
Arga langsung memeluk Ratna.
"Maafkan atas sikap ibu ya Na? Jujur aku masih sangat berharap dengan kamu. Tapi jika orang tua kamu, juga melarang, aku gak dapat berbuat apa-apa. Sekali lagi maaf karena ibuku yang selalu kasar ke kamu!"
Arga melepaskan pelukannya, lalu segera menghapus air mata dan tersenyum. Ratna pun membalas senyumannya.
"Iya kak, aku pasti memaafkan. Semoga kamu bisa menemukan gadis baik, dan ibumu juga bisa merestui kalian. Kita masih bisa berteman dengan baik ko."
Setelah berbicara menyelesaikan masalah. Setelah itu Arga mengantar Ratna ke suatu tempat, dan meninggalkannya.
Ratna masuk ke sebuah restauran, ia berniat ingin memberi kejutan kepada Adam. Karena pria itu selalu menyuruhnya untuk main ke tempat ia pernah bekerja dulu.
"Hai Rafi," sapa Ratna.
"Hai Na. Cie yang sekarang udah jadian sama pak Adam," goda Rafi teman baik Ratna selama bekerja di sana.
"Apa sih." Jawab Ratna dengan tersenyum malu. "Eh, pak Adam ada kan di dalam?"
"Ada ko. Masuk aja sana!" Ratna mengangguk.
Ratna berjalan menuju ruangan pribadi Adam, dan tersenyum saat berada di depan pintu. Ia pun membuka pintu, dengan perlahan.
"Assalamu'alaikum, pak Adam," ucap Ratna dengan ceria.
Namun mata Ratna terbelalak saat ia melihat pemandangan yang membuatnya terkejut. Dengan menutup mulutnya sendiri, dengan rasa kecewa.
"Sayang,"
__ADS_1
"Maaf sudah mengganggu." Ratna pun menutup pintu kembali, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa kecewa.
Bersambung ...